Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Pesan dari seseorang


__ADS_3

Sesampainya di apartemen mewah miliknya, Nicholas langsung menyambar handuk dan berjalan menuju kamar mandi.


"Kau bisa pakai tempat tidurku ... Istirahatlah! aku akan membersihkan badanku terlebih dahulu." Ucap Nicholas seraya meninggalkan Jennifer yang sudah duduk di kasurnya.


"Iya, sayang." Jawaban manja Jennifer berakhir dengan senyumnya yang terkesan manja.


Setelah Nicholas benar-benar masuk ke dalam kamar mandi dan terdengar percikan air yang jatuh ke lantai, Jennifer lantas beringsut meninggalkan kamar dan berjalan menuju balkon kamar itu.


Reynald yang masih membereskan beberapa dokumen Nicholas itu melihat ada yang mencurigakan dengan perilaku Jennifer.


Kenapa tingkah laku Jennifer mencurigakan?


Sesampainya di depan balkon, Jennifer mengeluarkan benda pipih dari dalam tas miliknya, lalu menekan beberapa digit nomor dan berhasil tersambung dengan seorang wanita.


"Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Nicholas dan Reynald di dalam mobil. Rupanya Nicholas menyewa pelayan dan juga penjaga keamanan untuk wanita murahan itu." Ucap Jennifer.


"Itu saja ... Ckkk, informasi mu sudah basi. Aku sudah tahu itu, Jennifer."


Jennifer terkejut, "Hah, memangnya kau punya mata-mata selain aku?"


Suara keterkejutan Jennifer membuat Reynald semakin menyipitkan matanya.


"Menurut mu?" Wanita dibalik telepon Jennifer tertawa, membuat Jennifer kesal.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Jennifer.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya, kau hanya perlu mengawasi Nicholas agar tidak salah langkah ... jangan sampai anak itu benar-benar mencintai wanita bodoh itu. Aku tidak mau semua rencanaku selama ini rusak hanya karena perasaan cinta."


"Percayakan itu padaku. Aku tidak akan membiarkan Nicholas mencintai Natalie."


"Hahaha ... apa kali ini kau bisa ku percaya?"


"Kau meragukan ku?" Geram Jennifer.


"Hahaha, kenapa kau kesal sekali padaku? lakukan saja tugasmu! jangan pernah membuatku kecewa, atau ... "


"Atau apa, kau mengancam ku?"


"Tidak ... hanya sebuah peringatan saja!"


"Baiklah, sepertinya Nicholas sudah selesai mandi. Aku tidak mau dia mencurigai ku. Aku akan kabari lagi informasi selanjutnya."


Tut ...


Sambungan telepon langsung diputuskan Jennifer ketika mendapati Nicholas sudah berdiri di belakangnya.


"Sedang apa? kau belum tidur?" Tanya Nicholas sambil mengusap-usap kepalanya dengan handuk kecil.


"Belum sayang, aku belum ngantuk." Jawab Jennifer yang berjalan mendekati Nicholas, berniat untuk memeluknya.


Namun dengan gerakan cepat, Nicholas menghindari pelukan wanita itu dengan berdalih menaruh handuk kecilnya, yang berhasil membuat Jennifer mendengus kesal.


"Aku mau minum. Kau mau kan menemaniku malam ini?" Jennifer berjalan ke arah lemari es tempat Nicholas biasa menyimpan banyak minuman di sana.


"Tidak, Jen. Kau tidak boleh minum." Tangan Nicholas menahan tangan Jennifer yang hendak mengambil botol minuman. "Kau lupa, kalau kau masih dalam tahap pemulihan. Kau jangan bertindak bodoh."


Jennifer mendengus kesal karena Nicholas menahan tangannya. "Sedikit saja! aku sudah lama sekali tidak minum dengan mu."

__ADS_1


"Tidak, Jen. Aku bilang tidak ya tidak." Sentak Nicholas dengan nada tinggi. "Kalau kau tidak mau mendengarkan ucapan ku. Reynald akan mengantarkan mu malam ini juga."


Ancaman Nicholas berbuah manis. Jennifer melangkahkan kakinya meninggalkan lemari itu. Namun akal Jennifer tak habis sampai disana. Dia tidak akan melewatkan malam ini dengan begitu saja.


Kali ini rencana ku harus berhasil.


"Yasudah, kalau kau tidak mengizinkan ku minum. Aku mau buat coklat hangat saja." Jennifer mengerucutkan bibirnya. Dia berjalan meninggalkan kamar, menuju dapur. "Kau mau sekalian ku buatkan?" Tanya Jennifer sebelum benar-benar keluar dari kamar itu.


"Hmppp. Boleh, tapi jangan terlalu kental." Jawab Nicholas asal lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Malam ini sepertinya dia harus merelakan tempat tidurnya untuk orang lain. Karena dia juga tidak mungkin tidur berdua dengan Jennifer dalam satu kasur yang sama.


"Baiklah," Ucap Jennifer seraya menutup pintu.


"Reynald, kau bisa pulang malam ini!" Titah Nicholas pada laki-laki yang masih berdiri di pojokan pintu.


"Tapi, Tuan. Bagaimana dengan Jennifer? ... apa anda yakin, saya harus meninggalkan kalian tidur berdua disini?"


Nicholas terkekeh geli mendengar pertanyaan Reynald.


"Hey, kau pikir aku akan melakukan apa?"


Reynald terdiam. Tak lama kemudian dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ma_maaf, Tuan. Maksud saya, apakah tidak sebaiknya saya menunggu di luar saja. Jadi ... kalau Tuan butuh apa-apa, Tuan bisa memanggil saya."


"Kau mau berdiri semalaman di luar seperti anak sekolah yang tidak mengerjakan PR nya?"


"Ti_tidak, Tuan."


"Yasudah, kalau begitu pulanglah! ... urusan Jennifer, biar aku yang handle. Tidak apa-apa, dia tidak ganas kok." Nicholas menyambar ponsel di samping sofa.


"Baiklah, Tuan." Reynald membungkukkan badannya, memberikan salam hormatnya pada lelaki di depannya.


***


Helena menatap nanar tubuh wanita yang terkulai di atas meja makan. Siapa lagi kalau bukan Natalie. Wanita itu sudah tertidur lebih dari dua jam, hanya untuk menunggu seseorang yang belum tahu kepastiannya.


"Nona," Helena menyentuh tangan Natalie perlahan.


"Hmppp," Natalie terusik dan mengerjap-ngerjapkan matanya, menahan silaunya cahaya lampu ruang makan mewah itu. "Apa ini sudah pagi?"


Helena tersenyum simpul, "tidak, Nona. Ini baru jam 11 malam. Lebih baik Nona kembali ke kamar saja. Tuan mungkin tidak akan pulang malam ini." Tebak Helena.


"Ah, begitu ya."


Terlihat kekecewaan yang tergambar di wajah Natalie. Sambil merapikan rambutnya, Natalie beranjak dari kursinya dan berlalu begitu saja meninggalkan Helena.


Tling


Ponsel Natalie bergetar. Dia segera membuka pesan yang baru saja masuk itu.


Ayah : Natalie, bisakah kau bantu ayah? dua orang laki-laki baru saja datang ke rumah dan menagih uang senilai 20 juta rupiah. Mereka bilang, ibu membeli barang namun sampai saat ini ibu mu belum membayarnya. Ayah tidak punya uang sebanyak itu. Mereka mengancam akan melaporkan ini pada pihak yang berwajib kalau sampai besok kita tidak bisa membayarnya.


Natalie mendengus kesal.


Uang 20 juta, sebanyak itu?


Aku uang dari mana?

__ADS_1


Gajiku 3 bulan saja tidak bisa menutupinya. Sisa uang di ATM pun sudah tinggal sedikit, dan itupun beberapa hari yang lalu sudah ku transfer ke ATM ibu. Sekarang minta 20 juta lagi. Aku harus nyolong dari mana?


Natalie : Aku tidak punya uang sebanyak itu, Ayah. Tapi besok akan aku coba bicarakan dengan Nicholas. Mungkin dia mau membantu.


Natalie menghamburkan tubuh dan ponselnya di atas kasur bersamaan. Rasa kesal terus menggerogoti pikirannya. Ibunya itu selalu saja membuat ulah. Natalie bukannya tidak mau membantu orang tua sendiri. Tapi dia yakin, jika Ayah sudah berani meminta tolong padanya, itu artinya Ayahnya memang sedang dalam masa sulit sekali, dan meminta tolong pada anaknya itu adalah opsi paling terakhir yang dipilih ayahnya.


Ayah pasti sangat tersiksa karena kelakuan Ibu.


Tling , Ponselnya kembali bergetar. Dia kembali membacanya.


Ayah : Terimakasih, sayang. Tolong sampaikan maaf pada suami mu itu. Dan katakan juga padanya, ayah akan menggantinya jika ayah sudah mendapatkan gaji ayah, sayang.


Natalie tersenyum membaca pesan masuk dari ayahnya itu. Dia tahu benar jika ayahnya sebenarnya tidak bermaksud menyusahkan dirinya. Namun Natalie senang karena dia merasa beruntung bisa menikah dengan pria kaya raya. Bukan karena Natalie matrealistis, tapi setidaknya dia bisa membantu keluarganya jika dalam masa sulit seperti ini.


Natalie : Tidak usah memikirkan kesana ayah. Aku yakin Nicholas tidak akan menagihnya pada mu. Sudah malam, ayah tidurlah! aku juga mau tidur.


Ayah : Kau sedang bersama Nicholas, kah? maaf ayah mengganggu malam kalian.


Senyum Natalie luntur seketika saat membaca isi pesan barusan.


Seharusnya iya, tapi kenyataannya dia tidak ada disampingku ayah. Dia terlalu sibuk dengan dunia kerjanya.


Natalie : Iya, Yah. Sudahlah aku tidur duluan ya!


Ayah : Iya sayang, selamat malam.


Natalie melempar ponselnya sembarang. Sedetik kemudian dia menutup kedua matanya. Pikiran tentang dimana suaminya berada saat ini sejak tadi tak henti mengisi pikirannya.


Hey, apakah kau sudah makan malam? sudah mandi? sudah minum vitamin mu?


Natalie terus bergumam dalam hatinya.


*Ternyata begini rasanya menjadi seorang istri dari seorang pemimpin. Tidak semuanya menyenangkan, bahkan lebih banyak menyedihkannya.


Sepi.


Kalau aku boleh memilih, aku ingin punya suami dari kalangan yang biasa saja.


Seperti ayahku saja contohnya.


Yang selalu ada untuk anak dan istrinya.


Punya harta banyak dan melimpah tapi tidak pernah ada untuk apa?


Apa suatu saat nanti kau akan terus seperti ini?


Hmppp, Semoga kau sehat selalu, suamiku*.


Acara melamun Natalie berakhir ketika sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponselnya.


Tling , sebuah pesan kembali membuat layar ponsel Natalie menyala.


"ish, ayah ini. Sudah malam bukannya tidur, kenapa masih saja mengirim pesan. Benar-benar tidak bisa di naseha_"


Ucapan Natalie terhenti, ketika pesan yang masuk ternyata bukan dari ayahnya, melainkan dari nomor baru


+628 xxx xxx : Terimakasih telah meminjamkan dia malam ini padaku.

__ADS_1



__ADS_2