
Natalie masih tak percaya dengan hari ini. Nicholas benar-benar terlihat sangat mengkhawatirkan keadaannya. Lihat saja, tangannya menggenggam erat tangan Natalie seolah tak ingin dilepas. Dan satu tangan lagi mengelus-elus tangan Natalie yang diperban karena luka. Sungguh, Natalie sangat bahagia.
"Apakah ini mimpi?" batin Natalie sambil tetap memandang wajah tampan suaminya yang kini duduk tepat di sampingnya.
"Tidurlah! aku akan membangunkan mu jika sudah sampai." Ucap Nicholas seraya menarik pundak Natalie untuk bersandar di bahunya yang kekar.
Natalie hanya mengangguk lalu mulai menutup kedua matanya, dengan posisi tangan Nicholas kembali mengelus-elus tangannya.
Nyaman,
Tenang,
Hanya dua kata itu yang saat ini Natalie rasakan.
Bisa kembali merasakan pelukan dari laki-laki yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari. Natalie berharap ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya.
---***---***---
"Kak, kapan Kakak akan mengajak Kak Natalie kesini?" Keisha menatap sayu wajah kakaknya yang tengah berkutat dengan laptopnya, "aku sangat merindukannya."
"Nanti, Kei." Kevin masih tak menghiraukan ucapan adiknya, Keisha. Dia masih sibuk dengan tugas kantor yang tadi siang dia tinggal karena mengantar Natalie ke rumah sakit.
"Tapi kapan? ... udah lama banget, Kak Natalie gak pernah main lagi ke rumah." Keisha memajukan bibirnya dan menaruh kedua tangannya di pinggang, "apa dia sudah tidak peduli lagi padaku? ... atau jangan-jangan ... ada orang lain yang membuatnya melupakanku."
Tangan Kevin terhenti. Kalimat Keisha barusan membuat pikirannya tiba-tiba buntu, 'atau jangan-jangan ada orang lain yang membuatnya melupakanku' .
"Iya, Kau benar, Kei. Memang ada orang lain yang sudah membuat Natalie tidak akan datang lagi ke rumah ini, dan menghabiskan banyak waktu bersama kita seperti dulu," gumamnya dalam hati.
"Kak, ... Kak Kevin," Keisha menggoyang-goyangkan lengan Kevin. "Jadi kapan? ... kapan Kakak akan membawa Kak Natalie kesini?"
Kevin tersadar dari lamunannya, dia melepas perlahan tangan adiknya. "Iya, nanti ya sayang! ... sekarang kamu tidur, istirahat! sudah malam. Dan jangan lupa obatnya diminum."
Keisha kesal, Kevin selalu saja mengalihkan pembicaraan. Dia masuk ke kamar dan membanting pintu kamarnya keras.
"Pokoknya aku gak mau minum obat kalo Kak Kevin gak janji bawa Kak Natalie kesini." Pekik Keisha dari dalam kamarnya.
"Astaga," Kevin memijit pelipisnya, anak ini masih saja bersikap manja pada Natalie. Padahal andai saja dia tahu kalau Natalie kini sudah menjadi istri orang lain, mungkin dia akan sedikit menurunkan egonya.
Tapi Kevin tidak mungkin mengatakan kenyataan ini pada adiknya, Keisha. Karena dia tahu persis bahwa adiknya itu sangat berharap jika Natalie bisa menjadi Kakak Ipar untuknya.
"Kak Kevin harus janji padaku, kalau aku sembuh nanti, Kakak harus menikah dengan Kak Natalie. Kakak harus menjaganya, seperti Kakak menjagaku, ... janji?"
Ucapan permintaan itu terlontar dari bibir Keisha, saat dia akan melangsungkan operasi pengangkatan tumor di kakinya. Pengangkatan tumor itu juga berimbas pada keputusan dokter yang menyarankan agar kaki Keisha segera diamputasi, karena khawatir menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Percayalah, awalnya Keisha tidak setuju jika harus kehilangan satu kakinya. Lagipula, siapa yang sanggup jika harus kehilangan anggota tubuhnya. Namun karena Natalie dengan sabar memberikan pengertian padanya, akhirnya Keisha luluh juga.
Selain tak memiliki satu kaki, Keisha juga adalah anak korban bullying di sekolah lamanya. Karena Keisha memiliki tumor di kakinya, banyak teman-teman yang mengucilkan bahkan menghindarinya. Dan tak jarang pula yang mengejek dan mencacinya, sehingga akhirnya Keisha pernah mengalami depresi sampai berhenti dari sekolahnya.
Namun kembali lagi, kehadiran Natalie yang tidak membutuhkan waktu lama telah berhasil membuat Keisha kembali memiliki semangat untuk sekolah dan melanjutkan hidupnya.
Sikap dan tutur lembut Natalie, Itulah yang membuat akhirnya Keisha sangat menyayangi Natalie jauh ketimbang pada kakaknya sendiri. Sampai pada akhirnya Keisha mengatakan permintaannya agar Kevin menikahi wanita itu.
Sejujurnya, tanpa diminta Keisha pun, Kevin memang berencana menyatakan perasaannya pada Natalie, namun terlambat. Saat Nicholas hadir dalam kehidupan Natalie, semuanya berakhir. Kevin bahkan tak punya lagi kesempatan untuk menyatakan cintanya. Dan Kevin menyesal karena terlalu lama memendam perasaannya sendiri. Andai saja waktu itu Kevin lebih dulu menyatakannya, mungkin saat ini Natalie sedang ada di sampingnya, menemani malamnya.
"Maafkan aku, Kei. Aku tidak bisa menepati janjiku ... tapi aku janji, aku akan secepatnya membawa Natalie untuk mengobati kerinduanmu."
---***---***---
__ADS_1
"Nat, bangun. Kita sudah sampai." Nicholas mengusap lembut tangan Natalie, membuat si empunya mengerjapkan matanya terkejut.
Tak lama kemudian, Reynald membukakan pintu mobil di samping Natalie, dan nampak Reynald juga sudah menyiapkan sebuah kursi roda untuk membantu Natalie berjalan.
"Aku bisa jalan sendiri, Reynald. Gak perlu pake begituan." Protes Natalie, karena merasa ini terlalu berlebihan.
"Kau tidak mau pakai kursi roda?" Tanya Nicholas.
"Hmppp," angguk Natalie.
"Baiklah."
Natalie tersenyum lega, karena dia memang tidak suka yang berlebihan.
Nicholas membuka pintu mobil di sampingnya, lalu segera keluar. Dan beberapa detik kemudian Natalie dikejutkan karena Nicholas tiba-tiba mengangkat tubuhnya dari samping ala bridal.
"Hey, apa yang kamu lakukan?" pekik Natalie terkejut seraya mengalungkan tangannya di leher Nicholas.
"Kamu kan bilang tidak mau pakai kursi roda. Jadi secara tidak langsung kamu ingin aku menggengdong mu kan?" Mata Nicholas berjinjit.
"Tidak ... aku tidak mengatakannya." Sergah Natalie.
"Mulutmu tidak, tapi matamu iya."
"Tidak, Nic."
"Iya, Nat."
Kedua mata mereka terkunci.
Setelah terjadi adegan saling tatap, akhirnya Nicholas membawa Natalie melewati gerbang yang sebelumnya sudah dibukakan Reynald.
Baiklah, Natalie mengalah. Lagipula dia senang diperlakukan seperti ini.
Sepanjang perjalanan, Natalie tak henti-hentinya tersenyum sambil memandangi wajah tampan yang selalu membuatnya candu itu.
"Dia seperti malaikat," gumam Natalie.
Beberapa menit kemudian, Nicholas sudah sampai di depan kamar utama rumah mewah itu. Kembali dengan sigapnya, Reynald membukakan pintu dan Nicholas segera berjalan masuk kemudian menurunkan wanitanya di atas kasur.
Sekitar beberapa detik Nicholas diam dan memandangi wajah Natalie, membuat wanita itu jadi salah tingkah.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? ... apa ada yang salah denganku?" Tanya Natalie heran.
Nicholas menggelengkan kepalanya, lantas ikut duduk di samping Natalie.
"Masih sakit?" Tanya Nicholas seraya menarik tangan Natalie yang masih di perban.
Natalie menggelengkan kepalanya, "tidak ... ini sudah jauh lebih baik. Kamu tidak perlu khawatir!"
Nicholas mengelus lembut tangan Natalie, "ceritakan padaku! kenapa tanganmu bisa sampai luka seperti ini?"
Natalie terdiam. Haruskah dia menceritakan dari awal kejadiannya? apakah Nicholas benar-benar lupa kejadian semalam? kenapa dia terlihat sangat santai sekali? andai saja dia tahu penyebab semua ini adalah karena sikapnya.
"Nat," cicit Nicholas.
"Ah," Natalie terkejut.
__ADS_1
"Katakan!" pinta Nicholas lagi.
Natalie menuntun mata Nicholas untuk melihat pecahan gelas yang masih berserakan di samping kasur sebelahnya.
Nicholas berdiri lantas berjalan menuju samping kasur satunya. Dia berjongkok dan mengernyitkan keningnya. Dia melihat pecahan gelas kaca berserakan dan tetesan darah Natalie yang sudah mengering.
"Reynald!" panggil Nicholas dengan lantangnya, membuat orang yang sejak tadi berdiri di luar pintu kamar langsung bergegas masuk.
"Iya, Tuan!" jawab Reynald.
"Carikan aku 5 asisten rumah tangga sekarang juga!"
"5 Tuan?" ulang Reynald.
"Apa aku harus mengulanginya lagi?"
"Ti_tidak, Tuan ... kalau begitu saya permisi dulu." Reynald membungkukkan badannya lalu segera merogoh benda pipih dari dalam sakunya.
Natalie mengernyitkan keningnya, 5 asisten rumah tangga? untuk apa? batinnya.
"Nic, untuk apa 5 asisten rumah tangga?" Tanya Natalie heran. "aku pikir, satu atau dua juga sudah cukup ... lagipula, aku sendiri juga masih bisa bantu-bantu kok."
"Tidak bisa, Nat. Rumah ini terlalu besar. Satu atau dua orang bisa kewalahan mengurusnya." Ucap Nicholas seraya berjalan mendekati Natalie.
"Tapi selama ini aku baik-baik saja ... dan aku bisa mengurusnya."
Nicholas menatap sengit mata Natalie. "Setelah apa yang terjadi dengan hari ini, kamu masih bilang kamu baik-baik saja, hah?" Nicholas mengangkat tangan Natalie yang di perban.
Natie terdiam, lantas menundukkan kepalanya. Nicholas benar, dia memang sangat kewalahan mengurusi rumah yang seperti istana ini.
Beberapa detik tertunduk, tanpa diduga, Nicholas kembali memeluk tubuh Natalie, erat.
"Maafkan aku, Nat. Maafkan aku karena selama ini sudah membuatmu tersiksa." Batin Nicholas.
Natalie terkejut sampai nafasnya sedikit sesak.
"Ada apa dengan Nicholas malam ini? kenapa dia terlihat sangat mengkhawatirkan ku, padahal kemarin malam ... " gumam Natalie dalam hatinya.
Sudahlah,
Natalie tak ingin mengingat kejadian yang telah berlalu. Yang dia ingin saat ini dan selamanya Nicholas tetap seperti ini.
.... Natalie POV ....
*Jika kalian ingin tahu alasanku bisa jatuh cinta dan begitu menyayangi laki-laki yang saat ini ada dalam pelukanku adalah ini.
Dia adalah sosok hangat yang selalu berusaha memberikan rasa aman dan nyaman saat bersamanya.
Percayalah! aku bahkan rasanya tak ingin sedetikpun jauh darinya, karena dengannya aku selalu merasa sempurna.
Dia adalah malaikat yang hadir saat aku bahkan sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta.
Dia adalah Nicholas.
Satu minggu pernikahan dengannya, aku sempat dikejutkan karena sikapnya yang tiba-tiba berubah dingin dan kemarin malam bahkan sangat kasar.
Jujur, aku takut! aku benar-benar takut kehilangan kehangatan darinya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku saat harus melewati hari tanpanya.
__ADS_1
Tapi sekarang aku lega. Aku bisa bernafas lega karena akhirnya dia kembali seperti dulu.
Malaikat ku, tetaplah seperti ini*.