
"Tiket, paspor semua sudah lengkap," ucap seorang laki-laki suruhan Nicholas.
"Terimakasih." Nicholas menerima sebundel surat-surat keperluannya untuk berangkat ke luar negeri. Setelah menerimanya lantas ia masuk ke dalam mobil, menghampiri wanitanya yang sudah terlebih dulu masuk ke dalamnya.
"Udah siap sayang?" tanya Nicholas.
Natalie mengangguk, lantas Nicholas pun memerintahkan sopirnya untuk mulai melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, tangan Nicholas tak mau melepas tangan wanitanya.
Natalie meminta berhenti di sebuah toko bunga, dia membeli seikat bunga tulip berwarna putih sebagai hadiah pertemuan pertamanya dengan sang ibu mertua.
"Saya mau yang ini ya!" ucap Natalie pada pelayan wanita yang usianya sekitar tiga puluh lima tahun itu.
"Terimakasih." Natalie menerima bunga itu setelah pelayan selesai merapikan lengkap dihiasi dengan kartu ucapan.
Selanjutnya tak jauh dari toko itu, Natalie melihat ada sebuah butik. Dia juga meminta waktu untuk mampir dan membeli hadiah kecil lainnya. Sebuah syal yang sangat hangat, cocok untuk ibu-ibu lanjut usia, dia beli dengan harapan ibu mertuanya akan menyukainya.
"Udah, sayang. Jangan banyak-banyak!" kata Nicholas.
"Iya, cuma dua kok."
"Ya udah, yuk kita balik lagi ke mobil!"
Keduanya pun kembali masuk ke dalam mobil, dan bergegas menemui Merry, ibu Nicholas.
***
Sesampainya di rumah sakit tempat dimana Merry di rawat, Natalie dan Nicholas segera menemui dokternya terlebih dulu sebelum menemui Merry.
"Keadaan ibumu semakin membaik, Nic. Hanya saja mungkin saat bertemu nanti kau perlu sabar untuk memperkenalkan siapa dirimu. Karena kemampuan mengingat Ibumu masih belum sepenuhnya stabil. Aku takut kalau terlalu dipaksakan nanti dia akan semakin memburuk," tutur sang dokter.
"Iya, aku akan berusaha sebaik mungkin."
Natalie yang duduk di sampingnya terus memegangi tangan Nicholas. Memberikan kekuatan bahwa dia tak sendirian di sana.
Lantas dokter itupun mengantarkan keduanya menemui ibunya yang tengah duduk di kursi roda, di samping jendela sambil menatap luasnya kota.
"Nyonya Merry, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap dokter.
Merry masih diam dan tak mau membalikkan badannya. Lantas dokter pun pamit dan membiarkan anak dan menantunya itu menyapa Merry.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, dok. Terimakasih," balas Natalie. Sementara Nicholas sudah berjalan mendekati wanita yang masih tak mau memalingkan wajahnya itu.
"Bu, aku datang."
Nicholas berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia tak boleh terlihat sedih di depan Merry maupun Natalie. Dia harus terlihat kuat.
Berat rasanya, melihat sosok seorang ibu yang tak mengenali kita sebagai anaknya sendiri.
Nicholas rindu sekali rasanya. Bagaimana cara wanita itu memeluk, bagaimana hangatnya sebuah kecupan di pagi hari saat Nicholas terbangun, bagaimana merdunya dongeng indah yang selalu menjadi teman pengantar tidur.
Nicholas benar-benar rindu, dan ingin melewatinya bersama kembali dengan Ibunya tercinta.
Perlahan Nicholas menggenggam tangan Merry, ditatapnya Wanita itu dengan hangat. "Bu, lihat! siapa yang aku bawa hari ini?"
__ADS_1
Natalie melangkah mendekat, sedikit takut rasanya karena dokter bilang Merry sempat terguncang kembali kejiwaannya setelah melihat secara langsung bagaimana Steven di bunuh.
"Jangan takut! ... kemarilah!" ajak Nicholas. Lalu Natalie pun berjongkok di hadapan Merry bersama Nicholas. Wanita itu menyapa sang mertua. "Hay, ibu. Perkenalkan aku Natalie."
"Dia istriku, Bu. Dia menantu ibu," sambung Nicholas menjelaskan.
Mata Merry terbuka lebar saat Nicholas mengatakan kata 'menantu'.
Beberapa detik lamanya Nicholas dan Natalie menunggu reaksi apa yang akan diberikan Merry padanya.
Sampai akhirnya
"Hiks." Merry menangis. Tetesan air matanya begitu saja mengalir, membuat Nicholas yang semula diam itu langsung spontan memeluknya.
"Ada apa denganmu, Bu? ... maafkan aku jika perkataanku salah. Kau tidak perlu mengingat apapun. Tenanglah! aku tidak memaksamu."
Di luar dugaan, Nicholas dan Natalie yang mengira Merry akan marah, wanita itu malah membalas pelukan Nicholas. Jauh dari ekspektasi keduanya, Merry bahkan mencium pipi Nicholas.
Ada apa ini?
Nicholas lantas melepaskan pelukannya. "Bu? apa ... apa kau ingat siapa aku?"
Merry mengangguk, dengan air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
"Ibu benar-benar sudah sembuh?"
Merry mengangguk lagi.
Nicholas tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya hari ini. Merry yang dia kira akan semakin buruk setelah kejadian pembunuhan di depan matanya, nyatanya kini sembuh dan bisa mengenal dirinya dengan baik.
"Sebenarnya ibu sudah ingat semuanya sejak dua hari yang lalu."
Merry mengangguk.
"Kenapa Ibu 'gak bilang sama dokter? ... Kalau begitu kan Nicho bisa langsung datang menemui ibu."
"Ibu takut."
"Takut? ... takut kenapa?"
"Ibu takut semakin menyusahkanmu, Nak. Ibu tahu kamu kesusahan karena ibu selama ini. Jadi, ibu tidak mau menggangumu sementara waktu sampai kau sendiri yang datang menemui ibu."
Nicholas merasa bersalah karena baru menyempatkan dirinya untuk menjenguk sang Ibu. Tiga hari pasca kedatangan sang Ibu, Nicholas memang disibukkan dengan urusan pernikahan Selly juga urusan untuk kepindahannya ke luar negeri bersama Natalie.
"Maafkan aku." Nicholas mengusap lembut pipi wanita yang sangat dicintainya itu. "Ibu harus tahu satu hal ... tidak ada satu apapun yang bisa menjadi alasan kenapa aku harus menyibukkan diri ketika kau ingin bertemu denganku," ucap Nicholas sambil terisak
"Kau adalah malaikatku, kau segalanya bagiku. Tanpa kasih sayangmu yang tulus, aku tidak akan pernah ada di dunia ini, Bu. Lantas kenapa kau harus bicara seperti itu?"
Merry terdiam dan berusaha menahan sesak di dadanya. Ini semua hanya ketakutannya saja. Nyatanya putranya, Nicholas memang tak pernah merasa direpotkan olehnya.
Sibuk bicara berdua, Merry melupakan seorang wanita cantik yang ada di samping putranya.
"Kau bilang dia tadi istrimu?" tanya Merry sambil menatap hangat Natalie. Wanita yang Nicholas katakan istrinya itu ternyata sangat cantik.
Nicholas mengangguk. "Iya, dia istriku, Natalie."
Merry mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Natalie. "Cantik," ucapnya lembut sambil memberikan senyuman.
__ADS_1
Natalie menyambut hangat tangan Merry yang berada di pipinya. "Terimakasih, Bu," jawab Natalie.
"Ibu suka dia?" Nicholas mengalihkan perhatian Merry pada Natalie.
Merry mengangguk. "Sepertinya dia baik."
"Sangat dan amat. Dia malaikat keduaku setelah Ibu," balas Nicholas.
"Kau berlebihan," protes Natalie sambil menyiku Nicholas.
Merry kembali memberikan perhatiannya pada Natalie. "Aku berharap kau mencintai putraku seperti kau mencintai dirimu sendiri."
Natalie tersenyum. "Lebih dari itu, Bu. Aku bahkan mencintainya lebih dari aku mencintai diriku."
Mendengar pengakuan dari menantunya itu, Merry merasa senang dan bahagia jika ada wanita yang benar-benar mencintai putranya dengan setulus hati.
Ketiganya pun akhirnya berpelukan.
"Bu." Nicholas melepaskan pelukannya. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Ini tentang kepergiannya.
Ah, rasanya kenapa berat sekali.
Baru saja Nicholas bisa merasakan pelukan itu. Kenapa juga dia harus berpisah lagi dengan Merry.
"Ada apa, Nak?" kata Merry.
"Hari ini aku ... aku dan Natalie akan pergi." Nicholas menundukkan kepalanya lemah. Apa harus ia berpisah secepat ini? ... atau mungkin ia perlu mengajak Merry ikut dengannya? tapi Merry baru saja sembuh, ia masih memerlukan perawatan sampai benar-benar pulih seperti sedia kala.
"Ibu sudah tahu."
"Hah, sungguh?" Nicholas sedikit tak percaya. Darimana Merry tahu mengenai ini?
"Ibu tak sengaja mendengar percakapanmu dengan dokter." Merry lantas memegangi tangan Nicholas. "Pergilah! ... ibu akan setia menunggumu kembali anakku."
Nicholas tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia benci hal ini. Kenapa waktu bersama orang yang ia cintai selalu terkikis oleh takdir. Tak bisakah sebentar saja berpihak padanya.
"Maafkan aku, Bu."
"Jangan menangis anakku! ... aku sungguh tidak apa-apa. Justru aku akan merasa bersalah jika tidak membiarkanmu pergi. Maka dari itu pergilah!"
Nicholas pun akhirnya menumpahkan tangisannya kembali dalam pelukan Merry. Disambut Natalie juga yang ikut menenangkan suaminya itu.
Dua jam kemudian, Nicholas dan Natalie akhirnya pamit pergi setelah sebelumnya mereka melakukan makan bersama, meskipun hanya makan di dalam kamar rawat Merry.
Nicholas bahkan membuat makan siang di kamar itu menjadi siang terindah dan termewah yang pernah Merry rasakan.
"Ibu pasti akan sangat merindukanmu, sayang."
"Aku pun."
"Berjanjilah untuk kembali pada Ibu!"
Nicholas menahan sesak di hatinya. Untuk kali ini ia tidak bisa berjanji.
"Maafkan aku, Bu. Tapi sepertinya untuk kali ini aku tidak bisa berjanji," batinnya. "Iya, aku akan kembali."
Akankah Nicholas kembali untuk Merry?
__ADS_1
To be continued