
Malam hari, saat Natalie baru saja pulang dari cafe. Malam ini lagi-lagi Erick yang mengantarkannya pulang. Sejujurnya ia tak mau terus menerus menyusahkan laki-laki itu. Tapi keadaan memaksanya. Taksi yang ia tunggu tak datang-datang juga. Akhirnya terpaksa dia menerima tawaran Erick lagi.
"Makasih ya, Rick!" Natalie melambaikan tangannya saat Erick mulai melajukan mobilnya.
Setelah Erick pergi, Natalie segera bergegas masuk ke dalam rumah. Dia melihat mobil yang biasa dipakai Nicholas. "Apa dia sudah pulang?"
Tak ingin berlama-lama dengan rasa penasarannya, dia pun segera bergegas masuk ke dalam rumah.
"Nicho." Entah kenapa, Natalie begitu bahagia saat melihat laki-laki itu kembali ke rumahnya. Tapi tunggu, dia tidak sendiri. Dia datang bersama wanita itu lagi. Jelas, itu membuat Natalie sedikit kecewa. Kenapa juga Nicholas harus membawa wanita itu malam-malam begini bertamu ke rumahnya?
"Hay! kita bertemu lagi," sapa Jennifer yang terkesan meledek. Wanita yang semula duduk dan menemani Nicholas di kursi itu terbangun. Dia menghampiri Natalie dengan gaya berjalannya yang lenggak-lenggok membuat Natalie geli.
Memilih tak menjawab sapaan Jennifer, Natalie kembali menatap laki-laki yang tengah duduk sambil menikmati kopi di ruang tamu itu.
"Sepertinya dia baik-baik saja."
Jujur, memang selama kepergian Nicholas, Natalie terus memikirkannya. Memikirkan bagaimana nasib laki-laki itu saat jauh darinya. Dia khawatir dan takut kalau Nicholas tidak makan dengan teratur. Tidak sarapan pagi dengan rutin. Ah, pokoknya Natalie benar-benar mengkhawatirkannya.
"Kenapa? kau rindu padanya?" Jennifer membisikkan sesuatu di telinga Natalie. Sementara Nicholas yang melihat kejadian itu malah memilih pergi. Koran yang semula ia pegang ditangannya pun ia taruh sembarangan di atas meja. Ia beranjak pergi menuju kamarnya.
"Kenapa kau datang ke sini?" Natalie mendelikkan matanya ke arah Jennifer. Dia menatap dengan tegas wanita pengganggu rumah tangganya itu.
"UPS, maaf, tapi bukan aku yang menginginkannya. Suamimu sendiri yang memintaku datang."
"Hah? jadi Nicholas yang meminta Jennifer datang ke sini malam-malam. Untuk apa dia membawa wanita ini?"
"Oiya, malam ini aku mau tidur bersama Nicholas. Jadi, kuharap kau mau berbagi denganku untuk malam ini saja." Akhirnya pertanyaan Natalie terjawab sudah. Wanita itu rupanya berniat bermalam di rumah Nicholas.
"Apa kau bilang? tidak bisa. Kau bisa tidur di kamar tamu," sergah Natalie. Siapa dia? berani-beraninya dia meminta tidur dengan Nicholas.
"Hey ... hey! tunggu dulu! jangan emosi seperti itu. Aku kan cuma bilang kalau Nicholas malam ini akan tidur bersamaku. Aku tidak bilang kalau aku akan tidur di kamarmu."
Natalie berusaha mencerna ucapan Jennifer. Tak lama kemudian Nicholas datang dengan pakaian santai yang biasa ia gunakan untuk tidur.
"Tunggu! jangan bilang Nicholas akan menemani Jennifer tidur di kamar tamu?" batin Natalie seraya menatap tak percaya laki-laki yang sudah masuk ke dalam kamar tamu itu.
Melihat Natalie sudah mengerti, Jennifer pun melambaikan tangannya dengan tatapan mengejek pada Natalie.
"Bye!"
Susah payah Natalie berusaha menahan sesak di dadanya. "Apakah dia ingin membalas atas sakit hatinya padaku? Ah, sudahlah Natalie! biarkan dia berbuat sesuka hatinya. Ingat! hanya status di buku pernikahanmu yang bergelar istri. Tapi tidak dengan kenyataannya. Dia tidak pernah mencintaimu. Jadi jangan berharap lebih dan jangan kecewa saat dia memperlakukanmu seperti ini." Natalie Watson
***
Sore ini Kelly dan suaminya sedang jalan-jalan menyusuri taman sekitar kawasan kota. Kelly memang sangat menyukai taman. Dia sering kali mengajak suaminya hanya untuk berjalan-jalan sambil menikmati udara segar dan sesekali juga menikmati makanan yang disuguhkan di pinggiran jalan.
__ADS_1
"Sayang, aku mau itu." Kelly menunjuk sebuah jajanan khas yang rutin ia beli setiap kali datang ke tempat itu.
Tanpa basa-basi lagi, Jhonson pun langsung meminta sang pedagang untuk membuatkan satu porsi untuk sang istri tercinta. "Terimakasih," ucap Jhonson seraya merogoh beberapa lembar uang kertas dari dalam saku celananya.
"Ah, ini terlalu banyak, Tuan."
"Tidak apa-apa! ambil saja sisanya untukmu."
Pedagang itu sontak saja mengerjapkan matanya berkali-kali. Benarkah ini? Dia baru saja mendapatkan bonus dari hasil penjualan satu porsi burger mini dengan nominal yang lumayan besar. Bonusnya itu bahkan bisa membeli 50 burger mininya.
"Terimakasih, Tuan! terimakasih, Nyonya." Laki-laki itu menundukkan kepalanya, menghormati orang yang sangat dermawan sekali pada pedagang kecil sepertinya.
Jhonson dan Kelly pun kembali berjalan mengitari taman itu. Tak sengaja saat berjalan, Kelly menabrak seorang anak kecil.
Brugh
Burger yang dimakan Kelly jatuh.
"Maaf. Aku tidak sengaja!" Anak kecil itu terlihat gugup dan takut karena telah membuat makanan orang yang ditabraknya jatuh.
"Sayang, tidak apa-apa." Jhonson berusaha menenangkan.
"Tapi kan?"
"Seharusnya kau hati-hati saat berlari! kau tahu, kau bisa mencelakai orang lain kalau begini. Untung saja hanya makananku yang jatuh. Coba kalau sesuatu yang benar-benar berharga?" tegur Kelly pada anak itu, sementara anak itu hanya menundukkan kepalanya sambil mengucap kata maaf berkali-kali.
"Ah, maafkan anakku! dia pasti tidak sengaja."
Suara laki-laki yang tidak asing ditelinga Kelly tiba-tiba saja membuat pandangan Kelly seketika langsung buyar. Memory 30 tahun itu kembali terungkap.
"Kelly,"
"Thomas."
Cicit keduanya bersamaan. Sekian detik lamanya mereka saling bertatapan. Neva yang semula menunduk itupun menengadahkan wajahnya melihat dua orang tua di depannya yang saling mematung tak bersuara.
"Ayah, ayah kenal Tante ini?"
Sontak lamunan keduanya tersadar saat Neva membuyarkannya.
"Ah, iya. Ini teman lama Ayah, sayang."
"Oh, teman lama, syukurlah! Kalo begitu Tante pasti akan memaafkanku kan?" Neva memandang wajah Kelly penuh harap. Namun yang diajak bicara malah tak bergeming. Kelly terus terfokus pada wajah Thomas.
"Kenapa dadaku kembali berdetak kencang saat melihat wajahnya?" gumam Kelly dalam hatinya
__ADS_1
"Dia terlihat sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini sepertinya," cicit Thomas.
"Tante!" Neva kembali memanggilnya.
"Ah, iya," sahut Kelly.
"Tante udah maafin aku kan? Ayahku temen Tante, jadi Tante jangan galak-galak sama aku."
"Iya. Tante gak marah kok sama kamu. Kan Tante cuma ngasih tahu supaya kamu lebih berhati-hati lagi."
Neva yang senang pun akhirnya tersenyum. "Yah, Neva mau beli kue itu dulu ya. Ayah ngobrol aja dulu sama temen Ayah!"
"Iya, sayang! hati-hati ya! Ayah tunggu di parkiran 10 menit lagi!"
"Iya, Ayah!" Neva pun pergi meninggalkan keduanya. Kini hanya ada Kelly dan Thomas berdua. Saling menatap dengan perasaan yang sudah saling tak menentu. Ada perasaan senang begitu pula kejadian pahit yang kembali terlintas dalam pikiran keduanya.
"Apa kabar?" tanya Thomas menyadarkan keheningan diantara mereka.
"Baik, kau sendiri?"
"Yah. Seperti yang kau lihat," sahut Thomas.
"Oiya, tadi itu anakmu?" Kelly melirik tubuh Neva yang sedang memesan makanan pada seorang pelayan.
"Hmpp, dia anak bungsuku."
"Oh." Entah pertanyaan apa lagi yang harus Kelly lontarkan. Sejujurnya ada banyak sekali pertanyaan, ribuan bahkan jutaan yang ingin Kelly bicarakan dengan Thomas. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Suaminya, Jhonson pasti akan segera datang, dan dia tidak mau kalau Jhonson tau Thomas atau ayah Natalie adalah masalalunya. Masalalunya yang kelam.
"Ah, kalau begitu aku permisi. Aku harus menemui suamiku," ucap Kelly seraya membalikkan badannya.
"Kelly, tunggu!"
Langkah Kelly terhenti.
"Apa kau masih marah padaku?"
Teg
Denyut nadi Kelly dan jantungnya berhenti bersamaan. Luka dalam yang selama ini ia tahan-tahan itu akhirnya kembali mencuat. Mengingat kejadian di masa lalu dengan laki-laki itu membuatnya tak bisa bernafas lega.
Tak ingin berlama-lama dengan perasaan sakitnya, Kelly pun memilih segera menjawabnya. Kelly membalikkan badannya, "Ah, itu. Aku bahkan sudah lupa. Jadi, tidak usah dipikirkan," ucap Kelly seraya menundukkan sedikit kepalanya untuk segera pamit pergi menemui suaminya yang kini sudah membalikkan badan setelah selesai membeli burger mini favoritnya, sementara Thomas masih tak bergeming dari tempat dia berdiri. Menatap dengan lekat wanita yang dulu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
"Sampai detik ini pun, aku tak pernah bisa melupakanmu, Kelly." Thomas Watson
To be continued
__ADS_1