Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Tidak semudah itu


__ADS_3

"Jennifer mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dia bisa sembuh dan kembali normal jika kemajuannya terus meningkat seperti ini." dokter itu menjelaskan pada Nicholas yang kini bertindak sebagai wakil keluarga Jennifer. Iya, setiap bulan ini memang menjadi hal yang rutin Nicholas lakukan, mengantar Jennifer untuk check up.


"Nah, ini obat yang harus ditebus nanti." dokteritu memberikan resep kepada Nicholas Namun sepertinya sejak tadi Nicholas tidak menghiraukan ucapan dokter itu dia sibuk memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan Natalie.


"Tuan," dokter itu membuyarkan lamunan Nicholas. Jennifer yang semula terlihat sangat bahagia itu langsung berubah mood seketika.


"Ah, iya. Maaf, jadi bagaimana?" Nicholas meminta dokter itu untuk mengulang kembali ucapannya. Namun sepertinya Jennifer sudah malas duluan sejak tadi Nicholas terus saja membuatnya kesal entah apa yang sedang dia pikirkan nama saya berangkat dia memang tidak nyambung diajak bicara.


"Kamu lagi mikirin apa sih sebenarnya?" kesal Jennifer sambil membanting pintu mobilnya. Menyusul Nicholas masuk dari pintu yang berbeda.


"Aku lagi mikirin yang aneh-aneh kok. Cuma memang ada yang aku pikirkan tentang perusahaan aja."


Jennifer mendelik malas. Nicholas memang selalu saja memiliki alasan saat ditanya.


"Yaudah jangan marah dong! kamu mau apa? ku traktir ya." Nicholas coba merayu.


Jennifer masih diam.


"Yakin, gak mau aku temenin makan?"


"Mau," ucap Jennifer dengan manjanya.


"Ya udah, mau makan apa?


"Hmppppp, aku lagi pengen makan spaghetti aja deh." Akhirnya Jennifer pun luluh kembali.


"Oke." Nicholas pun mulai menyalakan mobilnya.


Drtt ... drtt ... Namun ponselnya keburu berdering. Nama Reynald terpampang di layarnya.


"Reynald, apakah dia akan memberikan kabar tentang Natalie," pikir Nicholas.


"Aku angkat ya!" Jennifer meraih ponsel Nicholas yang tergeletak di samping keduanya.


"Jangan!" cegah Nicholas dengan lantangnya, membuat Jennifer sedikit tersentak bingung, kenapa dia tidak boleh mengangkat panggilan dari Reynald, padahal kan biasanya boleh-boleh saja.


"Jennifer tidak boleh tahu mengenai hal ini," gumam Nicholas seraya mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, oh yasudah. Aku juga akan segera ke kantor setelah mengantarkan Jennifer ke kantornya."

__ADS_1


Nicholas lalu menutup kembali panggilan telepon itu.


"Aku ikut ke kantor kamu."


"Hah, untuk apa? bukannya kamu bilang ada meeting siang nanti di kantormu?"


Jennifer diam. Sejujurnya dia mencurigai Nicholas, makanya dia mendadak ingin ikut ke kantor dengannya. "Pokoknya aku mau ikut kamu." Lantas Jennifer memejamkan matanya sambil merebahkan tubuhnya di senderan kursi.


Memilih tak berdebat pagi-pagi, Nicholas pun akhirnya menuruti keinginan Jennifer, membawanya ke kantor.


***


"Kamu serius, Nat?" Eliza terkejut, "gila ... tujuh juta?" Wajahnya benar-benar tak percaya mendengar perkataan sahabatnya yang baru saja mendapatkan uang bang Padahal dia belum bekerja.


"Hmppp, aku juga tidak menyangka bahwa dia akan memberikan uang secepat ini."


Eliza memperhatikan tubuh Natalie dari atas kepala hingga ujung kakinya.


"Kenapa Kau melihatku seperti itu?" tanya Natalie.


"Sepertinya Aku curiga. Kayaknya Erick ada niatan lain deh sama kamu, buktinya masa baru kenal aja dia udah percaya banget sama kamu. Sampai ngasih uang segitu banyaknya."


"Iya juga sih. Yaudah deh gak usah dipikirin. Aku buatin kopi, mau?"


Natalie mengangguk.


"Yaudah, tunggu ya!" Eliza pun segera pergi menuju dapur untuk membuatkan kopi.


Saat tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba muncullah dua sosok manusia yang berhasil membuat mood Natalie langsung berubah total. Nicholas dan Jennifer.


"Mereka lagi rupanya?" batin Natalie. Sesak, perih langsung hadir tanpa menyapa ke dalam dadanya. "Oke, Natalie tenang. Kau pasti bisa melewati ini semua. Biarkan saja mereka bertingkah sesuka hati mereka. Kau harus fokus pada tujuan utamamu." Natalie terus berusaha menyemangati dirinya sendiri. Namun apa daya, dia memang tidak sekuat itu. Akhirnya air mata pun turun tak terduga.


"Hay, Nat!" Kevin datang menyapa. Membuat Natalie langsung gelagapan.


"Dia tidak boleh melihatku menangis," gumam Natalie sambil membersihkan air matanya dengan tissue.


"Eh, Vin. Darimana aja? baru keliatan?" Natalie langsung memasang wajah ceria tanpa luka.


Nicholas melintas di depan Kevin, dan dia tahu kenapa tadi Natalie terlihat sangat gugup. "Jadi itu alasannya."

__ADS_1


"Ah, itu tadi abis ketemu HRD."


"HRD?" Natalie menyipitkan matanya, "mungkinkah dia bertemu HRD itu ada urusannya dengan Nicholas?"


"Oh iya, Nat! Keisha titip salam untukmu. Katanya dia udah gak sabar untuk ketemu sama kamu."


"Oiya?"


"Hmppp,"


"Katakan padanya, aku juga sangat merindukannya. Pokoknya nanti pas hari acara ulang tahunnya, aku yang akan merias wajahnya. Tidak ada penolakan. Titik." Natalie terlihat begitu antusias, padahal dia hanya sedang menyembunyikan kegugupannya.


"Iya, iya." Kevin hanya terkekeh lucu mendengarnya.


Memilih tak melanjutkan pembicaraan, Kevin dan Natalie pun kembali dengan pekerja masing-masing. Tapi ada satu hal yang terus mengganjal di benak Natalie, apa yang Kevin bicarakan tadi dengan HRD. Mengingat, divisi itu hanya mengurusi tentang penempatan karyawan-karyawan dan juga keluar masuk karyawan.


"Apa Nicholas masih tidak menyukai Kevin dan masih berusaha menyingkirkannya?"


Natalie buru-buru membuang wajahnya saat Kevin berhasil memergoki dia yang fokus menatap wajahnya.


"Natalie pasti curiga pada Nicholas. Ah, sudahlah. Biarkan dia tahu seiring berjalanya waktu. Lagipula aku akan tetap bertahan di sini untuknya. Aku tidak akan membiarkan laki-laki brensg3k itu terus menerus melukai Natalie."


1 jam yang lalu.


Kepala HRD memanggil Kevin ke ruangannya. Dari awal dia dipanggil dia sudah tahu, pasti ini ada hubungannya dengan Nicholas. Karena tempo hari, laki-laki itu pernah menawarkannya untuk mutasi ke salah satu cabang miliknya dengan tawaran gaji yang lebih besar di sana.


"Jadi, sebelumnya Tuan Nicholas sudah memberitahukan mu mengenai hal ini?"


"Sudah," sahut Kevin.


"Bagus kalau begitu. Jadi saya tidak perlu susah payah lagi menjelaskannya lebih jauh. Nah, ini job desk yang nanti akan kamu lakukan di tempat baru nanti." Kepala HRD itu memberikan Kevin selebaran kertas berisi job desk nya jika dia menerima tawaran itu. Lebih simple dan tidak banyak makan tenaga memang, apalagi dengan gaji yang ditawarkan, tentunya sangat menggiurkan. Tapi tunggu dulu, Kevin tidak sebodoh itu. Dia tau ini hanya akal-akalan Nicholas untuk membuatnya jauh dari Natalie.


"Terimakasih untuk tawarannya, Pak. Biar saya pikirkan terlebih dahulu untuk masalah ini."


"Oh, iya iya. Silahkan! dengan senang hati."


Kevin pun akhirnya pamit dari ruangan itu. Kembali ke ruangannya.


"Tidak semudah itu kau menyingkirkan ku, Nicholas."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2