Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Tertangkap


__ADS_3

Kelly menggeram kesal setelah menerima laporan dari Jennifer.


"Kau ini bagaimana sih? ... kenapa bisa Nicholas bisa melakukan itu?" geram Kelly. Keponakan dari Kelly itu pasalnya sedang dibuat khawatir karena semenjak Nicholas meninggalkannya di rumah sakit kemarin, laki-laki itu tak lagi bisa dihubungi. Bahkan sepertinya nomornya saja sudah diblokir oleh Nicholas.


"Aku juga tidak tahu, kenapa Nicholas bisa seperti itu," jawab Jennifer tak kalah kesalnya. "Ini semua pasti gara-gara Natalie."


Kelly terlihat berpikir keras. Kalau sampai kebusukan Jennifer sudah diketahui Nicholas, itu artinya dia juga harus segera berjaga-jaga, takut kalau kebusukan selanjutnya yang akan terbongkar adalah dia.


"Aku curiga, sepertinya ada seseorang yang mulai ikut campur dengan urusan kita."


"Maksumu?" tanya Jennifer bingung.


Sejak beberapa hari yang lalu, Kelly memang sempat curiga ada orang yang memata-matainya. Dia sempat melihat bayangan hitam keluar dari jendela rumahnya saat dia membuang obat-obatan Merry dan menukarnya dengan obat-obatan palsu. Tapi Kelly tidak mau asal menebak, dia tak mau salah langkah. Oleh sebab itu dia meminta orang lain untuk menyeldikinya.


"Ya sudah, kita pikirkan itu lain kali saja. Aku harus bertemu dengan seseorang," ucap Kelly.


Kelly lantas buru-bruu menutup teleponnya, saat seseorang datang menemuinya.


Iya, saat ini Kelly memang tengah berada di sebuah Restoran mewah, dan tentunya kelas VIV, yang dimana hanya mereka berdua yang ada di sana.


"Selamat malam, Sayang." Begitu kata sapanya menyambut kedatangan laki-laki bertubuh tegap itu.


"Selamat malam juga, Nyonya cantik."


Mereka duduk bersebelahan kemudian Bram memberikan kecupan di kiri dan kanan pipi Kelly. "Kamu tambah cantik saja," puji Bram.


"Kamu bisa aja." Kelly jadi malu-malu saat Bram memujinya.


Mereka pun melanjutkan makan malam romantis berdua di restoran itu, dan Bram mengakhiri makan malam itu dengan ciuman manis di bibir Kelly.


"Aku tunggu mobilnya besok ya sayang," bisik Bram lembut di telinga Kelly.


"Oke. Nanti aku suruh mereka mengantarnya langsung ke apartemenmu."


Bram pun tersenyum manis lalu pergi begitu saja.


Rupanya Bram adalah selingkuhan Kelly, dia adalah salah satu saingan perusahaan Jhonson.


Kelly mengenalnya saat dia menemani suaminya ke acara launching produk baru salah satu perusahaan, disanalah Kelly mengenal Bram, dan lama kelamaan mereka saling suka, hingga akhirnya mereka bersekongkol untuk mendapatkan harta kekayaan Jhonson Company.


Namun bodohnya Kelly, dia tidak menyadari bahwa Bram hanya memperalat dirinya untuk mendapatkan harta kekayaan suami Kelly itu.


"Bukan hanya berniat jahat pada Nicholas dan juga Ibunya, Nyonya Kelly juga bahkan berkhianat pada suaminya sendiri," gumam Reynald. "Wanita itu ternyata benar-benar licik."


Kini Reynald sudah berhasi mengumpulkan bukti baru, dan dia sudah mengantongi video pertemuan Kelly dan laki-laki yang dipanggil Bram itu.


"Aku harus segera menunjukkan ini pada Nicholas. Nicholas harus memberitahu ini pada Tuan Jhonson." Reynald pun buru-buru bergegas dari ruangan VIV itu, namun ....


Prakkk


Langkahnya terhenti kala ia tak sengaja menyentuh sebuah gelas yang semula berdiri di atas meja.


"Siapa itu?"


Mata Kelly langsung melirik tajam ke segala penjuru, mencari siapa yang sudah dengan beraninya menguping pemicaraannya. Lantas dia mengangkat teleponnya, lalu tak lama datanglah beberapa bodyguardnya yang sejak tadi bersiap menunggu di luar pintu ruangan itu.


"Cari orang itu sampai dapat! habisi dia, dan jangan tinggalkan jejak sedikitpun!"


***

__ADS_1


Dua hari sepertinya cukup mengembalikan kesehatan Natalie, wanita itu akhirnya diizinkan pulang setelah sang dokter datang ke ruangannya pagi-pagi sekali.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil menuju pulang.


"Aku mau pulang ke rumah orangtuaku," kata Natalie lugas.


Mendengar Natalie ingin pulang, Nicholas lantas mendelikkan matanya ke arah wanita itu.


"Tidak bisa! kau tidak diizinkan pergi kemanapun selama satu minggu ini." Lantas Nicholas segera membelokkan mobilnya ke arah rumah mereka.


Nicholas teringat kembali obrolannya bersama ayah Natalie di cafe itu.


Flashback On


"Izinkan aku menebus kesalahanku pada putrimu. Aku ingin sekali menjadi suami yang baik untuknya. Satu minggu saja!" kata Nicholas. "Aku janji setelah itu aku akan menggugat cerai dia."


"Baiklah. Ingat! hanya satu minggu saja," tegas Thomas.


Nicholas menunduk lemah. "Iya, aku janji. Hanya satu minggu."


Flashback Off


Rupanya karena alasan itulah Nicholas tak mengizinkan Natalie pergi. Ia ingin menghabiskan sisa waktu bersama wanita itu berdua.


Nicholas bahkan sudah mengambil cuti selama satu minggu ini. Dia akan melakukan sesuatu yang bisa membuat Natalie berkesan, sebelum mereka resmi bercerai, dan sebelum Nicholas benar-benar pergi untuk selamanya.


Natalie kesal bukan main, apa maksudnya? dia tidak boleh keluar selama satu minggu.


Nicholas, laki-laki sinting itu memangnya tidak tahu ya, kalau rumah mewahnya itu bagaikan Neraka. Jangankan seminggu, sehari saja Natalie rasanya sudah muak berlama-lama di sana.


Demi menghindari perdebatan pagi iti, Natalie pun akhirnya tak melanjutkan kembali keinginannya. Dia bisa pergi sendiri tanpa harus meminta Nicholas yang mengantarkannya.


Sesampainya di garasi rumah, Natalie buru-buru turun dan keluar dari mobil tanpa menunggu Nicholas mematikan mobilnya terlebih dahulu.


Drttt


Begitu sampai kamar, ponsel Natalie berdering. Buru-buru dia meraihnya. Sudah dua hari ini dia berpisah dengan benda pipih itu. Pasti banyak pesan dan panggilan yang dia abaikan.


Dua puluh Panggilan tak terjawab, dan tiga puluh pesan ternyata masuk ke dalam ponselnya. Perentase baterai ponselnya pun bahkan tinggal 5% lagi, buru-buru ia mencari charger dan menyambungkannya.


Erick : Nat, hari ini kau tidak masuk kerja?


Erick : Kamu sakit?


Erick : Besok kalau masih sakit kamu gak usah kerja dulu!


Erick : Nat, kamu beneran sakit?


Erick : Boleh aku jenguk kamu?


Erick : Nat, sudah baikan belum?


Natalie tersenyum miring saat membaca isi pesan dari atasannya itu.


"Sepertinya Erick sangat mengkhawatirkan ku," batin Natalie. Lantas wanita itu pun langsung membalas pesan Erick.


Maaf, aku tidak memberi kabar padamu. Aku memang sakit, tapi besok aku sudah bisa kembali bekerja. Maaf ya sudah membuatmu khawatir! Send To Erick


Tak lama, panggilan telepon dari Erick tersambung. Laki-laki itu sepertinya senang sekali saat Natalie memberi kabar padanya.

__ADS_1


"Kamu sakit?" tanya Erick terburu-buru saat Natalie baru saja menerima panggilannya.


"Cuma kecapan kok."


"Hufttt!! kemana saja? kenapa kau tidak membawa ponselmu? kau tahu ... aku sangat mengkhawatirkanmu."


Natalie terkekeh lucu. Sebegitu hebohnya Erick saat Natalie hilang kabar dua hari.


"Maaf, maaf. Ponselku ketinggalan di rumah, jadi aku tak sempat menjawab pesanmu."


"Oh begitu. Memangnya kau sampai di rawat di rumah sakit?"


Ah, Natalie lupa. Kenapa juga dia harus salah bicara. Erick pasti semakin mengkhawatirkannya.


"Mppp ... iya."


"Kau benar-benar membuatku khawatir tau gak sih?" Erick terdengar kesal di jauh sana. "Ya sudah, mulai sekarang kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu ya! jangan capek-capek, cepet sembuh ...." Erick terus mengoceh di sana, membuat Natalie gemas dibuatnya. Bos nya itu bahkan bawelnya melebihi ayahnya sendiri.


"Iya ... iya."


"Dan cepet ke kantor lagi."


"Kenapa emangnya?"


"Soalnya aku kangen."


Beberapa detik suasana kembali hening.


"Emang salah ya kalau bos kangen sama bawahannya. Inget loh, kerjaan kamu udah numpuk nih!"


Natalie akhirnya tertawa kembali setelah Erick mengalihkan pembicaranya, meskipun sebenarnya Natalie juga masih ragu dengan rindu seperti apa yang dikatakan Erick itu.


"Iya ... iya. Besok aku kerja kok."


"Ya sudah! aku tutup dulu teleponnya, kamu istirahat ya!" ucap Erick.


"Siap, Pak Bos!"


Setelah menutup panggilannya dengan Erick, Natalie lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Sepertinya obat yang diminumnya tadi pagi baru bereaksi. Mendadak ia jadi ngantuk sekali, dan akhirnya kembali tertidur. Nicholas yang baru sampai kamar setelah menerima telepon itu hanya menatapnya sebentar lalu beralih masuk ke kamar mandi.


Nicholas merendam tubuhnya di dalam bathtub dengan air hangat. Beberapa hari ini isi kepalanya terasa ingin meledak saja.


Masalah Jennifer, maslaah kantor yang ia tinggalkan beberapa hari ini demi menemani Natalie, dan kini ditambah lagi dengan satu masalah baru, Reynald yang dari kemarin hilang kabar.


"Ah, kemana dia sebenarnya?' Nicholas lantas meraih ponselnya. Dia coba lagi menghubungi laki-laki itu, namun Jawabannya masih sama. Nomor teleponnya tak bisa juga dihubungi.


Nicholas lalu meletakan kembali ponselnya. "Apa mungkin anak itu sedang tidak mau diganggu?" batin Nicholas seraya meletakkan kembali ponselnya.


Sementara di tempat lain. Tempat yang gelap dan jauh dari keramaian, seorang laki-laki tengah di sekap di dalam gudang. Tubuh dan wajahnya bahkan sudah lebam karena pukulan.


Reynald memang tertangkap oleh orang-orang suruhan Kelly, hingga akhirnya Reynald diasingkan ke suatu tempat, dan rencananya Kelly akan menghabisi orang itu, karena Reynald sudah berani ikut campur dengan urusan pribadinya.


"Habisi dia sekarang juga!" ujar Kelly pada orang-orang suruhannya.


Akankah Reynald selamat?


To be continued

__ADS_1


__ADS_2