
Natalie berjalan perlahan mendekati kamar dimana Jennifer dan Nicholas bermalam. Ingin sekali rasanya dia marah dan membuka pintu itu, tapi apa dayanya? lagipula Nicholas pasti akan mengungkit masalah kejadian tempo hari bersama Kevin.
Dia kembali mundur. Setidaknya dia mendengar tak ada suara yang aneh-aneh di sana, mungkin mereka sudah tidur, pikirnya.
"Sayang, kamu masih mikirin apa sih? ... Mikirin wanita itu ya?" Langkah kaki Natalie terhenti kala mendengar suara Jennifer berbunyi. Dia pun kembali mendekat dan mendengarkan percakapan keduanya dibalik pintu, layaknya seorang penguntit.
"Udah sih, tinggal ceraikan saja! ribet banget. Orang dia aja udah jelas-jelas ketahuan selingkuh kok."
Ingin rasanya Natalie marah. Rupanya wanita itu yang selama ini terus mengompori Nicholas.
"*Tidak semudah itu, Jen!"
"Terus kenapa? kamu cinta sama dia?"
"Bukan, bukan itu."
"Terus kenapa?"
"Aku belum puas mempermainkan dia dan keluarganya*."
Mendengar kata-kata itu, sontak saja Natalie membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya mendadak kaku. Dia tidak pernah tahu bahwa ternyata selama ini Nicholas menikahinya hanya karena dendam. Dia hanya berpikir bawha Nicholas berubah karena dia mengenal Jennifer, tapi ternyata tidak, lebih parah dari itu. Nicholas bahkan tidak pernah mencintai Natalie sedikitpun.
"Memangnya apalagi sih?"
"Aku ingin melihat Nadia gila. Aku ingin melihat Thomas menderita karena anaknya aku sia-siakan. Aku juga ingin melihat Nadia terluka parah karena melihat salah satu anaknya tiada. Yah, mungkin cukup segitu saja."
"*Apa kau benar-benar sangat dendam pada keluarga Natalie?"
"Hmppp ... sangat. Makanya jangan pernah memintaku lagi untuk segera menceraikannya. Karena aku masih butuh dia untuk ku jadikan kuda dalam drama pementasan dendamku pada keluarganya*."
"Jadi, dia menikah denganku hanya untuk membalaskan dendamnya pada keluargaku?" batin Natalie.
Jelas ini sangat menyakitkan bagi Natalie. Dia tidak pernah mengira bahwa kisah asmaranya akan menyedihkan seperti ini.
"Jadi selam ini dia tidak pernah mencintaiku?" Natalie berjalan mundur menjauh dari kamar itu. Dia tak mau lagi mendengar apapun yang dibicarakan mereka. Semuanya sudah jelas, kini dia mengerti apa arti sikap dingin Nicholas selama ini. Kini dia mengerti, kenapa Nicholas selalu membantu keluarganya, itu karena dia ingin menjerat keluarganya.
Prank
Vas bunga yang berada di samping Natalie tak sengaja ia buat jatuh berantakan. Mendengar benda jatuh di luar kamar. Nicholas buru-buru keluar dari kamarnya. Namun dia tak menemukan siapapun di sana selain vas bunga di depan pintu kamarnya yang sudah berantakan.
Tak lama Helena datang karena mendengar suara itu.
"Bi, apa ada hewan peliharaan di rumah ini?" tanya Nicholas.
"Tidak ada, Tuan. Saya tidak pernah melihat hewan piaraan apapun di rumah ini," sahut Helena sambil membereskan serpihan barang-barang itu sementara Nicholas berpikir sejenak dalam benaknya, "Siapa yang sudah menjatuhkan vas bunga ini?"
__ADS_1
Jennifer datang di belakang Nicholas. Sedangkan Nicholas mengedarkan pandangannya dan dia menemukan setetes darah di vas bunga itu. "Darah? ... kenapa ada darah?" Nicholas sempat mencium bau anyir darah itu. Dia yakin, itu bau darah manusia yang masih baru sekali. Tapi siapa?
"Natalie." Pikirannya langsung tertuju pada wanita itu."Apa dia mendengar semua yang ku ucapkan?" Nicholas buru-buru masuk ke dalam kamarnya, sementara Jennifer hanya mendelik malas dan tak perduli.
Ceklek
Nicholas membuka perlahan pintu itu, Namun sepertinya bukan Natalie. Karena wanita itu sedang meringkuk tenang di atas kasurnya dengan tertutup penuh oleh selimutnya.
"Huh, syukurlah. Ternyata bukan dia." Nicholas sempat memandanginya beberapa saat, sampai akhirnya ia tutup kembali. "Mungkin penciumanku salah. Mungkin hanya darah kucing liar," batinnya.
"Dari mana?" Jennifer sudah menghadangnya di ruang tamu. Ruang pemisah antara kamar pribadinya dengan kamar tamu. "Abis liat istri kamu? ... khawatir?" Jennifer terus mencecarnya dengan banyak pertanyaan yang membuat Nicholas malas.
"Apa sih, Jen?" Nicholas kemudian duduk dan menenggak segelas air putih yang terhidang di meja itu. "Sini duduk!" kemudian dia menepuk kursi di sampingnya agar wanita itu mau diam. Jennifer yang sedang dalam mood tidak baik itupun langsung duduk di samping Nicholas seraya memeluknya. "Gak usah terlalu peduli sama wanita itu sayang. Dia itu cuma wanita jal@ng."
"Seharusnya aku tidak perlu mengkhawatirkannya sejauh ini," batin Nicholas berbicara sendiri tanpa memperdulikan ucapan Jennifer.
***
"Ini tidak adil, Tuhan." Natalie tengah duduk sambil terisak. Dia menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Natalie tahu, beberapa menit lalu Nicholas datang dan membuka pintunya. Namun dia memilih bungkam agar Nicholas tak curiga bahwa dia yang sudah menjatuhkan vas bunga itu.
Seketika air mata yang sejak tadi ia tahan pun kembali berderai dengan derasannya. Ia masih tak percaya atas kenyataan yang baru saja ia terima.
"Nicholas tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah menganggap aku sebagai istrinya. Dia menikahiku hanya karena dendamnya pada keluargaku." Lagi dan lagi, Natalie terus mengucap kata-kata itu dalam pikirannya. Semakin ia berusaha menolak kenyataan ini, semakin sesak pula terasa dadanya.
Bibirnya bergetar hebat. Suhu tubuhnya naik drastis. Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa dia akan terperangkap dalam kubangan dalam seperti ini. Mencintai laki-laki yang ternyata tak menganggapnya lebih dari seekor kuda sirkus.
Natalie melirik ponselnya karena sebuah getaran berhasil membuat layar ponselnya menyala. Nama Erick tertera di sana.
Erick : Aku masih berharap kau mau menerima tawaranku.
Pesan itu layaknya sebuah pelita di gelapnya malam Natalie. Sepertinya masih ada secercah harapan untuk Natalie agar segera keluar dari neraka ini.
"Sepertinya ini adalah pintu untukku," batinnya.
Flashback
"Nat, sejujurnya aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian di tempat ini," ucap Erick saat menemui Natalie yang sedang bekerja di cafe miliknya.
"Kenapa?"
"Ya, aku cuma takut aja, kalau sesuatu terjadi denganmu seperti kemarin malam."
"Kenapa harus takut? bukankah kau sendiri yang mengatakannya padaku, kalau laki-laki itu tidak akan pernah lagi datang ke tempat ini."
Erick sempat diam beberapa detik, sebelum akhirnya ia kembali menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
"Bukan begitu, kan kita tidak pernah tahu laki-laki macam apa lagi yang nanti akan datang ke tempat ini ... kau tahu sendiri, tempat ini sebetulnya tidak begitu baik untuk wanita sepertimu."
Beberapa detik lamanya Natalie sempat terdiam, menimang-nimang ucapan Erick. Laki-laki itu memang ada benarnya juga, Natalie tidak pernah tahu kejadian apa yang akan terjadi hari ini dan hari-hari selanjutnya. Tapi untuk saat ini tidak ada pilihan lain. Hanya pekerjaan ini yang bisa Natalie kerjakan sebagai pekerjaan sampingannya, untuk segera melunasi hutang hutangnya.
"Lalu aku harus berbuat apa?" Natalie merapikan beberapa kertas yang berserakan di meja kerjanya.
"Bagaimana kalau kau menjadi sekretaris pribadi ku?"
"Hah? sekretaris?"
Natalie menyipitkan matanya ia mencerna dengan baik ucapan Erick. Apa dia salah dengar, pikirnya. Erick kan tahu kalau dia masih bekerja di tempat Nicholas, mana mungkin dia bisa menjadi sekretaris pribadinya? ... sedangkan jam kerja seorang sekretaris pribadi itu lumrahnya sebagai pekerja biasanya yaitu di siang hari.
"Aku bisa membayar dua kali lipat dari gajimu di sana."
Lamunan Natalie seketika buyar ketika laki-laki itu mengucapkan akan membayar gajinya dua kali lipat.
"Kau serius?"
Erick mengangguk.
Natalie yang semula terlihat antusias langsung menarik raut wajahnya kembali, dia dan Erick Baru beberapa hari ini berkenalan, tapi kenapa Erik seolah-olah memberikan sesuatu yang berbeda kepadanya? Natalie hanya takut kalau ada maksud lain dari laki-laki itu. "Maaf, tapi bukankah kita baru saling kenal. Kenapa kau bersikap sangat baik padaku seperti ini?"
Erick melihat ada kecanggungan di wajah Natalie. "Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini. Tapi entah kenapa melihatmu diperlakukan seperti kemarin, aku jadi takut kalau sesuatu yang buruk menimpamu. Mungkin aku hanya teringat mantan kekasihku saja yang sudah tiada."
"Mantan?"
"Hmppp." Erick mengangguk. "Wajahmu mirip sekali dengannya. Jadi, aku minta maaf kalo kalau kamu merasa aku berlebihan dalam bersikap padamu."
"Ah, tentu saja tidak." Natalie ternyata salah menilai Erick. Dia jadi merasa bersalah. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ... " ucapan Natalie terhenti. "Aku cuma takut kau seperti Nicholas. Memberikan harapan hanya untuk dijatuhkan. Aku hanya takut."
"Ah, sudahlah lupakan!" Natalie berusaha kembali mencairkan suasana. "Kita bisa bicarakan lain waktu."
"Hmppp."
Flashback Off
Sebetulnya Natalie sangat tergiur dengan tawaran itu. Karena dengan begitu dia tidak perlu lagi kerja paruh waktu untuk segera melunasi hutang-hutang ibunya, jika dengan bekerja sebagai sekretaris saja sudah bisa mendapatkan gaji yang lumayan besarnya.
Tapi balik lagi pada laki-laki bernama Nicholas Jhonson itu rupanya. Dia yang sudah membuat Natalie dilema berhari-hari, dan mengundur-undur keinginannya untuk bekerja di tempat Erick.
Natalie masih ingin menikmati hari-hari bersama laki-laki itu, meskipun hanya sekedar berangkat dan pulang kerja bersama. Baginya itu sudah cukup mengobati kerinduannya akan masalalu Nicholas yang romantis padanya.
Natalie juga berharap, seiring berjalannya waktu, Nicholas akan kembali mencintai dirinya sepenuhnya dan melupakan wanita bernama Jennifer itu. Tapi, setelah mengetahui semua fakta yang sebenarnya, rasanya sudah tidak ada lagi alasan untuk Natalie tetap tinggal di samping laki-laki itu.
"Ya, aku mau menjadi sekretaris pribadimu." Send to Erick
__ADS_1
To be continued