Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Kesaksian


__ADS_3

Reynald sudah sampai di depan rumah Nicholas. Dia buru-buru memperlambat laju mobilnya ketika sampai di depan gerbang dan seorang penjaga membukakan pintu untuknya.


Tapi tunggu!!!


Samar-samar Reynald melihat mobil Jennifer baru saja pergi dari tikungan yang tak jauh dari rumah Nicholas.


"Apa Jennifer baru pulang dari rumah Tuan Nicholas?" batin Reynald.


"Silahkan, Tuan!"


Seorang penjaga membuyarkan lamunan Reynald, laki-laki itupun kemudian segera masuk dan memarkirkan mobilnya.


***


Di dalam kamar mandi


Nicholas menatap dirinya di depan cermin dengan perasaan aneh.


"Apa yang sudah kulakukan?" tanyanya dalam hati. Ia baru saja melakukan hal yang selama ini ia tahan-tahan.


Ya, Nicholas memang menahan hasratnya selama ini karena takut kalau Natalie hamil, lalu dia pergi untuk selamanya karena penyakitnya, meninggalkan Natalie dan anaknya, Nicholas tidak mau itu terjadi, makanya dia selalu menahan dirinya untuk tidak bersetubuh dengan istrinya itu.


Tapi kali ini beda, Nicholas menyetubuhi wanita itu karena ia ingin menggugurkan kandungan Natalie.


Seketika Nicholas kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


"Sakit, Nic! hiks hiks hiks!"


Natalie meremas sprei begitu kuat sambil menitikkan air matanya. Matanya terpejam seperti menahan sakit dan perih yang teramat. Wanita itu bahkan sampai menggigit bibir bawahnya saking tidak kuatnya ketika Nicholas memaksa masuk menerobos bagian intimnya.


Natalie benar-benar meringis menahan sakit ketika Nicholas menyetubuhi wanita itu dengan liarnya, sementara Nicholas yang sudah terbakar api emosi tak memberikan ampun pada wanita itu.


Nicholas memang sengaja melakukan itu, dia berharap jika dia bisa menggugurkan bayi yang ada dalam kandungan Natalie, tapi setelah selesai sampai di puncaknya, kenapa darah yang keluar tidak seperti darah orang keguguran pada umumnya yang biasanya keluar dalam jumlah banyak.


"Darah apa itu sebenarnya?" batin Nicholas


Meskipun Nicholas tidak pernah melihat orang keguguran secara langsung, tapi setidaknya dia pernah melihatnya di beberapa film yang pernah ia tonton.


Lalu sebenarnya darah apa yang keluar dan menetes di sprei itu? kenapa hanya sedikit?


Dan kenapa Natalie begitu kesakitan?


Kenapa juga Nicholas merasa begitu kesulitan saat menembus pertahanan wanita itu?


Jujur, ini kali pertamanya bagi Nicholas melakukan hal itu dengan wanita. Meskipun dia berhubungan dengan Jennifer bertahun-tahun, tapi dia tidak pernah melakukan ini. Jadi, Nicholas tidak mengetahui bahwa tanda-tanda yang dialami Natalie menunjukkan bahwa wanita itu masih gadis, alias Nicholas lah yang pertama kali menembus keperawanannya.


"Arghhhhhh." Nicholas mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia jadi merasa bersalah. Kenapa juga dia harus sebodoh ini.


"Bagaimana kalau ternyata ... ah, tidak-tidak. Natalie sudah tidak gadis lagi, dia sudah pernah melakukannya dengan Kevin." Nicholas berandai-andai wanita itu masih perawan. "Dia mungkin hanya pura-pura kesakitan agar aku merasa bersalah padanya."


Tok .. tok .. tok


Suara ketukan pintu menyadarkan Nicholas dari lamunannya.


"Tuan," panggil Helena. "Di depan ada Tuan Reynald!"


"Iya. Suruh dia menunggu sebentar!"


"Baik, Tuan."


Menghembuskan nafasnya dengan gusar, Nicholas pun buru-buru membasuh seluruh badannya di bawah guyuran shower. Namun tak dapat dia pungkiri, bayangan Natalie saat menangis tadi terus menyelimuti pikirannya.


***


"Rey," sapa Nicholas yang baru saja datang. "Ada apa kau malam-malam begini datang kesini?"


Reynald buru-buru berdiri saat Nicholas datang. "Maaf, Tuan mengganggu waktu istirahatmu," kata Reynald sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa. Duduklah!"


Reynald mengangguk patuh kemudian dia duduk setelah sang Tuan mempersilahkannya.


Tak lama Helena datang membawakan dua gelas minuman. "Silahkan, Tuan!" kata Helena sambil membungkukkan sedikit badannya.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Reynald, dan Helena pun kembali ke dapur.


"Tuan, bahu anda kenapa?"


Reynald terpusat pada bahu Nicholas yang terlihat seperti bekas cakaran.


Itu rupanya bekas cengkraman tangan Natalie yang merintih menahan sakit.


"Ah, ini. Bukan apa-apa." Nicholas berusaha menutupinya dengan baju. Namun sayang, bajunya terlalu pendek, karena dia memang mengenakan baju you can see alias kaos oblong.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanya Nicholas dengan suara datarnya. Ia sengaja mengalihkan pertanyaan Reynald agar laki-laki itu tak berpikiran lain-lain tentangnya.


"Begini, Tuan. Sebenarnya ...."


Mendadak Reynald ragu, apakah dia akan mengatakan ini pada Nicholas?


Reynald takut kalau Nicholas tak percaya. Terlebih selama ini Nyonya Kelly sudah sangat mencintainya.


"Sebenarnya apa? cepat katakan!"


Baiklah, Reynald pun menarik nafasnya dalam-dalam.


"Apa Tuan tahu, kalau Jennifer dan Nyonya Kelly punya hubungan saudara."


Teg


Sebentar!


Apa maksud Reynald?


"Jennifer adalah keponakan Nyonya Kelly," lanjut Reynald, sementara wajah Nicholas masih menatapnya bingung.


"Jangan mengada-ada. Mama bilang, kalau dia adalah anak tunggal. Dia tidak punya saudara, jadi dia tidak mungkin punya keponakan. Kalaupun memang benar Jennifer itu saudara Mama, mungkin hanya saudara jauh saja," ujar Nicholas dengan santainya.


"Tidak, Tuan," sergah Reynald. "Saya punya buktinya." Reynald pun lantas memperlihatkan postingan lama Jennifer itu pada Nicholas.


Nicholas berusaha menelan salivanya dengan susah payah saat melihat beberapa postingan Jennifer kala itu terlihat sangat dekat dengan orang tua angkatnya, yaitu Kelly.


"Ini." Reynald menunjukkan salah satu postingan Jennifer saat dia tengah digendong Kelly. "Tante rasa Mama."


"Maaf, Tuan. Tapi beberapa hari ini saya memiliki kejanggalan pada Jennifer dan juga ... " Ah rasanya Reynald terdengar tak sopan jika ternyata dia memata-matai orang tua Bos-nya sendiri.


"Juga siapa?"


"Juga Nyonya Kelly."


"Apa maksudmu kau mencurigai Mama? kau membuntuti Mama juga?" Nicholas mendadak marah. Dia tak suka kalau Reynald mengusik orang yang sudah membuatnya sampai bisa berdiri seperti sekarang. "Jangan kurang ajar ya kau!" Nicholas menarik kerah baju Reynald.


"Tuan, percaya padaku! Nyonya Kelly dan Jennifer bukan orang baik. Dia punya rencana dibalik kebaikannya padamu."


"Tidak mungkin. Mama tidak mungkin berniat jahat padaku. Mama sangat mencintaiku. Dia sudah membesarkan ku sampai saat ini." Emosi Nicholas akhirnya muncul. "Kau tahu!!! kalau bukan karena dia, aku tidak akan ada di sini sekarang."


Dugaan Reynald benar. Nicholas pasti tidak akan percaya kalau Nyonya Kelly punya rencana jahat.


"Silahkan pergi dari rumahku!" Nicholas melepas cengkramannya.


"Tapi, Tuan."


"AKU BILANG PERGI, PERGI!"


Dengan sangat terpaksa, Reynald pun akhirnya mengalah, meninggalkan tempat itu tanpa berhasil membuat Nicholas percaya.


Dia harus menunggu waktu yang lebih tepat agar Nicholas mau terbuka hatinya.


"Pak Nicholas."


Seorang wanita tiba-tiba datang dengan nafas yang terengah-engah.


"Kau."


Reynald dan Nicholas coba menerka-nerka siapa nama wanita itu.


"Saya Eliza, Pak. Saya sahabat Natalie."

__ADS_1


"Ah, untuk apa kau datang ke sini?"


"Saya datang ke sini untuk meminta maaf."


Nicholas mengernyitkan keningnya. "Maaf untuk apa?"


Eliza menarik nafasnya dalam-dalam. Dia harus yakin, dia harus menebus kesalahannya.


"Soal kejaidan tempo hari itu, waktu di rumah Kevin, sebenarnya Kevin dan Natalie tidak melakukan apapun. Mereka dijebak."


Rupanya Eliza memberanikan dirinya untuk datang dan memberitahu Nicholas yang sebenarnya. Dia menyesal karena telah bersekongkol dengan Jennifer, dan kini, akibat kecerobohannya, Kevin masuk rumah sakit dan babak belur karena Nicholas mengira bahwa Kevin dan Natalie berkhianat dibelakangnya.


Dua jam yang lalu.


Natalie : Liz, cepat datang ke rumah sakit XXX. Keisha kecelakaan.


Saat mendapati pesan dari Natalie, Eliza langsung buru-buru menancap gas menuju rumah sakit. Namun, kejadian tak terduga ia lihat di depan matanya, Kevin tergeletak lemah tak sadarkan diri setelah Nicholas menghajarnya habis-habisan dan tanpa ampun. Sebenarnya Eliza ingin menghentikan, tapi dia takut, dia ragu, barulah setelah Nicholas pergi, Eliza menolong Kevin dan segera membawanya ke instalasi gawat darurat.


"Vin, maafkan aku!" Eliza menangis sesenggukan saat melihat Kevin terkapar lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Kenapa kau menangis? aku tidak apa-apa," kata Kevin berusaha tegar. Padahal dia sudah benar-benar lelah. Ia memikirkan bagaimana caranya ia bisa merawat Keisha kalau keadaan dia seperti ini.


"Tidak, ini salahku. Ini salahku." Eliza terus menyalahkan dirinya. Ia yakin, kesalahpahaman ini terjadi karena kejadian malam itu. Nicholas pasti masih dendam pada Kevin karena mengira Kevin bersetubuh dengan Natalie.


"Sebenarnya ..." Eliza berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya. Ia sudah pasrah apapun yang akan terjadi ke depannya. Ia ikhlas jika Kevin akhirnya akan membencinya, "Sebenarnya malam itu...."


Eliza pun menjelaskan secara detail tentang apa yang sudah ia lakukan malam itu atas dasar kerjasamanya bersama Jennifer.


"Jadi kau..." Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, sementara Eliza terus terisak dan menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku, Vin. Maafkan aku! aku tahu aku salah. Aku terlalu dibutakan cinta, sampai akhirnya aku tega mengorbankan sahabatku sendiri."


Kevin mengeratkan giginya kesal. Rupanya wanita itu telah menghasut Eliza untuk kembali melukai Natalie.


"Liz, ceoat datang ke rumah Nicholas. Jelaskan padanya semuanya! katakan kalau jennifer lah dalang dibalik semua ini."


"Aku takut, Vin. Aku takut kalau Jennifer akan membunuhku."


Eliza benar. Jennifer tak akan segan-segan meghabisi orang yang sudah berkhianat dengannya.


"Jangan takut! aku akan melindungimu jika sampai Jennifer berbuat jahat padamu."


Mendadak, Eliza seperti mendapat tenaga yang sangat besar, saat Kevin menjanjikan akan melindunginya. Dia pun mengangguk iya.


"Ya sudah, cepat pergilah! jangan sampai Nicholas menyakiti Natalie lagi."


Tanpa rasa ragu, Eliza pun segera bergegas menemui rumah Nicholas.


Flashback Off


"Jadi kau dan Jennifer ...." Nicholas mengeratkan giginya dengan menatap Eliza penuh kemarahan. Sebelah tangannya mengepal kuat seperti ingin menghajar wanita di hadapannya. Kalau saja ia bukan wanita, pikir Nicholas.


"Maafkan saya! saya tahu saya salah, Pak. Saya ikhlas jika bapak ingin memecat saya," jawab Eliza yang tak berani menengadahkan wajahnya.


Prakk


Saat suasana tengah tegang, terdengar suara gelas jatuh.


Suara itu jelas berasal dari kamar Nicholas.


"Natalie," Cicit Nicholas. Matanya langsung terarah pada asal sumber suara itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Nicholas segera berlari ke kamar itu, diikuti Reynald dan Eliza di belakangnya, Nicholas menemukan Natalie sudah tergeletak di lantai dan tak sadarkan diri.


"Natalie." Nicholas langsung mengangkat tubuh lemah Natalie."Reynald, cepat siapkan mobil."


"Baik, Tuan!"


Nicholas pun langsung membopong Natalie keluar rumah, dan segera membawanya ke rumah sakit.


To be continued


 

__ADS_1


 


__ADS_2