
Sebelumnya aku mau mengucapkan terimakasih banyak atas kesediaan semua readers untuk membaca ceritaku yang rumit ini.
Terimakasih juga selalu setia memberikan masukan.
Mohon maaf, kalau untuk sementara aku belum bisa merespon komentar kalian. Karena aku hanya ingin fokus pada novel ini yang sudah memasuki tahap ending.
Itu semua karena banyaknya komentar yang membuat konsentrasi sedikit terganggu saat membacanya.
Intinya saya akan tetap menulis sesuai alur yang sejak awal sudah saya rencanakan, karena kalau saya harus merubah alur takutnya malah akan aneh. Adapun komentar dari readers yang ada, selalu saya usahakan untuk jadi perbandingan kok.
Insyaallah novel ini akan segera tamat. Dan apapun akhirnya, author harap semua bisa menerimanya. Sekiranya nanti endingnya tidak sesuai dengan keinginan, mohon dimaafkan karena saya bukan penulis profesional. Kesalahan pasti banyak sekali saya lakukan selama proses penulisan.
Sekali lagi mohon maaf 🙏🏿 dan selamat membaca.
Saran : Silahkan dengarkan lagu yang menurut kalian cocok untuk lagu perpisahan dengan seseorang yang sangat kalian sayang.
***
Siang ini Nicholas mengajak Ayah dan juga saudara barunya, Selli untuk bertemu di perusahaannya. Selain mereka bertiga, Nicholas juga mengajak Reynald untuk mengikuti rapat dadakan yang sengaja Nicholas adakan itu.
"Jadi, sebenarnya apa yang ingin kau beritahukan pada kami, Nicho?" tanya Mark.
Nicholas terlihat begitu tidak semangat hari ini. Wajahnya terlihat sangat kusut sekali. Mungkin karena masalah yang terus bergelut dalam pikirannya.
"Jadi begini ...."
Nicholas pun mulai menjelaskan maksud dan tujuannya. "Aku ingin memberitahukan satu hal pada Ayah, Selly dan juga Rey. Bahwa aku ... aku akan menyerahkan seluruh aset perusahaan ini kepada putri Ayah yang lebih berhak atas ini."
Hah?
"Maksudmu, kau akan memberikan seluruh saham ini pada Selly?" Mark membulatkan matanya. Ia tak percaya dengan keputusan yang dibuat Nicholas.
Nicholas mengangguk, Reynald dan Selly ikut menatap tak percaya. Mereka saling tatap, ikut heran dengan apa yang dilakukan Nicholas ini terlalu mengejutkan.
"Tapi kenapa sangat mendadak seperti ini? Selly belum siap untuk menerima semua ini."
"Itu sebabnya aku mengajak Rey juga ikut di sini," potong Nicholas. Dia menatap ke arah Reynald, dimana Reynald masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud Nicholas. "Karena Reynald yang akan menjadi direktur utama, memegang perusahaan milik Selly nantinya."
Ini benar-benar keputusan yang sangat mendadak.
"Tapi satu hal, sepuluh persen dari laba yang diperoleh setiap bulannya, aku mohon kirimkan ke rekeningku. Karena aku membutuhkan itu untuk biaya pengobatan Ibuku."
Tidak, sebenarnya bukan hanya untuk dia dan Ibunya, tapi separuhnya dari itu akan dia langsung kirimkan pada Natalie, karena untuk memenuhi kebutuhan anaknya nanti.
Awalnya dia akan memberikan sebagian besar perusahaan itu pada Natalie, tapi melihat Natalie tengah mengandung anaknya, Nicholas tidak mau membuat wanita itu kelelahan memikirkan urusan perusahaan. Lagipula, kini sudah ada anak kandung Ayahnya yang lebih berhak.
"Ya sudah, itu saja. Aku tidak punya waktu banyak. Semua surat-surat sudah ku urus, mulai besok Selly resmi memiliki hak penuh atas perusahaan ini." Nicholas berdiri, dia melenggang pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.
Mark berdiri dari tempat duduknya. "Lantas kau mau pergi kemana?"
Nicholas menghentikan langkah kakinya. Dia berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku hanya ingin fokus mengurus Ibuku saja," jawab Nicholas bohong. Setelah itu ia pun benar-benar menghilang. Beberapa barang milik pribadinya juga sudah ia masukkan ke dalam mobil. Ia sempat menatap tingginya gedung pencakar langit yang selama ini sudah menemaninya selama beberapa tahun itu.
"Aku pasti akan sangat merindukan kalian semua," ucapnya dalam hati.
Setelah masuk ke dalam mobil, Nicholas menghubungi seseorang yang ternyata adalah dokter pribadinya.
"Jadwalkan segera pertemuanku dengan temanmu di luar negeri itu!"
"Iya. Aku sudah memutuskan untuk pergi."
***
Malam hari
Natalie duduk menanti kedatangan Nicholas di sebuah restaurant mewah. Nicholas bilang ada hal serius yang ingin dia katakan.
Natalie menatap jam di tangannya. Sudah jam 20.05 dan Nicholas belum datang juga. Tumben sekali dia tidak tepat waktu, batin Natalie.
Tak lama, akhirnya yang di tunggu datang. Nicholas berjalan ke arahnya, dia terlihat sangat menawan malam ini. Tuxedo hitam favoritenya menjadi pilihan malam ini, sementara Natalie mengenakan longdress warna abu-abu yang baru ia beli beberapa hari lalu. Malam itu memang Nicholas meminta Natalie mengenakan pakaian terbaiknya, meskipun Natalie tidak mengerti apa sebenarnya maksud dan tujuannya.
"Maaf membuatnu menunggu!" ucap Nicholas seraya duduk tepat di kursi yang ada di depan Natalie.
"Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai sepuluh menit yang lalu."
Keduanya akhirnya memutuskan untuk menikmati makan malam itu sebelum mereka masuk ke pembicaraan inti.
__ADS_1
Ting, ting
Hanya dentingan sendok dan garpu yang saling bertautan. Baik Nicholas dan Natalie hanya fokus dengan makanan yang ada di depan masing-masing, sampai akhirnya ....
"Nat, apa kau masih ingat?" Nicholas meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Ia menyudahi makan malam itu.
"Ingat apa?" Natalie ikut meletakkan juga sendok dan garpunya.
"Tempat ini adalah tempat pertama kali kita melangsungkan kencan pertama kita?"
Memori indah itu datang.
Natalie seperti membayangkan masa-masa indah itu. Masa dimana untuk pertama kalinya Nicholas menyentuh tangannya, membelai dan berbisik mesra bahwa malam itu Nicholas merasa beruntung karena bisa berkencan dengan seorang bidadarti.
"Iya, aku ingat," sahut Natalie. Wanita itu masih menundukkan kepalanya. Ia tak sanggup jika harus menatap langsung mata laki-laki di depannya. Rasanya berat.
Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam.
"Aku sengaja mengajakmu makan malam di tempat ini, karena ku rasa tempat ini adalah tempat yang paling baik untuk kita mengakhiri semua kenangan kita."
Teg
Natalie mulai takut. Semula pandangannya yang tertunduk itu terangkat dengan sendirinya.
Mungkinkah semua ketakutannya akan jadi kenyataan?
Nicholas kemudian merogoh sebuah amplop dari dalam tuxedonya.
"Aku sudah memutuskan untuk menganggap lunas semua hutang-hutang ibumu, dan kau tidak perlu lagi membayarnya padaku."
Ucapan Nicholas terjeda sesaat. Ia menyerahkan amplop yang ia balik agar tulisannya tidak terlihat jelas.
Natalie semakin takut. Ia membalik amplop itu. Berharap amplop itu bukanlah amplop yang pernah ia buka kemarin. Tapi sepertinta harapannya tidak dikabulkan, amplop itu memang surat gugatan cerai Nicholas pada Natalie.
"Mulai detik ini, kau sudah tidak terikat apapun denganku, Maka dari itu .... mari kita berpisah."
Deg
🎵 *Agnes Monica : Karena ku sanggup
Walau ku tak mau
Berdiri sendiri tanpamu
Ku mau, kau tak usah ragu!
Tinggalkan aku
Kalau memang harus begitu*
Dunia ini memang terkadang kejam. Seseorang yang benar-benar tulus mencintai kadang harus terus tersakiti, sementara yang tidak benar-benar mencintai kadang mendapatkan apa yang seharusnya tidak mereka dapatkan.
Kita sempat berpikir Tuhan tidak adil.
Sebenarnya bukan tidak adil. Tapi ini semua adalah takdir. Sekalipun kau berteriak keras melengking meminta keadilan sampai pita suaramu putus juga itu tidak akan pernah bisa mengubah keadaan.
Usia, jodoh, kematian, itu bukan sesuatu yang bisa di tawar-tawar. Kita hanyalah manusia yang hanya bisa menjalani semua skenario yang tuhan sudah ciptakan sebelum kita terlahir ke dunia ini.
Natalie berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia harus terlihat tegar seolah ia pun mengharapkan ini sejak dulu. Padahal sebenarnya hatinya sudah hancur berkeping-keping.
"Aku setuju denganmu."
"Kau tidak kecewa?" tanya Nicholas.
Natalie menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku kecewa? ... Lagipula selama ini kita tidak pernah bahagia kan? jadi kurasa ini adalah jalan terbaik untuk kita." Kemudian wanita itu segera membubuhkan tanda tangannya di samping tanda tangan Nicholas sebagai pihak tergugat atau yang disebut sebagai pihak kedua. "Jadi, mari kita sudahi semua ini."
Nicholas menatap setiap inci pergerakan tangan Natalie yang meliuk-liuk di atas kertas itu. Sakit, dada Nicholas benar-benar sesak. Ia sejujurnya tidak mau Natalie menuruti permintaannya. Ia bahkan ingin sekali merobek kertas itu dan membakarnya detik ini juga.
Karena selembar kertas itu nantinya akan merubah semua cerita hidup mereka di masa depan.
Selesai.
Natalie menyerahkan kembali kertas itu. "Kapan sidangnya akan dilaksanakan?"
"Lusa," sahut Nicholas.
__ADS_1
"Baiklah." Natalie berdiri dari duduknya. "Kalau begitu, aku harus pulang sekarang. Aku akan membereskan pakaianku di rumahmu!"
"Tunggu!" Nicholas mencegahnya.
Natalie menghentikan langkah kakinya. "Ada apa lagi?"
"Kau ... kau tidak perlu membereskan pakaianmu!"
"Kenapa? bukankah lusa kita akan berpisah? jadi itu artinya aku tidak berhak lagi tinggal di rumahmu."
Nicholas menggelengkan kepalanya. "Rumah itu sudah resmi menjadi milikmu. Anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan dairku. Jadi kau tidak perlu pergi kemanapun. Karena aku yang akan pergi."
Hadiah?
Hadiah macam apa?
Natalie bisa terus tersiksa jika harus tinggal di rumah yang banyak menyimpan kenangan itu.
Natalie masih diam. Dia tidak berani membalikkan badannya karena takut Nicholas akan melihat air matanya.
"Ayo kita pulang! biar aku antar."
"Tidak perlu! aku bisa naik taksi."
Nicholas langsung menarik tangan Natalie, menyeretnya masuk ke dalam mobil. "Ikuti saja perkataanku! dan anggap saja ini permintaan terakhir dari suamimu ini."
***
Sepanjang perjalanan, seperti biasa, tak ada suara pembicaraan diantara keduanya.
Sampai akhirnya mereka sudah sampai. Nicholas langsung mengemasi barang-barang miliknya seperlunya yang akan dia bawa, sementara Natalie hanya diam tanpa suara, duduk di pojokan kasur sambil sesekali melirik ke arah Nicholas.
Nicholas sudah selesai memasukkan barang-barang yang akan dia bawa ke dalam koper miliknya. Terakhir dia memasukkan sebuah jaket tebal yang dulu pernah Natalie belikan di hari ulang tahunnya. Suatu saat nanti dia pasti akan merindukan sosok wanita yang sangat ia cintai itu. Ia berharap dengan barang permberiannya itu ia bisa melepas sedikit rindunya.
Selesai
Nicholas lantas segera melangkah keluar dari kamar itu. Helena datang dan membantu membawakan koper milik Nicholas, sementara Natalie masih tak bergeming juga dari tempat tidurnya.
Tatapannya masih kosong sama seperti saat pertama dia datang.
Melihat Natalie tak mengucapkan salam perpisahan untuknya, Nicholas pun lantas membalikkan badannya kembali.
Nicholas mengulurkan tangannya. "Maafkan semua kesalahan yang pernah ku perbuat selama kita bersama," ucapnya. Tapi Natalie masih tak juga mau menyambut tangan Nicholas. Ia masih saja memalingkan wajahnya sambil melipat tangannya sebatas dada.
Perlahan Nicholas pun menarik kembali tangannya. Mungkin kesalahannya memang tidak layak untuk dimaafkan.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi. Jaga kesehatanmu! dan jangan telat makan lagi."
Dengan perasaan yang hancur, Nicholas pun pergi.
Sesaat setelah Nicholas benar-benar pergi
"Jahat!!! kamu jahat Nicholas! kamu jahattt!!!"
Brakk
Natalie membanting pajangan keramik yang ada di atas nakas ke lantai begitu saja. Kakinya bahkan sampai berdarah karena terkena serpihan keramik itu.
"Nona, tengankan dirimu!" Helena yang datang langsung memeluk Natalie. Berusaha menenagkan, tapi sepertinya kesedihan Natalie sudah melebihi batas ambang kesabarannya selama ini. Nicholas sudah berhasil membuat hatinya benar-benar remuk dan tak hidupnya seolah tidak berharga.
"Nicholas jahat, Bi. Dia jahaaat, hikss." Natalie menggengam erat lengan Helena yang memeluknya. "Kenapa dia melaukan ini semua padaku? kenapaaa...."
Tubuh Natalie ambruk ke lantai. Dia mennagis sejadi-jadinya dalam pelukan Helena.
"Sabar, Nona. Sabar!" Helena yang memiliki naluri layaknya permpuan lainnya juga merasa terluka dan ikut menangis saat berusaha menguatkan wanita dalam pelukannya. "Bibi mengerti posisimu saat ini. Tapi Nona harus sabar! ini semua sudah kehendak Tuhan."
"Kenapa aku harus mencintai laki-laki kejam seperti dia, Bi? kenapa Tuhan harus mengirimkan aku suami dari neraka seperti dia? kenapaaa? hikss, kenapaaa?"
Sementara Natalie menangis dan merintih di dalam rumah itu, di luar Nicholas masih tak bergeming dari mobilnya.
Nicholas pun akhirnya tiba di hari dimana dia harus benar-benar pergi meninggalkan rumah itu dan semua kenangannya.
Semua kenangan indah yang pernah ia lalui di sana tidak akan pernah mungkin ia lupakan seumur hidupnya, terlebih kenangan bersama wanitanya.
"Selamat tinggal kekasih hatiku."
__ADS_1
To Be Continued