
Jangan lupa like sebelum baca!
Jujur, aku nangis pas nulis part ini, apalagi sambil dengerin lagunya the Potters yang judulnya Temani Masa Tua. Sumpah sih emang agak lebay, but is true. Coba aja kalau gak percaya! jangan lupa ceritakan sensasinya!
Gak tahu kenapa, rasanya aku ada di antara mereka berdua. Aku merasakan kesedihan yang Nicholas rasakan.
Aku berharap semoga aku bisa memberikan keajaiban untuk mereka.
Berdoa saja!
🎵 The Potters : Temani Masa Tua
*Saat tubuhku lemah tak berdaya
Di saat jantungku mulai terasa lemah
Aku inginkan engkau menemani aku
Dan andai kau tahu besarnya cintaku
Sebesar dunia
Saat rambutku kusam dan memutih
Di saat ku tak mampu menggenggam lagi
Aku inginkan engkau menemani aku
Dan andai kau tahu luasnya cintaku
Seluas samudera
Aku ingin engkau selalu
Menemani hidup dan matiku
Aku ingin engkau selalu
Temani masa tuaku*
***
Lagu indah dan romantis itu mengiringi perjalanan Nicholas dan Natalie. Entah kenapa saat lagu itu berkumandang, ada rasa sesak yang diam-diam menyelinap ke dalam relung hatinya.
Mengingat masa-masa indah yang baru saja mereka rasakan kini, rasanya Nicholas belum ikhlas jika suatu saat nanti mereka harus benar-benar berpisah karena sebuah takdir. Takdir bahwa Nicholas harus pergi lebih dulu meninggalkan Natalie seorang diri.
Melihat Natalie terlelap di sampingnya, Nicholas pun memilih menyampingkan mobilnya. Ia berhenti sejenak untuk bisa menikmati wajah indah di sampingnya. Wajah yang mungkin suatu saat nanti akan sangat ia rindukan.
Tak terasa sebelah tangan Nicholas terangkat dan menggenggam erat tangan wanita yang tertidur pulas di sampingnya.
Sepanjang perjalanan sepulang dari Mall, Natalie memang terlelap tidur di samping Nicholas. Sepertinya dia mengalami mabuk, dan memilih tidur karena sejak tadi perutnya terasa mual.
Entah kenapa, semakin lama dada Nicholas semakin sesak. Mengingat penyakit yang saat ini bersarang di tubuhnya. Mungkinkah Tuhan memberikan kesempatan untuknya bisa merasakan hari tua bersama wanita yang ia cintai itu, ataukah itu semua hanyalah khayalan yang tak mungkin Nicholas dapati?
Hari demi hari terus berjalan. Waktu untuk Nicholas tak lebih dari dua bulan lagi, jika menurut prediksi dokter. Belum lagi ucapan dokter sekolah sahabatnya pagi tadi membuat Nicholas pesimis jika dia bisa sembuh seperti sedia kala.
"Tidak semua wanita yang tengah mengandung diizinkan naik pesawat. Apalagi kandungan Natalie tergolong masih sangat muda. Kita harus mengecek dulu keadaan kandungan istrimu. Kalau kandungannya kuat, kau bisa membawa Natalie ikut. Tapi jika lemah, aku menyarankan Natalie untuk tetap di sini."
__ADS_1
"Apa aku tidak bisa menunggu sampai kandungan Natalie setidaknya berusia 5-6 bulan baru aku pergi ke luar negeri?"
"Tidak bisa, Nic. Kita harus cepat berangkat! penyakitmu sudah semakin parah. Kita tidak bisa menunda-nunda lagi."
Pembicaraannya lewat telepon dengan salah satu temannya itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Perlahan genggaman tangan Nicholas semakin menguat, seiring dengan rasa takutnya yang semakin mencuat.
"Akankah kita bisa menikmati indahnya hari tua bersama nanti, sayang?"
Setetes air mata Nicholas turun. Dia benar-benar takut jika harus berpisah dengan wanita di sampingnya. Dia takut kalau nanti hasil pemeriksaan membuktikan Natalie tak bisa ikut dengannya, lalu Nicholas menjalani pengobatan sendirian di sana, meninggalkan Natalie dan juga buah hatinya. Nicholas tidak akan bisa.
Lagipula, belum tentu juga Nicholas bisa sembuh seperti harapannya.
Kalau seandainya ia bisa sembuh, mungkin perjuangan menahan rindu itu bisa terbayar. Lalu bagaimana kalau saat menjalani pengobatan dan meninggalkan Natalie, takdir malah berkata lain? ... bagaimana kalau Nicholas akhirnya harus mengembuskan nafas terakhirnya di sana.
Bagaimana kalau Nicholas tidak punya kesempatan lagi bertemu Natalie selamanya?
Bagaimana kalau Nicholas bahkan tidak punya kesempatan sekalipun untuk melihat buah hatinya lahir ke dunia?
Tentunya Nicholas tidak mau itu semua terjadi. Dia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika itu semua terjadi.
Kalaupun suatu saat Nicholas memang harus pergi, ia ingin pergi dalam dekapan wanita yang sangat dicintainya. Ia ingin pergi diiringi dengan senyuman manis Natalie.
Selain itu semua, masih ada harapan lain yang sangat ia impikan.
Ia ingin sekali memiliki kesempatan meskipun hanya sebentar saja indahnya menjadi seorang suami yang bisa menemani masa-masa kehamilan istrinya.
Nicholas ingin merasakan lelahnya menuruti permintaan istri yang tengah mengidam.
Nicholas juga ingin melihat bagaimana perut Natalie membesar. Pipi, tangan dan kaki Natalie yang juga ikut bengkak, sepertinya akan lucu, batin Nicholas.
Tak terasa Nicholas tersenyum lucu.
Memikirkan bagaimana saat anaknya menendang-nendang perut Natalie.
Bagaimana rasanya berkomunikasi dengan buah hatinya saat masih dalam kandungan.
Sungguh, Nicholas ingin merasakan hal indah itu semua. Sekali saja seumur hidupnya.
Impian Nicholas tidak begitu tinggi. Ia tidak sampai bermimpi bisa menemani buah hatinya saat pergi sekolah, karena itu mungkin terlalu lama. Mimpinya hanya bisa sekali saja melihat bagaimana wajah anaknya saat terlahir ke dunia. Itu saja, sungguh.
Tapi akankah Tuhan mengabulkan do'a sederhana dari seorang Nicholas?
Nicholas lantas mengusap-usap rambut Natalie dari ujung kepala hingga ujung rambutnya dengan pelan. "Tuhan, seandainya saat ini kau mendengar dan melihatku, tolong kabulkan doaku untuk kali ini saja! ... aku hanya ingin menemaninya melewati masa-masa sulitnya. Aku ingin ada saat dia membutuhkan sosok suami untuk merawat buah hatinya." Nicholas terisak, menahan ngilu di dadanya. Karena sebenarnya bukan karena alasan itu ia ingin selalu bersama Natalie. "Aku sangat mencintainya, jujur aku takut sendirian tanpanya."
Nicholas baru saja merasakan indahnya cinta, kenapa harus secepat ini juga takdir berbicara.
"Aku takut jika suatu saat aku tidak bisa lagi melihat senyumnya ... aku takut jika suatu saat nanti aku tidak akan mampu lagi menggenggam tangannya, dan aku juga takut jika suatu saat nanti dia akan melupakanku karena ada sosok laki-laki lain setelah kepergianku."
Hati Nicholas benar-benar remuk. Ia tidak tahu lagi harus kemana dia mengadu. Ia rasanya ingin berteriak, kenapa harus sesulit ini mencintai.
"Nic."
Natalie terbangun saat merasakan mobilnya tak bergerak. "Kita sudah sampai?"
Nicholas buru-buru mengusap air matanya saat Natalie bangun. Dia tak mau Natalie mengetahuinya.
__ADS_1
"Nic, kamu kenapa?"
Tapi sepertinya terlambat, Natalie bisa mengetahuinya. "Kamu nangis?" Natalie langsung menumpu wajah laki-laki itu dengan tangannya.
Nicholas berusaha menepis tangan Natalie. "Aku nggak kenapa-napa kok, Nat!" ucapnya bohong. "Tadi aku cuma berhenti sebentar supaya tidur kamu nyenyak."
Natalie melihat sorot mata penuh kebohongan dalam diri Nicholas.
"Kamu bohong, pasti kamu lagi mikirin penyakit kamu kan?"
Deg
Rupanya Natalie bisa menebak pikiran Nicholas.
Natalie terlihat berusaha tegar dan memberikan senyumnya yang menguatkan, meskipun Sejujurnya jika boleh jujur, hari-hari Natalie juga selalu dipenuhi ketakutan semenjak ia mengetahui penyakit yang menggerogoti tubuh Nicholas. Natalie juga tak kalah takutnya dengan Nicholas. Ia bahkan lebih takut dari yang dibayangkan oleh akal sehat.
"Jangan takut ya! ... aku akan selalu ada untukmu," ucap Natalie sekuat hatinya, sambil mengelus-elus lembut wajah Nicholas dengan jari-jari tangannya. "Bukankah kau bilang, kau masih punya kesempatan untuk sembuh jika berobat di luar negeri?"
Hati Nicholas sakit lagi. Natalie tidak tahu, kalau kemungkinan dia bisa ikut ke luar negeri masih abu-abu. Nicholas belum yakin jika Natalie diperbolehkan ikut dengannya.
"Iya. Aku 'gak pernah takut kok. Kan ada kamu." Nicholas pun berusaha menahan Isak tangisnya agar tidak pecah. "Aku yakin jika semua hal sulit pasti akan bisa aku lewati jika kau selalu menemani."
Natalie menganggukkan kepalanya. "Iya. Aku janji! aku akan selalu menemanimu. Dalam keadaan apapun. Seperti janji suci yang pernah kita ikrarkan dulu. Aku akan selalu ada dalam susah dan senangmu, dalam sehat dan sakitmu, dan dalam segala keadaan apapun, aku janji, aku akan selalu ada untukmu."
Kali ini air mata Nicholas tak bisa terbendung lagi. Ia benar-benar menetes tanpa permisi lagi. Ia terlalu bahagia, bersyukur sekaligus takut jika ia harus kehilangan wanita seperti Natalie.
"Terimakasih, sayang." Nicholas langsung memeluk Natalie, dan Natalie membalasnya. "Terimakasih karena sudah setia menepati janjimu."
"Tidak perlu mengucapkan kata terima kasih untuk hal yang memang sudah sepatutnya aku persembahkan untukmu suamiku."
Beberapa detik lamanya Nicholas memeluk Natalie, menumpahkan segala kesedihannya dan juga ketakutannya akan penyakit yang bersarang di tubuhnya.
Natalie juga sebenarnya ingin menangis. Tapi ia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya. Ia harus terlihat kuat dan tegar di hadapan Nicholas agar ia bisa mencontohkan bagaimana seharusnya Nicholas menjalani hidupnya dengan penuh semangat.
Uekk
Natalie langsung melepaskan pelukannya saat perutnya terasa mual lagi.
"Kamu mual lagi?" tanya Nicholas khawatir.
"Iya, beberapa hari ini aku sering pusing dan mual-mual." Natalie berusaha merebahkan kepalanya agar mualnya sedikit berkurang.
"Sini, biar aku pijit tengkuk lehernya!"
"Jangan-jangan! kamu jangan dekat-dekat! nanti aku bisa muntah di baju kamu."
Bukannya menjauh, Nicholas malah semakin mendekat. Ia memijit-mijit tengkuk leher, tangan juga kepala Natalie bergantian. "Kalau mau muntah ya muntah aja! masalah baju kotor kan aku masih bisa ganti."
"Tapi kan?" protes Natalie.
"Hustt!!! diem! sekarang tidur lagi ya! biar kepalanya 'gak makin pusing."
Awalnya Natalie menolak, tapi saat dia merasakan sentuhan lembut di tengkuk dan kepalanya, perlahan Natalie pun kembali memejamkan matanya. Bersender di kursi, dengan wajah berpaling ke arah kaca, membuat Nicholas leluasa untuk memberikan pijitan yang menenangkan untuknya.
Kau tidak perlu takut aku jijik saat kau muntah di bajuku. Karena hal ini adalah salah satu impianku. Bisa merasakan masa-masa indah saat menjadi calon seorang Ayah. (Nicholas Jhonson)
To be continued
__ADS_1