
Siang ini, Thomas dan Nadia kedatangan tamu. Dia seorang wanita yang bisa dibilang sangat modis jika dilihat dari tampilannya. Baik Thomas maupun Nadia sama-sama tidak mengenal siapa dia. Namun, karena sepertinya tampangnya dari orang baik-baik, Nadia pun mempersilahkan masuk dan memberikannya segelas minuman.
"Silahkan diminum!" ucap Nadia sopan. Sementara Thomas ijin pergi ke tempat usaha baru mereka. Mereka baru saja merintis usaha baru, yaitu percetakan. Meskipun tidak terlalu besar. Tapi setidaknya Thomas bisa membiayai makan sehari-hari dan juga biaya sekolah adik bungsu Natalie.
"Terimakasih, Bu." Wanita berkemeja merah jambu itu menenggak tandas minuman di tangannya.
"Jadi begini, Bu." Wanita itu mulai mengeluarkan barang-barang mewah dari dalam tasnya, "maksud dan tujuan saya datang kemari sebenarnya untuk menawarkan ibu barang-barang_"
"Wah, berlian ini sangat cantik sekali." Nadia yang tak sabar langsung menarik paksa berlian itu dari tangan sang pemilik, "berapa ini harganya?" tanyanya antusias.
"Ah, itu. Murah ... cuma 250 juta. Itu juga bisa ibu cicil tiap bulannya."
Nadia menelan salivanya saat mendengar kata angka 250 juta yang disebut murah itu. Darimana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu. Kalau saja usahanya masih seperti dulu mungkin dia kan bisa mencicilnya.
"Sepertinya saya tidak punya uang sebanyak itu," ucapnya penuh kekecewaan. Lantas menurunkan kembali berlian mewah itu.
"Ah, tidak apa-apa! ibu coba ambil saja dulu!" rayu si penjual, "rezeki siapa yang tahu kan, Bu?"
Nadia ikut terkekeh. Walau sebenarnya Ia sendiri tidak yakin akan mendapatkan uang sebanyak itu.
"Atau begini saja, ibu bantu saya menjual satu kalung berlian ini kepada teman ibu, nanti ibu akan saya berikan diskon atau potongan harga 30% bagaimana?"
"Hah? serius?" Nadia terbelalak.
"Iya. Saya serius."
Melihat tentang keseriusan di wajah si penjual itu, Nadia dengan cepatnya menerima tawaran, tanpa berpikir panjang dampak apa yang akan diterima nantinya.
"Baiklah kalau begitu, ini kalung yang harus dijual kepada teman ibu. Harganya adalah 450 juta. Dan ini gelang yang ibu mau. Harganya 250 juta. Dan ini belum termasuk potongan harga. Kalau ibu berhasil menjual nya makan nanti saya akan langsung memotong diskon tersebut, bagaimana? deal?"
"Deal!" jawab mantap Nadia sambil menjabat tangan si penjual itu.
***
Malam hari, Natalie baru saja merendam tubuhnya di atas bath up, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.
__ADS_1
Sejujurnya dia malas sekali bergegas, tapi mendengar ponsel itu terus menerus berdering, Natalie takut itu hal yang penting. Dan akhirnya dia kembali menggunakan handuk dan meraih ponsel itu.
"Halo, Pa. Ada apa?"
Rupanya itu nomor ayahnya.
"Neva, kamu kenapa sayang?" Natalie terkejut saat mendapati Neva, adiknya terisak dan panik.
"Yasudah, kakak ke sana sekarang ya!" Natalie semakin panik. Dia segera mengganti bajunya.
"Mau pergi kemana?" Tiba-tiba saja Nicholas datang dan mengejutkannya.
"Aku mau pergi ke rumah orang tuaku," sahut Natalie yang tetap fokus pada baju-bajunya. Baju kaos putih polos dengan cardigan merah jambu menjadi pilihannya. Apa saja, asalkan cepat dan mudah ia raih.
"Semalam ini?" tanya Nicholas kembali, "sendiri?"
Nicholas sedikit merepotkan bagi Natalie, "iya." Natalie memang tak ingin mengajak Nicholas. Dia tak mau Nicholas tahu masalah keluarganya untuk yang ke sekian kalinya. Terlebih ini menyangkut uang lagi.
"Aku antar kamu." Suara datar Nicholas membuat Natalie mengernyitkan dahinya.
Dia tidak boleh ikut.
Dia tidak boleh tahu apa yang terjadi dengan keluargaku?
Natalie menyambar kunci mobil yang baru saja diambil Nicholas, "aku bisa pergi sendiri."
Nicholas menatap mata Natalie tak senang. Lalu dengan sekali hentakan, ia mengunci tubuh Natalie dalam pelukannya, dan kembali mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Aku antar kamu, atau kau tidak akan pernah pergi kemanapun malam ini."
Pilihan yang sangat sulit. Tapi, akhirnya Natalie memilih pilihan pertama. Ia tidak mungkin tidak pergi menemui orang tuanya.
Akhirnya keduanya pun melesat malam itu, pergi ke rumah orang tua Natalie.
***
__ADS_1
Sesampainya turun dari mobil, Natalie langsung berlari meninggalkan Nicholas yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya.
"Neva, bagaimana keadaanmu?" Natalie memegangi kedua pipi adiknya yang sudah basah itu.
"Aku ... aku tidak apa-apa kak," ucapnya kembali terisak. Neva memang sangat shock saat melihat kedua orang tuanya diikat oleh penjahat yang berhasil membobol rumahnya malam itu. Sang kakak, Nada yang datang pun terlambat. Karena penjahat itu telah pergi dengan dua berlian yang harganya mencapai tujuh ratus juta rupiah itu. Berlian yang baru saja Nadia ambil dari seorang penjual.
Setelah mengecek keadaan adiknya, Natalie kembali masuk dan menemui kakaknya yang tengah duduk di kursi.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Mama gue tahu, gue datang aja mereka udah pada diiket tangannya." Jawaban santai dari kakaknya, Nada itu membuat Natalie tak yakin dia bisa memberikan penjelasan apapun. Kakak kandung Natalie itu memang acuh tak acuh pada keadaan keluarganya. Terlebih semenjak ibu yang sering memakinya karena status pacar dan kerjaannya yang tidak pernah menemui titik terang itu.
Nicholas yang sejak tadi berdiri sedikit jauh, hanya memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya. Sejujurnya dia sedikit miris melihat betapa paniknya Natalie saat mengetahui rumah orangtuanya dibobol maling. Hanya saja, ada rasa syukur dalam hati Nicholas melihat Nadia kembali menderita.
"Dimana ibu dan ayah?" Natalie bertanya lagi pada kakaknya.
"Di dapur," Jawabnya kembali dengan nada datar. Kemudian Nada berdiri dan tak sengaja berpapasan dengan Nicholas. Nada sedikit tersentak saat melihat penampilan Nicholas yang dengan gagahnya masih menggunakan kemeja kerja dan jasnya. Sejujurnya dia sendiri masih tak yakin jika adiknya itu sukses menikahi seorang CEO muda nan tampan itu.
"Untung aja lu pinter nyari suami yang tajir melintir kaya dia." Ceplosan Nada berhasil membuat Natalie membalikkan badannya ke arah dua laki-laki yang tingginya hampir sejajar itu.
"Maksud Kakak apa?"
"Yah, setidaknya dia bisa jadi Malaikat penolong keluarga kita yang semrawut dalam hal keuangan ini."
"Kakak, jaga bicaramu! kenapa bisa-bisanya kau berkata seperti itu?" Natalie sedikit tersulut emosi. Sejak kapan dia menikah dengan Nicholas hanya untuk dijadikan alat pembayaran.
"Gue kan gak bilang apa-apa! cuma memuji kekayaan dia. Kenapa lu sewot sih?"
"Tapi kan_"
Ucapan Natalie terputus, saat Nicholas mendekat ke arahnya.
"Sudah! kenapa harus diributkan? temui orang tuamu. Dan selesaikan masalahnya segera! aku ngantuk, aku ingin cepat istirahat." Akhirnya Nicholas buka suara juga setelah dari tadi diam. Sedikit senang saat Nicholas membelanya, tapi ada rasa Sedikit terganggu juga karena sepertinya Nicholas tidak pernah nyaman berada di rumah orangtuanya itu. Dia selalu saja meminta pulang lebih cepat tanpa Natalie tahu penyebabnya apa.
"Baiklah,"
__ADS_1