
Di sebuah pusat perbelanjaan, terlihat seorang wanita cantik berpakaian minim itu mengulurkan tangannya. "Terimakasih." ucapnya pada pelayan berusia sekitar 30 tahun itu.
Nicholas mengulas senyumnya sesaat saat melihat Jennifer begitu bahagia. Namun diluar dugaan Nicholas, Jennifer yang sangat agresif itu tiba-tiba mencium pipi Nicholas di depan pelayan yang baru saja memberikan sebuah goodiebag berwarna hitam dengan paduan gold itu.
"Makasih, sayang." ucap Jennifer manja. Pasalnya hari ini Nicholas membelikannya sebuah gelang berlian yang stoknya limited edition itu.
Sontak saja suasana riuh seketika. Sorakan dari beberapa orang disekelilingnya terdengar begitu jelas.
"Huuuuu, so sweet." teriak beberapa wanita.
Nicholas benar-benar kesal. Tingkah laku Jennifer masih saja tidak bisa berubah. Dia selalu saja membuat Nicholas jadi pusat perhatian.
"Sudah ku bilang, jangan biasakan melakukan tindakan itu di depan umum. Aku tidak suka terlihat murahan." Ucap Nicholas seraya melangkahkan kaki meninggalkan Jennifer, karena puluhan pasang mata kini tengah menatap keberadaan mereka disana bak selebriti ternama. Bahkan beberapa dari mereka ada yang mengambil gambar dan video keduanya.
"Moment langka nih. Harus diabadikan. Pasti viral." cicit seorang wanita berkacamata sambil meng-upload sebuah video di laman sosial medianya.
Jennifer melihat ke sekelilingnya. Benar apa yang dikatakan Nicholas. Puluhan pasang mata tengah menatap dan sepertinya saling berbisik.
"Wanita itu sangat beruntung sekali ya. Punya pacar tampan, kaya raya juga tidak pelit. Bahkan barusan aku melihat dia membelikan gelang berlian yang limited edition tanpa menawar sepeserpun. Iri sekali aku melihatnya."
"Iya, aku juga iri." imbuh teman disampingnya.
Jennifer tertawa miring saat tak sengaja mendengar bisikan-bisikan dari wanita-wanita disekelilingnya. Berbeda dari Nicholas yang kesal, Jennifer justru senang jika mereka jadi pusat perhatian.
"Nic, tunggu!" Jennifer mengejar Nicholas yang sudah hampir masuk ke dalam mobilnya.
Nicholas merebahkan badannya lalu membuka layar gadgetnya. Banyak pesan masuk dan salah satunya adalah dari Nyonya Jhonson.
Mama : "Mama merindukanmu, sayang. Kapan kamu akan menjenguk kami di sini?"
Nicholas tersenyum lantas segera membalas pesan itu.
Nicholas : "Secepatnya, Mah. Nicho juga sudah sangat merindukan kalian. Baik-baik ya di sana."
Dari puluhan pesan masuk. Hanya satu pesan itu yang ia balas. Setelah membalas pesan Nyonya Jhonson, seorang wanita masuk ke dalam mobilnya dan duduk di samping Nicholas dengan wajah kesal.
"Kamu tuh kebiasaan ya main pergi pergi aja." Sarkas Jennifer lantas menutup pintu mobil dan menaruh belanjaan di bagian belakang mobilnya.
Nicholas diam dan tak menjawab ucapan Jennifer. Rupanya dia masih kesal pada kekasihnya itu.
"Oke oke. Aku salah. Aku minta maaf." Ucap Jennifer lantas memelas di depan wajah Nicholas.
"Sayang, maaf ya!" ulangnya.
"Harusnya kamu lebih berhati-hati. Kamu kan tahu kalau aku sudah menikah. Bagaimana jika ada yang melihat kita lalu mengatakannya pada Natalie." Nicholas membuka suaranya.
"Loh, emangnya kenapa? bukankah dari awal tujuan kita memang kesana."
Nicholas terdiam mendapat jawaban menohok dari Jennifer.
"Kamu tidak melupakan kesepakatan kita kan?" Jennifer memandang Nicholas dengan penuh tanda tanya besar.
Nicholas masih tak menjawab pertanyaan Jennifer.
"Reynald. Jalan!" titah Nicholas.
"Baik Tuan."
Reynald mengangguk lantas menginjak pedal gas mobil dan membelah jalanan kota.
"Nic," panggil Jennifer. "Jawab aku!"
Nicholas memejamkan matanya sesaat.
"Tentu tidak. Aku tidak akan melupakan tujuan aku menikahi wanita itu." Suara Nicholas akhirnya membuat hati Jennifer kembali lega.
"Baguslah."
Beberapa menit kemudian suasana masih hening setelah pembicaraan keduanya berakhir. Jennifer merasa Nicholas masih kesal padanya. Jennifer melirik wajah datar Nicholas yang masih tak mau memandang ke arahnya. "Udah dong marahnya. Maafin aku ya!" Ucap Jennifer sambil memegang kedua pipi Nicholas.
Nicholas tak bisa melihat wanitanya itu merajuk seperti sekarang. Akhirnya dia mengangguk sebagai jawaban jika dia sudah memaafkan Jennifer. Meskipun Nicholas tahu jika kekasihnya itu tidak benar-benar merasa bersalah. Entah kenapa Nicholas tidak bisa terlalu lama membenci Jennifer. Mungkin karena dia adalah wanita paling setia yang selama ini berada disampingnya baik dalam keadaan suka maupun duka.
"Makasih, ya Nic. Aku sayang kamu." ucap Jennifer lantas menyandarkan kepalanya di pundak Nicholas.
---***---***---
"Belum pulang, Pak?" sapa seorang penjaga keamanan.
Kevin yang tengah duduk di kursi sambil sesekali melirik jam ditangannya hanya membalas dengan senyuman.
"Kemana dia? kenapa sudah jam segini belum juga kembali." batin Kevin.
__ADS_1
Rupanya Kevin sejak tadi menunggu Natalie. Karena selepas istirahat tadi, Natalie memang pergi entah kemana.
Sementara Kevin akhirnya memilih pulang karena tak kunjung menemukan Natalie, Seorang wanita yang dicari justru tertidur nyenyak di ruangan lain.
Rupanya Natalie menyelesaikan laporan yang rusak karenanya. Namun karena kelelahan, Natalie tertidur di ruangan khusus yang biasa dipakai untuk fotocopy itu.
Natalie menggigil. Sepertinya kedinginan karena dia tertidur tepat pada posisi dimana pendingin ruangan itu menghembuskan anginnya.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Terdengar suara langkah kaki datang dan orang itu menyelimuti tubuh Natalie dengan jas berwarna hitam, lalu lelaki itu mengusap-usap lembut rambut Natalie dan akhirnya pergi meninggalkannya kembali.
Natalie merasakan kehangatan menjulur ke seluruh tubuhnya, dia bahkan tersenyum dalam mimpinya, lalu kembali mendengkur halus.
10 menit kemudian.
"Bu Natalie,"
Natalie tersadar saat petugas keamanan datang untuk mengunci ruangan itu.
"Ah, astaga. Kenapa aku bisa tertidur disini?" rutuknya saat melihat rambutnya yang sudah sangat berantakan. "Maafkan saya, Pak."
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya cuma kaget aja pas liat ibu tertidur di sini."
Natalie mengangkat laporan yang sudah ia sampul rapih kembali lalu bergegas keluar ruangan itu. Ia bahkan belum menyadari jika ada jas hitam yang menyelimuti tubuhnya.
"Saya permisi, Pak." Natalie terlihat membungkukkan sedikit badannya.
Brughhh, jas itu jatuh berbarengan dengan Natalie yang membungkuk. Natalie terdiam. Darimana jas itu berasal?
Melihat Natalie diam, petugas itu mengambilkan jas yang jatuh itu untuk Natalie. "Ah, biar saya ambilkan, Bu." ucapnya lantas mengulurkannya pada Natalie.
"Jas siapa ini?" pikirnya. Tiba-tiba dia teringat Nicholas.
"Pak, apa tadi Pak Nicho masuk ke ruangan ini?" tanya Natalie begitu antusias. Dia tidak menyangka kalau suaminya itu sangat romantis.
"Saya nggak liat, Bu. Lagipula setau saya hari ini Tuan Nicholas sendiri tidak datang ke kantor, Bu."
Sontak saja jawaban petugas keamanan itu membuat harapan Natalie hancur.
"Ternyata bukan dia." batin Natalie. "Lalu siapa?" lanjutnya. "ah sudahlah, pede banget sih aku. Mungkin hanya orang yang kasian padaku."
"Bu Natalie, apa anda baik-baik saja?" Petugas itu mengibas-ngibas tangannya saat Natalie terlihat melamun.
"Ah, iya pak." Natalie tersadar dari lamunannya. "Kalau begitu saya permisi dulu."
Natalie kini dia sudah di depan pintu utama perusahaan itu. Namun pikirannya sejak tadi tak henti melamun.
"Kenapa Nicho tidak mencari ku?" batin Natalie saat melihat jam di tangannya. Sudah jam 21.00, seharusnya suaminya itu khawatir. Tapi ternyata selama ini Natalie menghilang tanpa kabar, Nicho bahkan tak mengirimkan satu pesan pun padanya.
"Hmmm," Natalie berusaha tersenyum dan tetap berprasangka baik pada suaminya itu. "Mungkin dia sedang sibuk meeting dengan client Nya."
Natalie beruntung hari ini karena masih menemukan taksi di sekitar kantor. Biasanya dia harus berjalan sekitar 500m baru bisa menemukan taksi atau angkutan umum.
Dia kembali melirik ponselnya, berharap Nicholas mengkhawatirkannya. Namun nyatanya tidak ada pesan masuk dari laki-laki itu. Apakah dia harus lebih dulu menghubunginya? Natalie takut jika suaminya itu merasa terganggu. Apalagi jika ternyata Nicholas memang sedang meeting penting. Natalie tak mau membuat Nicholas marah.
"Sudahlah."
Natalie kembali menyimpan ponsel itu ke dalam tasnya.
Tling
Ponselnya kali ini berbunyi. Natalie sangat senang sekali. Ini pasti Nicholas, batinnya.
Ibu : Jangan lupa transfer uang ya sayang!
Natalie memejamkan matanya sejenak. Ternyata dia terlalu berharap banyak pada laki-laki itu. Itu bukan Nicholas melainkan Ibunya yang menanyakan uang.
Natalie : Iya Bu.
Ponsel itu masuk kembali ke dalam tas setelah Natalie membalas singkat pesan Ibunya. Natalie menyenderkan kepalanya di jendela taksi itu. Menatap penuh sayu ke luar jendela. Pertanyaan demi pertanyaan menyelinap ke dalam pikirannya. Kenapa Natalie merasakan perubahan pada diri Nicholas semenjak dia menikah. Dia merasakan Nicholas seperti menghindar darinya. Tapi kenapa? Natalie merasa dia tidak melakukan hal aneh-aneh setelah menikah dengannya.
Tling, ponselnya berdering kembali.
"Ada apa lagi sih, Bu?" gumamNya, lalu membuka isi pesan itu.
Nicholas : Malam ini aku tidak pulang. Jangan menunggu ku!
Rupanya pesan itu dari orang yang sejak tadi ditunggunya. Awalnya Natalie sangat bahagia, tapi setelah membaca isi pesan itu Natalie kembali murung. Ternyata isi pesan itu tak sesuai harapan Natalie. Bukan kekhawatiran dari suaminya, melainkan hanya sebuah pesan bahwa dia tidak kembali pulang malam ini.
Ini adalah kali kedua Nicholas mengirim pesan bahwa dia tidak pulang. setelah kejadian pagi itu bersama Natalie.
2 hari yang lalu.
__ADS_1
"Nic, semalam kamu pulang jam berapa?" Natalie menuangkan air putih ke dalam gelas. Keduanya sedang berada di ruang makan.
Nicholas sempat menghentikan laju garpu dan sendok Nya bersamaan. Natalie kira dia akan menjawabnya. Tapi rupanya tidak. Nicholas malah melanjutkan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Semalaman suntuk Natalie menunggu suaminya itu pulang sampai tertidur di sofa. Sedangkan suami yang ditunggunya baru datang setelah Natalie tak sanggup menahan ngantuk Nya. Nicholas pulang tepat jam 02 pagi.
Natalie yang kelelahan setelah membersihkan dan merapikan rumah yang besarnya seperti istana itu bahkan tidak bergeming saat Nicholas memindahkan tubuhnya dari sofa ke kamarnya. Saat Natalie tersadar tubuhnya sudah berada di samping Nicholas.
"Nic, boleh aku bertanya." Kini Natalie sudah duduk bersebelahan dengan suaminya itu.
"Katakan!" jawab Nicholas singkat lalu menengguk segelas air putih.
"Tapi aku minta kamu jujur!" ucap Natalie penuh harap.
Nicholas menatap matanya sesaat lalu kembali fokus pada makanannya.
"Apa ada perkataan atau perbuatan ku yang menyakiti perasaan mu?" Natalie terlihat menahan air matanya. Nicholas bisa melihat itu dari sudut matanya. "Kalau iya, aku minta maaf!" ucapan Natalie terlihat sangat tulus.
"Tapi aku minta tolong, jangan bersikap dingin seperti ini. Aku - aku tidak bisa." Natalie kini benar-benar meneteskan air matanya. Sekuat hatinya dia menahan sesak di dadanya. Satu Minggu pernikahan mereka, Nicholas bahkan belum pernah menyentuhnya. Natalie tidak mengerti kenapa? apa karena dia begitu menjijikkan di depan suaminya ini.
"Jangan bersikap cengeng di hadapanku! aku tidak suka melihat wanita lemah!" Nicholas menaruh sendok dan garpu Nya bersamaan. "Tidak ada yang salah. Aku hanya sedang banyak masalah." Nicholas berdiri dari duduknya lalu menyambar jas hitam miliknya. "Aku berangkat sekarang. Ada yang harus aku urus. Satu jam lagi Reynald akan menjemput mu."
Natalie ikut berdiri dari duduknya. "Tapi kenapa kamu diemin aku kayak gini, Nic?" ucap Natalie dengan tegas, membuat Nicholas menghentikan langkahnya. "kalau ada masalah setidaknya ceritakan padaku! aku ini istrimu. Meskipun aku tidak bisa memberikan solusi untukmu, setidaknya aku bisa menjadi tempatmu bersandar. Bukankah itu tujuan pernikahan kita ini."
Nicholas terdiam.
"Kenapa diam? masalah apa yang sebenarnya terjadi denganmu? kenapa aku tidak boleh tahu."
Nicholas masih diam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Natalie. Sementara Natalie tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Kini air matanya sudah benar-benar mengalir. Satu Minggu dia menahan pertanyaan yang terus bergelut di pikirannya, akhirnya kini dia bisa menumpahkannya juga.
drttt drttt
Ponsel Nicholas berdering.
"Oke, saya kesana sekarang."
Nicholas menutup ponselnya lalu membalikkan badannya. Berjalan dan menghampiri Natalie.
CUP
Satu kecupan mendarat di kening Natalie. Natalie menutup matanya saat rasa hangat yang dulu selalu ia rasakan kini terasa hadir kembali. Ini adalah ciuman yang diberikan Nicholas untuk pertama kalinya setelah satu minggu pernikahan mereka.
Perlahan Nicholas mengusap lembut air mata Natalie. "Jangan menangis lagi! aku berangkat sekarang. Jangan lupa satu jam lagi Reynald akan menjemput mu." Ucap Nicholas lalu berlalu pergi meninggalkan Natalie dalam segudang tanda tanya dalam hatinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?"
---***---***---
Nicholas menyandarkan tubuhnya di kursi belakang mobilnya.
"Reynald, kita jalan sekarang!" Titah Nicholas yang langsung diikuti anggukan dari sopir sekaligus tangan kanan Nicholas itu.
Reynald kembali dibuat bingung dengan perilaku Nicholas hari ini. Ingin rasanya Reynald menjadi tempat berbagi Tuan mudanya itu. Namun Reynald tau benar sosok Nicholas. Dia tidak akan mudah membagi kisah hidupnya pada orang jika dia tidak benar-benar membutuhkannya.
Sejak kecil Nicholas memang sangat pendiam. Tak pernah banyak bicara kecuali dengan Tuan dan Nyonya Jhonson, terutama Nyonya Jhonson. Nicholas sangat dekat sekali dengannya.
Reynald ingat benar saat Nicholas berusia 12 tahun saat dia sakit dan Tuan bersama Nyonya Jhonson sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Nicholas yang demam tinggi tak keluar dari kamarnya. Dia bahkan tak mengeluhkan apapun pada asisten rumah tangga dan para penjaga rumahnya. Sampai akhirnya dia ditemukan pinsan di kamarnya. Beruntung di rumah itu dilengkapi dengan fasilitas CCTV yang tersedia di setiap sudut ruangan, sehingga Nicholas bisa terselamatkan.
Malam ini wajah Nicholas terlihat sedikit pucat. Tatapan matanya terlihat sayu. Entah apa yang sudah membuatnya hari ini sangat tertekan sepertinya.
"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" Reynald begitu khawatir.
"Hmppp," Nicholas hanya membalasnya dengan senyuman yang cukup membuat Reynald sedikit tenang.
Mobil Lamborghini yang dikendarai Reynald berhenti tepat di depan sebuah rumah. Nicholas turun dan mulai berjalan melewati halaman rumah itu dengan langkah gontai. Ada kesedihan yang menusuk relung hatinya setiap kali dia melangkahkan kaki di tempat ini. Bayangan kelam itu selalu kembali mengusik isi kepalanya.
Tut-tut
Ponselnya berdering. Panggilan masuk dari seorang wanita.
"Nic, kamu dimana sih?" Suara wanita tanpa salam itu terdengar nyaring di telinga Nicholas.
"Aku minta maaf, Jen." ucap Nicholas lemah seraya menghentikan langkahnya. "Nanti aku hubungi lagi. Aku tutup dulu ya."
"Nicholas, tunggu!"
Tut-tut
Nicholas menutup panggilan sepihak tanpa memperdulikan wanita itu. Di depannya kini ada seorang wanita yang lebih penting dari Jennifer. Wanita paruh baya yang sedang memeluk bantal guling yang warnanya bahkan sudah tidak bisa ditebak lagi, karena saking lapuknya.
Tatapan wanita itu terlihat sangat teduh namun tanpa arah. Nicholas menghampirinya perlahan sambil terus menarik sudut bibirnya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Ibu?"
---***---***----