
Eliza duduk dengan resah di meja kerjanya. Sudah dua hari ini Natalie tidak masuk kerja. Dia merasa khawatir atas apa yang terjadi malam itu di rumah Kevin.
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan itu?" Eliza kembali gelisah. Ingin rasanya ia menghubungi Natalie, tapi entah kenapa dia malu sekali rasanya, karena dia sudah mengkhianati sahabatnya sendiri. "Apa mungkin Natalie bertengkar hebat dengan Nicholas?"
***
Pagi ini Natalie dan Nicholas sedang duduk di tempat makan. Keduanya sedang menikmati hidangan tanpa suara. Baik Natalie maupun Nicholas hanya sesekali melirik namun tak lebih dari satu detik.
"Ayo!"
Nicholas berdiri dari duduknya.
Seperti perintahnya, Natalie akan diantar jemput oleh Nicholas mulai hari ini dan seterusnya. Meskipun sejujurnya Natalie malas, tapi dia tidak mau memperdebatkan hal ini lagi.
Lebih baik diam. Iya, sepertinya diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Terserah apa katanya. Ikuti saja semua permintaannya. Yang penting uangnya segera terkumpul dan cepat pergi dari kehidupan Nicholas untuk selamanya.
🎵 Mahen : Luka yang ku rindu
*Lebih baik diam
Dan menghapus dendam
Tak lagi bicara
Agar tak makin terluka
Cinta punya batas
Tak harus saling keras
Tak bisa di paksa
Segala yang kau ucap bohong
Kau lakukan omong kosong
Tak perlu lagi percaya
Kau hanya pura-pura
Kita di ujung perpisahan
Namun selalu ku rindukan
Kau luka yang ku rindu* ....
Lagu yang sedang trending di YouTube itu mengiringi perjalanan Nicholas dan Natalie.
Merasa lirik lagu itu sepertinya pas sekali dengan keadaannya, Natalie meminta Reynald untuk menaikkan volumenya.
"Bisa minta tolong naikkan volumenya. Sepertinya lagunya bagus."
"Baik, Nona."
Nicholas mengernyitkan dahinya, dia merasa lagu ini sepertinya ditujukkan padanya, padahal Natalie sendiri tak sengaja mendengarnya dari salah satu saluran radio.
🎵 *Lelah ku menangis (ooh)
Terluka karnamu
Ini kekalahanku
Wo-uwo-wo, ooh
Pergi lupakanlah aku
Biar aku yang bertahan
Segala yang kau ucap bohong
Kau lakukan omong kosong
Tak perlu lagi percaya
Kau hanya pura-pura
__ADS_1
Kita di ujung perpisahan
Namun selalu ku rindukan
Kau luka yang ku rindu
Kau luka yang ku rindu*
Terbawa suasana lagu, Natalie tak sadar sudah sampai di depan parkiran kantor Erick. Dia segera membuka seat belt nya, membuka pintu mobil dan keluar begitu saja, tanpa suara, tanpa melirik sedikitpun pada Nicholas.
Sedangkan Nicholas yang tak bisa menyalahkan sikap Natalie hanya menghembuskan nafasnya gusar. Ia sendiri tidak tahu kenapa semua ini harus terjadi padanya.
"Tunggu!"
Nicholas menahan Reynald saat menghidupkan mobilnya.
Dari kejauhan Nicholas melihat Erick menyambut kedatangan Natalie.
"Aku makin curiga pada Erick," gumam Nicholas sambil terus memperhatikan betapa bedanya raut wajah Natalie saat bertemu laki-laki itu dengan saat bersamanya tadi. Natalie terlihat begitu sangat bahagia.
"Ada apa, Tuan?" tanya Reynald.
Natalie dan Erick sudah masuk ke dalam kantor.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja!" titahnya.
Reynald pun tak balik bertanya, dia hanya menuruti perintah tuannya.
"Sebenarnya apa yang Erick rencanakan?"
Sepanjang perjalanan sampai masuk ke dalam kantornya, Nicholas tak henti-hentinya bertanya, sebenarnya apa yang sedang Erick rencanakan darinya. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan. Kalau tidak, kenapa juga dia terlihat begitu sangat perhatian pada Natalie. Melebihi sikap seorang bos dan sekretaris pada umumnya. Bahkan, seorang bos seperti Erick rela menunggu di depan kantornya hanya untuk menunggu sekretarisnya datang. Ini jelas aneh.
Nicholas memijit-mijit pelipisnya. Memikirkan Natalie membuatnya benar-benar pusing. Tiba-tiba terlintas tentang sosok wanita lain.
"Ah, aku rindu Ibuku." Nicholas pun lantas meraih ponselnya. Dia menghubungi Ibu angkatnya.
"Ma, apa kabarmu?"
"Baik, sayang. Kau sendiri bagaimana?" sahut Kelly.
"Baik. Oiya, bagaimana kabar Ibu?"
"Ma!" panggil Nicholas, "apa yang terjadi dengan Ibu? dia baik-baik saja kan?" Raut wajah Nicholas mulai panik.
"Sebenarnya Mama tidak mau membuat kamu khawatir, tapi Mama rasa kamu perlu tahu karena kau adalah anaknya."
"Kenapa, Ma? ada apa? cepat katakan!"
Kelly memasang wajah sedihnya. "Semenjak di rawat wanita itu, kesehatan Ibumu semakin menurun, sayang," ucap Kelly bohong. "Bahkan pernah Nadia membuang makan siang untuk Ibumu."
"Apa?" Mata Nicholas memerah seketika saat mendengar pernyataan itu. "Bukannya Mama sudah memasang banyak CCTV, juga orang suruhan Mama untuk mengawasinya. Kenapa bisa terjadi hal seperti itu?" pekik Nicholas.
"Maafkan, Mama sayang! ini salah Mama. Waktu itu Mama meminta para penjaga untuk mengejar kucing yang membuat keributan di dapur, makanya kita tidak tahu kalau Nadia melakukan itu pada Ibumu."
Tangan Nicholas mengepal seketika. "JANGAN BERI AMPUN ORANG ITU! BERIKAN DIA HUKUMAN. SURUH DIA TIDUR DI LANTAI SEMALAMAN! BIAR DIA MERASAKAN BAGAIMANA DINGINNYA MALAM SEPERTI SAAT DIA DULU MENGUSIRKU DAN IBU!"
"Iya sayang. Kau harus sabar. Mama pasti akan menghukum wanita itu tanpa kau suruh pun."
"Ya sudah. Pulang dari kantor nanti aku akan mampir ke sana."
"Sungguh?" Kelly terlihat begitu bahagia. "Mama tunggu ya sayang. Nanti Mama masak yang banyak makanan kesukaan kamu."
"Iya, Ma."
Tut .. Tut ..
Sambungan telepon pun terputus. Nicholas menatap dirinya di depan cermin. Dia sedikit memperbaiki posisi dasinya yang terlihat sedikit miring.
"Masih berani juga kau bermain-main denganku, Nadia?"
***
Natalie sedang duduk dan membaca selembar kertas di atas mejanya. Dia sedang mempelajari beberapa hal yang harus ia lakukan selama menjadi sekretaris pribadi Erick.
Natalie yang mempunyai otak yang cerdas, tak butuh banyak untuk bisa memahami apa apa saja yang harus dan yang tidak boleh ia lakukan selama menjadi seorang sekretaris.
__ADS_1
"Awww!"
Natalie memekik saat kopi panas yang belum sempat ia minum itu tumpah ke kertas yang sedang ia baca.
"UPS! maaf!"
Rupanya mantan sekretaris Erick yang melakukannya. Wanita yang jabatannya kini dialihkan ke bagian umum itu sepertinya tak terima jika Natalie menggantikan posisinya.
"Aduh." Natalie memegangi dan meniup-niup tangannya yang sedikit melepuh.
"Sakit ya?" ledek wanita itu? "Syukurin!" Wanita itupun pergi begitu saja tanpa meminta maaf.
"Kenapa wanita seperti Jennifer harus ada lebih dari satu di dunia ini?" batin Natalie, kesal.
"Nat, kamu kenapa?"
Erick tiba-tiba datang dan spontan langsung menarik tangan Natalie. "Tangan kamu merah, Nat! aku obatin ya!"
"Gak usah, Pak. Ini gpp kok. Cuma merah dikit aja, nanti juga sembuh sendiri."
"Nggak, nggak. Pokoknya aku bakal obatin kamu."
Tanpa meminta persetujuan dari Natalie, Erick pun membawa paksa Natalie ke dalam ruangannya.
Sesampainya di dalam ruangan, Erick segera mengobati tangan Natalie dengan beberapa obat dari kotak P3K yang terdapat di ruangannya.
"Mendingan?" tanya Erick.
Natalie mengangguk, merasa tangannya sudah lebih baik.
"Terimakasih, ya! kalau begitu saya balik lagi ke ruangan."
"Eh, tunggu!"
Erick menahan tangan Natalie untuk tidak pergi dulu dari ruangan itu.
"Kenapa lagi, Pak?" tanya Natalie.
Erik mengeluarkan sesuatu dari kantong jas miliknya. Dua buah tiket ia letakkan di atas mejanya.
"Apa itu?" tanya Natalie.
"Ambil satu untukmu!"
Natalie kemudian mengambil salah satu kertas yang ternyata adalah tiket nonton di bioskop.
"Untuk apa ini?"
"Aku ingin mengajakmu nonton malam ini."
"Nonton?"
"Iya. Nonton."
Tapi untuk apa? pikir Natalie. Menemani nonton bioskop tidak ada dari salah satu daftar pekerjaannya.
"Tapi kan, ini tidak tercantum dalam perjanjian sebagai seorang sekretaris."
"Hahaha."
Erick tertawa.
"Kau jangan salah paham dulu, Nat." Erick kemudian duduk di kursi sambil menyilangkan kedua kakinya, "pemilik gedung mall itu adalah salah satu costumer kita. Dan mereka mengundang kita sebagai tamu karena nanti kita juga sekalian akan meninjau langsung hasil kinerja pegawai kita."
"Oh." Natalie mengangguk-anggukkan kepalanya. "Maaf, Pak. Saya sudah salah paham."
"Kan sudah saya katakan, jangan panggil saya bapak, panggil Erick saja."
"Maaf, Pak. Tapi kan ini di lingkungan yang lebih formal, saya rasa mungkin akan lebih sopan kalau saya memanggil dengan sebutan bapak. Lagipula kedengarannya kurang sopan oleh karyawan lain, jika hanya saya yang memanggil nama pada Bapak."
"Ah, begitu ya. Yasudah terserah kau saja! yang penting nanti malam jangan lupa, pulang kerja aku jemput ke rumahmu."
"Iya, Pak."
Natalie pun keluar dari ruangan Erick, sementara Erick memberikan senyum smirk-nya.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu menyesal karena telah membiarkan Natalie jatuh dalam pelukanku." batin Erick.
To be continued