
Selamat datang di Final Ending
Siapkan jantung, hati dan pikiran kalian.
Karena mungkin ini akan sedikit menyesakkan kembali.
Maafkan aku! dan tolong jangan maki aku!
Sebagai final ending, aku mau kalian memberikan aku hadiah. Hadiahnya adalah jangan lupa untuk like, share dan vote novel ini! supaya semakin banyak yang ikut sesak selain kalian.
Terimakasih
Salam Author abal-abal.
***
Empat jam kemudian.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, dimana waktu sidang perceraian perdana Nicholas dan Natalie seharunya sudah berakhir.
Di sebuah bandara.
Seorang laki-laki menatap layar ponselnya dengan hati yang pilu. Dia menatap layar yang kini sudah ia ganti dengan foto wanita yang sudah mulai dirindukannya.
"Hay, apa kabarmu? bagaimana hasil sidang kita hari ini?" batinnya dalam hati. "Apa kau puas dengan keputusan hakim hari ini? ... apa kau bahagia karena sudah bisa terlepas dariku?"
Nicholas memang tidak mendatangi acara itu. Dia sengaja meminta pengacaranya dan juga Reynald untuk mewakilinya.
Nicholas tidak akan mungkin sanggup untuk menghadiri acara itu. Dia tidak mungkin sanggup melihat wajah wanita di sampingnya.
Digenggamnya ponsel itu. Dia memeluknya sesaat sambil membayangkan wajah tersenyum seorang Natalie yang dulu selalu menjadi candunya.
Drtt ... drttt ...
Saat tengah memeluknya, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Reynald. Buru-buru dia mengangkatnya.
"Halo, bagaimana hasil persidangannya?" tanya Nicholas dengan sangat antusias. Entah kenapa dia selalu berharap ada keajaiban yang membuat perceraian mereka akhirnya tidak pernah terjadi.
Tapi sepertinya harapan itu hanyalah sebuah khayalan yang tidak mungkin tercipta karena Reynald sudah mengatakan bahwa hasil sidang sudah memutuskan, Nicholas dan Natalie resmi bercerai di persidangan perdana mereka. Baik team Natalie maupun team Nicholas meminta perceraian ini untuk langsung diputuskan. Mereka sudah tidak ada niat untuk melakukan banding atau pun perdamaian lagi.
"Oh, begitu ya," ucap Nicholas dengan lirih. Ternyata semua harapannya tidak mungkin dikabulkan.
"Ya sudah, terimakasih ya, Rey! ... kau sudah melakukan semuanya dengan sangat baik. Aku sangat berterimakasih padamu."
Nicholas terlihat menitikkan air matanya. Ia buru-buru menghapusnya saat seorang wanita di sampingnya menatap heran ke arahnya.
"Oiya, Rey! jangan lupa untuk melakukan apa yang ku minta. Kirimkan setiap bulannya, sepuluh persen dari laba penjualan perusahaan ke nomor rekening yang kuberi."
"Tidak, kau tidak perlu memberitahu atau menghubungiku jika kau sudah mengirimkannya."
Iya, Reynald memang tidak akan lagi bisa menghubungi Nicholas setelah hari ini. Karena Nicholas benar-benar akan mengubur semua memorinya bersama semua orang di tempat ini, dan saat ini juga.
"Iya. Sekali lagi terimakasih banyak, Rey. Terimakasih karena selama ini kau selalu ada di sisiku, terimakasih karena sudah menjadi sosok sahabat juga figur seorang kakak yang selalu ku banggakan."
Nicholas kembali menitikkan air matanya. Mengingat kenangan hidupnya bersama Reynald saja rasanya sudah sesak.
"Ya sudahlah, aku tutup teleponnya. Aku harus menemani Ibuku makan dulu," ucap Nicholas bohong.
"Iya,"
Nicholas pun menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
"Selamat tinggal, Rey! selamat tinggal sahabat dan juga Kakakku! selamat tinggal semuanya," cicitnya sambil terisak.
Nicholas membuka kartu yang ada di dalam ponselnya. Ia mematahkan dan membuang begitu saja ke dalam bak sampah di sampingnya. Ia memang akan membuang semua kenangan tanpa ada yang tersisa sedikitpun.
Setelah membuang kartu tersebut, ia menundukkan kepalanya. Menumpahkan semua kesedihannya.
Dadanya sesak, hatinya benar-benar sakit. Hidupnya terasa sudah selesai sampai di sini. Kalau saja bukan karena harapan kecil untuk bisa sembuh dan juga Ibunya yang sedang berjuang di sana, mungkin Nicholas sudah mengakhiri hidupnya saat ini juga.
"Apa kau butuh ini?"
Seorang wanita di samping Nicholas menawarkan sebuah sapu tangan.
Nicholas yang lupa membawa tissue pun akhirnya menerima tawaran itu. Dia mengusap air matanya, lalu mengembalikan kembali pada pemiliknya.
"Terimakasih, maaf aku tidak bisa mencucinya terlebih dul_"
***
Tiga jam yang lalu.
Saat Erick mengajak Natalie makan siang.
Natalie sudah sampai di parkiran, menunggu Erick datang, tapi sialnya dia lupa malah meninggalkan ponselnya di laci. Dia pun bergegas kembali ke ruangan untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Tapi sepertinya kesialan yang dialami Natalie saat ini berujung pada sebuah kenyataan bahwa ada seseorang yang ternyata ada dibalik semua kesedihannya selama ini.
"Bagus! terus ikuti Nicholas kemanapun dia pergi, dan pastikan dia mati mengenaskan tanpa seorang pun tahu!."
"Kenapa Erick menyebut-nyebut nama Nicholas?" batin Natalie. Dia pun langsung menghentikan langkah kakinya dan mengintip dibalik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup itu.
Sepertinya ini memang hari dimana kejahatan Erick selama ini harus terbongkar.
"*Pastikan penyakit kankernya itu menggerogoti otak menjijikkannya itu."
"Iya. Tenang saja! semua sisa bayaranmu akan segera ku transfer setelah kau mengabari kematiannya."
"Iya. Sidang perceraian mereka akan dilaksanakan jam dua siang nanti. Dan setelah itu Natalie akan kumiliki sepenuhnya, hahaha."
"Ya sudah, aku akan pergi makan siang dulu bersama wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya."
"Akhirnya kau mati juga, Nicholas. Kau akan segera mati Nicholas. Kau akan mati, hahahaha."
"Kau akan segera menemui ajalmu, Nicholas. Tapi sebelum itu, aku akan merebut terlebih dulu wanita yang paling kau cintai. Dengan begitu kau akan mati dalam keadaan mengenaskan karena melihat orang yang kau cintai bahagia bersama Laki-laki lain. Hahaha*."
Natalie membuka mulut matanya lebar-lebar.
"Jadi, ternyata selama ini Erick."
Natalie menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Selama ini Erick lah yang sudah membuat rumah tangganya dengan Nicholas berantakan.
Sosok laki-laki yang dia kagumi karena kebaikan hatinya itu justru merupakan sosok yang paling jahat.
Brakkk
Natalie tak sengaja menjatuhkan pajangan di depan pintu ruangannya dan juga Erick.
Erick yang mendengarnya langsung bergegas menemui siapa yang sudah dengan lancangnya mendengarkan pembicaraannya.
"Natalie."
Natalie gugup ketika Erick berhasil mengetahuinya.
Erick melihat kiri kanannya. Saat tak ada siapapun di sana selain mereka berdua, Erick pun lantas menarik paksa Natalie masuk.
__ADS_1
"Ah, lepaskan aku!"
Erick mencengkram lengan Natalie kuat-kuat.
"Lepaskan aku! kenapa kau jahat padaku? kenapa kau tega melakukan ini padaku?" pekik Natali berkali-kali.
"DIAM!!!" bentak Erick saat wanita di hadapannya tak mau berhenti berontak.
"Tidak, aku tidak mau diam. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu!"
Hahaha
Erick tertawa terbahak-bahak, kemudian dia menatap Natalie dengan tatapan sangarnya.
"Dengarkan aku!" ucap Erick. "Laki-laki seperti Nicholas tidak perlu kau pedulikan! dia pantas mendapatkan ini semua sebagai ganjaran atas perbuatannya selama ini, MENGERTI KAU?"
Natalie tersentak. Dia kembali menangis. Kali ini kesedihannya bertambah dengan ketakutan saat Erick mulai membuka satu persatu kancing bajunya.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Awalnya aku tidak berniat untuk melakukan ini, tapi karena kau membuat aku memaksamu, jadi maafkan aku jika aku harus melakukan ini agar kau diam!"
Baju Erick sudah jatuh ke lantai, meninggalkan tubuhnya yang sudah bertelanjang dada itu.
"Jangan lakukan itu, aku mohon!"
Natalie sudah benar-benar takut.
Erick kembali mengunci tubuhnya. Dia bahkan kini sudah lancang mengendus aroma leher Natalie.
"Oh my God, kau sangat menggairahkan sekali, Natalie. Pantas saja jika Nicholas begitu tergila-gila padamu."
"Lepaskan aku, Erick. Kau sudah benar-benar gila!!!"
Hahaha
"Iya, aku memang sudah gila. Aku gila karena Laki-laki bernama Nicholas itu. Kau tahu?"
Natalie memalingkan wajahnya saat Erick kembali mendekatkan wajahnya.
Erick lantas menarik paksa dagu wanita itu.
"Lihat aku, Natalie! lihat aku!!!" ulangnya.
Tapi Natalie malah memejamkan matanya. Ia tak mau menatap mata laki-laki baik yang selam ini selalu ada untuknya. Laki-laki baik yang ternyata berhati iblis itu.
"Baiklah, jika kau menantangku! aku akan buat kau takkan bisa berpaling dariku."
Erick pun mulai melucuti baju Natalie.
"JANGAN, kumohon jangan lakukan ini?"
Natalie meronta. Berharap ada siapapun yang bisa.menolongnya.
"Tolong aku!" pekik Natalie.
Akankah keajaiban mampu menyelamatkan Natalie dari perbuatan jahat Erick?
To be continued
Kita bagi dua ya chapternya!
Tapi sebelum masuk ke part ending beneran, mari kita menebak-nebak endingnya seperti apa. Mungkin saja jawaban kalian tepat seperti pikiranku. Kalaupun salah, ya buat seru-seruan aja.
__ADS_1
Salam sayang author.