
Kembali pada malam itu.
Tubuh Natalie membentur sebuah tong sampah yang berjejer di pinggir tembok itu. Membuatnya kini tak bisa lagi menjauhkan jaraknya.
"Ayolah! kau pasti ketagihan."
Antara takut dan pasrah. Natalie tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tak ada lagi yang bisa Natalie lakukan selain menangis sesenggukan dalam guyuran hujan malam itu.
Akankah Natalie benar-benar memberikan kesuciannya pada laki-laki biad*b dihadapannya itu.
"Maafkan aku, Nic." Natalie memejamkan matanya saat laki-laki itu sudah benar-benar menghabiskan jarak antara keduanya.
Laki-laki itu mulai menyentuh setiap inci bagian tubuh Natalie, mulai dari kepala dan ...
BUGH
"BANGS*T ... "
Laki-laki jahat itu terhempas beberapa meter saat satu pukulan keras mendarat di pipinya.
"Kamu gpp, Nat?"
"Kev_Kevin."
Natalie segera menghamburkan pelukannya pada laki-laki bernama Kevin Andreas itu.
"Ayo! kita harus segera pergi dari tempat ini!"
Natalie mengangguk dalam pelukannya. Namun ...
"AWAS, VIN!"
Natalie memekik hebat saat melihat laki-laki jahat itu membawa balok kayu besar dan siap menghantam bahu Kevin.
BUGH
"Arghhhh," Kevin mengerang menahan sakit di bahunya akibat balok kayu itu.
"Hahaha, kau pikir bisa menang melawanku?" Laki-laki jahat itu tertawa puas setelah berhasil membalas dendamnya.
"Vin, bangun!" Natalie mulai menitikkan air matanya kembali. Ia benar-benar takut jika hal buruk menimpa sahabatnya itu karena mencoba menyelamatkannya.
"BANGS*T ... " Pekik Kevin. Dia mencoba bangkit dan menahan rasa sakitnya untuk menyelamatkan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Oh, masih berani rupanya? ... hahahaha."
Laki-laki itu kembali tertawa. Namun tawanya terhenti saat beberapa pukulan dari Kevin mendarat dengan keras di pipinya berkali-kali.
**BUGH
BUGH
BUGH**
Laki-laki itu tersungkur dan akhirnya tak sadarkan diri.
"Ayo, Nat! kita harus segera pergi!" Kevin menarik tangan Natalie yang hanya mematung karena shock melihat kejadian itu.
Mereka pulang dengan menerjang hujan deras malam itu.
"Pegangan!" Perintah Kevin saat baru saja menyalakan mesin motornya.
Natalie terdiam. Dia rasanya enggan memeluk Kevin saat di motor.
"Nat! ... ini sudah malam! aku tidak ingin membuat orang jahat terpancing kembali melihat kita melintasi daerahnya."
Natalie masih terdiam.
"Hey ... tunggu aku! ... jangan lari kalian?"
Laki-laki jahat tadi rupanya belum menyerah juga. Dia kembali mengejar mereka.
__ADS_1
"Ayo, Vin. Cepet kabur!"
Tanpa ba bi bu lagi, Natalie segera mengikuti instruksi dari Kevin. Memeluk Kevin dan akhirnya mereka benar-benar melesat pergi meninggalkan jalanan sepi itu.
Sepanjang perjalanan, tak ada suara yang terdengar dari keduanya.
Masing-masing bergelut dengan perasaannya.
Natalie dengan rasa paniknya. Dan Kevin dengan rasa cintanya.
Nat, aku tidak tahu sejak aku mendadak jadi laki-laki egois seperti ini.
Aku mendadak tidak peduli dengan apa yang kau rasakan di saat seperti ini?
Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar aku bisa selalu seperti ini denganmu?
***
"Bi, Natalie tidak ada di kamarnya. Dimana dia?"
Reynald yang baru saja mengecek kamar Natalie atas permintaan Nicholas itu tidak menemukan siapapun disana.
"Nona memang belum pulang, Reynald." Jawab Helena.
"Hah, belum pulang?" Reynald terkejut dan menautkan kedua alisnya, "semalam ini?"
Helena mengangguk.
"Kemana dia pergi?" Reynald bergumam dengan dirinya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu terimakasih." Ucap Reynald seraya menundukkan kepalanya memberikan kesan hormatnya pada wanita yang berusia lebih tua darinya.
Helena kembali ke kamarnya setelah selesai menjawab pertanyaan Reynald.
"Dia tidak ada di rumah, Tuan." Ucap Reynald pada seseorang dibalik teleponnya.
"Kemana dia?" Tanya laki-laki dibalik telepon Reynald.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Nomor teleponnya juga tidak aktif. Barusan saya dan Helena mencoba menghubunginya."
"Perlu saya jemput, Tuan?
"Tidak perlu! aku bisa sendiri. Tunggu aku disana! dan cepat kabari aku jika dia sudah pulang."
"Baik, Tuan."
Reynald segera menutup teleponnya, dan kembali mencoba menghubungi Natalie. Berharap kini teleponnya aktif.
Kemana sebenarnya Nona pergi?
***
20 menit kemudian, Kevin dan Natalie sampai di depan gerbang rumah mewah itu.
Kevin membantu Natalie yang masih gemetaran untuk berjalan.
"Nona," Sapa seorang penjaga keamanan. Dia terkejut melihat keadaan Natalie yang sudah basah kuyup bersama laki-laki lain.
"Pak, to_long buka pintunya!" Ucap Natalie dengan nada bergetar. Bibirnya sudah mulai pucat pasi. Mungkin akibat guyuran hujan malam itu dan juga shock yang masih melanda jiwanya.
"Baik, Nona."
Penjaga yang memakai payung itu segera membuka pintu gerbang, sementara Kevin terus berada di samping Natalie untuk tetap menjaganya. Merangkul tubuh Natalie yang sangat lemah untuk sekedar berjalan sekalipun.
Setelah gerbang terbuka, Natalie dan Kevin berjalan masuk.
"NATALIE ... "
Suara khas yang terdengar sangat nyaring di tengah derasnya guyuran hujan itu membuat langkah keduanya terhenti.
"Tuan," Penjaga keamanan itu langsung berlari dan memberikan payungnya pada laki-laki yang baru saja datang dan turun dari mobilnya.
__ADS_1
Lupakan, kenapa penjaga itu tak memberikan payungnya pada Natalie. Wajar, karena Natalie memang sudah basah kuyup. Percuma juga dia memberikan payungnya.
"Nicholas." Cicit Natalie. Dia begitu terkejut saat mendapati laki-laki itu memergoki dia dan Kevin.
"Oh, jadi begini kelakuan kamu saat aku tidak ada di rumah."
Nicholas dengan wajah yang sudah merah berjalan mendekati keduanya.
"Pergi dan pulang larut malam bersama laki-laki lain, iya?"
"Nggak, Nic. Ini gak seperti yang kamu lihat!" Natalie coba menjelaskan. Tapi rasanya percuma, Nicholas sudah lebih dulu tersulut emosinya.
"Dasar wanita murahan. Wanita tidak tahu diri!"
"CUKUP, NICHO!"
Kali ini suara Kevin yang terdengar sangat tinggi. Rupanya dia sudah tidak tahan dengan sikap laki-laki di hadapannya itu.
Suami tidak tahu diri yang bertindak seolah ia sangat tersakiti. Padahal pada kenyataannya, dialah yang tidak tahu diri.Dan disini Natalie lah yang sangat tersiksa karena sikapnya.
Kevin melepaskan tangannya dari bahu Natalie. Berjalan dan mendekati laki-laki yang merupakan bos nya itu.
"Kau boleh saja marah padaku, karena aku sudah lancang menyentuh istri mu." Ucap Kevin dengan percaya dirinya. Dia bahkan sudah tidak peduli jika besok surat pemecatan dirinya akan sampai di meja kerjanya.
"Tapi kau tidak berhak menghina dia, KARENA DIA ISTRIMU."
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Kevin. Natalie yang melihatnya langsung menganga dan shock dibuatnya.
"Jaga bicaramu, Kevin!"
Rupanya Reynald sejak tadi berdiri di belakang Natalie. Dan dia dengan sigapnya menghadang Kevin yang bertindak kurang ajar di depan Tuannya.
"Cukup, Reynald! jangan lakukan itu." Pekik Natalie sambil terisak. Namun suaranya benar-benar tidak di dengar malam itu. Ketiga laki-laki yang tengah berdebat itu hanya fokus dengan urusan mereka.
Wajah Kevin mulai memerah. Dia menahan amarahnya. Bukan pada laki-laki yang menamparnya. Tapi pada laki-laki yang menyebabkan orang itu menampar dirinya.
"Sekarang lebih baik anda pergi dari sini! sebelum kami bertindak jauh lebih dari ini." Ucap Reynald seraya menunjukkan jalan keluar rumah itu pada Kevin.
Dengan tangan yang masih menempel di pipinya, Kevin memilih untuk pergi dari tempat neraka itu dan menunggu waktu yang tepat untuk membalaskan sakit hatinya.
"Vin, maafkan aku!" Natalie terisak dan berhasil membuat Kevin teralih kepadanya.
Kevin berjalan ke arah Natalie, membuat Reynald yang tidak senang awalnya ingin menarik tangan Kevin. Namun dengan sigapnya Nicholas membiarkan Kevin dan Natalie berbicara. Nicholas hanya ingin tahu, seberapa besar arti kedekatan mereka.
"Biarkan saja!" Ucap Nicholas.
Reynald hanya mengangguk dan mengikuti perintah atasannya.
"Aku tidak apa-apa, Nat." Dengan senyumnya yang berusaha terlihat tegar dihadapan wanita cantik itu, Kevin meminta Natalie untuk tidak memikirkan dirinya.
"Aku pulang dulu, ya!"
Setelah melihat Natalie nya mengangguk, Kevin akhirnya benar-benar pergi dari tempat itu. Menyalakan mesin motornya dan melesat pergi meninggalkan rumah mewah yang baginya hanya sebuah neraka. Neraka bagi wanita yang sangat dicintainya.
Setelah Kevin benar-benar menghilang, kini hanya tinggal Natalie, Nicholas, Reynald dan juga seorang penjaga keamanan yang tetap setia memayungi Nicholas.
Tak cuma mereka, rupanya Helena yang semula berdiri mematung di depan pintu utama itu akhirnya datang dan berlari ke arah Natalie dengan membawa payung dan handuk setelah keributan mereda.
"Aduh, Nona. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?"
Natalie tak menjawab. Dia masih mematung menatap tajam ke arah Nicholas. Kecewa dan amarah dalam hatinya sudah tak bisa ia pungkiri lagi.
"Bawa dia masuk!" Perintah Nicholas dengan datarnya. Sementara setelah itu, Nicholas sendiri memilih untuk terlebih dulu masuk ke dalam rumah diikuti Reynald dan juga penjaga yang setia memayunginya. Meninggalkan Natalie yang masih mematung menahan marah padanya.
"Ayo, Nona! kau harus segera mengganti bajumu!" Helena berusaha mengeringkan tubuh Natalie dengan mengusapkan handuk di kepalanya.
Tak ada pilihan, saat ini memang Natalie perlu merawat dirinya. Dia tak mau sakit, dan dia tidak mau lagi merepotkan orang lain hanya karena kebodohannya.
Kebodohannya malam ini benar-benar telah menyakiti banyak hati.
__ADS_1
Andai saja waktu di bus tadi dia tidak ketiduran. Mungkin keadaannya takkan seburuk ini.
To be continued