
Pagi hari.
Natalie duduk di pojokan kasur. Dengan pakaian yang sudah rapih dan siap untuk pergi. Tapi sepertinya kesiapan itu hanya pada pakaiannya, tidak dengan dirinya. Ada sesuatu yang mengganjal untuk dia melenggangkan kaki dari tempat itu.
"Sayang," panggil Nicholas dengan lembut. Laki-laki itu tengah mengenakan jasnya. Setelan kemeja navy dengan celana hitam yang senada dengan jasnya menjadi pilihan Nicholas hari ini.
"Natalie pasti masih mengkhawatirkannya," batin Nicholas.
Melihat Natalie hanya diam, diapun berjalan menghampirinya. Dia duduk sambil memegangi kedua pundak wanitanya. "Jangan takut! ... kita akan melewati ini bersama, bukan?"
Wajah Natalie berpaling padanya, dengan jelas Nicholas bisa melihat ada sebuah ketakutan yang tergores di matanya. "Senyum dong!" ucapnya. "Kita berangkat sekarang ya!" ajak Nicholas. Lantas Laki-laki itupun menuntun wanitanya masuk ke dalam mobil, menuju sebuah tempat.
Hari ini nicholas mengajak Natalie untuk memeriksakan rutin kandungannya, sekalian juga melakukan pengecekan tentang boleh atau tidaknya Natalie menaiki pesawat dalam kondisi hamil muda seperti ini.
Tapi entah kenapa setelah Nicholas mengajaknya bicara serius tadi malam, sepertinya Natalie kehilangan separuh nyawanya. Dia benar-benar takut, takut jika hasil pemeriksaannya nanti tidak sesuai dengan keinginannya.
Flashback
Malam tadi.
Saat Natalie terlelap dalam pelukan Nicholas.
Malam itu sudah lumayan larut, jam 12 malam. Mereka baru saja selesai pulang dari sebuah tempat makan, mengikuti permintaan Natalie yang tiba-tiba ingin makanan seafood pinggir jalan di jam 10 malam. Untung saja masih ada yang buka, kalau tidak bisa habis sudah Nicholas diomeli Natalie.
Mungkin saking lelahnya, selepas mencuci wajah, tangan dan kaki masing-masing, keduanya pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi senyaman mungkin.
"Sayang," panggil Nicholas lembut.
"Mppp." Natalie menyahuti ucapan Nicholas, tapi matanya terus terpejam sambil terlelap di atas dada bidang suaminya.
"Capek banget ya sayang?"
"Lumayan."
Nicholas mengecup kening wanitanya.
__ADS_1
"Aku mau bicara serius, boleh bangun dulu 'gak sebentar aja!"
Natalie menggelengkan kepalanya. "Nanti aja! masih ngantuk."
"Sebentar aja! ini tentang rencana pengobatanku ke luar negeri."
Natalie langsung bersigap bangun saat mendengar kata pengobatan. "Apa yang ingin kau katakan?" dia duduk dan mulai memulihkan kesadarannya. Kemudian keduanya menyenderkan badannya di sandaran kasur. Berbicara dari hati ke hati.
"Kenapa? kamu udah buat jadwalnya?" tanya Natalie. Dia memang sangat menantikan hal itu. Dia ingin segera membawa Nicholas pergi ke luar negeri untuk mengobati sakitnya.
Nicholas menggelengkan kepalanya, "belum."
"Lantas?"
Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam, "dr. Erwin bilang kalau kamu harus memeriksakan kandungan terlebih dulu sebelum ikut aku ke luar negeri."
"Ya udah, besok kita periksa," jawab Natalie cepat tanpa pikir macam-macam.
"Tapi masalahnya ...." ucapan Nicholas terjeda. Dia sedikit ragu untuk mengatakannya.
Melihat sesuatu yang tidak beres, Natalie mulai cemas. "Masalahnya kenapa? ... cuma periksa aja kan?"
"Tidak, masalahnya kau tidak diperbolehkan naik pesawat kalau kondisi kandunganmu lemah dan tidak memungkinkan."
Natalie terdiam. Apa benar yang dikatakan Nicholas?
Apa benar jika kandungannya lemah dia tidak boleh ikut pergi bersama Nicholas?
Natalie mulai sesak. Cobaan apalagi ini? baru saja dia mendapatkan separuh kebahagiaannya, kini satu masalah mulai mencuat lagi.
Natalie mulai khawatir, benar-benar sangat khawatir. Apalagi akhir-akhir ini dia sering sekali mual. Dia takut kalau kandungannya itu lemah.
"Terus, kalau seandainya nanti hasil pemeriksaannya mengatakan bahwa kandunganku lemah, kamu bakalan pergi ninggalin aku?"
Melihat mata istrinya berkaca-kaca, Nicholas merasa bersalah.
"Sayang," ucapnya lembut sambil memeluk wanitanya. "Kita kan belum tahu hasilnya. Lebih baik kita berdoa saja! semoga anak kita kuat."
__ADS_1
Natalie melepaskan pelukan Nicholas. "Aku serius!" pekiknya. "Kalau seandainya hasil pemeriksaan nanti membuktikan kandungan aku ini lemah, kamu bakalan pergi sendiri tanpa aku, iya?"
Nicholas terdiam. Lagi-lagi dia kalah oleh keadaan.
Jawaban apa yang akan dia katakan?
Sejujurnya, kalau boleh bicara, Nicholas juga tidak akan tega meninggalkan Natalie sendiri. Apalagi sekarang Erick masih buron, Nicholas tidak mungkin pergi saat ini.
Tapi bagaimana dengan penyakit yang bersarang di kepalanya. Harapan dia untuk sembuh hanya rumah sakit itu, karena Ayah Sea sudah meninggal.
"Aku nggak akan mungkin pergi ninggalin kamu sayang." Nicholas lantas memeluk wanitanya kembali.
"Bukan itu masalahnya, Nic." Ucapannya terjeda, Natalie menghirup nafas dalam-dalam. "Aku cuma 'gak mau kamu pergi sendirian ke sana." Natalie terisak. "Bukan karena aku takut sendirian di sini tanpa kamu, aku cuma takut kamu kesusahan di sana. Aku hanya ingin menemanimu di masa-masa tersulit kamu."
Nicholas tersentuh dengan kekhawatiran Natalie yang begitu besar untuknya.
"Kalau kamu kesakitan, setidaknya aku ada dan siap melakukan apa saja. Meskipun aku tidak bisa mengurangi rasa sakitmu." Natalie tak kuasa menahan sedih di hatinya. Dia benar-benar takut jika dia tak bisa menemani Nicholas di masa-masa tersulitnya.
"Nat, lihat aku!" Nicholas memangku wajah wanitanya yang kini sudah bercucuran air mata. "Kamu tidak perlu merasa bersalah kalaupun akhirnya kau tidak bisa menemaniku pergi. Karena dimanapun kita berada, berapapun bentang jarak yang memisahkan kita, itu semua tidak akan mempengaruhi perasaan bahagiaku bisa menjadi bagian hidupmu, Sayang."
Natalie menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu nanti kesakitan gimana?"
Nicholas terkekeh. "Aku bukan anak kecil lagi sayang, aku 'nggak bakalan nangis kalau cuma disuntik."
"Bukan itu maksud aku," protes Natalie. "Kamu jangan pura-pura tegar di depan aku. Aku tahu kalau pengobatan kanker itu menyeramkan. Apalagi kalau nanti sampai kemo." Natalie makin terisak. "Itu pasti sangat menyakitkan."
Benar apa yang dikatakan Natalie. Sampai saat ini sosok Kemoterapi memang masih menjadi hal yang menakutkan bagi siapapun penderita kanker, termasuk Nicholas. Prosesi yang lumayan menyakitkan itu tentunya menjadi bayang-bayang yang menyeramkan.
Tapi Nicholas harus menutupi ketakutannya itu. Dia tidak boleh menunjukkan sedikitpun kelemahannya. Di depan wanitanya dia harus terlihat tegar.
"Hustt!!! kenapa makin gede sih nangisnya?" Nicholas langsung mengusap air mata Natalie dengan ibu jarinya. "Nggak apa-apa! aku kan kuat. Kenapa kamu meragukan kekuatan suamimu ini, Sayang?"
Natalie tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya terisak sambil menundukkan wajahnya.
"Udah ya! jangan sedih lagi! berdo'a saja, semoga anak kita kuat, dan kita bisa pergi bersama."
Natalie mengangguk lantas memeluk Nicholas. "Aku ingin selalu ada untuk kamu. Aku hanya ingin jadi istri yang bisa kau banggakan."
__ADS_1
"Tidak perlu menunjukkan kesempurnaan mu untuk membuatku bangga, Sayang. Karena dengan ketidaksempurnaan mu saja aku sudah cukup merasa jadi Laki-laki paling berharga di dunia karena bisa memilikimu seutuhnya."
To be continued