
Tidak ada yang tahu keberadaan Tuan Jhonson saat ini. Yang orang tahu laki-laki itu sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaannya, padahal laki-laki itu sedang disekap oleh Kelly. Dia tega menyekap suaminya sendiri hanya untuk urusan pribadinya.
Sebenarnya Kelly tidak bermaksud berbuat seperti itu. Mark memang sedang liburan sambil membicarakan sebuah proyek dengan temannya di luar kota, tapi saat Nicholas mengetahui semua rencananya, tak ada pilihan lain, Kelly harus menahan Mark untuk tidak pulang dulu sebelum semua rencananya semua terwujud. Dan hasilnya, Kelly menyuruh orang suruhannya untuk menculik dan menyekap Mark.
Jika semua keinginannya sudah terkabul, barulah Kelly akan melepas laki-laki itu lagi.
Mark kini sedang berada di ruangan gelap, dia tidak tahu dimana, yang pasti hanya setiap pagi seseorang akan datang dan membawakan sepiring makanan juga sebotol minuman, sehingga ia tidak kelaparan.
Kelly memang tidak berniat membunuh suaminya itu, dia hanya ingin menguasai hartanya lalu pergi meninggalkannya. Kenapa Kelly tega? karena Kelly sakit hati pada mertuanya, terlebih saat Bram datang dan memikat dirinya, jadilah Kelly hilang akal sehatnya, hingga tega mengkhianati Mark yang sudah tulus mencintainya.
***
Kelly mengumpat sejadi-jadinya.
"Sial!!! rupanya dia ingin bermain-main denganku," geram Kelly. Baru saja dia sampai sepulang menjenguk Nadia dan Merry, dia sudah mendapat informasi bahwa saudara iparnya telah melaporkannya pada pihak yang berwajib atas kasus yang terjadi puluhan tahun itu.
"Kita harus segera mendesak Nicholas untuk menandatangani semua surat-surat perusahaan itu." Kelly turun dari tangga dengan terburu-buru, dan Bram ada di belakangnya.
"Tapi apa yang akan kita lakukan jika polisi sudah lebih dulu datang?" tanya Bram.
"Tak ada jalan lain, kita hanya bisa menunda proses persidangan itu, sampai semua saham itu jatuh ke tanganku," jawab Kelly. Mereka sudah sampai di dalam mobil, rencananya Kelly akan segera bertemu dengan pengacara terhebat untuk mengurusi masalahnya itu. Dia akan menyewa pengacara terbaik agar bisa memenangkan proses persidangan nanti. Minimal menunda hasil sidang, agar Kelly bisa lebih dulu mendapatkan apa yang dia inginkan
Dengan harta dari perusahaan Jhonson yang melimpah itu, seandainya Kelly kalah di persidangan pun, dia bisa dengan mudahnya keluar, karena uang yang akan bicara.
"Aku setuju," sahut Bram. Laki-laki itu terus menunjukkan dukungan penuhnya pada sang kekasih. Padahal Bram hanya berusaha membantu Kelly untuk mendapatkan harta itu. Dia berusaha membuat Kelly percaya sepenuhnya padanya, dan dengan begitu Bram akan dengan mudahnya membodoh-bodohi Kelly.
Baru saja setengah perjalanan, ekspresi Kelly yang gugup makin bertambah kalut saat dia menerima panggilan dari orang yang ia percayai untuk menjaga Merry dan Nadia.
"Wanita itu kabur, Nyonya. Maafkan kami! kami sudah berusaha mengejarnya, tapi kami tidak bisa menemukannya."
"Sialan." Kelly mengeram kesal.
Kalau sampai Nadia kabur, itu artinya Kelly kehilangan satu mangsanya. Dia tidak akan tenang jika wanita yang paling ia benci itu kembali pada Thomas. Terlebih Thomas akan tahu bahwa Kelly telah menyiksa istrinya, dan Kelly tidak mau itu terjadi.
"Kenapa, sayang?" tanya Bram.
"Nadia kabur," sahut Kelly.
"Sudahlah! biarkan saja dia! kita urusi saja masalah ini dulu. Memangnya kau mau kalau sampai polisi datang dan menangkapmu sebelum kau menemukan pengacara terbaik?" Bram memang tidak mau kalau sampai Kelly tertangkap polisi. Itu bisa membuat Bram kehilangan kesempatan untuk merebut harta kekayaan dari Kelly nantinya.
"Tidak bisa!!!" pekik Kelly. "Pak, cepat putar balik. Saya mau ke perumahan XXX," perintah Kelly tanpa aba-aba.
"Baik, Nyonya."
Bram hanya bisa mendengus kesal saat Kelly memaksa ingin pergi menemui rumah Thomas untuk mencegah Kelly bertemu suaminya.
***
Natalie yang pulang lebih awal dari kantor itu terpaksa hanya bisa duduk sambil membaca sebuah novel yang dulu pernah ia beli dengan Kevin.
Ah, ngomong-ngomong soal Kevin, Natalie jadi rindu sahabatnya itu, terlebih Keisha, dia ingin tahu kabar adik Kevin itu.pasca kecelakaan.
Natalie pun mulai mengetikkan beberapa digit nomor di papan ponselnya, sambil mengintip takut Nicholas tiba-tiba datang dan mendengar pembicaraan mereka.
"Ah, syukurlah jika Keisha sudah boleh pulang," ucap Natalie membalas jawaban Kevin dibalik teleponnya. Keisha dan Kevin memang sudah pulang dari rumah sakit. Kevin memutuskan untuk mengurus sendiri adiknya itu, terlebih kini ada Eliza yang selalu setia di sampingnya.
"Hah, sungguh?' Natalie memekik tak percaya saat mendengar kabar bahwa Kevin diangkat jadi manajer di perusahaan Niholas. Dia tidak menyangka bahwa Nicholas akan sebaik itu, padahal Natalie tidak tahu kalau Nicholas melakukan itu karena dia sudah menghajar Kevin habis-habisan.
"Aku senang sekali mendengarnya."
__ADS_1
Kevin mengucapkan terimakasih banyak karena berkat Natalie dia bisa mendapatkan jabatan tinggi itu.
"Bukan, bukan aku ... aku malah belum sempat mengatakan apapun padanya."
Mendadak hening. Kevin sepertinya bertanya-tanya, kalau bukan Natalie lalu siapa?
"Ah, sudahlah tidak usah dipikirkan. Apapun itu, yang penting sekarang kau tidak perlu lagi susah payah mencari kerja bukan?"
Ceklek
Pintu terbuka, Nicholas datang. Natalie harus buru-buru mengakhiri panggilannya.
"Vin, sudah dulu ya! aku ada urusan," cicit Natalie pelan sekali sebelum ia benar-benar mengakhiri panggilannya. "Oke, titip salam untuk Keisha dan Eliza ya!"
Tut .. tut
Sambungan telepon segera diakhiri. Natalie menyambut kedatangan Nicholas dengan senyuman sedikit.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Nicholas. Natalie menggelengkan kepalanya, dan Nicholas duduk di samping wanita itu.
"Nic," panggil Natalie.
"Hmpp," sahut Nicholas.
"Mppp ..." Natalie terlihat menggantung ucapannya. Sejujurnya dia ingin mengucapkan terimakasih karena Nicholas telah memberikan jabatan untuk sahabatnya, tapi sepertinya itu tidak perlu. Natalie takut Nicholas akan menarik kembali keputusannya jika Natalie membahasnya. Tahu sendiri Nicholas sensitif dengan Kevin.
"Kenapa?" Nicholas mengulang pertanyaanya saat Natalie hanya diam dan menatapnya.
"Tidak apa-apa." Natalie tersadar dari lamunannya. Dia lupa diri sampai sebegitunya menatap wajah Nicholas. Nicholas pasti sudah berpikir macam-macam tentangnya.
Karena gugup, Natalie pun buru-buru berdiri dari duduknya.
"Tunggu dulu!"
Natalie yang kembali terhempas ke tempat tidur, menatap netra yang terlihat sayu itu. Nicholas terlihat sangat lelah, dia melihat sorot mata yang biasanya tajam itu kini redup seketika.
"Aku ingin bertanya satu hal padamu."
Natalie diam. Dia menunggu Pertanyaan apa yang akan dikeluarkan Nicholas padanya.
Apa itu penting? batin Natalie.
Lalu sedetik kemudian, bibir Nicholas pun terbuka.
"Apakah kau masih mencintaiku?"
Deg
Aliran darah Natalie terasa berhenti seketika saat Pertanyaan itu sontak saja keluar dari bibir Nicholas.
Pertanyaan macam apa itu?
Perlukah jawaban?
Aku rasa tidak.
Tuhan dan semesta tahu, bahwa tidak ada laki-laki lain yang mampu menggantikan posisi kamu di hatiku, Nic.
Natalie bermonolog dengan hatinya sendiri.
__ADS_1
"Lain kali saja aku jawabnya!"
Natalie berdiri dari duduknya, tapi lagi-lagi Nicholas menariknya.
"Tidak. Aku mau sekarang."
Natalie bingung, apa yang harus dia katakan?
Mengaku?
Tidak. Ini gila.
Sudah jelas Nicholas menikah dengannya karena dendam, untuk apa dia mengaku kalau dia sangat mencintai laki-laki itu. Hanya mempermalukan diri sendiri, batin Natalie.
"Ti_tidak, aku tidak lagi mencintaimu," ucap wanita itu bohong. Matanya tak mau menatap Nicholas seolah takut kalau Nicholas bisa melihat kebohongannya.
"Sungguh?" tanya Nicholas meyakinkan lagi.
"Iya. Aku tidak lagi mencintaimu. Jadi, tidak perlu besar kepala lagi."
Entah ini kabar baik atau kabar buruk. Nicholas tidak bisa memisahkan arti keadaan sekarang ini. Yang jelas, Nicholas bisa melihat bahwa ucapan Natalie sepertinya tak semuanya tulus dari hati.
"Itu saja yang ingin kau tanyakan?" tanya Natalie saat hening beberapa detik itu ada di sisi mereka.
Tak ada jawaban. Nicholas hanya diam. Dia ingin menjawab tidak, masih banyak sekali yang ingin dia katakan.
Nicholas ingin berkata bahwa dia menyesal telah membuat janji dengan ayahnya untuk menceraikan Natalie dalam waktu satu Minggu ini.
Nicholas ingin sekali menikmati masa hidupnya dengan wanita di hadapannya, tapi sepertinya semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu."
Entah kenapa Natalie berharap Nicholas kembali menahannya saat dia bangun. Tapi kali ini sepertinya tidak. Laki-laki itu membiarkan Natalie berdiri dan melangkah menjauhinya.
"Sepertinya Nicholas senang saat aku bilang aku tidak lagi mencintainya. Sepertinya dia ingin aku benar-benar melupakannya." Natalie terus bergumam dalam hatinya. Dia sudah meraih handuk dan sudah masuk ke dalam kamar mandi. Dia mulai menyalakan shower dan mulai membuka resleting bajunya saat air shower mulai menetes dan berjatuhan.
"Sepertinya dia ...."
Laki-laki yang sejak tadi menari-nari dipikirannya datang tiba-tiba. Nicholas tanpa permisi telah menarik tubuh Natalie dalam pelukannya. Laki-laki itu juga tanpa izin langsung melum@t bibir Natalie dengan lembutnya.
Di bawah air yang mengalir, Nicholas menikmati setiap inchi bibir manis wanitanya itu. Takut, jika dia tak akan punya lagi kesempatan seperti ini, mengingat karena waktunya tak banyak.
Tubuh Natalie dan Nicholas kini sudah basah kuyup. Di bawah guyuran shower yang menyala, Nicholas akhirnya menghentikan pagutannya itu. Dia menatap mata Natalie yang sekali-kali mengerjap karena tetesan air.
"Berjanjilah padaku! jangan pernah mencintai Laki-laki lain seperti kau mencintaiku."
Natalie tak bicara. Dia hanya diam. Sungguh jiwanya sedang dalam keadaan yang aneh sangat liar biasa.
Seharusnya dia marah karena Nicholas tiba-tiba menciumnya, tapi kenapa seakan menikmati, Natalie malah membiarkannya begitu saja.
Dan lebih gilanya, lagi-lagi Natalie membiarkan laki-laki itu saat kembali mempermainkan bibirnya.
Kini Natalie malah mengalungkan tangannya di leher Nicholas, merasakan setiap inchi sentuhan yang terasa lembut di sekitar wajah dan lehernya, Nicholas pun mendorong tubuh Natalie sampai menyentuh tembok, sampai derasannya air shower yang menyala pun tak menghalangi nafsu keduanya.
"Aku ingin kau mengenang hari ini sebagai hari terindah yang pernah kita lewati, Natalie," gumam Nicholas saat melihat mata Natalie terpejam menikmati setiap sentuhan dari bibirnya.
To be continued
__ADS_1