
Hari ini adalah hari keberangkatan Nicholas bersama Natalie ke luar negeri. Keduanya dibantu Helena sedang membereskan keperluan apa saja yang sekiranya mereka butuhkan selama di sana. Tak banyak, hanya beberapa barang pribadi yang sekiranya penting saja, karena kalau untuk pakaian Nicholas bisa membelinya di sana.
"Sayang, tolong ambilkan handuk!" pekik Nicholas dari dalam kamar mandi. Salah satu kebiasaan buruk Nicholas yaitu kalau mandi suka lupa bawa handuk.
"Kebiasaan banget sih." Karena sedang sibuk mengemas, Natalie pun akhirnya meminta Helena yang mengambilkannya. "Helena, tolong ambilkan handuk untuk, Tuan."
"Baik, Nona." Helena pun segera berdiri mengambilkan handuk untuk Nicholas.
Tok .. tok .. tok
"Masuk aja!" titah Nicholas. Dia mengira bahwa itu adalah istrinya, ternyata bukan.
"Maaf, Tuan. Saya Helena."
"Helena?" gumam Nicholas dalam hatinya. Dia kesal kenapa Natalie malah menyuruh Helena yang datang, padahal kan dia meminta Natalie yang mengantarkannya.
"Bi, suruh Natalie saja! ... katakan padanya aku mau dia yang mengantarkannya."
"Ah, baik Tuan."
Helena pun kembali menemui Natalie. "Nona, Tuan bilang Nona saja yang mengantarkannya."
Natalie berdecak kesal. Kenapa juga anak itu harus manja sekali, padahal kan sama saja. Mau Natalie atau Helena juga ujung-ujungnya tetap handuk.
"Ya sudah, sini biar aku yang antar!." Natalie menerima handuk berwarna putih itu dari Helena. Lantas ia bergegas mengetuk pintu.
Tok .. tok .. tok
Hening
Tok .. tok .. tok
"Cepetan buka! aku masih sibuk ngurusin persiap_ awwww." Natalie memekik saat Nicholas menarik paksa tangannya sampai dia masuk ke dalam kamar mandi.
"Nicho, kamu apa-apaan sih?" Natalie buru-buru menutup matanya saat mendapati tubuh Nicholas yang hanya ditutupi celana pendek sebatas paha, dan itupun sangat ketat sekali.
Rupanya Nicholas memang sengaja meminta Natalie untuk masuk ke kamar mandi itu karena pasca operasi itu Nicholas tidak diperbolehkan menyalurkan hasratnya terlebih dulu. Wajar saja, dokter bilang mereka baru diperbolehkan melakukan hubungan intim setelah pendarahan Natalie benar-benar kering, mungkin kurang lebih dua minggu baru boleh.
"Sayang, temenin aku mandi!" rengek Nicholas manja.
"Nggak ah, awas lepas! malu ada Helena loh di kamar kita." Natalie terus berusaha mengalihkan wajahnya agar tak melihat pemandangan indah di depan matanya. Sebagai wanita ia juga sama merasakan hal yang sama, sama-sama bergairah jika melihat lawan jenisnya seperti itu.
"Biarin aja, ngapain ngurusin orang lain!" Bukannya melepas, Nicholas malah memeluk Natalie dari belakang. Hal itu sebenarnya membuat Natalie risih, tapi karena alasan mereka sudah menikah akhirnya Natalie pun tak bisa mengelaknya.
__ADS_1
"Aku kangen," rengek Nicholas.
Melihat wajah memelas suaminya, Natalie merasa tak tega. Sebaiknya dia memang menenangkan Laki-laki itu terlebih dahulu. Kasian juga, batinnya.
"Ya sudah, tapi janji ya! cuma mandi bareng aja 'gak lebih. Soalnya aku takut masih sakit."
"Iya, aku janji."
Natalie melepaskan pelukan Nicholas. "Ya sudah, tunggu sebentar di sini. Aku mau minta Helena keluar dulu. 'Gak enak kalo dia nungguin di kamar."
"Mppp, jangan lama-lama!" seru Nicholas. Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya dia bisa melepaskan hasrat kerinduannya juga pada sang istri. Padahal baru empat hari.
Tiga menit kemudian Natalie datang lagi. Kali ini dia datang dengan pakaian yang lebih mini. Pakaian yang bisa digunakan untuk mandi tanpa harus melepasnya.
"Sini, duduk!" titah Natalie saat melihat Nicholas masih berdiri mematung menatapnya.
Tak menunggu lama, Nicholas pun langsung buru-buru ikut masuk ke dalam bathtub bersama Natalie. Dia duduk di depan Natalie dan saling berhadapan.
Saatnya Nicholas berprilaku sebagai anak bayi.
Perlahan Natalie mulai mengusap-usap dada bidang Nicholas dengan tangannya menggunakan sabun mandi. Wangi yang khas dari tubuh Nicholas mulai keluar, dan Natalie suka sekali itu.
"Yang, jangan diliatin kaya gitu! aku makin 'gak tahan."
Tapi bukan Nicholas namanya jika ia tak menjahili istrinya sendiri.
"Awww." Natalie memekik saat Nicholas tiba-tiba membalikkan badannya. Kini gantian Nicholas yang menyentuh tubuh Natalie dengan intensnya.
"Nic, aku udah mandi," protes Natalie saat laki-laki itu mulai membuka satu persatu pakaian yang menempel di kulitnya.
"Gak asik ah kalo kamu 'gak mandi juga."
"Tapi kan_"
"Syutt!!! diem sayang."
Natalie pasrah. Baiklah, kali ini lakukanlah sesukamu.
Setelah pakaian Natalie sudah semuanya Nicholas jamah, kini waktunya Nicholas mulai menuangkan sabun ke dalam tangannya. Ia mulai meraba-raba satu persatu bagian tubuh wanitanya Mulai dari leher hingga jatuh ke punggungnya. Dan hal itu jelas saja membuat Natalie bergairah. Apalagi saat sentuhan itu sampai ke depan badannya, ke bukit kembar miliknya.
"Nic, mpppp." Natalie melenguh merasakan sentuhan jari-jari tangan Nicholas yang bermain-main di sana.
Sepertinya Nicholas memang sengaja melakukan ini. Dia ingin menyalurkan sesuatu yang mungkin selama beberapa hari ini ia tahan.
__ADS_1
"Enak?" tanya Nicholas, berbisik di telinga Natalie.
Natalie tak menjawab, ia masih berusaha menyeimbangkan dirinya agar nafasnya teratur.
Melihat Natalie yang mulai terangsang, Nicholas tak mau tinggal diam. Dia semakin menjadi-jadi, menjamah semua bagian tubuh wanitanya. Sampai akhirnya Nicholas mengatur posisi wajah mereka agar sing bertemu.
Dia langsung melum@t habis bibir Natalie. Sebelah tangannya menarik tengkuk Natalie agar memperdalam ciumannya, sementara sebelah tangannya kembali bergerayangan di atas bukit kembar itu dan bergantian kiri juga kanan.
"Mppp, Nic. Aku ... mppp."
Nicholas benar-benar nafsu, bahkan dia tak membiarkan Natalie bicara banyak.
Setelah puas membuat Natalie sesak nafas, Nicholas pun melepaskan pagutannya.
"Huftttt..." Natalie melenguh dan menghirup oksigen sebanyak mungkin. Berapa menit Nicholas mencumbunya? gila, Laki-laki itu sepertinya memang layak disebut pemain handal. Dia bahkan berhasil membuat Natalie puas hanya dengan tindakan seperti ini.
"Mmuach."
Satu ciuman mendarat di pipi Natalie. "Makasih ya sayang," bisik Nicholas. Laki-laki itu lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dagunya yang ranum ia tumpukan di atas bahu wanitanya.
Natalie lantas mengangkat tangannya sambil memangku wajah suaminya. "Sama-sama, Nic."
Keduanya akhirnya melanjutkan mandi itu dengan ngobrol ringan, dengan posisi Natalie yang berada dalam pelukan Nicholas.
"Sayang, nanti sebelum berangkat kita temui Ibuku dulu ya!" kata Nicholas.
"Ibu?" tanya Natalie. Dia berpikir keras, Ibu siapa yang Nicholas maksud?
Bukankah Ibunya Kelly sudah meninggal?
"Maaf ya, kalau aku terlambat memberitahukan mu tentang ini." Nicholas mengecup kening wanitanya. "Sebenarnya Ibu kandungku masih hidup."
Natalie dengan seksama mendengar cerita suaminya itu.
"Lalu di mana beliau sekarang?" tanya Natalie.
"Dia ada di rumah sakit XXX. Temanku yang merawatnya."
Natalie terdiam. Berapa bulan dia menikah dengan Nicholas, kenapa baru sekarang dia mengetahui bahwa mertuanya masih ada.
"Ya sudah, nanti kita mampir dulu ya toko. Aku ingin memberikan hadiah untuk Ibu," kata Natalie.
"Iya, sayang."
__ADS_1