
Sinar matahari mengusik tidur Natalie. Wanita itu mengerjapkan matanya, dan perlahan mengubah posisinya menjadi duduk.
Senyuman indah terukir jelas di bibirnya. Sungguh, ini adalah tidur paling nyenyak selama ia tinggal di rumah mewah ini.
Bagaimana tidak? semalaman ia tidur di atas dada bidang Nicholas. Dan jangan lupakan? Nicholas bahkan memeluknya. Natalie benar-benar tak bisa melupakan kejadian malam tadi.
Tok ... tok ... tok
"Permisi, Nona. Apa anda sudah bangun?"
Suara siapa itu?
Sepertinya suara wanita.
Natalie bergegas turun dari kasurnya lantas membukakan pintu. Dan ia dikejutkan dengan kedatangan seorang pelayan yang berusia sekitar 40 tahunan.
"Selamat pagi, Nona. Maaf mengganggu waktunya." Ucapnya begitu sopan, "perkenalkan, saya Helena."
Helena? siapa dia?
Ah, Natalie ingat. Semalam Nicholas menyuruh Reynald untuk mencarikannya asisten rumah tangga.
Apakah Helena ini adalah orang itu. Tapi kenapa pagi-pagi sekali sudah menyiapkan sarapan untukku? jam berapa dia datang?
"Saya, Natalie." ucap Natalie seraya membungkukkan badannya.
Meskipun Natalie adalah istri dari pemilik rumah ini, tapi sikap sopan santun wanita ini memang tidak pernah hilang pada siapapun. Itulah yang membuat siapapun akan betah dan langsung menyukai sifat wanita itu.
"Ah, jangan membungkukkan badanmu di depanku, Nona. Aku hanyalah kepala pelayan di rumah ini." Protes Helena lantas menaruh makanan di atas nakas.
"Maaf, tapi itu karena Bibi terlihat seperti Ibuku, jadi aku tidak bisa untuk tidak menghormati Bibi." Elak Natalie lantas menatap beberapa menu makanan di atas mejanya.
"Wah, sepertinya kau sangat ahli dalam memasak, Bibi ... Kau harus berjanji padaku akan mengajariku banyak hal tentang cara memasak." Puji Natalie setelah mencium bau aroma masakan yang sangat menggugah selera itu.
"Ah, Nona bisa saja. Sudah tugas dan tanggung jawab saya sebagai pelayan, ya harus bisa membuat makanan yang membuat tuannya tergugah selera donk. Masa iya saya membuat masakan yang bikin Tuan dan Nona malas makan, yang ada saya langsung dipecat kali." Jawab Helena yang diikuti gelak tawa dari keduanya.
"Selain cantik, kau juga sangat baik." Puji Helena. "Pantas saja jika Tuan Nicholas memilih mu."
"Bibi bisa aja." Natalie tampak malu-malu.
Ngomong-ngomong soal Nicholas. Kemana orang itu pergi? sejak tadi Natalie tak melihatnya.
"Tuan dimana, Bi?"
__ADS_1
Mata Helena menuntun Natalie untuk melihat keluar jendela. Di sana berdiri seorang laki-laki yang masih mengenakan piyama putih polos. Nampaknya dia sedang berbicara dengan beberapa petugas yang berpakaian serba hitam. Dan tentunya disampingnya sudah ada Reynald, manusia yang selalu nempel bersama Nicholas dimanapun dia berada. Terkadang Natalie merasa iri pada Reynald, karena dia seperti perangko dengan Nicholas, nempel terus.
Namun Natalie tersenyum lega, karena awalnya dia berpikir laki-laki itu kembali menghilang seperti hari-hari sebelumnya.
"Aku keluar dulu ya, Bi." Natalie meninggalkan Helena yang masih menatapnya takjub.
"Wanita ini sepertinya sangat tulus mencintai Tuan Nicholas." cicit Helena.
"Oke, mulai hari ini kalian sudah bisa bekerja." Ucap Reynald menutup pertemuan pagi ini dengan 4 petugas yang mulai hari ini akan menjadi penjaga keamanan rumah mewah Nicholas.
Semua petugas pergi ke tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan Reynald, dia membungkukkan badannya sesaat sebelum kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Hey, kau sudah bangun?" Nicholas terkejut dengan kedatangan Natalie.
"Hmppp," Natalie memeluk tubuh kekar Nicholas. "Siapa mereka?"
Nicholas membalas pelukan Natalie lalu mengecup puncak kepala istrinya itu.
"Mereka akan menjagamu jika aku tidak ada di rumah."
"Sebanyak itu?" Natalie melepaskan dirinya, menatap Nicholas heran.
Heran, laki-laki ini selalu saja berlebihan.
"Apa kau sudah makan? tadi aku minta pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamarmu." Nicholas mengalihkan pembicaraan.
Nicholas menundukkan sedikit kepalanya untuk menyeimbangi tinggi Natalie yang hanya setinggi lehernya.
"Aku belum bisa menemanimu sarapan hari ini, kau sarapan sendiri dulu ya!" ucapnya begitu lembut lalu pergi meninggalkan Natalie.
"Memangnya kau mau pergi kemana?" Tanya Natalie yang membalikkan badannya mengikuti langkah kaki Nicholas.
"Aku ada meeting pagi ini."
"Aku juga kerja hari ini ... tapi aku bisa menyempatkan waktu. Kau kira hanya kau saja yang sibuk." Timpal Natalie yang tak mau kalah. Sambil menggerutu dan memainkan kuku kukunya, Natalie dikejutkan karena menabrak dada Nicholas.
Bughh, tubuh Natalie dan Nicholas bertabrakan.
Natalie menghentikan langkahnya. Mulutnya terbuka saat wajah Nicholas sudah begitu dekat dengannya.
"Siapa yang mengizinkanmu kerja?"
Natalie dengan susah payah menelan salivanya melihat tatapan Nicholas sangat sengit.
__ADS_1
"Kau sedang sakit. Dan kau cuti satu Minggu." Ucap Nicholas seraya menarik kembali tubuhnya.
"Tapi, Nic. Aku sudah baikan, aku tidak apa-apa."
"Selain perintah suami, ini juga perintah atasan. Kau tidak punya alasan lagi untuk menolaknya."
Laki-laki itu berbicara sambil berjalan, dan kini tubuhnya sudah menghilang dari pandangan Natalie. Sejujurnya, Natalie sedikit kesal karena ia harus mengikuti semua perintah laki-laki itu, tapi di satu sisi juga Natalie merasa bahagia sekali karena cara Nicholas memberikan perhatian padanya begitu istimewa dan lain dari yang lainnya.
"Baiklah, Pak Suami." Ucap Natalie seraya mengayunkan langkah kakinya manja beriringan dengan kedua tangannya, memasuki area dapur dan berniat menyiapkan bekal sarapan pagi untuk suaminya tercinta.
Nicholas sudah sampai kamarnya dan dia berniat untuk segera membasahi tubuhnya. Belum selesai Nicholas membuka piyamanya,
Tling,
1 pesan masuk. Nicholas kembali memakainya dan membuka pesannya.
Jennifer : Kau sudah mengabaikan ku dari kemarin demi wanita itu. Hari ini tidak ada alasan lagi untuk membatalkan janjimu. 1 jam lagi aku tunggu kamu di rumahku. Mama dan Papa ku sudah menunggu untuk sarapan bersama.
Nicholas menutup ponsel tanpa membalasnya. Nafasnya berhembus kasar. Entah sampai kapan dia harus terjebak dalam posisi gila seperti ini.
Tangan Nicholas meremas benda dihadapannya, sampai dia tidak sadar jika yang dia remas adalah pisau buah yang tadi dibawakan Helena dengan makanan lainnya.
Sial
Tangan Nicholas meneteskan beberapa tetes darah ke lantai. Dengan cepat dia mengambil tissue dan membersihkannya. Dia tak mau jika Natalie mengetahuinya.
Setelah selesai membersihkannya, Nicholas membuang tissue itu ke dalam tempat sampah lalu segera membasuh badannya di bawah pancuran air shower.
---***---***---
Tuuut ... Tuuttt... Sambungan telepon berbunyi dan langsung dijawab oleh penerima.
Pria : "Hallo, Nyonya."
Wanita : "Bagaimana kabar terbaru tentang keluarga Thomas?"
Pria : "Saya dengar, mereka punya hutang pinjaman ke Bank dalam jumlah yang besar, Nyonya. Dan dari hasil informasi yang beredar juga usahanya sudah mulai sepi. Banyak konsumen yang mengajukan komplain karena hasil pekerjaan mereka tidak beres Nyonya. "
Wanita : "Bagus! lanjutkan rencana kita! jangan sampai ada celah untuk mereka bernafas! segera bereskan semuanya."
Pria : "Baik, Nyonya."
Tut..Tut sambungan telepon terputus.
__ADS_1
Wanita yang memakai topi fedora hitam itu tertawa sinis dibalik topengnya. Bangga, dan bahagia karena akhirnya rencana yang sudah ia rancang bertahun-tahun itu kini mulai menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Sebentar lagi, semua mimpi-mimpinya akan segera terwujud.
"Kau akan merasakan apa yang dulu kurasakan, Nadia, Thomas ... Tunggu saja kehancuran kalian."