Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Ending part 6


__ADS_3

Sebelum masuk cerita, aku mau ngasih tahu, kalau setelah kalian mengetahui bahwa Nicholas sudah tiada. Cerita ini akan mengulang alias flashback bagaimana kisah Nicholas sebelum ia meninggal.


Karena kalian pasti dikejutkan dengan part yang tiba-tiba mengabarkan kalau Nicholas sudah tiada setelah sepuluh tahun kemudian. Dan ini adalah kilas balik sepuluh tahun yang lalu.


Itu saja, back to novel.


Dua jam terlah berlalu.


Natalie terlelap dalam pangkuan Nicholas setelah lelah menangis. Matanya sembap karena menahan agar air matanya tidak tumpah ruah.


Sementara Nicholas dengan sabarnya terus mengelus tangan, wajah hingga perut istrinya yang buncit itu. "Anakku, kau harus berjanji. Kelak kau akan menjaga Mama menggantikan Papa ya Nak!"


Entah ada angin darimana Nicholas merasa ia tidak bisa terus begini saja.


"Apa aku akan terus seperti ini?" batinnya dalam hati. Tiba-tiba terbayang akan mimpi Natalie tadi. Natalie yang bermimpi bisa mengelilingi lautan bersamanya, menari di bawah bintang, Nicholas ingin sekali mewujudkan semua mimpi wanitanya itu sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya.


"Aku tidak boleh hanya diam dan menunggu ajalku datang di tempat ini. Iya, aku harus memberikan kebahagiaan untuk wanita yang selama ini telah berkorban waktu dan seluruh jiwa raganya untukku."


Nicholas meraih ponselnya. Dia menghubungi seseorang.


"Ya, lima belas menit lagi aku akan sampai ke tempatmu. Siapkan semua yang kuminta!"


Nihcolas lantas menutup teleponnya.


Natalie terbangun saat mendengar suara Nicholas yang bicara dengan seseorang. "Siapa, Nic?" tanya Natalie sambil mengucek-ucek matanya.


Nicholas turun dari kasurnya. Ia merapihkan beberapa barang yang akan dia bawa.  "Ayo, sayang. Kita harus pergi dari tempat ini."


"Pergi? ... pergi kemana?" Natalie ikut turun dari tempat tidurnya.


Tak ada jawaban. Nicholas masih saja sibuk berkutat, dia juga mengganti pakaiannya.


"Katakan padaku! kau mau mengajakku pergi kemana?" tanya ulang Natalie.


"Kita akan pergi dari rumah sakit ini," jawab Nicholas sambil merapikan baju pasiennya di atas kasur. "Aku sudah membeli sebuah pulau. Kita akan tinggal di sana, dan kita akan sama-sama mewujudkan mimpimu bersama, sayang." Nicholas membalikkan badannya ke arah Natalie. Dia juga menangkup wajah Natalie. "Kau mau berlayar kan? ... kau  mau menari di bawah bintang kan?"


Natalie melepaskan tangan Nicholas dari wajahnya. "Kamu apa-apaan sih Nic? ... aku memang bermimpi itu semua denganmu. Tapi ini bukan waktu yang pas untuk melakukan itu. Kita akan tetap tinggal di sini sampai kau sembuh. Kita tidak akan pergi kemanapun."


Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam. Sepertinya ia harus menjelaskan ini terlebih dulu sebelum mengajak wanitanya itu pergi.


"Sayang, dengerin aku baik-baik! ... kita sama-sama tahu kalau penyakitku ini bukan penyakit kanker pada umumnya. Kau, aku dan dokter pun bahkan tahu kalau sampai detik ini obat untuk penyakitku tidak bisa ditemukan."


"Bukan tidak, Nic. Tapi belum," sergah Natalie. "Pokoknya kita akan tetap tinggal di sini." Natalie membantah Nicholas. Ia bahkan kembali mengeluarkan barang yang sudah Nicholas masukkan ke dalam koper kecil.


"Nat, kau lihat aku!" Nicholas mendekatkan wajahnya, "Lihat aku, Nat! lihat kepalaku!" Dia bahkan menunjuk kepalanya yang saat ini rambutnya semakin menipis itu. "Setiap hari rambutku semakin menipis. Aku tidak tahu ini akan terjadi sampai kapan? ... Mungkin satu atau dua minggu lagi aku akan benar-benar kehilangan seluruh rambutku. Kau tahu itu artinya apa?"


Natalie terdiam dan tak bisa menjawabnya.


"Itu artinya waktu kematianku hanya tinggal menunggu waktu saja, Nat. Atau mungkin hanya tinggal menghitung hari saja ... Dan aku, aku tidak mau menghabiskan waktuku di tempat ini, diam dan hanya diam, aku tidak mau. Aku juga ingin punya kenangan indah bersamamu."


Mata Natalie mulai panas, dan air mulai berlinang.


Nicholas terlihat begitu memohon. "Please, aku mohon! kasih kesempatan aku untuk sekali ini saja memberikan kebahagiaan untukmu."


Nicholas bahkan berlutut di kaki Natalie, membuat wanita itu sangat terkejut dibuatnya. "Selama kau menjadi istriku kau selalu menderita karena aku. Aku juga mau menjadi suami yang berguna untukmu, sekali ini saja. Aku mohon! hiks."


"Kau sudah cukup berguna untukku, Nic. Kau sangat berarti. Jadi kau tidak perlu melakukan apapun." Natalie membantu Nicholas bangun. "Ini semua sudah cukup untukku. Aku bahagia bisa menjadi istrimu. Aku ikhlas menjalani ini semua bersamamu. Aku bahagia."


"Kau bahagia, tapi tidak denganku," sentak Nicholas. "Aku tersiksa, Nat. Aku tersiksa karena aku tidak bisa membahagiakan wanitaku." Nicholas menitikkan air matanya. "Aku mohon, izinkan aku mengukir cerita indah juga mewujudkan semua mimpimu, sebelum waktu akhirnya benar-benar tak lagi memberi kesempatan untuk kita bersama."

__ADS_1


🎶 Takkan Usai By Della Firdartia


Cintaku, di mana 'ku mencari


Bahagia seperti yang kau beri


Takkan pernah ada cara 'tuk pergi tinggalkamu


Berikan aku rasa ini selamanya


Kasihku, hidupku hanya kamu


Yang selalu menyinari pagiku


Tak perlu terlalu terang, hanya cukup ada


Berikan aku cinta ini selamanya


Aku takkan pernah berhenti


selalu mencintamu


Takkan pernah usai


Berikan aku kisah yang tidak mungkin


Bisa hilang oleh takdir kita nanti


Kasihku, hidupku hanya kamu


Yang selalu menyinari pagiku


Aku takkan pernah berhenti selalu mencintamu


Takkan pernah usai


Berikan aku kisah yang tidak mungkin


Bisa hilang oleh takdir kita nanti


***


Lagu di atas adalah lagu yang sangat sangat mewakili perasaan Natalie pada Nicholas.


Lagu yang selalu ku putar saat menulis novel ini.


Natalie yang selalu merasa sempurna saat bersama suaminya. Meskipun suaminya tak sehat seperti dulu kala.


Natalie yang selalu merasa beruntung karena bisa menjadi bagian dari hidup Nicholas.


Lagu 'Takkan Usai dari Kak Della Firdatia ini menceritakan tentang sepasang insan yang harus berpisah karena takdir mereka yang mungkin tidak akan bisa membuat mereka terus bersama.


Seperti kisah Natalie dan Nicholas. Mereka harus rela berpisah karena kenyataannya Nicholas tak bisa bertahan lebih lama lagi.


Tapi sebelum itu semua terjadi, dalam kisah ini Nicholas meminta sebuah kenangan yang takkan mungkin terlupakan. Kenangan yang bisa menjadi sesuatu yang manis dan indah untuk dikenang.


Kenangan yang suatu saat akan menjadi alasan Natalie untuk mengingat namanya.


***

__ADS_1


Sore itu juga Nicholas membawa Natalie pergi dari rumah sakit itu.


Meskipun awalnya Natalie ragu dan takut, tapi melihat betapa besarnya harapan suaminya itu akhirnya Natalie pun hanya bisa pasrah. Lagipula apa yang dikatakan Nicholas ada benarnya juga. Ia ingin sekali mengukir kenangan indah itu, setidaknya sekali saja sebelum mereka benar-benar terpisah untuk selamanya.


Lima jam kemudian.


Tepat di jam 22.00


Sahabat Nicholas sudah menyelesaikan tugas sekaligus permintaan Nicholas.


Membeli sebuah pulau yang tak jauh dari tempatnya saat ini.


"Ini kunci rumahnya!" sahabat Nicholas memberikan kuncinya pada Nicholas.


"Terimakasih," ucap Nicholas.


Terlihat raut wajah penuh kesedihan dalam wajah sahabatnya itu. Dia sepertinya sama mengkhawatirkan kesehatan Nicholas yang saat ini saja wajahnya terlihat pucat.


"Jangan mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja."


Seolah mengerti, Nicholas menjawab kekhawatiran sahabatnya itu.


"Iya. Akupun berharap demikian," sahut sahabatnya. Setelah itu ia pun pamit pergi, meninggalkan Natalie dan Nicholas di tempat baru.


Sebuah rumah megah dengan nuansa romantis beserta pulau nya, berhasil didapatkan dengan harga yang fantastis. Jelas sahabatnya itu tidak sempat bernegosiasi terlebih dulu, karena Nicholas memintanya sangat mendadak sekali.


Tapi semua itu tak berarti karena saat ini yang ada di pikiran Nicholas hanyalah bagaimana secepat mungkin mewujudkan semua mimpi Natalie.


Sejak perjalanan dari rumah sakit sampai datang ke pulau ini, Natalie tak banyak bicara. Ia hanya tersenyum ketika menjawab sapaan, dan mengangguk jika itu 'iya', juga menggeleng jika jawabannya 'tidak'. Hanya itu saja. Karena ia tidak tahu, apakah cara yang mereka tempuh ini benar.


Apakah ini semua hanya akan memperburuk keadaan?


Entahlah?


Natalie hanya bisa pasrah.


Natalie memilih berjalan ke pinggir pantai sebelum masuk ke dalam rumah megah itu, dan Nicholas mengekor di belakangnya.


"Sayang!" panggil Nicholas.


Natalie menoleh.


"Apa kau suka?"


Natalie mengangguk.


Nicholas lantas memeluk Natalie dari belakang, menatap indahnya pantai yang membentang dengan cahaya bulan bintang sebagai penerangan.


"Mulai hari ini, tempat ini akan menjadi saksi cinta kita. Dan mulai hari ini, aku akan memberikan nama pulau ini dengan 'Pulau Harapan'."


"Kenapa pulau harapan?" tanya Natalie sambil membalikkan badannya


Nicholas tersenyum sambil memangku wajah istrinya. "Karena aku berharap, di tempat ini, Tuhan akan mengabulkan harapan-harapan kita."


Natalie terenyuh mendengar jawaban dari Nicholas. Tak sadar ia menitikkan air matanya lagi. "Iya, semoga saja." Dia terisak dalam pangkuan tangan Nicholas. "Semoga di tempat ini Tuhan akan mendengar semua do'a do'a kita. Dan aku tidak akan meminta harapan lebih dari satu. Karena harapanku hanya ingin melihatmu sehat seperti sedia kala, suamiku."


"Iya, sayang. Terimakasih atas ketulusanmu. Aku merasa jadi Laki-laki paling beruntung karena bisa memiliki wanita sepertimu."


Melihat wanitanya terisak, Nicholas langsung memeluknya erat. Memberikan kekuatan agar dia tabah.

__ADS_1


Dan harapanku adalah bisa membuatmu tersenyum sebelum aku pergi untuk selamanya, istriku. Nicholas Jhonson.


__ADS_2