
"Rick, maaf banget ya!" ucap Natalie ragu-ragu. Dia sedang meminta izin untuk pulang lebih awal karena permintaan Nicholas, laki-laki yang mengancam tidak mau pulang jika Natalie tidak ikut dengannya.
"Ya, ya, ya," ucap Erick dengan raut wajah malas. Sebenarnya dia ingin berkata bahwa dia tidak mengijinkan Natalie pergi, tapi berpikir bagaimana jika Nicholas terus membuntuti Natalie kemanapun dia pergi, rasanya itu lebih menyebalkan bagi Erick.
"Terimakasih, dan sekali lagi aku minta maaf." Setelah mendapati ijin, Natalie pun langsung pamit keluar dari ruangan Erick dan bergegas ke luar kantor.
Nicholas sudah menunggu di dalam mobil, sementara Reynald masih berdiri di luar menunggu Natalie sambil sesekali melirik ponselnya, sepertinya dia sedang menghubungi seseorang.
"Halo,"
"Iya, betul."
"Oke, saya kirim alamatnya sekarang juga."
Reynald lantas segera menutup telepon dan mulai mengirimkan lokasi pada orang yang tadi bicara lewat telepon dengannya. Rupanya dia menghubungi teknisi untuk menjemput dan memperbaiki kerusakan yang terjadi pada mobil Nichlolas.
Sebenarnya mobil sport mewah itu hanya mengalami sedikit lecet di bagian depan, hanya saja Reynald berinisiatif untuk memperbaikinya.
"Nona," sapa Reynald ketika Natalie sudah sangat dekat dengannya. "Silahkan masuk!" Reynald pun membukakan pintu belakang kemudi untuk Natalie, dan wanita itu melihat Nicholas sudah duduk sambil menyenderkan kepalanya ke belakang dengan mata yang terpejam.
Natalie langsung duduk di samping Nicholas. Wanita itu melihat sepertinya Nicholas sedang menahan sakit, tapi Natalie tidak tahu bagian mana yang sakit, mungkinkah bekas berkelahi tadi dengan orang-orang Erick, batinnya.
Nicholas memang sedang merasakan sakit di kepalanya karena bekas pukulan benda tumpul tadi. Terlebih Nicholas memiliki riwayat penyakit di kepalanya, jelas ini membuatnya sangat kesakitan.
Reynald masuk dan segera duduk di kursi kemudi, kemudian mobil itu pun mulai berjalan dengan semestinya, membelah jalanan kota untuk kembali ke rumah Nicholas.
Sepanjang perjalanan, tak ada yang bersuara, semuanya hening. Hanya terdengar hembusan pendingin mobil yang terdengar lembut, Natalie melihat Nicholas masih terus memperlihatkan wajah kesakitannya dengan mata yang terpejam. Tangan Natalie spontan terangkat, ingin sekali rasanya ia mengusap lembut bagian yang sakit itu untuk sedikit menenangkan, tapi Natalie takut, takut kalau apa yang dilakukannya itu salah dan hanya membuat Nicholas marah. Dia pun kembali menurunkan tangannya.
Namun, belum sepenuhnya turun, tangan Natalie malah ditarik oleh tangan Nicholas. Laki-laki itu menggenggamnya erat dengan sebelah tangannya. Sepertinya Nicholas melihat apa yang dilakukan Natalie, Sontak saja perbuatan Nicholas itu membuat Natalie tak bisa berkata-kata.
Tangan Nicholas terus menggenggam, namun matanya terus tertutup. Laki-laki itu tertidur lelap sambil tak mau melepas tangan Natalie.
"Sepertinya dia sangat kelelahan sekali," batin Natalie. Dia dapat melihat dalam raut wajah laki-laki itu sedang merasakan lelah yang sangat berlebih.
Entah ini rasa iba atau memang perasaan yang tak bisa dibohongi, perlahan Natalie pun menarik lembut kepala Nicholas dan meletakan tubuh laki-laki itu dalam pangkuannya.
Reynlad yang melihat apa yang dilakukan Natalie di belakang kemudinya itu memberikan senyum tipis yang manis. Dia senang melihat dua manusia itu seperti sekarang. Inisiatif pun muncul, Reynald menyetel kursi belakang itu melalui tombol di sampingnya, agar kursi yang di duduki Natalie dan Nicholas sedikit terjorong ke belakang, berharap agar Natalie dan Nicholas nyaman dengan posisinya.
"Eh." Natalie sedikit terkejut saat kursinya sedikit berubah posisi. Namun Reynald segera memberi aba-aba dengan meletakkan telunjuknya di depan bibir, pertanda agar Natalie diam dan tak berisik, agar tidak mengganggu nyenyak tidur Nicholas.
"Husttt!!!"
Natalie tersenyum malu saat mengerti maksud Reynlad, wanita itu pun kembali menatap wajah laki-laki yang kini sedang ada dalam pangkuannya.
Baru kali iniĀ Natalie melihat Nicholas seperti sangat membutuhkan sandaran, karena yang dia lihat, Nicholas adalah sosok penguasa yang kuat. Dia tak pernah menunjukkan sedikitpun kelemahannya, apalagi hanya untuk urusan kecil seperti berkelahi tadi.
Natalie menatap sebelah tangannya yang digenggam erat oleh Nicholas. Laki-laki itu kini malah menempelkannya tangan Natalie di dadanya, mendekapnya dengan sangat erat, seperti takut dilepas.
Terlihat senyum kecil terukir di bibir manis Natalie, sebelah tangan wanita itu pun akhirnya terangkat, mengusap lembut rambut, pipi dan berkhir di ujung bibir laki-laki itu. Natalie mengusap setetes darah yang menempel di ujung bibir Nicholas dengan ujung ibu jarinya.
"Kenapa kau harus seperti ini?" batin Natalie.
__ADS_1
Ketiganya sudah sampai di depan rumah Nicholas, seorang penjaga keamanan langsung membukakan pintu gerbang saat Reynald menekan klakson mobilnya.
Mobilnya sudah berhenti dan terparkir, namun Nicholas belum juga bangun dari tidurnya. Sepertinya laki-laki itu nyaman tidur dalam pangkuan wanitanya.
"Nona,"
"Husttt!!" Natalie menempelkan jari telunjuknya di bibir, seolah memberitahukan Reynald agar tidak bersuara.
Sepertinya Natalie tak tega membangunkan Nicholas.
"Kau pergilah! ... aku akan menemaninya di sini sampai dia bangun," cicit Natalie pelan sekali, takut mengganggu Nicholas.
"Ah, baiklah." Reynald pun lantas kembali mentup pintunya perlahan, kemudian meninggalkan Nicholas dan Natalie di dalam mobil berdua.
Sambil menunggu Nicholas terbangun, Natalie pun menyenderkan tubuhnya sedikit condong ke belakang. Membiarkan laki-laki itu terbangun dengan sendirinya. Karena nyaman, Natalie malah ikut terlelap, jadilah mereka tidur berdua di dalam mobil.
***
Flashback On
"Kau harus bertahan, Sea! kau harus kuat!" Erick menangis sambil terus memegangi tangan sahabat sekaligus wanita yang paling dicintainya.
Sea, murid SMA tingkat akhir yang memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum obat racun serangga itu kini tengah mengalami masa sekaratnya.
Dia sakit hati karena laki-laki yang paling dicintainya telah membuang kado pemberinya ke tempat sampah begitu saja. Padahal Sea sudah susah payah untuk bisa membelikan kado itu. Sea rela menjual ponselnya hanya untuk membelikan sebuah jam tangan yang nominalnya di atas lima juta itu. Sea juga rela bekerja part time setelah pulang sekolah hanya untuk menambah uang hasil penjualan ponselnya.
Namun, betapa sakit hatinya Sea, saat melihat kado pemberiannya itu ada di tong sampah dekat kelas mereka. Iya, Sea dan laki-laki yang dicintainya itu memang tinggal sekelas. Dan pada hari ulang tahun laki-laki itu, Sea menyimpan kado tersebut di dalam tas laki-laki tersebut. Sea juga menyelipkan sebuah surat ungkapan perasaannya pada laki-laki itu.
Meskipun Sea tahu kalau dia tidak sepadan dengan laki-laki itu karena Sea bukan orang berada, tapi Sea hanya ingin laki-laki itu tahu bahwa dia sangat berarti dalam hatinya.
Tapi, laksana petir menyambar di siang hari, jangankan mendapatkan balasan dari surat yang ia kirimkan, kado yang ia beli dengan jerih payah dan hasil keringatnya itu malah kini berada di dalam kotak sampah. Dan sepertinya laki-laki itu bahkan tidak membuka isi kotak tersebut karena bungkusnya masih sangat rapi.
Sea sakit hati, dia benar-benar frustasi.
Dia tidak menyangka bahwa laki-laki yang sangat dicintainya itu tega melakukan ini padanya.
Meskipun laki-laki itu menolak Sea, setidaknya tolak Sea dengan cara yang halus. Dengan balasan surat lagi, bukan dengan cara membuang jam tangan senilai jutaan itu ke tong sampah begitu saja.
Mungkin bagi laki-laki itu, jam tangan itu tak bernilai apa-apa karena uang jajannya saja sehari bisa tiga kali lipat dari itu. Tapi bagi Sea, itu jelas-jelas penghinaan.
Merasa sangat disakiti, Sea pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan pembunuh serangga yang ia beli di kantin sekolahnya.
Erick yang melihat tingkah laku Sea mencurigakan langsung mengikuti gadis itu pergi. Sea mengakhiri hidupnya di toilet sekolah, di kamar mandi lebih tepatnya.
Menunggu Sea yang tak kunjung keluar dari toilet perempuan, Erick pun memutuskan untuk menerobos masuk meskipun banyak siswi perempuan yang berteriak dan memaki Erick karena perlakuannya itu.
Brugh
"SEA!!!"
Erick membelalakkan matanya tak percaya saat melihat Sea sudah terkapar lemah dengan racun serangga yang masih ia genggam.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Erick lantas menangis sambil memeluk wanita itu. Wanita yang selama ini Erick cintai dalam diam. Erick tak berani mengungkapkannya karena Erick tahu, bahwa Sea mencintai teman sekelasnya, dan itu bukan dia.
"Erick, berjanjilah padaku! jangan pernah berkorban mati-matian hanya untuk orang yang tak pernah menganggap kamu ada!" ucap Sea dengan nafas yang mulai tersengal. "Aku pun menyesal karena telah mencintai Nicholas selama ini. Kalau saja sejak awal aku mendengarkan semua saranmu, mungkin aku tidak akan sesakit ini."
"Sea! berhenti bicara! aku akan membawamu ke rumah sakit. Kau harus bertahan!" Erick benar-benar ketakutan.
Sea menggelengkan kepalanya. "Tidak, Erick! waktuku tidak akan lama lagi. Tidak perlu bersusah payah menyelamatkanku, karena aku tidak akan selamat lagi."
"Jangan bicara seperti itu, Sea! kau harus sembuh. Aku bisa membantumu untuk mendapatkan Nicholas, aku janji."
"Tidak, Erick. Aku sudah tidak mencintai Nicholas lagi. Perasaanku sudah hilang saat kado yang kuberikan padanya kutemukan di kotak sampah."
Erick menangis tersedu-sedu. Beberapa dewan guru dan keamanan datang setelah mendapatkan laporan dari salah satu siswa yang melihat kejadian memilukan itu.
"Sea! kumohon bertahanlah!"
Uhuk, uhuk.
Sea mulai batuk. Cairan berbusa tiba-tiba keluar dari mulutnya.
"Sea! ... Sea!!! ....."
Erick memekik hebat saat busa itu semakin banyak menyembur dari mulut Sea.
"Cepat tolong dia!" Seorang guru langsung menginstruksikan kepada para penjaga keamanan untuk membawa Sea keluar dari toilet dan segera menghubungi ambulance. Namun sayang, belum sempat Sea dibawa, gadis itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya, tepat di pelukan Erick.
"SEAAAA !!!"
Flashback Off
Jantung dan ulu hati Erick terasa sakit menusuk sampai ke dasarnya, kala mengingat kejadia masa itu.
Kejadian dimana dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita yang paling dicintainya itu meregang nyawa hanya karena seorang laki-laki yang tak punya hati.
Laki-laki yang telah mencampakkan wanitanya dengan sangat tega, padahal selama ini Erick sangat mencintainya.
Nicholas, anak dari pemilik perusahaan Jhonson Company itu rupanya adalah laki-laki yang membuat Sea mengakhiri hidupnya.
Dan semenjak kejadian itulah, Erick menaruh dendam pada Nicholas. Ia berjanji akan membalaskan sakit hatinya pada Nicholas, apapun caranya.
Erick berjuang mati-matian untuk menjadi seorang pengusaha kaya raya, agar ia bisa mengimbangi Nicholas, dan semuanya terwujud. Kini Erick menduduki kursi tertinggi dia sebuah perusahaan yang bergerak di bidang furniture.
Dia berjanji akan menghancurkan apapun yang dimiliki Nicholas. Dia akan membuat hidup Nicholas hancur seperti saat dulu dia menghancurkan hidupnya saat kehilangan Sea.
Padahal, sebenarnya yang membuang kado itu bukanlah Nicholas.
Jennifer, wanita yang saat itu selalu mengaku dirinya adalah kekasih Nicholas lah yang sudah dengan teganya membuang kado pemberian Sea. Jenni tidak terima ketika ada wanita lain yang mencoba mendekati Nicholas. Oleh sebab itu, Jennifer selalu menghalang-halangi siapapun yang mencoba mendekati Nicholas, termasuk salah satunya adalah Sea.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Erick tidak perduli, siapapun pelaku utama dari hilangnya nyawa Sea kala itu. Yang ia tahu, Nicholas lah yang harus bertanggungjawab atas semua itu.
Dan rupanya atas dasar itulah, Erick kini tiba-tiba muncul dalam kehidupan Nicholas. Melalui Natalie, Erick yakin ia bisa sedikit demi sedikit membalaskan rasa sakit hatinya.
__ADS_1
"Kau akan segera merasakan apa yang kurasakan, Nicholas!"
To be continued