
Plakk
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Nicholas saat dia menceritakan kenyataan yang terjadi.
"Kenapa bisa-bisanya kau melakukan hal bodoh itu saat kau tidak mencintai anakku?"
Nicholas tak bisa melakukan apapun selain hanya diam dan diam.
Dia tahu dia bodoh, dia sudah melakukan tindakan bodoh yang bisa saja melukai perasaan Natalie.
Tapi dia juga tidak tahu jika akhirnya akan berujung seperti ini.
Nicholas tidak tahu kalau ternyata akhirnya Natalie akan hamil karena perbuatannya.
"Secepatnya kau harus segera menceraikan anakku!" pekik Thomas.
"Tapi dia sedang mengandung anankku!"
"Tidak peduli." Thomas sudah menggebu-gebu. "Aku bisa mengurus cucuku sendiri. Asalkan...."
Ucapan Thomas sengaja di gantung. Menunggu respon dari Nicholas.
"Asalkan apa?"
Thomas menatap wajah Nicholas dengan sangat pekat.
"Asalkan kau tidak menceritakan tentang kehamilan ini padanya sampai kau dan dia resmi bercerai."
"Apa?"
Nicholas menganga tak percaya saat mendengar permintaan laki-laki di hadapannya.
Thomas ingin Nicholas menyembunyikan kabar ini sampai mereka resmi bercerai?
Tubuh Nicholas mendadak lemah seketika.
"Kenapa ... kenapa aku harus melakukan ini semua?" tanya Nicholas dengan gugup.
"Ini semua demi kebahagiaan anakku. Aku tidak mau dia hidup bersama laki-laki sepertimu."
Thomas berdiri dari duduknya. Dia berterimakasih atas jamuan sore itu yang diberikan Nicholas di sebuah cafe tak jauh dari rumahnya. Lalu dia permisi pulang karena masih banyak urusan yang harus ia kerjakan.
"Ingat! jangan sampai Natalie menyadari kehamilannya sampai kau dan dia resmi bercerai!"
***
Kata-kata itu yang kini terngiang-ngiang di kepala Nicholas.
Nicholas tidak boleh menceritakan hal yang terjadi sampai dia dan Natalie resmi bercerai.
Sungguh, ini adalah hal gila yang paling membuat hati Nicholas tersiksa.
Beberapa jam yang lalu.
Saat dokter datang dan memeriksa keadaan Natalie.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Nicholas gelisah.
dokter itu hanya tersenyum sambil melepaskan alat pendeteksi detak jantung dari telinganya. Dia terlihat sangat santai saat mereaksi pertanyaan Nicholas.
"Tenanglah! Anda tidak perlu khawatir, Tuan," sahut dokter tersebut.
"Bagaimana saya tidak khawatir? dia terus menerus muntah. Saya takut dia kenapa-napa."
"Hahaha." dokter itu tertawa lebar saat melihat kepanikan seorang Nicholas. Tampangnya yang bak preman itu rupanya memiliki hati hello Kitty.
"dokter, kenapa anda terus menerus tertawa? apa kau pikir ini terlihat lucu?"
Wajah Nicholas mulai menunjukkan ketidaksukaan karena si dokter yang terkesan sangat main-main.
"Maaf, maaf!" dokter itu pun berhenti tertawa, dan Nicholas mulai kembali rileks dengan tatapannya.
"Sekarang cepat katakan! apa yang terjadi dengan istriku?"
__ADS_1
Bukannya menjawab, dokter itu malah mengulurkan tangannya.
Apalagi ini? batin Nicholas
Dia ingin bermain kawin-kawinan denganku, pikir Nicholas lagi.
Tak mau pikir panjang lagi, Nicholas menyambar tangan dokter itu. Berharap si dokter segera mengakhiri sikap konyolnya sore itu.
"Selamat, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah."
Tunggu!
Apa maksud dokter ini?
Apa ini artinya Natalie hamil?
"Tuan, Nona sudah bangun."
Helena membuyarkan lamunan Nicholas tentang perkataan dokter beberapa jam yang lalu. Saat ini ia tengah termenung di ruang tamu setelah kepulangannya bertemu dengan Thomas di cafe beberapa menit yang lalu.
"Ah, iya. Ya sudah, tolong ambilkan bubur yang ku minta!"
"Baik, Tuan."
Helena membalikkan badannya hendak mengambil sesuatu yang diminta Nicholas.
"Helena!" seru Nicholas. Wanita itu pun kembali membalikkan badannya.
"Iya, Tuan."
Nicholas berjalan mendekati Helena. Helena jadi gugup. Dia takut kalau ada perbuatan atau perkataannya yang salah di mata Nicholas.
"Boleh aku minta tolong sesuatu darimu?"
Minta tolong?
Apa ini?
Kenapa Nicholas terlihat sangat serius sekali, pikir Helena.
"Bisakah kau merahasiakan ini bersamaku!"
Rahasia?
Rahasia apa maksud Nicholas?
"Maaf, Tuan. Kalau boleh saya tahu, apa yang Tuan, maksud?" tanya Helena sambil terus menundukkan kepalanya. Dia takut terkesan tak sopan.
Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam.
"Bisakah kau merahasiakan kehamilan Natalie darinya?"
Helena mengangkat wajahnya seketika saat mendengar permintaan itu terlontar.
"Ma_maksud, Tuan? ... Tuan ingin Nona tidak mengetahui kehamilannya sendiri?"
Nicholas mengangguk. Tapi kali ini anggukan yang keluar tak seperti anggukan yang biasa seorang Nicholas Jhonson berikan. Dia sendiri terlihat tak begitu yakin dengan apa yang dia ucapkan. Karena sejujurnya, Nicholas juga ingin Natalie tahu kabar mengejutkan ini. Ini seharusnya jadi kabar paling membahagiakan bagi mereka berdua. Mereka akan dikaruniai seorang anak. Orang tua mana yang tidak bahagia?
"Tapi, Tuan. Bukankah ini kabar bahag_"
"Jangan membantah! Anggap saja ini perintah dariku! kau tidak perlu bertanya apa alasannya. Jalani saja apa yang ku minta!"
"Ba_baik, Tuan. Maafkan saya jika saya lancang."
Helena lagi-lagi menundukkan kepalanya. Mungkinkah ekspresi keterkejutannya terlalu berlebihan, hingga membuat Nicholas kesal.
"Maafkan aku jika aku terlalu keras! aku ... aku hanya takut kau ceroboh."
"Tidak, Tuan. Saya yang seharusnya minta maaf karena terlalu lancang bicara."
Nicholas terlihat memberikan senyumnya
Senyum yang sebenarnya tersimpan ribuan luka di belakangnya.
__ADS_1
"Ya sudah, itu saja
Sekarang cepat bawakan apa yang ku minta!"
"Ba_baik, Tuan."
Helena pun segera bergegas menyiapkan apa yang diminta Nicholas. Semangkuk bubur hangat lengkap dengan teh hangat pula.
Nicholas masuk perlahan ke dalam kamarnya. Tempat dimana Natalie masih terbaring lemas di atas kasurnya.
Saat Nicholas masuk, Natalie langsung membuang wajahnya. Ia benar-benar tak suka melihat laki-laki itu datang menemuinya.
Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam, lalu beberapa detik kemudian dia sudah duduk di samping wanitanya itu.
"Kenapa asam lambungnya bisa naik seperti ini?" tanya Nicholas bohong. Dia berusaha memberitahukan Natalie bahwa hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter padanya adalah asam lambung, bukan hamil.
Natalie tak berniat menjawab pertanyaan Laki-laki itu. Sumpah demi apapun, Natalie benci sekali pada Nicholas saat ini.
Kenapa juga dia selalu bersikap manis dan perhatian padanya, kalau sebenarnya dia bahkan sudah mempersiapkan surat cerai untuknya.
"Benar-benar Laki-laki bermuka dua," batin Natalie.
Saat keheningan terjadi, tak lama Helena datang. Membawakan permintaan Nicholas.
"Ini, Tuan, buburnya!" Helena menyimpan bubur dan teh hangat itu di atas nakas, kemudian ia pamit lagi keluar saat tak ada lagi perintah untuknya.
Nicholas langsung mengangkat mangkuk berisi bubur itu. Dia mengaduk-aduknya sebentar. Mengangkat satu sendok, lalu meniup-niupnya dengan perlahan.
"Nat, makan dulu ya!"
Hati Nicholas bergetar. Ini bukan sembarang suapan. Nicholas untuk pertama kalinya akan memberikan makanan untuk anak yang ada dalam rahim Natalie.
Sungguh, hati Nicholas benar-benar terluka. Sakit dan pedih semuanya berkumpul menjadi satu. Seharusnya ini jadi momentum yang begitu indah karena sangat dinanti-nantikan oleh Seorang calon ayah dimanapun berada. Tapi kali ini berbeda, Nicholas merasa ini hanyalah kesakitan yang tiada tara.
"Aku tidak lapar." Natalie menurunkan selimut dari kakinya, ia bergegas hendak turun dari tempat tidurnya, Sebelum Nicholas dengan cekatannya menahan tangan wanita itu setelah menyimpan kembali satu sendok bubur itu ke dalam mangkuknya.
"Makan dulu! Helena bilang sejak pagi kau tidak menyentuh makanan yang ia berikan."
Natalie menusuk pandangan Nicholas dengan netra matanya yang begitu tajam. "Kalau iya memangnya kenapa? ... mau aku tidak makan sehari, seminggu, bahkan setahun pun kurasa itu bukan urusanmu."
Nicholas mengepalkan tangannya kesal. Tatapan mata Natalie seolah mengajaknya bertengkar. Tapi lagi-lagi Nicholas harus menahan emosinya demi anak yang ada dalam kandungan Natalie. dokter bilang, tingkat emosional wanita yang tengah mengandung bisa naik berkali-kali lipat dari biasanya. Dia harus mengalah.
Nicholas melepaskan cengkraman tangannya perlahan.
"Baiklah, jika kau masih belum berselera untuk makan."
Nicholas meletakkan mangkuk berisi bubur itu di atas nakas.
"Ku rasa aku tidak akan pernah berselera saat melihat wajahmu," tutur Natalie. Dia berdiri kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Nicholas sendiri di kamar.
Drtt .. drtt...
Saat tengah memperhatikan Natalie yang ke luar dari kamar. Sebuah pesan masuk.
dokter pribadi yang akan merawat Ibunya di luar negeri memberikan kabar bahwa mereka sudah hampir sampai bandara, dan tanpa pikir panjang lagi Nicholas pun segera bergegas mengejar ke bandara.
"Bi, tolong nanti rayu Natalie untuk makan buburnya meskipun hanya dua suap. Saya harus pergi bertemu dengan seseorang," kata Nicholas saat menghampiri Helena di dapur Sebelum ia pergi menuju bandara.
"Baik, Tuan. Saya akan usahakan."
Nicholas anggap sudah Ok, kemudian dia pun membalikkan badannya. "Ah, satu lagi!"
"Iya, Tuan."
Nicholas terlihat malu-malu untuk yang satu ini.
"Kalau Natalie tiba-tiba minta makanan atau hal apapun, cepat kabari saya ya!"
Helena mengerti. Sebagai seorang wanita, dia paham maksud ucapan Nicholas. Yang Tuannya maksud itu adalah 'ngidam'. Nicholas meminta Helena segera memberitahunya jika tiba-tiba Natalie ngidam sesuatu.
"Ah, iya, Tuan. Pasti! ... saya pasti akan segera memberitahukannya kepada, Tuan."
Setelah meyakinkan dirinya, Nicholas pun lantas pergi menuju bandara. Dimana dia akan melepas kepergian Ibunya untuk sementara, iya sementara ... karena Nicholas berharap ini bukan perpisahan untuk selamanya.
__ADS_1
To be continued