Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Mimpi indah


__ADS_3

Reynald tersadar dari lamunannya saat dering ponselnya bergetar. Sebuah pesan berhasil masuk ke dalam nomornya.


Stelli tidak pernah sekolah setelah ia dirawat oleh orangtua angkatnya, itu karena orang tua angkat Stelli tidak sanggup membiayai Stelli sekolah di tempat yang khusus.


Pesan itu rupanya dari orang bayaran Reynald yang ditugaskan untuk mencari informasi mendalam tentang wanita itu. Beruntung Ibu angkat Stelli mau terbuka, jadi Reynlad tidak perlu susah payah mencari informasi dari orang lain. Reynald bahkan menyewa orang itu untuk sekaligus menjadi bodyguard Stelli, tapi dari kejauhan. Iya, bodyguard itu ditugaskan untuk memantau setiap pergerakan Stelli.


Itu semua Reynald lakukan karena ia takut sesuatu yang buruk kembali menimpa gadis tak berdosa itu.


"Kasihan sekali gadis itu," batin Reynald, "seharusnya orang-orang seperti dia bisa mendapatkan perhatian khusus. Apalagi pada kenyatannya dia memiliki keluarga yang kaya raya." Reynald terus memikirkan gadis itu,entah kenapa semakin hari ia semakin peduli, lebih dari sekedar untuk mencari informasi, Reynald malah takut jika gadis itu ada yang menyakitiya.


"Astaga, kenapa aku malah memikirkan wanita itu terus." Reynald menyadarkan dirinya dari lamunannya. Sedetik kemudian dia mendapati Natalie turun dari tempat tidurnya, dia mendorong cairan infusan yang menggantung di tiangnya.


"Nona, kau mau kemana?" Reynald segera membantu Natalie membawa tiang infusan itu.


"Aku cuma mau cari udara segar. Aku jenuh di sini."


"Kalau begitu biar saya bantu."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


"Tidak apa-apa. Nona jalan saja! ... biar saya yang mendorongnya."


Melihat Reynald begitu bersikeras, Natalie pun akhirnya mengalah. "Baiklah."


Natalie pun meminta Reynald mengantarkannya ke taman rumah sakit itu. Semula Reynald melarangnya karena cuaca taman di malam hati kurang begitu baik untuk kesehatan Natalie, namun wanita itu terus bersikeras hingga membuat Reynald akhirnya mengiyakan keinginannya.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 20.30, dan Nicholas masih terpaksa harus menemani Jennifer. Iya, pasca Nicholas memutuskan Jennifer pagi tadi, wanita itu memang langsung dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba penyakitnya kambuh.


Entah karena di sengaja, atau memang mendadak kambuh karena saking terkejutnya.


"Sayang, aku jenuh." Jennifer terus berprilaku manja pada Nicholas. padahal jelas-jelas Nicholas sudah  memutuskan wanita itu. Namun seperti tak menggubris ucapan Nicholas, Jennifer tetap saja tak menghiraukan status mereka, terlebih saat ini ada orangtua Jennifer di sana, Nicholas jadi tidak bisa berkutik. Dia terpaksa memenuhi semua permintaan Jennifer, meskipun sebenarnya ia ingin sekali cepat keluar dari ruangan itu dan menemui Natalie.


"Kita ke taman yu!" rengek Jennifer.


"Aku tidak bisa. Aku harus pulang. Banyak urusan yang harus ku kerjakan."


Melihat Nicholas menolak permintaannya, Jennifer langsung saja melirik ke arah ayah ibunya, seolah memberitahukan mereka bahwa Nicholas tak mau menuruti permintaannya.


"Oke." Akhirnya Nicholas pun lagi-lagi harus mengalah. "Tapi sebentar saja ya! hanya tiga puluh menit. Lebih dari itu aku tidak bisa."


Meskipun sebenarnya kesal, tapi akhirnya Jennifer menyetujuinya juga. "Oke. Tidak masalah." Sedetik kemudian dia segera meraih tangan Nicholas dan menggandengnya mesra, keluar dari kamar itu. Sementara kedua orang tua Jennifer hanya saling bertatapan seperti melihat nostalgia mereka saat pacaran dulu.


"Mereka lucu ya, Pa!" kata Mama Jennifer, sang ayah hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


***


Natalie POV


Malam ini sepertinya cuaca sedang bersahabat dengan hatiku, mereka tetap sunyi dan sepi meskipun bintang bertabur di segala penjuru.


Iya, sama halnya dengan hatiku.


Hatiku yang selalu sunyi dan sepi meskipun di tengah keramaian sekalipun.


Sampai di sini, di titik ini, aku masih belum mengerti kenapa aku masih saja setia dengan rasa ini, dengan segala harapan yang tak kunjung jua menemukan titik terang.


Jujur aku jenuh, aku bosan, tapi entah kenapa dia selalu memaksa aku untuk tetap bertahan.


Dia ... dia yang kusebut itu cinta.


Tuhan, seandainya rasa sakit yang kau kirimkan ini bisa meleburkan semua dosa yang pernah ku perbuat di masa lalu, maka aku akan berusaha ikhlas dan menerimanya dengan lapang dada.


Adapun jika ternyata pada prakteknya aku masih saja mengeluh, maafkan aku! ... aku hanyalah wanita yang masih memiliki sedikit harapan agar cintaku ini terbalaskan.


Jujur saja aku memang tidak mau munafik, aku masih mencintai laki-laki itu sama seperti pertemuan pertamaku, saat dia menatapku dengan tatapan hangatnya, saat dia menyentuh tanganku dengan lembutnya.


Hanya saja mungkin saat ini aku lebih tahu diri, mencintainya hanya dalam hati dan tak berharap untuk memiliki.


Aku hanya mencoba untuk mengikhlaskan sesuatu yang Tuhan takdirkan bukan untukku.


Aku yakin Tuhan akan memberikan ganti yang lebih bisa menerima diriku dengan segala kekuranganku. Yang mencintaiku tanpa ada sesuatu.


"Nona, sudah malam." Reynald membuyarkan lamunanku, "lebih baik kita kembali ke kamar," lanjutnya.


"Sebentar lagi ya!" pintaku. Iya aku memang masih betah dan nyaman di tempat ini, tempat yang tak begitu luas, namun mampu memberikan ketenangan yang sekian lama kurindukan.

__ADS_1


"Baiklah." Reynald pun kembali berdiri tegak di sampingku. Sebenarnya aku tidak suka diperlakukan seperti ini, tapi sepertinya ini semua atas dasar permintaan laki-laki itu.


Ngomong-ngomong tentang laki-laki itu, sudah seharian ini aku tidak melihatnya, kemana dia?


Oh iya aku lupa, mungkin dia sedang sibuk dengan urusan kantor nya, lagi pula siapa sih aku? ... aku yang tak lebih penting dari selembar surat kontrak ini dengan pedenya berharap lebih, berharap laki-laki itu memikirkanku. Sadar Natalie!


Sepertinya udara memang semakin dingin, tubuhku mulai menggigil.


"Nona Ayo!" Reynald yang melihatku melipat tangan di dadaku langsung mengulurkan tangannya, aku pun akhirnya memilih untuk kembali ke ruang inap.


Tapi tunggu!!! sepertinya aku melihat sesuatu di ujung sana, tak jauh dari tempatku berdiri.


Aku melihat seorang wanita tengah menyenderkan kepalanya di pundak laki-laki yang sangat kukenal, laki-laki yang sejak tadi aku bicarakan pada kalian.


Iya, aku yakin itu adalah Nicholas dan Jennifer.


Tak terasa aetetes air mataku jatuh, hatiku kembali perih.


Tuhan sungguh hatiku terasa remuk dan hancur seketika saat ini juga, langit indah itu terasa runtuh seketika.


Maafkan aku Tuhan! pada akhirnya aku kembali mengeluh juga.


Berulang kali kuucapkan untuk biasa saja, dan angan memperdulikan mereka, tapi nyatanya aku tetap tidak bisa, hatiku tidak sehebat itu.


Melihat laki-laki yang masih bergelut dalam hatiku sedang berdua dengan wanita lain, sungguh aku terluka, apalagi dengan kondisiku yang seperti ini, rasanya ini tidak adil bagiku.


"Nona, lebih baik kita kembali ke ruangan!" Reynald juga sepertinya melihat Nicholas, buktinya dia langsung berusaha mengalihkan perhatianku.


Tapi sepertinya dia berpura-pura tidak melihatnya, hanya untuk melihatku tidak semakin terluka, mungkin.


Tak mau membuat hatiku menangis di sana, aku pun memilih mengikuti saran Reynald untuk pergi meninggalkan taman, tempat yang kukira indah itu ternyata sama saja jahatnya.


Author POV


"Jen, kita pulang sekarang! ini sudah jam sembilan," kata Nicholas.


"Sebentar lagi!" rengek Jennifer manja.


Melihat Jennifer terus mengulur-ulur waktu, Nicholas pun lantas berdiri dari tempat duduknya. "Ayo cepat bangun!"


Drtt


Ponsel Nicholas berdering, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, dan Nicholas dikejutkan dengan isi pesan itu.


Melihat perubahan ekspresi Nicholas, Jennifer langsung berdiri dan berusaha melirik isi pesan itu.


Jennifer bisa melihat bahwa pesan itu dari Reynald.


"Kenapa?" tanya Jennifer, namun Nicholas tak menjawabnya. Secepat mungkin ia malah menyambar tangan Jennifer dan menarik paksa wanita itu untuk kembali ke kamar inapnya.


"Nicholas aku nggak mau balik sekarang."


Namun Nicholas sudah tidak peduli lagi, ada seseorang yang harus ia segera tenangkan.


***


Natalie menangis di atas tempat tidurnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia tak menyangka bahwa luka di hatinya akan kembali terbuka saat melihat Nicholas bersama wanita itu.


Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia takkan pernah bersedih lagi karena hal itu.


"Rey!" panggil Natalie.


"Iya, Nona," sahut Reynald yang tetap setia berdiri di belakangnya.


"Apa aku sudah boleh pulang sekarang?"


"Pulang sekarang?" ulang Reynald


"Iya, aku sudah baikan. Jadi aku mau pulang sekarang, bisa kan?"


Mana mungkin. Bisa habis Reynald dimaki-maki Nicholas.


"Apa tidak lebih baik kita menunggu, Tuan saja, Nona. Mungkin sebentar lagi dia akan datang."


Nicholas memang janji akan datang, tapi nyatanya sampai saat ini laki-laki itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Lagipula Natalie juga tidak yakin laki-laki itu akan datang, jadi untuk apa menunggu, pikirnya, karena dia tahu kalau Nicholas sedang bersama wanita yang dicintainya, dan wanita itu adalah Jennifer, jadi untuk apa menunggunya.


"Rey, dia tidak akan datang."

__ADS_1


"Tidak, Nona. Tuan pasti datang." Reynald sepertinya berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa Nicholas sedang bersama wanita lain, tapi Natalie tidak terkena hasutan Reynald, sudah jelas Natalie melihat sendiri Nicholas dengan wanita itu.


"Sudahlah, Ayo kita pulang saja! ... aku tidak nyaman di sini." Natalie pun mulai turun dari tempat tidurnya lalu dia mulai membalutkan syal dan melekatkan jaket di tubuhnya.


"Siapa yang mengizinkanmu pulang?"


Natalia tertegun saat melihat laki-laki menyebalkan yang sejak tadi bergelut dalam pikirannya tiba-tiba datang dan berdiri tegap belakangnya.


"Aku mau pulang." Natalie berjalan begitu saja melewati Nicholas, namun buru-buru Nicholas mengangkat tubuh wanita itu kembali ke tempat tidurnya.


"Lepas!!! apa-apaan sih kamu? ... aku mau pulang."


Bukannya melepas, Nicholas malah mengunci tubuh wanita itu.


"Diam dan tidurlah!!! ... kau belum sembuh, jadi kau tidak diizinkan pulang."


"Memangnya kau siapa?"


"Aku suamimu."


Suami macam apa, pikir Natalie. Suami dari Neraka?


"Kenapa kamu harus datang sih?" kesal Natalie. "Kenapa kamu tidak menghabiskan malammu saja dengan wanita itu."


Rupanya apa yang dikatakan Reynald lewat pesan padanya benar, Natalie sepertinya cemburu karena melihat Nicholas dengan Jennifer.


"Wanita yang mana?" tanya Nicolas pura-pura.


"Ckkk." Natalie berdecak kesal, bisa-bisanya Nicholas bertanya seperti itu setelah apa yang ia lakukan di depan matanya secara langsung. "Pura-pura lupa lagi."


Nicholas lalu melepaskan tangan Natalie, dia berjalan dan meraih selimut tebal yang tersedia di atas nakas.


"Kau bisa pulang sekarang!" kata Nicholas. "Malam ini aku tidak mau diganggu, aku mau tidur dengan istriku."


"Baik, tuan. Kalau ada perlu apa-apa segera hubungin saya," sahut Reynald sambil menundukkan kepalanya.


"Istri?" batin Natalie. "Dia masih menganggapku sebagai istri ... Dia benar-benar sudah gila."


Melihat Reynald keluar dari ruangan itu, Natalie pun buru-buru turun dari kasurnya. Namun lagi-lagi Nicholas mengangkatnya kembalinya ke tempat tidurnya.


"Bisa diam?"


Nicholas menatap mata Natalie dengan intensi. "Jangan sampai aku melakukan hal yang sama seperti kemarin malam!"


Natalie menelan salivanya dengan susah payah saat Nicholas mengancam akan melakukan hal itu di tempat ini.


Laki-laki itu memang sudah benar gila, pikirnya, padahal Nicholas hanya mengancamnya agar wanita itu diam dan tak memaksa pulang.


Dengan cepat Natalie menggelengkan kepalanya.


"Bagus!" Nicholas lantas menutupi tubuh wanitanya dengan selimut. "Sekarang tidur!"


Takut jika Nicholas benar-benar akan melakukan hal gila itu, Natalie pun segera menutup matanya.


Meskipun awalnya Natalie hanya pura-pura tidur, namun karena belaian tangan Nicholas yang begitu lembut mengusap rambutnya, akhirnya Natalie terlelap juga.


Nicholas menatap wajah cantik wanitanya dengan jarak yang begitu dekat. Tersirat raut wajah penuh kelelahan dalam wajah wanitanya itu.


"Mimpi indah sayang, tunggu aku datang ke mimpimu."


Mmuahh


Satu kecupan mendarat di kening Natalie, mengantarkan wanita cantik itu ke dalam mimpinya yang benar-benar indah.


To be continued


Author mau cerita sekaligus minta maaf.


Maaf hari ini Up nya telat.


Dan maaf juga kalau sekiranya menemukan penulisan yang kurang tepat atau kata-katanya ada yang rancu.


Jadi sebenarnya udah dari jam 9 selesainya, cuma karena ada problem, ini aku ketik ulang part ini karena satu bab Mendadak gak bisa di Up, dan aku blm sempet copy teks nya.


So, sory kalau terlambat. Tapi semoga part ini bikin kalian senang. Meskipun Kenyataannya gak wah banget. Udahlah itu aja. aku ngantuk.


See you**

__ADS_1


__ADS_2