
Pagi hari sekali Nicholas bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat, namun sebelum pergi ia menyempatkan diri untuk menatap sejenak wanita yang masih tertidur pulas di tempatnya.
"Kenapa kau selalu terlihat cantik di mataku?" batinnya. Tak lama dia keluar dari ruangan itu dan menemui Helena.
"Tuan, sudah mau berangkat?"
Helena terkejut mendapati Nicholas sudah rapih sekali dengan pakaiannya.
"Iya, Bi. Ada yang harus saya urus."
"Waduh, Bibi belum buatin sarapan lagi."
Nicholas tersenyum manis sekali. Dan baru kali ini Helena melihat senyuman itu. "Tidak apa-apa, nanti saya sarapan di jalan saja. Yang penting nanti pas Natalie bangun semuanya sudah siap."
"Ah, baik, Tuan."
Baru saja Nicholas membalikkan badannya, ia kembali memanggil Helena.
"Bi."
"Iya, Tuan."
"Tolong nanti masaknya jangan terlalu pedas dan bersantan ya! soalnya lambung Natalie belum pulih."
"Oh, iya. Baik, Tuan."
Setelah menyelesaikan permintaannya, Nicholas pun lantas pergi meninggalkan rumah itu pagi-pagi sekali.
Helena yang melihat perubahan sikap Nicholas akhir-akhir ini merasa Nicholas lebih protektif sekali pada Natalie.
"Sepertinya Tuan takut sekali kehilangan Nona," batinnya. Dia senang, akhirnya rumah tangga dua manusia itu membaik. "Kuharap mereka akan segera saling menyadari bahwa mereka saling membutuhkan."
***
Nicholas sudah sampai di depan rumah orang tua angkatnya.
Hari ini, seperti janjinya dia akan melepaskan Nadia dengan segala hutang-hutangnya. Dia akan merelakan masalalu kelam itu sebagai pelajaran hidup dan juga kenangan semasa hidupnya bersama ibu tercinta.
Nicholas akan membuang jauh-jauh dendam itu, dan membiarkan Nadia kembali pada keluarganya. Itu semua Nicholas lakukan untuk menebus semua kesalahannya pada wanita yang kini masih berstatus sebagai istrinya.
Dan sekalipun ia pergi, setidaknya dia akan pergi dengan damai.
"Tuan Nicholas." Asisten rumah tangga itu langsung bergegas menemui Nyonya besar saat melihat anaknya datang pagi-pagi sekali.
Tak lama Kelly pun datang dengan sumringahnya. Dia lantas memeluk putra yang selama ini ia besarkan dengan cinta meskipun lebih tepatnya untuk membalaskan dendamnya.
"Sayang, kenapa gak bilang kalau mau datang pagi-pagi?"
Sebenarnya Kelly mencintai Nicholas layaknya anak kandung sendiri, namun karena tertutup dendam, ia akhirnya menyiksa anak angkatnya itu sendiri.
"Ma, Papa mana."
"Papa belum pulang di luar kota. Katanya sih Minggu depan baru pulang."
Nicholas duduk di sofa dan diikuti Kelly di sampingnya. "Masih ngurus-ngurus apa sih, Ma? kenapa Papa sering ke luar kota? ... kan udah Nicho bilang, biar Nicho aja yang ngurusin perusahaan."
Kelly tersenyum gemas melihat tingkah laku putranya yang kini sudah gagah itu. "Entah, Mama juga tidak tahu."
__ADS_1
Pelayan datang dan membawakan minuman untuk Nicholas.
"Ma, aku mau bicara serius."
Suasana mendadak tegang. Kelly bertanya-tanya apa yang akan ditanyakan Nicholas.
"Iya. Katakanlah!"
Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam. Dia berusaha meyakinkan dirinya dengan sepenuh hati. Ikhlas, dia berusaha ikhlas.
"Aku mau membebaskan Ibu Natalie, Ma."
"Aku mau melupakan semua dendam itu."
Seperti tercekik, Kelly tak dapat berkata-kata saat Nicholas mengucapkan permintaan itu.
Melepaskan Nadia?
Tidak mungkin. Kelly tidak akan pernah melepaskan wanita yang telah merebut Thomas darinya dulu. Meskipun saat ini Kelly sudah tidak begitu mencintai Thomas semenjak kehadiran Bram, tapi dendam tetaplah dendam, dan Kelly tetap bersikeras menyiksa wanita itu.
"Maksudmu, kau mau melepaskan Nadia begitu saja?" tanya Kelly dengan berusaha santainya. Dia tidak boleh terlihat aneh di depan Nicholas.
"Iya." Nicholas mengangguk. Meskipun raut wajahnya masih tidak terlihat begitu ikhlas. Tapi dia sudah yakin seyakin-yakinnya dengan keputusannya saat ini.
"Ya sudah, kalau memang itu keputusanmu."
Seperti tak terlihat ada kejanggalan, Kelly nampak menyetujui begitu saja. Padahal dalam hatinya ia tengah berpikir keras bagaimana caranya tetap menyiksa wanita yang telah merebut Thomas darinya tanpa Nicholas tahu.
Kelly tidak akan dengan mudahnya melepas Nadia hanya karena Nicholas mau melupakan dendamnya.
Tidak semudah itu melupakan rasa sakit hatinya saat Thomas pergi untuk wanita itu. Meskipun kini sudah hadir Bram di hati Kelly, tapi tetap saja Thomas pernah menjadi alasan kenapa dia hampir saja bunuh diri kala itu.
"Sepertinya Mama terlihat biasa-biasa saja," batinnya. "Ya sudah, kalau begitu ayo kita temui dia. Aku mau bawa dia pulang."
"Tunggu!"
Kelly menahan Nicholas, dia tidak boleh membiarkan Nicholas saat ini juga membawa Nadia. Wanita itu bisa membeberkan semua perlakuan Kelly pada Merry. Iya, Nadia memang pernah melihat Kelly mencekoki Merry saat memberikan obat. Setidaknya Nadia sudah tahu bahwa selam ini Kelly memperlakukan orang tua Nicholas itu tidak sepenuhnya baik.
Kelly harus menahan Nicholas untuk tidak membawa Nadia hari ini. Dia harus memikirkan cara lain.
"Bagaimana kalau kita makan dulu?"
Seperti menahan-nahan, Kelly berusaha agar dia memiliki kesempatan untuk menahan Nicholas.
"Aku tidak lapar, Ma!"
"Sudah, sebentar saja!" Kelly terus mendorong tubuh Nicholas untuk duduk di tempat makan. Lalu dia pamit sebentar berpura-pura ke kamar, padahal dia pergi ke paviliun.
Kelly menyuruh anak buahnya untuk membawa Nadia pergi dari ruangan itu. Dengan begitu, Kelly akan mengatakan pada Nicholas kalau Nadia kabur.
"Cepat bawa pergi wanita ini!" Kelly membantu orang-orang suruhannya membuka ikatan di tubuh Nadia. Lalu dia secepat mungkin juga menyembunyikan obat-obatan palsu yang biasanya ia berikan pada Merry.
"Cepat sembunyikan ini sebelum Nicholas melihatnya!" seru Kelly pada orang suruhannya. "Dan cepat bawa pergi wanita itu dari sini! Nicholas tidak boleh membawa dia kembali pada keluarganya."
"Baik, Nyonya."
Baru saja orang suruhannya itu hendak menyembunyikan obat-obatan itu, sebuah tangan kekar terlebih dulu menahannya.
__ADS_1
"Berikan padaku!" Dan obat itu kini sudah ada di tangan Nicholas.
Mata Kelly langsung membulat sempurna saat mengetahui siapa yang sudah menahannya.
"Nicholas."
Beberapa menit yang lalu.
Saat Nicholas tengah menunggu Kelly di dapur, ponselnya berdering.
Nama Reynald terpampang di layar ponselnya.
"Bajing@n ini akhirnya menghubungiku juga," geram Nicholas. Ingin rasanya dia mencincang orang itu, kalau saja Reynald tidak banyak berjasa padanya.
"Halo. Darimana saja kamu, hah? kenapa baru menghubungiku? ... kau pikir kau siapa, pergi tanpa pamit."
Nicholas terus mengoceh kesal pada Reynald. Tapi beberapa detik kemudian dia terdiam saat Reynald menjelaskan apa yang terjadi padanya.
Nicholas semakin speechless saat sebuah video rekaman Kelly membuang obat-obatan juga rupanya sudah berhasil Reynald dapatkan.
Reynald berhasil mendapatkan rekaman CCTV itu sebelum Reynald mengikuti Kelly malam itu, dan rencananya akan diberikan pada Nicholas malam itu juga. Tapi sayangnya ia malah terhipnotis untuk mengikuti Kelly, dan sialnya dia tertangkap. Beruntung ada yang menolongnya, jadi dia masih bisa memberikan bukti kejahatan Kelly.
Reynald : Cepat selamatkan Ibumu, Tuan! dia dalam bahaya.
Pesan beserta Video yang diterima Nicholas dari Reynald itu kini menjawab semua pertanyaan yang selama ini bersarang di pikiran Nicholas.
Reynald : Ibumu sakit bukan karena pikiran, tapi karena pengaruh obat yang diberikan Nyonya Kelly.
Tanpa membuang waktu, Nicholas segera berlari menuju Paviliun.
Dan rupanya Kelly sudah ada di sana, tengah melakukan hal yang sepertinya rahasia. Padahal dia tadi bilang mau kamar sebentar.
Diam-diam Nicholas menguntit pembicaraan mereka sebelum masuk. Dia ingin tahu apa yang sedang dilakukan Kelly sebenarnya.
"Cepat bawa pergi wanita ini!" Nicholas melihat Kelly membantu orang-orang suruhannya membuka ikatan di tubuh Nadia.
"Dia bahkan menyiksa Ibu Natalie," gumam Nicholas dalam hatinya saat melihat wajah Nadia biru-biru.
"Cepat sembunyikan ini sebelum Nicholas melihatnya!" seru Kelly pada orang suruhannya. "Dan cepat bawa pergi wanita itu dari sini! Nicholas tidak boleh membawa dia kembali pada keluarganya."
"Baik, Nyonya."
Bagai ribuan pedang menyayati tubuhnya saat ini. Perih, tak percaya, kecewa, terluka, semuanya jadi satu.
Orang yang selama ini Nicholas percayai sebagai malaikat hidupnya, dengan teganya menyakiti orang yang paling Nicholas cintai di Dunia ini. Kelly tega membuat Merry tersiksa selama ini.
Kali ini Nicholas tidak bisa tinggal diam lagi. Kelly sudah benar-benar keterlaluan.
"Berikan padaku!" Nicholas menyangkal tangan orang suruhan Kelly yang berusaha menyembunyikan obat-obatan itu ke dalam laci.
"Nicholas," cicit Kelly. Dia menatap tak percaya, kenapa Nicholas bisa ada di sana.
Perlahan Nicholas berjalan mendekati Kelly. Ditatapnya mata malaikat yang ternyata iblis itu.
"Kenapa Mama tega melakukan ini?" ucap Nicholas dengan berusaha menahan Isak tangisnya.
Nafas Nicholas terengah-engah, dadanya benar-benar sesak. Dia masih belum percaya, Kelly tega melakukan ini semua padanya.
__ADS_1
"KENAPA KAU TEGA MELAKUKAN INI PADAKU?"
To be continued