
Nicholas sudah sampai di sebuah rumah sakit. Ternyata Kelly membawa Merry (Ibu Nicholas) ke rumah sakit biasa.
"Bagaimana keadaan Ibuku, Ma?" Tanya Nicholas panik.
"Dia," Kelly menghentikan ucapannya, setetes air matanya jatuh.
"Ma, apa yang sebenarnya terjadi?"
Dokter yang menangani Merry, tiba-tiba muncul dari pintu.
"Tuan Nicho, Ibumu hampir saja pergi untuk selamanya. Untung saja, tadi Mama mu langsung membawa ke rumah sakit, kalau tidak, entahlah."
"Apa?"
Menabrak dokter dan perawat yang berdiri di pintu, Nicholas langsung masuk melihat keadaan Ibunya.
"Bu, apa yang terjadi dengan mu?" Nicholas terisak sambil memeluk tubuh Merry yang masih terpejam.
Obat yang diberikan pada Merry, membuatnya kehilangan kesadarannya.
"Dok, apa yang sebenarnya terjadi dengan Ibuku?"
dokter dan Kelly saling bertatapan. Akankah Nicholas kuat mendengar kenyataan ini.
"Maafkan saya, Nicholas. Tapi saya tidak memastikan apakah Ibumu akan kembali sadar seperti biasa."
Nicholas mengepalkan tangannya.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu, hah?" Nicholas menarik kerah dokter itu dengan spontan karena merasa tak terima dengan perkataannya.
"Nicho, sabar sayang!" Kelly berusaha menenangkan.
"Kau pikir kau siapa? Tuhan? sehingga kau bisa memastikan kalau Ibuku tidak akan bangun lagi."
dokter itu tak melawan, dia hanya berusaha menahan tangan Nicholas agar tak mengenai wajahnya.
"Maafkan kami, Tuan. Tapi itu memang kenyataannya. Kami hanya menyampaikan apa adanya." Ucap dokter itu lemah.
"Hey! kau dengarkan aku baik-baik!" Nicholas menekan kata-katanya, "kalau sampai aku kehilangan ibuku karena kecerobohan ucapan mu, aku akan membeli rumah sakit ini dan mengeluarkan mu saat itu juga. Mengerti!"
"Mengerti, Tuan. Maafkan saya!"
"Nicho, sayang. Sabar!" Kelly memeluk tubuh Nicholas dari belakang.
dokter dan perawatnya itu akhirnya memilih keluar setelah Nicholas melepaskan dirinya.
"Sayang, kamu jangan bertindak seperti itu. dokter hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Tapi, Ma. Ibu akan sembuh, dokter itu gila. Dia pikir dia siapa bisa menentukan takdir manusia."
"Iya, sayang. Mama mengerti, kamu pasti sangat takut kehilangannya. Tapi kamu juga harus sabar. Semua pasti ada jalannya." Kelly berusaha menenangkan.
"Iya, Ma."
Nicholas terdiam sambil menyentuh lembut wajah Merry perlahan.
"Bu, Ibu nggak boleh dulu pergi sebelum semua dendam kita terbalaskan ya."
Kelly menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Apa rencana mu selanjutnya dengan keluarga istrimu itu, Nicho?"
Nicholas membalikkan badannya, menatap Kelly dengan nafas yang memburu.
"Aku akan segera menghancurkan keluarga itu. Sama seperti dulu dia menghancurkan keluarga ku." Nicholas mengepalkan tangannya.
"Mama akan selalu mendukungmu, sayang. Tapi kau harus tetap berhati-hati ya!" Peluk Kelly berusaha memberikan kekuatan.
"Ma, aku titip Ibu ya! aku akan segera kembali."
"Kau mau kemana?"
"Aku mau pergi sebentar."
"Yasudah, tapi jangan lama-lama ya!"
"Hmppp,"
***
BRUGH
Pintu kamar Natalie terbuka, membuatnya menganga tak percaya.
"Nicho, kamu dari mana aj_"
Plak
Suara tamparan keras berhasil terdengar sangat nyaring.
Nicholas menampar pipi Natalie.
"Jangan menyentuh ku!"
Natalie terperanjat. Dia memejamkan matanya saat melihat mata Nicholas merah padam. Dia berpikir apa yang salah dengan dirinya. Sampai Nicholas tega menamparnya.
"Kau ... " tangan Nicholas kembali terangkat. Jiwa Nicholas benar-benar terguncang.
"Tuan, sebaiknya kita segera kembali ke rumah sakit." Reynald menarik perhatian Nicholas karena mengkhawatirkan keadaan Natalie.
"Baiklah,"
Setelah mengambil beberapa keperluan yang Nicholas butuhkan, dia segera pergi kembali dengan Reynald. Meninggalkan Natalie yang masih mematung dengan air mata yang menetes sambil memegangi pipinya yang memerah.
***
"Bangs*t ... "
Bugh
Nicholas memukul kaca mobilnya keras.
"Tuan, tenangkan diri anda!" Reynald sedikit panik dibuatnya. "Menyakiti diri sendiri dan Nona Natalie bukan jalan yang tepat."
"Apa kamu bilang?" Sentak Nicholas, "wanita itu memang pantas diperlakukan seperti itu, kau tahu itu Reynald?"
"Tuan, tapi dia bukan pelaku utama atas kasus Ibu Tuan."
"Lalu apa yang tepat menurut mu, hah?" Pekik Nicholas, "apa aku bisa menampar pipi wanita bernama Nadia itu saat ini juga?" lanjutnya, "apa aku bisa tiba-tiba datang dan membunuh wanita itu? ... apa kau mau aku masuk penjara karena tindakan itu?"
__ADS_1
Reynald terdiam dan masih fokus menjalankan stir Nya.
"Natalie adalah takdir yang Tuhan berikan untuk membalaskan rasa sakit hatiku, Reynald. Aku yakin Nadia dan keluarganya akan terluka lebih dalam jika melihat anaknya aku sia-siakan."
"Tapi, Tuan."
"Jalan saja, Reynald. Jangan banyak bicara!"
"Baik, Tuan."
Tak ingin bertengkar dengan Tuannya, Reynald memilih diam. Namun diam-diam dia mengirim sebuah pesan pada Helena, kepala pelayan di rumah Nicholas.
Helena. Tolong temui dan tenangkan Natalie! dia pasti sangat tertekan.
Setelah menerima pesan dari Reynald, Helena langsung bergegas ke dalam kamar Natalie dan dia menemukan Natalie masih tertunduk lemah sambil memegangi pipinya.
"Nona, apa yang terjadi dengan mu?" Helena langsung memberikan pelukan pada Natalie.
"Bibi." Lirih Natalie seraya membalas pelukan Helena.
"Tenanglah! kau bisa bicarakan padaku nanti kalau kau butuh tempat untuk berbagi." Helena membantu Natalie berdiri dari lantai. "Sekarang tenangkan diri Nona terlebih dulu, minumlah!" Helena memberikan segelas air putih pada Natalie.
Dengan gemetar, Natalie menengguk segelas air putih itu hingga tandas.
"Tenanglah, Nona. Ada aku disini."
Setelah menghabiskan air minumnya, Natalie kembali mengeratkan pelukannya pada Helena.
Ia benar-benar butuh sandaran malam ini. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar luka di hatinya segera pergi.
Perlakuan Nicholas malam ini benar-benar membuat hati Natalie hancur se hancur hancurnya. Natalie tidak akan begitu terluka jika Nicholas terbiasa memperlakukan ini kepadanya, tapi ini?
Baru saja Nicholas membawanya terbang ke atas awan dengan memberikannya makan malam romantis juga kalung berlian di lehernya, kini Nicholas malah memberikan tamparan keras di pipinya tanpa Natalie tahu dimana letak kesalahan dirinya.
Nicholas benar-benar keterlaluan, pikirnya.
"Bi, apa salahku? ... kenapa Nicholas melakukan ini padaku?" Ucap Natalie yang terisak di pelukan Helena.
Helena yang tidak tahu awal mula perselisihan keduanya, hanya berusaha menenangkan dengan mengusap lembut rambut panjang Natalie.
"Tenanglah, Nona. Ku harap ini hanya kesalahpahaman semata."
Natalie juga berharap seperti itu. Tapi entah kenapa kali ini luka di hati Natalie begitu dalam.
Nicholas menunjukkan kemarahan yang begitu dalam saat menatapnya.
Ditengah kesedihan Natalie yang begitu dalam, seorang wanita di jauh sana sedang tertawa bahagia mendapat laporan dari orang suruhannya.
"Hahahaha, rasakan itu wanita murahan." Pekiknya, "kau pikir kau bisa bersaing denganku? ... jangan harap!"
Jennifer menuangkan minuman berwarna merah ke dalam gelasnya.
"Kau hanyalah tikus got yang begitu menjijikkan dan harus segera ku musnahkan." Ucapnya yang kemudian diikuti gelas yang mulai ditenggaknya.
Glek ... glek .. glek ...
Segelas minuman itu tandas di mulut Jennifer.
"Selamat menikmati, Natalie ku sayang. Hahaha."
__ADS_1