Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Maaf menggangumu


__ADS_3

🎵 Cobalah untuk setia : Krisdayanti


Apalah maumu kasih


Kau pilih diriku


Di dalam hidupmu


Nyatanya ku lihat kini


Tak bisa kau coba untuk setia


Sudah cukuplah sudah


Ku memberikan waktu


Kau selalu tak bisa


Mencoba untuk setia


Yang selalu kuinginkan


Yang selalu kunanti


Kau coba untuk mengerti


Apalah arti mencinta


Dan harus kau sadari


Bila ingin bersamaku


Jangan coba kau ingkari


Cobalah untuk setia


***


Alunan musik dari mobil Erick mengiringi perjalanan keduanya. Lagu itu sepertinya sangat mewakili perasaan Natalie saat ini. Tak terasa air mata Natalie menetes begitu saja. Sesak, sesal semuanya tumbuh menjadi satu dalam benak pikirannya.


"Kenapa aku terlambat menyadari bahwa dia bukan laki-laki setia," gumamnya dalam hati saat lagu itu berhenti berputar.


Sepanjang perjalanan pulang, tak ada suara yang mengiringi keduanya. Natalie masih terus saja terngiang kejadian yang barusan menimpanya. Dia berpikir, seandainya Nicholas mengetahui keadaan ini, apakah dia juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang Erick lakukan padanya.


"Nat, udah dong jangan sedih terus!" ujar Erick yang sejak tadi melihat Natalie terus termenung.

__ADS_1


"Ah, iya. Maaf ... aku cuma kepikiran aja."


"Kamu masih kepikiran yang tadi?"


Natalie mengangguk.


"Aku bakal pastiin dia gak bakal pernah datang lagi ke cafe ku." Erick berusaha meyakinkannya.


Tak ada jawaban lagi, Natalie hanya tersenyum. "Oh iya, Rick, soal kejadian tadi pagi ... aku minta maaf ya!" ucapnya sedikit tak enak hati.


"Ah, yang itu. Gpp, aku biasa aja kok." Erick berusaha santai. "Sudah lama menikah dengannya?"


"Mppp, baru beberapa bulan sih."


"Oh."


"Kenapa?" tanya Natalie.


"Gpp. Cuma aku lihat dari penampilannya sih kayaknya dia orang penting juga. Ya, aku cuma aneh aja, kok istrinya bisa nyari kerja sampingan gitu. Memangnya penghasilan suami kamu itu kurang?"


Natalie diam tak menjawab. Andai saja Erick tahu kejadian yang sebenarnya. Sangat menyedihkan memang, saat suaminya hidup dengan bergelimang harta dimana-mana, Natalie malah banting tulang hanya untuk membayar hutang Ibunya yang nominalnya bahkan tidak mencapai dua ratus juta itu.


"Mppp, gpp. Aku cuma gak mau nyusahin dia aja."


"Wah, dia benar-benar beruntung ya bisa punya istri kaya kamu. Cantik, baik, pengertian, pekerja keras pula."


"Eh, udah sampai nih!" Erick segera menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Natalie. Setelah itu Erick pun langsung bergegas membukakan pintu untuk Natalie. Namun belum sempat Natalie membuka sabuk pengamannya, dari kejauhan dia melihat dua orang sedang berdiri di depan pintu rumah. Sepertinya wanita itu hendak pamit pulang pada laki-lakinya. Dan Natalie yakin, wanita itu adalah Jennifer.


"Nicholas," cicit Natalie.


"Aku pulang dulu ya sayang. Nanti istri kamu yang jal@ng itu keburu pulang lagi," ucap Jennifer manja pada Nicholas sambil terus menggandeng tangannya. Sementara Nicholas memilih hanya mengiyakan perkataan tanpa menjawabnya. Sudah berapa kali ia meminta Jennifer untuk tidak mengatakan Natalie jal@ng, tapi tetap saja Jennifer melakukannya.


Batin Natalie kembali hancur. Meskipun sejuta kali dia berusaha untuk biasa saja melihat Nicholas dengan wanita itu, namun nyatanya hati seorang wanita tidak sekuat itu. Dia tetap sakit hati. Dia tetap hancur, melihat laki-laki yang masih sangat dicintainya itu bermesraan dengan wanita lain di depan matanya.


"Nat, ayo!" Erick memanggil Natalie. Namun Natalie tak juga menggubrisnya. Karena penasaran Erick pun mengikuti pergerakan mata Natalie. Rupanya ada sesuatu di sana yang membuat Natalie tak bergeming dari tempat duduknya.


"Loh, Nat. Bukannya itu suami kamu? kenapa dia sama wanita lain?" tanya Erick.


Kali ini Natalie berhasil tersadar dari lamunannya. "Ah, i_itu ... itu rekan kerjanya, Rick. Iya, dia sekretarisnya di kantor." Natalie pun keluar dari dalam mobil, menggandeng tas dan meraih ponselnya.


"Sekretaris?"


"Iya."


"Tapi masa sekretaris berkelakuan seperti itu? Nicholas kan suami kamu. Apa dia tahu kalau Nicholas sudah menikah?"

__ADS_1


"Ah, itu. Dia ... dia masih ada hubungan keluarga gitu sama Nicholas. Jadi ... jadi ya memang mereka sering seperti itu di depanku juga. Aku sih gak masalah, namanya juga Saudara kan? masa aku mau marah?" Natalie terus berusaha menyembunyikan sakit hatinya karena terus menutupi kebobrokan suami dan sekretarisnya itu.


"Oh, gitu." Erick mengangguk mengerti. "Tapi kalo menurut aku ya, seharusnya meskipun dia itu ada hubungan saudara, dia harusnya lebih menghargai status kamu. Karena bagaimanapun kamu kan istrinya. Apa dia tidak memikirkan bagaimana penilaian orang lain terhadap kelakuan mereka itu."


"Sudahlah! tidak apa-apa. Oiya, makasih ya Rick, udah mau nganterin aku pulang."


Jauh di sana, rupanya Nicholas pun menyadari kehadiran Natalie. Buru-buru dia melepaskan tangan Jennifer dari lengannya.


"Natalie," cicitnya.


Meskipun sudah berusaha setegar mungkin, nyatanya air mata Natalie luruh juga.


"Rick, aku duluan ya! sekali lagi terimakasih," ucapnya lalu melangkah masuk ke dalam gerbang, berusaha sebisa mungkin untuk biasa saja.


"Kau pasti bisa, Natalie. Kau pasti bisa." Ucapnya berulan-ulang dalam hatinya. Sementara Erick pun akhirnya pergi.


Jennifer yang kini juga menyadari kedatangan Natalie langsung mengerti kenapa Nicholas melepaskan tangannya. "Sial, wanita itu rupanya," benaknya. "Eh, tapi gpp deh. Sekalian aja aku buat malam ini akan kubuat tidurnya 'tak nyenyak."


"Sayang, aku pulang dulu ya!" ucap manja Jennifer pada Nicholas yang berakhir dengan kecupan mesra di pipinya.


Pandangan Nicholas semula tertuju pada Natalie yang berjalan ke arahnya itu sontak saja terkejut saat Jennifer memberikan kecupan tepat saat Natalie melihat ke arah mereka. Tentu saja Nicholas membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Natalie saat itu. Tapi apa dayanya, dia tidak bisa memarahi Jennifer karena sikapnya itu. Lagi dan lagi karena alasan takut Jennifer curiga akan perasaanya.


"Mimpi yang indah sayang." Jennifer pun lalu pergi begitu saja tak menghiraukan Natalie yang masih berdiri mematung tak beranjak karena terkejut akibat ulahnya. Hanya senyum smirk yang Natalie lihat dari wajah Jennifer saat melintas tepat di sampingnya.


Beberapa detik berlalu. Tubuh keduanya masih tak bergeming dari tempat dimana mereka berpijak. Nicholas dengan rasa bersalahnya, dan Natalie dengan luka dalam hatinya yang sudah hancur lebur tak berbentuk lagi.


Natalie berusaha menahan dirinya untuk telihat tegar. Dia pun tersenyum saat menatap pandangan Nicholas, seolah mengatakan kalau dia baik-bai saja. Padahal jauh di sana dia ingin sekali berteriak se kencang-kencangnya.


Natalie bejalan dengan santainya melintas melewati Nicholas yang tak berani menatap matanya.


"Tumben udah pulang, Nat?" tanya Nicholas.


Langkah kaki Natalie terhenti tepat di belakang Nicholas. "Iya nih. Tadi ada sesuatu, makanya buru-buru pulang. Maaf ya!"


"Maaf ... maaf untuk apa?"


"Ya aku cuma minta maaf aja. Aku gak tahu kalau ada dia di rumah. Maaf kalau menggangu waktu bermesraan kalian."


Seperti mendapat sindiran, Nicholas pun tak menjawab ucapan Natalie. Wanita itu juga memilih pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Karena ia sejujurnya sudah tidak tahan ingin segera menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia tahan-tahan.


"Tuhan, tolong hadirkan rasa ikhlas yang berlebih dalam hatiku ini." Natalie watson



Jennifer Kim

__ADS_1


To be continued


__ADS_2