
Reynald sudah sampai di depan sebuah rumah, dimana seperti yang dikatakan oleh anak penjual asongan itu, bahwa rumah itu adalah rumah milik wanita yang dicarinya.
"Kau yakin ini rumahnya?" tanya Reynald sedikit percaya.
Rumah itu bisa disebut jauh dari kata mewah, hanya sebuah gubuk kecil yang di sampingnya ditanami tanaman obat-obatan.
"Apa mungkin wanita itu adalah putri dari Nyonya Kelly dan Tuan Jhonson?" Mendadak keraguan datang dalam benak Reynald.
"Nah, itu dia ayahnya." Anak kecil itu menunjuk seorang laki-laki yang usianya ditaksir sekitar 65 tahun. Laki-laki sepertinya Baru saja sampai rumah dengan dengan membawa sekantong roti, sepertinya.
"Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi. Terima kasih ya sudah mengantarku."
"Sama-sama. Aku juga terima kasih karena kau sudah memberikan ku banyak uang hari ini."
Anak kecil itu pun lantas pergi setelah Reynald membalas ucapannya dengan senyuman.
Tanpa basa-basi lagi, Reynald pun segera berlari menghampiri laki-laki tua itu.
"Permisi! maaf mengganggu," ucap Reynald sopan sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Maaf, Tuan siapa ya?" tanya laki-laki itu. Sepertinya dia sangat terkejut dengan kedatangan Reynald, apalagi saat melihat tampilan pakaian Reynald berbeda dari yang lainnya. Iya, keadaan di sekitar sana memang agak sedikit kumuh, jadi wajar saja kalau laki-laki itu sedikit heran saat melihat kedatangan Reynald.
"Ah, iya. Perkenalkan nama saya Reynald." Tangannya terjulur lalu laki-laki itu pun membalasnya meskipun dalam wajahnya masih tersirat raut kebingungan tentang kenapa bisa ada laki-laki berjas datang ke rumahnya.
"Silahkan masuk!"
Meskipun masih bertanya-tanya dalam hatinya, namun laki-laki itu tetap bersikap sopan kepada Reynald. Dia mempersilakan Reynald masuk kedalam rumahnya dan menyuguhkan minuman meskipun hanya sekedar air putih saja.
Saat Reynald menenggak minumannya, tiba-tiba wanita yang ia cari melintas begitu saja.
Uhuk-uhuk
Reynald tersedak air putih.
"Kau tidak apa-apa, Tuan?" tanya laki-laki itu.
Mendengar ada seseorang yang tersedak, wanita yang biasa dipanggil Stelli itu langsung mendelikkan matanya.
Dia benar-benar terkejut saat melihat laki-laki yang kemarin ia lihat kini ada di depan matanya.
Antara senang tapi juga takut, Stelli akhirnya memilih berlari dan menghamburkan pelukannya pada sang Ibu yang tengah di dapur membuatkan sedikit suguhan untuk tamunya.
"Tidak apa-apa, dia baik," ucap sang Ibu sambil berusaha menenangkan putrinya. Kemudian Ibu Stelli pun menyuguhkan beberapa potong kue pada Reynald.
"Silahkan dimakan, Tuan," ucapnya sopan, sementara Stelli tak mau melepaskan pelukannya. Meskipun takut, tapi nyatanya Stelli terus mencuri curi pandang pada Reynald.
Begitu juga dengan Reynald, dia juga merasa mata wanita itu seperti menjadi magnet yang mempunyai daya tarik tersendiri padanya.
"Jadi, apa maksud dan tujuan, Tuan datang ke sini?"
Laki-laki itu mulai membuka pertanyaan setelah Stelli dan ibunya pergi kembali ke kamar.
Reynald menarik nafasnya dalam-dalam, dia pun mulai menjelaskan inti dari kedatangannya.
"Siapa anda sebenarnya?" Laki-laki itu terkejut saat mendapati pertanyaan dari Reynald. Tak hanya langsung ke inti pembicaraan, Reynald juga menjelaskan secara detail maksud dan tujuannya mencaritahu informasi tentang wanita yang bernama Stelli itu.
"Tenang, saya bukan orang jahat." Reynald berusaha menenangkan. "Saya hanya ingin mencaritahu tentang misteri kematian ayah saya. Tolong bantu saya!" ucapnya begitu penuh harapan.
"Tidak bisa. Stelli adalah putri saya. Saya tidak akan memberitahukan kamu apapun tentangnya. Lebih baik anda pergi dari rumah saya!"
"Tolong, Pak. Kali ini saja. Saya minta tolong dengan sangat."
"Kan saya sudah jelaskan, Stelli itu putri kami. Jadi, kau jangan mengarang-ngarang cerita dan bertanya bagaimana saya bisa menemukan putri saya, jelas istri saya yang melahirkannya."
__ADS_1
Laki-laki itu menyeret Reynald keluar. Ia tak terima saat Reynald mengungkit masalah anaknya.
"Pak, tolong! saya yakin Stelli bukan anak kandung bapak, kan?"
"Jangan bersikap kurang ajar! pergi kamu dari sini!" bentaknya seraya menyeret paksa Reynald dari rumahnya.
Tak mau membuat keributan di rumah orang lain, Reynald pun akhirnya terpaksa memilih iklhas untuk tak menemukan hasil apapun malam ini. Dia akan datang lagi nanti, mungkin setelah suasana lebih baik dan orang itu mau menerima Reynald kembali.
"Tunggu!"
Suara wanita yang ternyata istri dari laki-laki itu menghentikan langkah kaki Reynald yang hampir saja masuk ke dalam mobilnya.
"Ayo ikut saya!" ajak wanita itu. Tanpa basa-basi Reynald pun segera mengikuti wanita itu.
Flashback
Malam itu hujan datang dengan sangat deras, saya dan suami tengah membuat perapian di dalam rumah untuk menghangatkan tubuh kami.
Kami memang hanya tinggal berdua di gubug ini, karena setelah lima tahun pernikahan kami tak kunjung juga dikaruniai seorang anak.
Lalu, tiba-tiba seseorang datang ke rumah kami tak terduga. Dia datang dengan keadaan basah kuyup dengan membawa seorang gadis yang menggigil dalam pangkuannya.
Dia sahabat lama kami, namanya Raymond.
Saya dan suami sempat bertanya-tanya kenapa dia bisa datang malam-malam dengan membawa seorang anak gadis?
Tanpa kami duga, ternyata dia ingin kami untuk merawat gadis yang di bawanya. Gadis yang berusia sekitar 8 tahun saat itu. Dia bilang, gadis itu adalah anak majikannya yang semula akan di bawa ke panti asuhan.
Flashback Off
"Jadi benar, Stelli bukan anak kandung Ibu dan Bapak?"
Wanita itu mengangguk.
"Katanya sih gara-gara ada perebutan harta warisan. Jadi, Ibu Stelli sengaja mengirim Stelli ke panti asuhan demi melancarkan perebutan harta warisan," jelas wanita itu.
"Apa mungkin karena Stelli memiliki latar belakang mental yang kurang baik?" tebak Reynald.
Wanita itu mengangguk. "Iya, sepertinya memang begitu."
"Tapi itu bukan alasan yang benar. Kenapa juga dia harus mengorbankan anaknya sendiir?" Reynald mulai emosi.
Gila, ini benar-benar gila. Nyonya Kelly tega membuang anaknya sendiri demi memperebutkan harta warisan, batin Reynald.
Kelly memang sengaja mengirim Stelli ke panti asuhan, dengan drama bahwa anak itu menghilang. Dengan seperti itu, suaminya, Jhonson, dan keluarga yang lainnya tidak akan mencurigai rencananya. Yang mereka tahu, Stelli menghilang.
"Ah, iya satu lagi. Apa ibu kandung Stelli tahu kalau Stelli di rawat oleh kalian?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Dia tidak tahu kalau Stelli masih hidup, yang dia tahu, Stelli sudah meninggal bersama tragedi yang terjadi dengan orang-orang suruhannya kala itu."
Reynald makin pusing.
"Maksudmu, orang-orang suruhan itu mati?"
"Iya. Saat Raymond membuntuti kemana orang itu membawa Stelli, sesuatu yang tak terduga terjadi, mobil yang dibawanya di hadang oleh beberapa orang penjahat. Kedua orang yang membawa Stelli itu dibantai habis-habisan dan mayatnya di buang ke jurang. Beruntung, Raymond buru-buru mengambil Stelli kala itu, jadi nyawa anak itu bisa terselamatkan."
"Apa? orang-orang itu mati?"
Wanita itu kembali mengangguk.
"Siapa yang melakukan itu?"
"Raymond bilang, itu adalah perbuatan Kakak kandung ayah Stelli."
__ADS_1
Sungguh luar biasa. Reynald menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Jadi, Nyonya Kelly menyuruh orang untuk membawa anaknya ke panti asuhan, tapi dia tidak tahu kalau ternyata saudara suaminya malah mengetahui rencanya dan mencoba melakukan pembunuhan.
"Intinya, baik Ibu maupun paman Stelli tidak ada yang tahu kalau anak ini masih hidup ... Ah, andai saja Raymond masih hidup, dia pasti bisa secara langsung menjelaskannya padamu. Kau pasti pusing kan?"
Reynald mengangguk, kemudian wajahnya berubah sendu.
"Jadi, Raymond sudah meninggal?" tanya Reynald.
Wanitai itu terlihat sedih. Rupanya ada cerita pilu tentang sahabatnya itu.
"Sebelum dia menyerahkan Stelli pada kami, dia bepesan untuk merahasiakan ini dari siapapun, sampai ada orang mencaritahu tentang kematinnya."
"Kematian? maksudmu?" Sepertinya ada informasi yang penting yang akan diceritakan wanita itu lagi.
"Saat Raymond memilih menyelamatkan Stelli dan ikut campur dalam kemelut keluarga majikannya itu, dia sudah yakin kalau hidupnya tidak akan lama lagi." Wanita itu terlihat menitikan air matanya. "Dan benar saja, seminggu setelah Raymond menitipkan Stelli pada kami, dia dikabarkan meninggal karena kecelakaan." Wanita itu mulai menangis sesengukan. "Saya yakin, kecelakaan yang menimpa dia dan keluarganya itu adalah ulah dari orang-orang yang sama, orang yang berniat membunuh Stelli."
Reynald memegang ulu hatinya yang mendadak sesak tak terbendung. Tapi Reynald berusaha tegar.
"Apa kau tahu kabar keluarga Raymond setelah kecelakaan itu?" tanya Reynald lagi.
"Tidak. Mereka menghilang setelah itu. Saya tidak pernah lagi meliharnya."
Reynald kini mulai menemukan titik terang, perebutan harta warisan adalah konflik yang mendalangi ini semua. Dan kini Reynlad sudah punya opsi kedua tentang siapa tersangka kasus kematian ayahnya, yaitu saudara Tuan Jhonson.
"Ah iya, boleh saya tanya satu hal lagi?"
"Silahkan!" sahut wanita itu.
Reynald kemudian membuka ponselnya, dia memilah sebuah galeri khusus foto keluarganya di masa kecil dulu, lalu dia memperlihatkannya pada wanita di sampingnya.
"Apa Raymond sahabat yang kau ceritakan itu adalah beliau?"
Teg
Wanita itu langsung terkejut bukan main. "Si_siapa kamu sebenarnya?"
"Aku adalah putra dari sahabat yang kau ceritakan tadi."
"Apa?" Wanita itu terkejut tak habis pikir. "Jadi kau ..." Dia langsung memeluk Reynald erat. "Kenapa tidak sejak awal kau menceritakan siapa dirimu, Nak?"
Reynlad membalas pelukan wanita itu erat. Dia merasakan sakit yang teramat dalam setelah mendengar semua kenyataan yang terjadi di masalalu tentang ayahnya. Ternyata ayah Reynald telah mengorbankan dirinya demi menyelamatkan nyawa anak dari majikannya.
"Ayahmu sangat baik, Nak. Dia manusia berhati malaikat. Dia rela mengorbankan dirinya demi menyelamtkan nyawa orang lain. Dia juga yang sudah memberikan kami kesempatan untuk bisa merawat Stelli."
Reynald menangis sesenggukan dalam pelukan wanita itu. Sudah lama Reynald membagi rasa ini, tapi dia tidak tahu pada siapa.
Akhirnya Reynald bisa menumpahkan apa yang dia pendam selama ini.
"Iya. Ayah memang sangat baik."
***
Kini satu rahasia telah terbongkar lagi, rupanya Stelli adalah Selly, anak kandung dari Kelly dan Jhonson yang mengjilang saat peristiwa kelam itu terjadi.
Kelly yang tidak tahu, menganggap Selly sudah meninggal saat peristiwa hilangnya orang suruhannya.
Dunia memang terkadang kejam. Hanya karena harta, semua bisa menjadi gila.
Begitulah akhirnya, Ayah Reynald harus menjadi korban karena menyelamtkan Stelli.
To be continued
Pusing? Koment! marahin authornya!! bikin cerita kok rumit amat wkwkkw 🤣🤣🤣
__ADS_1