Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Ending Part 1


__ADS_3

🌺 Husband From Hell 🌺


Satu minggu sudah Nicholas menjalani perawatan di rumah sakit besar itu.


Ditemani Natalie, istri tercinta, Nicholas  menjalani hari-harinya sebagai seorang pasien pengidap kanker yang membutuhkan penanganan khusus, berbeda dari pasien lainnya.


"Tuan Nicholas mengidap penyakit yang berbeda dari pasien lainnya. Penyakit yang dideritanya bukan sembarang penyakit kanker pada umumnya," tukas seorang dokter yang dikhususkan merawat Nicholas. "Sampai saat ini kami masih terus berushana menelusuri dan mempelajari kasus baru ini. Do'akan saja agar penelitian ini cepat membuahkan hasil yang positif."


"Lalu, berapa lama kira-kira kami harus menunggu?" tanya Natalie. "dokter bilang penyakit ini bisa sangat berbahaya jika terus dibiarkan."


"Kami belum tahu, Nona. Tapi bersabarlah, ini juga sangat menyulitkan bagi kami. Kami harap, Nona bersabar."


Natalie menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Benar apa yang dikatakan dokter tersebut. Sekuat apapun Natalie terus memohon, jika pada kenyataannya dokter itu belum berhasil menemukan obatnya, semua terasa percuma.


"Ya sudah. Kalau begitu saya permisi." Natalie keluar dari ruangan dokter itu. Dia melenggang dengan langkah yang gontai. Sudah tujuh hari dia dan Nicholas menetap di rumah sakit itu, tapi belum ada kabar baik juga mengenai obat yang bisa menyembuhkan penyakit suaminya.


Ceklek


Natalie masuk ke dalam kamar VIP yang tujuh hari ini menjadi tempat tinggal keduanya.


"Eh, kamu," ucap Nicholas yang tengah berdiri di balkon kamar itu. Memandang pemandangan kota yang sudah mulai tak asing di maranya itu.


Natalie mendekat dan memeluk Nicholas dari belakang. "Makan yuk!" ajaknya.


"Hmppp, aku belum lapar," sahut Nicholas. Dia membalikkan badannya, mengusap rambut Natalie dan menyelipkannya ke telinga beberapa helai. "Kamu dari mana saja? kenapa pas aku bangun kamu sudah tidak ada."


Natalie menatap bibir Nicholas yang terlihat sedikit pucat dari biasanya. "Hmpp, tadi aku beli handbody di mall dekat sini. Lotionku sudah habis soalnya," jawab Natalie bohong sambil mengusap lembut bibir suaminya.


"Tumben."


"Maksudnya?"


"Ya tumben aja, kamu peduli sama perawatan tubuh kamu. Biasanya juga kamu 'gak pernah peduli."


Nicholas benar. Selama menjalani perawatan di rumah sakit itu, Natalie memang hampir tak memperdulikan dirinya. Wajahnya saja sudah kusut karena hampir tak pernah merawatnya.


"Ah ya sudah, mandi dulu yuk! aku siapin air hangat buat kamu,"

__ADS_1


Nicholas mengangguk, lantas keduanya pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah membantu Nicholas melepas bajunya, Natalie keluar kamar mandi untuk mengambilkan handuk juga baju gantinya, hal yang sudah menjadi rutinitas keduanya selama satu minggu ini.


Natalie kembali lagi masuk setelah selang beberapa menit, sekiranya Nicholas sudah selesai mandi. Dia mengusap lembut setiap inchi tubuh suaminya dengan handuk.


"Sayang, nanti kita sarapannya di taman ya. Aku mau menghirup udara segar. Aku jenuh di sini," pinta Nicholas.


"Iya, nanti kita ke taman," sahut Natalie. Dia lantas menguap puncak rambut Nicholas yang masih basah, tapi dengan jahilnya Nicholas mengibas-ngibaskan rambutnya hingga air yang berada di rambutnya berhamburan ke wajah Natalie.


"Nihco, ishhh." Natalie berdecak kesal. Sempat-sempatnya Nicholas berprilaku jahil di tempat ini. Laki-laki itu memang selalu berusaha ceria agar istrinya tidak depresi dengan penyakit yang menimpanya. Sebisa mungkin Nicholas membuat keadaan seakan biasa saja. Ia sudah berjanji untuk membuat semua indah seakan tak pernah ada kendala dalam rumah tangga mereka.


"Hahahaha." Nicholas tertawa karena berhasil membuat istrinya merajuk. "maaf,  maaf ... sini aku keringin." Nicholas lantas menarik wajah Natalie. Seakan punya cara sendiri untuk mengeringkan wajah istrinya, Nicholas menghujani wajah Natalie dengan kecupan di berbagai titik.


Cup


Cup


Cup


"Diem, biar cepet kering!" titah Nicholas sambil melanjutkan aktifitasnya.


"Kok bisa?" Natalie berdecak aneh.


Nicholas menghentikan ciumannya. "Bisa lah. Lihat! wajah kamu langsung merah kan."


Natalie memegangi pipinya.


"Kalau merah kan berarti suhunya panas. Jadi kan bisa cepat kering, iya kan? jemuran aja cepet kering kalau panas."


Nicholas lantas melenggang pergi.


"Terus, kamu samain wajah aku sama jemuran gitu?"


"Aku 'nggak bilang gitu loh," sahut Nicholas sambil terus berjalan, sementara Natalie yang kesal hanya mengekor di belakangnya dengan langkah yang menjengkelkan.


***

__ADS_1


Di kediaman Mark Jhonson. Di kamar wanita bernama Selly Jhonson.


"Pagi sayang," sapa Reynald pada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.


Selly masih menggeliat di atas kasur. Dia membuka matanya saat melihat siapa yang ada di depan matanya.


"Reynald," ucapnya bahagia sambil menghamburkan pelukannya pada Rey. Satu minggu sudah Reynald meninggalkannya ke luar kota karena ada urusan bisnis mendadak, sehingga Reynald terpaksan menitipkan istrinya itu ke rumah mertuanya. Jelas ini membuat Selly sedikit sedih, karena rencana honeymoon yang semula direncanakan jadi gagal total karena dinas suaminya itu. Apalagi saat hari pernikahan itu Selly sedang kedatangan tamu bulanan, alhasil sampai saat ini pun status Selly masih gadis, karena Reynald belum menyentuhnya.


"Bau iler ih, mandi dulu gih!" titah Reynald.


Selly terkekeh sambil melepaskan pelukannya. "Ya abis kamu 'gak bilang kalau mau pulang. Kan kalau bilang aku bisa siap-siap dulu."


Reynald berjalan ke arah cernin besar, membuka dan melepaskan dasinya. "Iya, maaf. Kan aku sengaja mau bikin surprise buat kamu."


"Oya?" Selly lantas turun dari kasurnya, membantu suaminya melepas jasnya. "Terimakasih sudah membuat pagiku indah."


Reynald tiba-tiba mencekal tangan Selly yang sedang membuka kancing baju kemejanya.


"Eh." Wajah Selly langsung terangkat kala mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.


Beberapa detik lamanya keduanya saling diam, saling menatap seolah hanya bicara dengan dirinya sendiri.


"Sekarang gantian, aku yang minta surprise dari kamu."


Teg


Jantung Selly langsung terasa berhenti berdetak kala Reynald mengatakan hal yang hampir ia lupakan. Ia, Selly lupa kalau dia belum memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.


"Sel," panggil Reynald ketika istrinya itu diam taj bersuara bahkan tak berkedip.


"Eh, i_iya." Selly tersadar dari lamunannya.


"Lupakan saja jika kau belum siap." Reynald lantas mengusap lembut pipi Selly. "Cepat mandi! ... Papa menunggu di bawah untuk sarapan."


Reynald lantas mengganti kemeja dengan kaos polos berwarna putih. Setelah itu ia pun turun dan menemui mertuanya di meja makan, sementara selly masih berdiri dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kapan ia akan menjalani kewajibannya itu? sementara sampai saat ini dia sendiri masih takut dan ragu untuk melakukannya.


"Maafkan aku, Rey," cicit Selly dalam hatinya. "Tapi aku masih takut." Setelah itu ia pun segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi, membasuh badannya di bawah guyuran shower.

__ADS_1


__ADS_2