
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Natalie bangun dari tidurnya untuk segera mandi dan membantu Helena di dapur.
Perlahan ia turunkan kakinya, sekilas ia sempat menatap wajah laki-laki yang kini terbaring di sampingnya.
Rasa sakit hati itu tiba-tiba datang kembali. Mengingat kejadian semalam saat bersamanya. Saat Nicholas hampir saja menidurinya hanya karena Natalie yang terkesan ingin sekali bercinta dengannya.
"Sudahlah, Natalie! lupakan saja!" begitu gumamnya dalam hati, lalu ia kembali melanjutkan niatnya. Untuk segera mandi dan membantu Helena di dapurnya.
***
Suasana kantor Jhonson Company saat pagi hari.
"Halo, dengan saya Irene ada yang bisa dibantu?" Operator satu menjawab panggilan teleponnya.
"Oh, oke. Saya akan bantu jadwalkan terlebih dahulu pertemuan Bapak dengan Bos saya, terimakasih." Operator dua menutup panggilan teleponnya.
"Nat, dia masih belum nyentuh kamu juga?" Eliza tiba-tiba membuat lamunan Natalie buyar saat Nicholas melintas begitu saja di hadapan mereka.
"Ah, itu." Natalie terlihat enggan menjawabnya.
"Maaf ya, Nat! aku gak bermaksud bikin kamu sedih." Eliza berusaha menenangkan dengan memegang pundak sahabatnya. Namun tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan keduanya, yaitu Kevin.
Kevin meremas kepalan tangannya sendiri. Puncak kepalanya terasa ingin meledak saat mengetahui bahwa selama ini Natalie benar-benar tersiksa dengan pernikahannya. Ingin rasanya ia marah, tapi ia kemudian sadar siapa dia. Dia hanyalah teman yang tak lebih dari sekedar itu.
***
Nadia berjalan menunduk sambil membawa makanan yang sudah ia ambil dari rumah mewah itu. Hari ini ia sedikit terlambat bangun karena semalaman ia tak bisa tidur karena takut dengan suasana baru yang sangat menyeramkan baginya. Sendirian tanpa penerangan, karena Kelly bilang kalau orang itu tidak suka lampu ada cahaya yang meneranginya.
"Benar-benar orang gila." Nadia menggerutu dalam benaknya sampai ia masuk ke dalam ruangan menyeramkan itu lagi. Menyimpan makanan di atas nakas.
"Makan dulu ya!" begitu ucapnya sambil mengangkat mangkok dan mengambil satu sendok bubur.
__ADS_1
"Hey!! ayo angkat wajahmu! makan dulu." Nadia sempat geram karena orang itu tak mau juga mengangkat wajahnya sejak semalaman. "Memangnya kau tidak pegal sejak semalaman menunduk terus?"
Orang itu masih menunduk.
Karena kesal, Nadia pun menaruh kembali bubur di tangannya. Lalu perlahan ia menarik rambut wanita itu dan mendongakkan kepalanya agar ia bisa memasukkan bubur ke dalam mulutnya.
"Hah?"
Namun, mata Nadia langsung membulat sempurna saat mengetahui siapa wanita yang sedang ia rawat itu.
"Merry?"
Jantung dan aliran darah Nadia terasa berhenti begitu saja. Ia bahkan sampai bergetar karena saking tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Nggak mungkin," Nadia mundur beberapa langkah. "Ini nggak mungkin," ucapnya berulang-ulang sampai ia menabrak tembok. Sementara Merry kembali menundukkan kepalanya setelah tangan Nadia terlepas begitu saja.
Nadia segera berlari mencari ponselnya. Namun sial, ponselnya tidak ada di dalam tas nya. Rupanya Kelly sudah menyuruh orang untuk mencuri ponsel Nadia dan menyanderanya, agar dia tidak bisa menghubungi siapapun.
"Kemana ponselku?" Nadia terus mencarinya sampai mengacak-acak seisi tas-Nya.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Nadia tak percaya. "Kenapa Merry bisa ada di sini? dan ada hubungan apa dia dengan keluarga kaya raya ini?" Nadia terus berkutat dengan pikirannya. Karena setahu dia, Merry dan anaknya yang bernama Micho itu telah pergi karena tak mampu membayar tagihan kontrakannya. Tapi kenapa sekarang dia bisa ada di sini? dan anehnya, kenapa Nadia harus mengabdikan dirinya untuk wanita itu. Wanita yang dulu sering ia tindas karena kemiskinannya.
***
"Nat, kamu dapat undangan gak dari Kevin?" Eliza duduk di samping Natalie saat jam istirahat. Keduanya sedang makan siang di salah satu cafe dekat kantornya.
"Undangan apa?" Natalie menjawab.
"Nih!" Eliza menyodorkan sebuah kartu undangan birthday party adik perempuan Kevin, yaitu Keisha.
Natalie membaca isi surat itu. Hatinya sedikit terenyuh saat mendapati kenyataan bahwa Kevin tak mengundangnya untuk datang.
__ADS_1
Dalam benaknya Natalie sempat bersyukur, "Ah, sepertinya ini lebih baik daripada aku harus menolak atau tetap datang, tapi Nicholas marah." Natalie coba menghibur dirinya. "Nggak, mungkin Kevin lupa," jawab Natalie, "atau mungkin acara itu memang dikhususkan untuk yang belum menikah saja."
Eliza memajukan bibirnya, "Yaelah iya percaya yang udah nikah."
"Nat, jangan lupa datang ya!"
Baru saja dibicarakan, orang itu datang juga.
Kevin dengan surat undangan yang sama dengan yang Eliza berikan tadi.
"Maaf telat, tadi ketinggalan di loker." Alasan Kevin. Sebenarnya bukan tertinggal, hanya saja ia bingung akan mengundang Natalie atau tidak. Pasalnya ia takut jika Natalie menolaknya, atau lebih parahnya lagi Nicholas akan marah kalau sampai Natalie datang.
"Terimakasih," ucap Natalie sambil menerima surat itu dari Kevin. Tersirat keraguan dalam dirinya untuk datang atau tidak ke acara itu. Karena biar bagaimanapun, status dia saat ini adalah istri dari Nicholas, dan suaminya itu sangat melarang keras ia untuk bertemu apalagi dekat dengan Kevin.
"Kalau gak bisa datang, gak usah dipaksain, Nat." Sepertinya Kevin paham dengan ekspresi wajah Natalie tanpa harus menjelaskan apapun. Sejatinya Kevin memang sangat peka terhadap wanita yang satu itu.
"Ah, mana mungkin aku tidak datang ke acara spesial Keisha." Natalie terlihat berusaha tenang, "aku pasti datang, kok." Natalie menatap Eliza, "Iya kan, Liz?"
Eliza mengangguk saja, "hmppp."
Kevin terlihat tersenyum saat mendengar jawaban Natalie. Meskipun ia sendiri yakin, kalau Natalie hanya berusaha membuatnya untuk tidak kecewa.
"Liz, Vin, kayaknya aku harus pergi duluan deh." Mengingat dia tak boleh berlama-lama dengan Kevin, Natalie berinsiatif untuk kembali ke ruangannya lebih awal. Terlebih lagi, mungkin ini kesempatan bagi Eliza untuk bisa bicara dan ngobrol berdua dengan Kevin. Mungkin dengan cara ini, keduanya bisa lebih dekat, seperti yang diinginkan Eliza.
"Loh, kemana? ... kan jam istirahat masih lama?" tanya Eliza.
"Ah, itu ... " Natalie menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku lupa, tadi pagi Nicholas bilang kalau dia mau aku menemuinya saat jam istirahat."
Eliza terlihat menyipitkan matanya. Dia yakin kalau saat ini Natalie sedang berbohong dan berpura-pura hanya untuk memberikannya kesempatan berdua dengan Kevin.
Bukan hanya Eliza, kebohongan Natalie pun rupanya diketahui oleh Kevin. Dia yakin kalau Natalie hanya berusaha menghindar darinya z bukan karena Nicholas yang ingin bertemu dengannya.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan terus bersembunyi dibalik topengmu itu, Nat?" Kevin bermonolog dengan dirinya sambil menatap wajah wanita yang terus saja berkutat dalam pikirannya.
To be continued