
Natalie dengan segudang tanda tanya di kepalanya mencoba melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nicholas yang kini sudah kembali memejamkan matanya, seolah menunggu Natalie datang kepadanya. Meskipun Natalie tidak mengerti atas dasar apa Nicholas meminta ini padanya. Namun Natalie berusaha berpikir positif jika memang suaminya itu meminta ini karena memang sudah sewajarnya mereka sebagai suami istri.
Oke, Natalie. Jangan berpikir macam-macam padanya!
Kau sudah seharusnya melakukan ini sebagai istri yang baik.
Bukankah ini yang selama ini kau harapkan?
Langkah demi langkah Natalie terus mendekat. Kini dia sudah sampai tepat di hadapan suaminya itu. Dia mencondongkan badannya untuk meyeimbangkan wajah dengan leher suaminya itu.
Wajahnya semakin mendekat, deru nafsnya semakin kencang menyentuh wajah Nicholas yang masih memejamkan matanya. Perlahan mata Nicholas terbuka, menatap dengan intens wanita yang akan segera menyentuh tubuhnya.
Sampai akhirnya,
Brugh
Nicholas mendorong tubuh Natalie hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
"Aww," Natalie memegangi tangan dan lututnya bergantian.
"Huft, huft, huft." Deru nafas Nicholas beradu kencang. Matanya memejam beberapa saat, sementara wanita yang ia dorong masih terdiam dengan posisi yang sama. Natalie memandang Nicholas tak percaya.
Apalagi ini?
Kenapa dia malah mendorongku?
Apalagi yang salah denganku?
Saat Natalie terjatuh, Nicholas bukannya segera membangungkan wanita itu, dia malah pergi meninggalkannya sendirian di kamar, membuat Natalie menganga tak percaya.
Setetes air mata Natalie kembali terjatuh.
Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Sementara Natalie masih terdiam dengan posisi yang sama, Nicholas kini sudah berada di dapur. Dia mengambil botol berisi air putih dalam kulkas dan menenggaknya hingga tandas.
Nafasnya sedikit normal, namun tetap tidak stabil. Bayangan akan wanita yang sudah membuat hidupnya hancur itu selalu muncul dalam wajah Natalie.
Jelas saja wajah itu mirip dengan Natalie, karena memang dia adalah ibu kandungnya. Jadi, setiap Nicholas melihat wajah Natalie dengan jelas, setiap itu juga Nicholas melihat wajah Nadia di sorot mata Natalie.
__ADS_1
Sampai kapan aku harus seperti ini?
Brakk
Nicholas menggebrak meja di depannya. Sorot matanya kembali tajam, namun kali ini ada kesedihan dalam hidupnya. Bayangan adiknya yang sudah meninggal, Ibunya yang kini menderita sakit jiwa, selalu hadir dan membuat sesak di dadanya kembali hadir.
***
Diwaktu yang sama, di tempat yang lain. Tempat dimana hanya orang-orang yang penuh dengan beban hidup berlebihan, pikirnya. Seorang wanita tengah duduk dengan posisi menyilangkan kedua kakinya. Mengenakan mini dress hita, Jennifer menenggak segelas anggur di tangannya.
"Kapan kau akan menjadi istri pemilik perusahaan raksasa itu?" ucap seorang laki-laki di sampingnya. Namanya Karan, dia adalah laki-laki yang paling dekat dengan Jennifer setelah Nicholas, "jangan bilang kau hanya mempermainkanku!" suaranya terdengar sangat tegas meskipun ia sudah menenggak beberapa gelas minuman bersama Jennifer. Laki-laki itu memang peminum unggul. Pantas jika Jennifer memilihnya sebagai teman mabuk.
Jennifer yang hampir kehilangan setengah kesadarnnya mencoba terus menjawab pertanyaan rekannya, "Kau tunggu saja tanggal mainnya! Nicholas akan segera jatuh ke tanganku. Uhuk, uhuk." Ia terbatuk.
"Tapi bagaimana dengan wanita bernama Natalie itu? kapan dia akan menceraikannya?"
Jennifer mendengus kesal kala mendengar nama wanita itu disebut. Minuman di tangannya ia tenggak hingga tandas. "Aku minta dua botol lagi!" ucap Jennifer pada seorang pelayan klub malam itu.
"Hey, kau sudah terlalu banyak minum. Hentikan!" Laki-laki yang merupakan teman sekaligus rekan bisnis Jennifer itu melarang pelayan saat memberikan botol minuman lagi, "cukup! jangan berikan itu lagi padanya!"
"Hey, aku sudah bilang padamu. Nicholas hanya mencintaiku. Dia tidak pernah mencintai wanita bernama Natalie itu. Dia hanya memanfaatkan wanita itu untuk membalas dendam pada keluarganya." Jennifer terus meracau sambil sesekali terbatuk karena terlalu banyak minum.
Karan benar. Sampai saat ini Nicholas tidak pernah melakukan apapun pada keluarga Natalie.
Apa dia telah menipuku?
"Jangan sampai Nicholas hanya mempermainkanmu!" Karan kembali membuat Jennifer tersulut emosi.
Jennifer terdiam sambil berpikir, "Kau benar! kita harus segera mengambil tindakan. Aku harus segera menyingkirkan wanita itu sebelum Nicholas benar-benar mencintainya."
"Tapi bagaimana kita akan menyingkirkan wanita itu, sementara tujuan Nicholas menikahi wanita itu belum tercapai."
"AKU TIDAK PEDULI! Masabodo dengan urusan Nicholas." Pekik Jennifer
Tangan Jennifer menggenggam erat gelas yang sudah kosong itu. Ditatapnya Karan dengan tatapan hendak membunuh. Kesadarannya yang semula hampir hilang, kini kembali terisi karena amarah yang menyulut di hatinya tentang bagaimana cara menyingkirkan wanita bernama Natalie itu dari hidup Nicholas.
"Aku akan melakukan cara apapun untuk merebut kembali milikku."
Karan 'tak menanggapi ucapan Jennifer. Dia sudah kenal betul bagaimana sikap Jennifer. Sejak kecil dulu, Jennie terkenal dengan sosok perempuan yang sangat berambisius. Apapun yang diinginkannya harus tercapai. Dan Karan tidak bisa melupakan itu.
__ADS_1
Brugh
Seorang laki-laki yang berjalan sempoyongan tak sengaja menabrak Karan. Sepertinya laki-laki itu juga tak kalah mabuknya dari Jennifer.
"Shit, kenapa kau tidak pakai matamu!" Karan memekik kesal sambil mengusap-usap kemejanya yang basah.
"Maaf, aku tidak sengaja!" ucap laki-laki itu sambil memegangi kepalnya.
Jennifer memperhatikan wajah laki-laki yang saat ini sedang meminta maaf pada Karan.
Sepertinya aku pernah melihat laki-laki ini, tapi dimana ya?
Jennifer mencoba mengingat memori tentang laki-laki yang jika dilihat dari struktur wajahnya nyaris mendekati sempurna.
Tampan juga
Laki-laki itu sepertinya terlalu fokus berbicara dengan Karan, sampai ia tidak sadar ada wanita seksi yang cantik yang sedang memperhatikannya.
Jennifer pun tersenyum miring setelah berhasil mengingatnya.
Ah, astaga. Dia ternyata ....
"Sudah cepat pergilah! sebelum aku berubah pikiran." gertak Karan. Laki-laki itu hanya menganngguk lalu pergi. Sepertinya efek minuman itu membuatnya tak ingin berlama-lama di tempat itu.
"Sial." Lagi-lagi Karan mengumpat karena kesalahan laki-laki tadi.
"Karan, aku punya rencana bagus untuk segera menyingkirkan wanita itu."
Karan menyipitkan matanya. Betulkah Jennifer bisa memikirkan rencana saat dalam kondisi mabuk seperti ini. Ia tak begitu yakin. Tapi tak ada salahnya jika ia mendengarkan terlebih dulu.
"Apa rencanamu?" Karan mendekatkan wajahnya. Jennifer pun langsung menyambut wajah pria berkumis tipis itu dengan membisikan sesuatu di telinganya.
Karan tertegun heran. Rupanya Jennifer benar-benar sangat istimewa dan luar biasa. Dalam keadaan mabuk setengah matipun, dia masih bisa memikirkan sebuah rencana briliant yang bisa dibilang tingkat keberhasilannya akan jauh sekitar 90%.
Jennifer tersenyum miring penuh kelicikan saat mendapati ekspresi Karan terhadap idenya. Dia merasa misi yang dia sarankan akan berhasil tanpa cacat sedikitpun.
"Lalu, siapa laki-laki yang akan kau jadikan sebagai umpan?" tanya Karan.
"Tenang saja! itu bagianku." Jennifer kembali tersenyum miring.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya ia rencanakan dengan Karan?