
Kadang, semua kenyataan tak sebanding lurus dengan keinginan. Begitu juga dengan asmara, kita tidak pernah tahu kemana dia akan melangkah dan kemana dia akan melabuhkan jangkarnya.
Kita hanyalah manusia biasa, semua rencana hanyalah sebuah rancangan belaka, tentang hasil yang akan kita terima, itu giliran tuhan yang bekerja.
Rumah sakit, 06.00
🎵 Kerispatih : Demi Cinta
Maaf, ku telah menyakitimu
Ku telah kecewakanmu
Bahkan ku sia-siakan hidupku,
Dan kubawa kau seperti diriku
Walau hati ini terus menangis
Menahan kesakitan ini
Tapi ku lakukan semua demi cinta
Nicholas terlelap di samping Natalie, dengan tangan yang terus menggenggam tangan Natalie.
Semalaman suntuk ia terjaga untuk menemani wanitanya, hingga pagi ini barulah ia bisa terlelap.
"Mpppp." Natalie menggeliat, semalaman sudah ia tak sadarkan diri, namun sepertinya saking lelahnya Nicholas tak menyadarinya, sampai akhirnya ....
"Pergi kamu!!!"
Nicholas tersentak saat tubuhnya di dorong oleh tangan lemah yang sejak tadi ia pegang.
Dorongan itu memang tak berarti apa-apa, tapi entah kenapa rasanya ini lebih sakit daripada dorongan yang membuatnya terhempas ke lantai.
"Kenapa aku ada di sini?" Natalie melihat sekelilingnya, lalu dia melihat tangannya yang terpasang selang infusan.
Isak tangisnya kemudian pecah setelah ia berhasil mengingat kejadian semalam, saat Nicholas memperlakukannya dengan sangat kasar.
"Hiks .. hiks." Ia menangis lagi. "Jangan menyentuhku!!" pekik Natalie saat Nicholas mengangkat tangannya berniat menenangkan. "Jangan pernah menyentuhku lagi!" ulangnya.
Nicholas pun menarik tangannya kembali, "Maafkan aku!"
Dia harus sadar diri, apa yang telah ia lakukan pada wanita itu memang sudah keterlaluan. Wajar jika Natalie kini sangat membencinya.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu itu akhirnya mencairkan suasana tegang di kamar itu.
Rupanya Reynald datang.
"Maaf, Tuan saya mengganggu!" ucap Reynald saat masuk.
"Ada apa?"
Nicholas pun segera menemui Reynald, lalu Reynald seperti membisikan sesuatu di telinga Nicholas.
"Bawa dia kesini!" kata Nicholas.
"Tapi, Tuan." Reynald terlihat bingung, "apa yang akan Tuan katakan pada Pak Thomas?"
Thomas memang kini sudah di depan rumah Nicholas. Ayah Natalie itu sengaja datang untuk menanyakan perihal istrinya yang hilang kabar beberapa minggu ini, namun sayangnya Thomas tak menemukan Nicholas dan Natalie di rumah itu, hanya Helwna. Dan barusan Helena memberikan kabar itu pada Reynald, makanya Reynald buru-buru datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali.
Reynald benar, apa yang akan Nicholas katakan pada Thomas. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.
"Aku ... aku sudah memutuskan." Nicholas sempat mengalihkan pandangannya pada wanita yang kini kembali meringkuk dibalik selimutnya. "Aku akan melepaskan Ibu Natalie."
Setelah mengucapkan itu, Nicholas begitu saja pergi keluar dari kamar itu. "Tuan, apa kau serius?"
Pertanyaan itu tak digubris Nicholas. Lakilaki itu terus saja berjalan pergi.
Nicholas akan melepaskan Nadia?
Apa itu artinya NIicholas sudah melupakan dendamnya?
Reynald sempat beraharap itu iya. "Kuharap dia benar-benar melupakan dendamnya," batin Reynald.
***
Setelah keluar dari ruangan Natalie, Nicholas rupanya pergi ke suatu cafe, dia membeli minuman hangat, dan juga beberapa potong roti untuk mengganjal perutnya. Dia bahkan membeli beberapa potong baju untuk gantinya hari ini.
Saat melintasi sebuah toko bunga, Nicholas juga menyempatkan dirinya untuk membeli seikat bunga.
"Mau ditulis kata-kata apa, Tuan?" tanya si penjual. Wanita yang mungkin usianya sekitar 40 tahun.
Nicholas sempat menimang-nimang. Ada rasa ragu dalam dirinya unrtuk mengucapkannya, karena entah kenapa rasanya ia tak pantas menggunakan kata-kata itu. Tapi ini untuk Natalie, Nicholas harus berusaha membuat wanita itu setidaknya tak begitu membencinya.
"Ini!" Nicholas akhirnya membuat sebuah note di ponselnya. Ia menyerahkannya pada penjual bunga itu.
Aku tahu, kata maafku mungkin tidak akan pernah mengembalikan rasa percayamu. Tapi kuharap, dengan kata maaf ini kau tahu, bahwa aku sangat menyesal atas perbuatanku. Lekas sembuh seperti sedia kala, Natalie ku!
Nicholas Jhonson
__ADS_1
Nicholas meletakkan bunga itu di atas nakas, di samping tempat tidur Natalie. Melihat Natalie kembali tidur pulas, Â laki-laki itupun kembali menunggu di luar. Ia tak mau mengganggu istirahat wanitanya lagi. Dia tahu, Natalie saat ini sangat membencinya.
Nicholas pun duduk dan menunggu di kursi depan kamar, kemudian Reynald datang.
"Tuan, Ayah Natalie sudah datang," lapor Reynald. "Dia menunggu anda di depan."
Nicholas memijit-mijit pelipisnya yang kini terasa mencengkram. Mungkin karena efek kurang tidur semalaman. "Cari tempat makan terdekat! jangan di sini! aku tidak mau menggangu wanitaku istirahat," ucapnya seraya berdiri dari tempatnya.
"Baik, Tuan." Reynald menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan badannya.
"Rey!" panggil Nicholas. Laki-laki itu segera membalikan badannya.
"Iya, Tuan!" sahut Reynald.
"Soal kejadian semalam..." Nicholas menjeda pertanyaannya. "Apa kau yakin Mama dan Jenni punya rencana jahat padaku?"
Reynald tertegun. Akhirnya Nicholas mau juga membahas masalah itu lagi. Reynald awalnya pesimis karena Nicholas sangat mencintai orangtua angkatnya itu.
"Saya tidak mungkin mengada-ada cerita, Tuan. Saya bisa mencarikan bukti lebih banyak lagi jika Tuan memberikan saya kesempatan," tegas Reynald. Dia begitu berambisi untuk menggali semua rahasia Kelly dan Jennifer. Dia yakin, jika dia bisa membongkar rahasia kedua orang itu, dia juga akan menemukan titik terang kecelakaan yang menimpa keluarganya.
"Baiklah ... aku akan memberikan kesempatan untukmu membuktikannya padaku."
"Sungguh?" tanya Reynald tak percaya.
Nicholas mengangguk.
"Bukannya Tuan tidalk suka saya mencampuri urusan Nyonya Kelly."
"Aku memang sangat menyayanginya, tapi jika ternyata ada yang dia sembunyikan dariku, ...." Ucapan Nicbolas kembali terjeda. Rasa-rasanya ia belum percaya kalau orantua angkatnya itu ternyata mengkhianatinya. Jelas sangat Nicholas ingat bagaimana dulu Kelly menyelamatkan keluarganya dari keterpurukan.
"Sudahlah! kita bahas itu nanti saja. Sekarang cepat temui ayah Natalie."
"Baik, Tuan." Reynald pun akhirnya mencari tempat makan yang paling dekat dengan rumah sakit itu untuk mempertemukan Thomas dan Nicholas, sementara Nicholas kembali masuk ke kamar, dia ingin sebentar saja menatap wanita itu.
"Aku janji, kalau ada orang yang dengan sengaja melukaimu, aku tidak akan pernah membiarkannya hidup bahagia," ucap Nicholas. Setelah itu, ia pun keluar dari kamar Natalie, untuk segera menemui Thomas. Namun diperjalanan, mendadak kepalanya terasa berat, dan pandangannya kabur. Buru-buru ia mencari kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Sesampainya di kamar mandi.
"Arghhhh." Nicholas menjambak rambutnya kasar. Dan tiba-tiba saja sesuatu mengalir dari lubang hidungnya. "Sial." Dia mengusap darah yang keluar dengan tissue lalu buru-buru mencucinya dengan air. Tidak boleh ada yang mengetahui hal ini selain dia dan sahabatnya, Anjeli.
Beberapa hari ini, selain sakit kepala yang begitu membuat Nicholas tersiksa, darah mimisan juga sering kali keluar dari hidungnya. Dan itu juga menjadi salah satu penyebab Nicholas ingin menghentikan dendamnya.
Dia ingin saat kepergiannya, Natalie dan keluarganya kembali bahagia seperti dulu kala saat Nicholas belum hadir dan mengusik keluarga itu. Dia merasa, selama ini sudah terlalu lama melawan hati kecilnya. Hati kecilnya selalu ingin menghapus dendam dan hidup bahagia bersama Natalie, tapi nyatanya lingkungan memaksa dia untuk terus menyakiti Natalie, dan Nicholas rasa kini saatnya dia menghapus semuanya.
"Mungkin ini adalah saatnya."
__ADS_1
To Be Continued