Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
FINAL END


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba.


Hari dimana Natalie akan melakukan operasi Caesar untuk segera melahirkan anaknya.


Tuan Jhonson, Selly, Merry juga orang tua Natalie pun datang semuanya.


Natalie sengaja menghubungi mereka agar menyaksikan hari itu. Hari yang akan menjadi kisah bagi Natalie.


"Apa kau yakin ini semua akan baik-baik saja, Rey?" tanya Thomas dan Nadia yang khawatir akan keadaan anaknya.


"Tenanglah! ... saya yakin Natalie adalah wanita yang kuat. Do'akan saja yang terbaik untuknya."


"Tapi bagaimana kami bisa tenang, sementara dokter sendiri tidak bisa memastikan setidaknya tujuh puluh lima persen dari hasilnya," sergah Nadia.


"Kami tahu Ibu dan Pak Thomas khawatir," potong Tuan Jhonson. "Saya pun begitu. Anak Natalie adalah cucu saya, saya juga berharap yang terbaik untuk keduanya."


Semua diam saat Jhonson bicara. Akhirnya mereka kembali fokus pada Natalie. Berdoa dan terus berharap Tuhan memberikan anugerah agar keduanya sehat dan selamat.


"Itu mereka datang," ucap Selly menunjuk beberapa perawat yang mendorong dua brankar ke arah mereka.


Semua mata memandang pada siapa yang datang.


Ada dua pasien dalam dua brankar berbeda.


Satu Natalie, yang akan melakukan prosesi Caesar, dan satu lagi Nicholas yang akan mendampinginya.


Ini semua permintaan Natalie. Dia ingin Nicholas ada di sampingnya, menemani prosesi persalinannya meskipun suaminya itu tidak bisa sekedar membuka matanya sekalipun.


Hati Merry mendadak pilu, melihat anaknya terbaring lemah saat melewatinya begitu saja.


"Nicho, anakku,"  Merry menangis, hatinya tersayat-sayat seakan tak ada oksigen di sana.


Semuanya sesak.


"Natalie, putriku." Kini gantian Nadia yang merintih saat melihat putrinya melintas di depan wajahnya.


"dok, sebentar!" cegah Natalie. Dia sempat memegang tangan kedua orangtuanya juga Tuan Jhonson bersamaan.


"Ayah, Ibu, Pa, maafkan semua kesalahan Natalie, Ya. Do'akan Natalie agar proses persalinan ini lancar." Suara Natalie terdengar tertahan. "Dan do'akan juga ini menjadi keputusan terbaik untuk kami."


Iya. Karena hari ini akan ada keputusan terberat bagi Natalie.


"Tentu, Nak. Tentu," ucap Thomas yang diikuti anggukkan dari yang lainnya. "Kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu."


Kini Natalie menggenggam tangan Merry. "Bu, maaf jika aku terlambat mengenalmu. Kita memang belum begitu dekat, tapi aku yakin kau adalah sosok malaikat yang begitu hangat untuk suamiku. Terimakasih telah melahirkan sosok lelaki sempurna seperti Nicholas. Aku sangat mencintai anakmu." Natalie kembali meneteskan air matanya. "Dan satu hal lagi, Natalie ingin meminta maaf karena Natalie tidak bisa menjaga putra ibu dengan baik."


"Tidak Natalie. Kau sudah melakukan dan memberikan yang terbaik untuk anakku." Merry mengusap air mata Natalie. "Jangan menangis, Nak. Ibu juga sangat mencintaimu seperti ibu mencintai Nicholas." Merry memeluk Natalie. "Terimakasih, Nak. Terimakasih telah mencintai anakku."


Natalie pun akhirnya melepaskan pelukannya setelah sang dokter memberikan isyarat untuk segera kembali masuk, karena jadwal operasi mereka sudah dekat. Natalie tersenyum pada orang-orang yang selama ini mendukung mereka berdua, setelah itu dokter pun kembali membawanya masuk ke ruangan operasi.


Selly tertunduk. Tak sanggup rasanya ia melihat apa yang ada di depan matanya itu. Ini terlalu menyedihkan.


"Sayang, kau menangis?" tanya Reynald saat melihat butiran air mata menetes di pipi Selly.


Selly tak menjawabnya, ia hanya memeluk Reynald seolah ia mengatakan bahwa ia takut kehilangan Reynald.


"Sudah, tidak apa-apa, Sayang. Tenanglah!" Reynald mengusap kepala Selly lembut.


Dua jam berlalu, serangkaian kegiatan operasi pun berjalan dengan begitu menegangkan. Karena seperti yang dikatakan dokter jika keadaan fisik Natalie sendiripun tidak sepenuhnya kuat untuk melakukan operasi ini. Belum lagi keadaan kandungannya yang tergolong lemah itu. Ini sangat membuat siapapun khawatir.


Natalie memejamkan matanya saat merasakan benda menyayat perutnya. Bukan rasa sakit atau ngilu yang ia pikirkan, tapi hasil akhir yang akan ia dapatkan.


"Anakku, aku mohon berjuanglah untuk Mama dan Papa, Nak!"


Hanya itulah permintaan Natalie saat ini.


Natalie memiringkan wajahnya dan ia melihat lagi laki-laki yang terlelap di sampingnya dengan bantuan selang sebagai alat pernapasannya.


"Sayang, anak kita akan segera lahir ke dunia. Kau menunggu ini kan?" ucapnya dalam hati.


Eakk .. eakk


Tak lama terdengar suara tangis bayi yang memecahkan kesunyian dan ketegangan di ruangan itu.


"Sayang, cucu kita sudah lahir," pekik Nadia pada Thomas.


Thomas dan lainnya segera mengintip di jendela. Benar saja, seorang anak laki-laki dengan bobot yang tidak begitu berat telah lahir ke dunia. Bentuk tubuhnya yang minimalis itu membuat perawat sedikit berhati-hati agar tidak melukai kulitnya yang masih berwarna merah.


"Cucuku," cicit Merry sambil menitikkan air matanya. Entah kenapa ia teringat akan hari dimana ia melahirkan Nicholas kala itu. Seketika rasa bahagia itu kembali lenyap setelah ia mengingat kembali bahwa cucunya itu takkan bisa merasakan kasih sayang ayahnya kelak jika Nicholas tak bangun juga.


Setelah dua jam melewati masa pemulihan, akhirnya semua keluarga diizinkan masuk untuk melihat keadaan Natalie dan bayinya.


"Wajahnya sangat tampan ya, Yah," kata Nadia. Thomas mengangguk, kemudian Tuan Jhonson minta untuk berganti menggendongnya.

__ADS_1


"Berikan padaku! aku juga ingin menggendong cucuku."


Melihat betapa bahagianya keluarganya menyambut kedatangan Nicholas junior, hati Natalie kembali sakit.


"Seharusnya kau sekarang sedang menggendong anakmu, Nic," batinnya menangis. Mengingat orang yang seharusnya paling bahagia dengan kehadiran anak itu adalah suaminya.


Kini gantian Merry yang menggendongnya. "Dia tampan, mirip sekali dengan Nicholas waktu bayi dulu."


Seketika ruangan yang beberapa menit itu bahagia kembali sendu lagi kala Merry menyebut nama Nicholas. Merry memang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sampai saat ini dia belum percaya jika anaknya tak bisa lagi menyapanya.


Natalie teringat sesuatu.


"Rey!" panggil Natalie.


"Iya, Nat."


"Ayo, sekarang!"


Beberapa detik Reynald mematung, sebelum akhirnya ia mengangguk. "Iya, ayo!"


"Maaf, Bu. Bisa saya pinjam sebentar?" ucap Reynald pada Merry sopan.


Dengan ragu Merry pun menyerahkan bayi yang belum diberi nama itu.


Setelah itu, Reynald pun menyerahkan bayi itu pada Natalie, sementara ia mendorong Natalie yang kini sudah duduk di kursi roda.


Ia mendorongnya kembali ke ruangan dimana Nicholas di rawat. Dan yang lainnya pun mengekor di belakangnya.


Hamparan samudera rasanya tak cukup untuk menggambarkan betapa luasnya kasih sayang yang kau berikan.


Sejuknya embun pagi juga rasanya tak cukup untuk melawan betapa sejuknya hatiku saat berada di sisimu.


Tapi seberapa besarpun aku menginginkan kau tetap di sisiku, jika takdir memang berkata kita untuk berpisah sementara dalam jangka waktu yang lama, sepertinya memang aku harus mengikhlaskannya.


Suamiku, seandainya ragamu tak sanggup lagi untuk tetap bertahan di sisiku, tak apa. Aku tidak akan membenci waktu karena telah merenggut kau dariku. Aku akan belajar menerima, mengikhlaskan dan merelakan sesuatu yang memang sudah seharusnya demikian.


Natalie duduk tepat di samping Nicholas. Ia juga meletakkan bayi mungil itu tepat di samping Nicholas.


"Sayang," panggil Natalie lirih, lengkap dengan rasa sesaknya yang menyayat hati. "Aku datang membawa putra kita." Ia menggenggam tangan yang tak hangat seperti dulu itu. "Apa kau ingin menyentuhnya?"


Tanpa menunggu jawaban, Natalie pun menyentuhkan tangan Nicholas pada pipi mungil yang kini berada di sisinya.


"Dia tampan sekali. Ibumu bilang, dia persis sepertimu waktu kecil dulu. Ah, seandainya saja kau bisa melihatnya. Mungkin kau akan melihat potret kecil dirimu."


"Nic, jika kau bertahan sejauh ini karena anak kita. Maka hari ini sudah tiba. Anak kita sudah lahir ke dunia dengan sehat dan tiada kurang satu apapun, seperti yang kita harapkan."


Tiba-tiba bayi mungil itu menangis, seolah ia mengerti bahwa ini akan menjadi pertemuan pertama sekaligus terakhirnya bersama sang Ayah.


Eakk .. eakk


Bayi itu menangis, tapi tak ada yang berani mendekat karena Reynald meminta semua memberikan Natalie kesempatan hanya bertiga bersama suami dan anaknya itu.


Natalie semakin mendekatkan dirinya pada Nicholas. Ia bicara sambil mendekatkan bibirnya di telinga Nicholas.


"Nic, jika kau sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit ini, pulanglah! aku sudah mengiklaskanmu. Jangan khawatirkan kami lagi! ... kami akan baik-baik saja. Aku akan menjaga anak kita dan membesarkannya dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku akan mencintainya seperti kau mencintaiku. Aku akan ...." Sesak menyelubungi hati Natalie lagi, membuat siapapun yang ada di sana tak mungkin jika tak menitikan air matanya. "Aku akan memberikan yang terbaik semampu dan sebisaku."


"Pulanglah, Sayang. Kau sudah terlalu lama berjuang dan menahan sakitmu selama ini."


Natalie menangis lagi, tubuhnya gemetar saat mengucapkan kata-kata itu. "Aku ikhlas, Nic. Aku ikhlas sungguh! pulanglah dan beristirahatlah dengan tenang supaya kau tidak merasakan sakit lagi ...pulanglah!"


Suara tangisan bayi itu semakin mengeras. Lengkingan suaranya semakin mengencang seiringan dengan bunyi decitan pacu jantung Nicholas yang menunjukkan bahwa jantung Nicholas sudah total tak berdetak lagi.


Tiiiiiitttttt


Dan seiringan suara decitan itu jga, kepala Nicholas melemah dan wajahnya terkulai ke sebelah kanan, dimana bayinya diletakkan. Bibirnya malah menyentuh pipi anak laki-laki itu, seakan ia ingin menciumnya untuk sekali selama hidupnya. Untuk pertama dan terakhir kalinya. Seakan ia ingin seluruh dunia tahu bahwa ia sangat mencintai putranya itu.


"Nichooooo..." pekik Merry. Dia langsung memutar kursi rodanya mendekat pada anaknya itu, diikuti yang lainnya. Sementara Reynald langsung berlari mencari dokter untuk memeriksa keadaan Nicholas. Tapi sepertinya sudah tidak ada harapan lagi, karena saat dokter memeriksanya, Nicholas memang sudah pergi untuk selamanya.


Selly mengangkat bayi mungil itu, agar tak terhimpit.


"Nicho, bangun, Nak! bangun ..." Merry seakan belum ikhlas melepaskan kepergian sang anak. Begitu juga dengan Jhonson yang begitu terpukul karena kehilangan sosok anak yang ia besarkan dengan penuh cinta itu.


Berbeda dengan Natalie, wanita yang tampak begitu lemah itu sepertinya sudah mengikhlaskan kepergian suaminya. Ia hanya tersenyum sambil menatap wajah Nicholas, meskipun sejujurnya hatinya hancur lebur tak terkira.


Sedetik kemudian Natalie mendekatkan bibirnya di kening Nicholas. Ia menciumnya dalam-dalam untuk memberikan ciuman yang terakhir kalinya. "Terimakasih telah mencintaiku. Aku janji, akan selalu menjaga cinta kita selamanya."


Maudy Ayunda : Kamu dan Kenangan


Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu


Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku


'Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu

__ADS_1


Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Kamu dan segala kenangan


Menyatu dalam waktu yang berjalan


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)


Flashback Off


"Ma," panggil Micholas.


"Eh." Natalie tersadar dari lamunan masalalu yang sangat menguras emosi itu saat sang anak memeluknya.


"Maafin Micho, Ma. Tidak seharusnya Micho marah sama Mama."


Natalie membalas pelukannya. "Tidak apa-apa, Nak. Kau berhak marah jika memang kau kecewa pada Mama."


"Tidak, Ma. Micho tidak marah. Micho mengerti jika Mama selama ini menyembunyikan ini karena Mama tidak mau membuat Micho sedih."


"Jadi kau tidak marah lagi pada Mama?"


Micholas menggelengkan kepalanya. "Tidak, Micho mencintai Mama. Micho tidak mau Mama sedih lagi, apalagi Mama seidh karena Micho."


Micholas mengusap air mata Natalie. "Jangan menangis lagi ya, Ma! ... Bukan hanya Papa yang tidak mau melihat Mama menangis, Micho juga tidak mau melihatnya."


Suasana semakin haru kala anak kecil yang tidak pernah menangis itu memeluk sang Ibu sambil menitikan air matanya. "Karena bukan cuma Papa yang mencintai Mama, tapi Micho juga. Micho sayang Mama!"


Natalie semakin tak kuasa menahan air matanya. Perasaan sedih, bahagia semua jadi satu di hari itu. Hari dimana anaknya terlahir ke dunia dan juga hari dimana Nicholas pergi untuk selamnya.


"Iya, sayang. Mama janji tidak akan menangis lagi. Kita berdua harus bahagia."


Reynald, Selly dan putri kecilnya pun ikut memberikan pelukan hangat, seakan memberikan kekuatan untuk keduanya. "Jangan lupakan kami! karena kami juga akan selalu ada untuk kalian berdua."


Natalie tersenyum bahagia saat mendengar pernyataan Reynald. "Terimakasih, Rey." Lantas kelimanya pun kembali berpelukan tepat di depan dimana Nicholas dimakamkan.


Dan dari kejauhan, dari dunia yang berbeda Nicholas menatap tersenyum ke arah orang-orang itu.


END


Alhamdulillah, akhirnya novel pertamaku ini tamat juga. Kali ini benar-benar tamat dan sudah tidak ada lanjutannya lagi.


Terimakasih telah setia menemani selama ini.


Maaf jika endingnya harus sad ending. Karena jika dipaksanan happy takutnya akan keluar dari jalur pemikiranku sejak awal.


Next aku mungkin akan membuat novel baru dengan cerita dan pemeran yang baru. Jika kalian tertarik untuk terus mengikuti karya-karyaku, silahkan follow account MT atau bisa juga account IG aku di @huznull14. Nanti aku akan informaskan kapan novel selanjutnya aku tulis.


Sekali lagi terimakasih.


Aku mencintai kalian semua para pembaca setiaku.


Bonus : Surat cinta dari Nicholas untuk Natalie juga untuk ibunya akan ku tulis sebagai ekstra chapter ini ya! hanya satu chapter saja.


See you and i lov u


Salam : Husnul


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2