
Keisha menatap takut dua laki-laki di hadapannya. Mulutnya sudah terbungkam. Dia kini sedang berada di dalam sebuah ruangan yang gelap. Sebut saja itu gudang!
Dengan kedua tangan yang sudah terikat di senderan kursi, Keisha berusaha menahan Isak tangisnya agar tidak membuang tenaganya sia-sia. Dia tidak tahu kenapa akhir kebahagiaannya malam ini akan seperti ini. Malam ulang tahunnya berakhir dengan kejadian dramatis yang berhasil membuat semuanya hancur.
Dua laki-laki datang tiba-tiba dan membungkam mulutnya sampai ia tak sadarkan diri lagi, dan saat ia terbangun ia sudah berada di ruangan gelap ini.
"Bagaimana dengan Kak Kevin, dan Kak Natalie?" batinnya.
***
"Bagaimana ini?" Sudah hampir lima belas menit Kevin menyenderkan tubuhnya di balik pintu. Dia juga berusaha menghubungi nomor Keisha, namun sialnya Keisha tak mau juga mengangkat panggilannya. Keisha malah mengirimkan sebuah pesan singkat.
Keisha : Kakak jagain Kak Natalie aja ya di dalem!
"Keisha, buka pintunya!" pekik Kevin. Namun tidak terlalu besar, karena dia takut akan membangunkan Natalie yang tengah tertidur di sana. Karena lama tak ada jawaban, Kevin pun beralih kembali mendekati Natalie. Dia duduk di samping Natalie yang masih terlelap. Sepertinya efek obat bius yang dicampurkan pada minuman wanita itu berdosis lumayan tinggi.
Kevin menghembuskan nafasnya gusar. Entah ada maksud apa Keisha untuk mengurungnya berdua bersama Natalie di tempat itu. Mengingat, Keisha sangat sekali berharap Natalie bisa menikah dengannya. Tanpa Kevin sadari, rupanya semuanya itu sudah di setting oleh seseorang. Dan dia tidak pernah menyadari bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi padanya.
Tak lama, Kevin pun menguap. Rupanya Bukan hanya Natalie yang diberikan obat tidur itu, Kevin pun tak lolos dari jeratannya. Mereka memang sengaja di sekap di ruangan ini bersama-sama agar orang suruhan Jennifer dengan mudahnya beraksi.
Kevin yang tak kuasa menahan kantuknya, akhirnya tertidur di samping Natalie dengan posisi duduk di lantai dan kepala yang bersender di kasur. Posisi ini tentunya tidak menguntungkan bagi orang yang berniat jahat. Maka dari itu, dengan cepat mereka mengubah posisi tidur Kevin jadi bersampingan dengan Natalie. Dan jangan lupakan baku keduanya. Kancing baju Kevin dan resleting yang menjadi penutup dress Natalie pun sudah terbuka hampir semuanya, hanya menyisakan sedikit saja di ujungnya.
Ceklek
Satu gambar berhasil diabadikan. Dengan segera orang yang semula bersembunyi di balik lemari itu mengirimkan hasil fotonya kepada orang yang sudah membayarnya.
"Selesai, kita pulang!" ucapnya pada rekan yang lainnya. Semuanya pun segera bergegas keluar, termasuk yang sedang menjaga Keisha. Mereka meninggalkan Keisha sendirian di ruangan gelap itu.
***
"Kamu yakin ini rumahnya?" tanya Nicholas pada Reynald. Mereka sudah sampai sekitar lima belas menit yang lalu. Tapi mereka tak juga menemukan Natalie keluar dari rumah itu.
"Iya, Tuan. Kalau dilihat dari alamat yang diberikan HRD kantor kita sih, saya yakin ini rumahnya."
Lama tak mendapatkan petunjuk apa-apa, Nicholas mulai jenuh. Namun kejenuhannya berakhir memanas ketika sebuah foto masuk ke ponselnya.
"Bangs@t!!!" dia meremas ponselnya. Nicholas sudah tidak tahan lagi. Dengan sesegera mungkin dia keluar dari helikopter itu.
__ADS_1
"Tuan, tunggu!!!" Reynald langsung mengekor di belakangnya.
Nicholas berjalan dengan tergesa-gesa dan amarah yang sudah di ujung ubun-ubun kepalanya. Beraninya Natalie dan Kevin bermain di belakangnya. Meskipun Nicholas juga sebenarnya bermain api dengan Jennifer, tapi dia tidak sampai melakukan hal selancang itu. Lagipula, sebenarnya Nicholas tidak benar-benar mencintai Jennifer semenjak kehadiran Natalie.
Brugh
Suara pintu rumah Kevin yang di dobrak begitu saja oleh Nicholas. Dia lantas membuka satu persatu kamar yang ternyata tidak di kunci itu. Dari ketiga pintu kamar, hanya kamar bertuliskan nama Keisha yang belum terbuka.
"Apa mungkin di kamar ini orang-orang brengs3k itu melakukannya?" batin Nicholas seraya membuka perlahan pintu itu. Dan ternyata ....
"Dasar ********!"
Brugh
Nicholas menarik paksa Kevin dari tempat tidurnya dan menghempaskannya secara brutal ke lantai.
"Nicholas!" Kevin terbangun saat tubuhnya terhentak kuat ke lantai. Sementara Natalie yang mendengar keributan juga akhirnya terbangun. Dia begitu terkejut saat melihat busananya sudah berantakan.
"Apa yang terjadi denganku?" buru-buru dia menutup tubuhnya dengan selimut. "Nicholas, sejak kapan dia di sini?" dia melihat laki-laki itu tengah menarik kerah baju Kevin yang sudah terbuka kancingnya itu.
"B@jingan!!! apa yang sudah kau lakukan dengan Natalie?" Nicholas memekik sambil mencengkram leher laki-laki itu.
Brugh
Lagi-lagi Nicholas memberikan pukulan tepat di pipinya. Akhirnya darah segar pun menetes di sudut bibirnya.
"Nicholas, CUKUP!" Setelah merapikan bajunya, Natalie berlari dan membantu Kevin yang tersungkur. "Apa yang kau lakukan padanya."
Nicholas mengeram tak percaya. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu setelah apa yang mereka lakukan, pikirnya.
"Apa kau bilang?" Nicholas lalu mendelikkan matanya ke arah Natalie dengan tatapan tajamnya. "Kau masih tanya kenapa aku melakukan ini padanya setelah apa yang kalian lakukan?"
"Aku dan dia tidak melakukan apapun, sungguh! kau salah paham."
"Salah paham? ckk, berduaan di kamar dengan pakaian terbuka seperti ini kau bilang salah paham?"
Natalie memang tak bisa mengelak dengan keadaan yang terjadi. Dia tidak tahu kenapa dia bisa berada dalam posisi seperti ini dengan Kevin. Karena setahu dia terakhir kali ia hanya tidur di kasur itu dan dia mendengar langkah Kevin pergi tak lama kemudian.
__ADS_1
Natalie berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan Nicholas. Dia berusaha menjelaskan agar Nicholas tidak salah paham. "Tapi ini semua tidak seperti yang kau pikirkan."
"Terus apa?" Amarah Nicholas semakin memuncak. "Apa yang kau lakukan sampai harus membuka busanamu seperti itu?"
Natalie terdiam dan bungkam.
"Yasudah, kita anggap saja kita impas. Kau dengan Jennifer dan aku dengan Kevin. Bukankah itu pas?"
Nicholas membulatkan matanya tak percaya dengan sikap Natalie. Apa maksud dia berkata seperti itu. Jelas ini berbeda. Dia dengan terang-terangan melakukan hubungan badan Kevin, sedangkan dia dengan Jennifer hanya sekedar peluk dan cium, itupun selalu Jennifer yang melakukannya terlebih dulu.
"Aku dan Jennifer tidak pernah melakukan hal sebodoh ini. Kau tahu!"
"Tidak, aku tidak tahu. Dan aku juga tidak mau tahu."
Nicholas mengepalkan tangannya seperti hendak mencengkram mulut Natalie saat itu juga karena wanita itu terus saja melawannya.
"Kenapa? kau tidak suka?" tanya Natalie.
Tangan Nicholas terangkat hendak menampar pipi Natalie, namun dia tak melakukannya. Dia menarik kembali sambil berkata, "Dasar wanita murahan!"
"Nicholas jaga bicaramu! Natalie bukan wanita seperti itu." Kevin berusaha membela karena Natalie memang tidak seperti itu.
"Diam! aku tidak bicara dengan laki-laki bajing@n sepertimu." Mata Nicholas kembali menatap Natalie. "Aku mengerti sekarang, kenapa tuhan tidak mengizinkan aku berlama-lama denganmu. Itu semua karena Tuhan tidak ingin aku tinggal lebih lama bersama wanita murahan sepertimu."
Setelah merendahkan Natalie dengan ucapannya itu Nicholas pun pergi meninggalkan Natalie dengan Kevin.
"Biarkan! biarkan aku terlihat murahan di depan matamu," ucap Natalie sambil menundukkan wajahnya, yang berhasil membuat langkah kaki Nicholas terhenti. "Murahan ataupun tidak bukankah itu tidak ada artinya di depan matamu! karena kau tetap saja tidak bisa mencintaiku."
Ucapan itu sontak saja membuat keheningan terjadi diantara mereka.
"Kau salah Natalie, sejujurnya aku sangat takut kehilanganmu. Andai kau tahu, aku justru terluka karena terlalu mencintaimu, Nat." batin Nicholas. Beberapa detik lamanya Nicholas terdiam, namun tak lama dia melangkahkan kembali kakinya, meninggalkan Natalie yang akhirnya terkulai lemas jatuh ke lantai.
"Nat, kamu gpp?" Kevin langsung membantunya memopong tubuhnya.
Tak ada jawaban dari Natalie. Dia hanya menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, sementara Kevin yang merasa bersalah hanya bisa memeluknya, berusaha menenangkan wanita itu.
"Maafkan aku, Nat. Ini semua salahku." cicit Kevin dalam hatinya seraya membelai lembut rambut Natalie dalam pelukannya.
__ADS_1
To be continued