
Nicholas berjalan mendekati wanita itu.
"Siapa kamu?" Teriak wanita itu dengan lantangnya.
"Bu, ini aku. Putramu." Nicholas terlihat menitikan air matanya.
Brughhh
Wanita itu melemparkan guling ke wajah Nicholas.
"Pergi, kamu! jangan menggangguku. Jangan mengganggu keluargaku! PERGI!"
Teriakan dari wanita itu memenuhi ruangan itu.
"Bu, ini aku." Nicholas terdengar mengulang ucapannya.
"PERGI! PERGI!"
"Tuan, sebaiknya kita biarkan Ibu tenang dulu!" Reynald menarik tangan Nicholas menjauh dari wanita yang berulang kali melemparkan benda apapun yang ada di sampingnya.
Keadaan wanita itu sangat mengenaskan. Tangan dan kakinya diikat ke tiang ranjang besi. Tubuhnya kurus seperti tak terurus. Padahal Nicholas sudah menyiapkan 5 perawat hanya untuk merawat wanita yang paling dicintainya itu.
"LEPAS REYNALD!" Nicholas melepas paksa tangan Reynald.
"Tapi, Tuan?"
Nicholas kembali berjalan mendekat ke arah wanita itu.
"Bu, aku akan membalaskan dendam pada mereka yang sudah membuat Ibu seperti ini."
Wanita itu terdiam saat melihat Nicholas berbicara. Entah naluri seorang Ibu atau bagaimana, tapi yang pasti Merry, Panggilan akrab wanita yang dulunya bekerja sebagai buruh cuci gosok itu tak bergeming menatap nanar mata putranya.
"Bersabarlah!" Suara Nicholas mulai terdengar berat. "Bertahanlah untuk kita." Nicholas ambruk ke lantai. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tuan, anda baik-baik saja kan?" Reynald begitu mengawatirkan keadaan Tuannya. Dia merangkul Nicholas dan membawanya keluar dari kamar itu. Seorang penjaga juga membantu Reynald membawa Nicholas masuk ke kamarnya.
"Kenapa? apa yang terjadi dengan Nicholas?" Seorang wanita paruh baya itu langsung mengecek suhu tubuh Nicholas.
"Panggilkan dokter segera Reynald!" Titahnya.
"Badanmu sangat panas, sayang. Kamu kenapa?" Nyonya Jhonson terlihat sangat mengkhawatirkan putranya itu.
Reynald baru saja kembali ke ruangan setelah menghubungi dokter. Iya, dokter pribadi Nicholas. Tidak banyak yang tahu perihal penyakit yang diderita CEO muda itu. Nicholas kerap menggigil panas dingin jika dia merasa isi kepalanya sudah sangat penuh.
Seperti saat ini, setelah melihat keadaan Ibunya yang makin parah, rasanya isi kepala Nicholas hampir pecah. Nicholas menggigil. Bibirnya sudah pucat. Matanya bahkan tak mau terbuka.
"Ibu, Lucia." Ucap Nicholas beberapa kali.
__ADS_1
"Sayang, bertahanlah!" Nyonya Jhonson sudah sangat khawatir. Beberapa kali dia bahkan menghubungi suaminya yang sedang pergi ke luar.
"Angkat, sayang!"
"Ibu, Lucia." Lagi-lagi Nicholas menyebut nama Ibu dan adiknya. Nyonya Jhonson semakin khawatir dan meminta Reynald agar menyuruh dokter pribadi Nicholas mempercepat kedatangannya.
"Bertahanlah, sayang!" Nyonya Jhonson memeluk erat tubuh Nicholas.
Begitulah kehidupan Nicholas. Sosok CEO yang sangat disegani itu rupanya punya kehidupan yang memilukan. Tak banyak yang tahu mengenai kehidupan pribadinya, selain Reynald, tangan kanannya. Yang orang lain tahu Nicholas adalah putra satu-satunya dari Tuan Jhonson, pemilik perusahaan raksasa yang hidupnya bergelimang harta dan kebahagiaan selalu bersamanya.
Padahal tidak.
Nicholas punya masa lalu yang sangat kelam. Bahkan saat ini dia masih harus menjalani hidupnya yang masih kelam baginya. Wanita yang paling dicintainya, Merry, terikat dalam pasungan karena kejiwaannya terganggu. Berapapun harta yang dimilikinya saat ini tak bisa menggantikan nilai Merry dalam hidupnya. Tidak sampai disana, Nicholas yang disebut anak tunggal Mr. Jhonson itu juga ternyata bukan anak kandung dari Tuan dan Kelly Jhonson. Dia hanyalah anak angkat. Dia diadopsi saat usianya menginjak 8 tahun.
"Nyonya, dokter Frans sudah datang." ucap Reynald.
"Cepat suruh dia masuk!"
"Baik, Nyonya."
Reynald lantas segera memerintahkan anak buahnya untuk mengawal dokter Frans masuk ke rumah mewah itu.
Melihat keadaan Nicholas seperti ini, Kelly Jhonson tiba-tiba mengingat kembali awal pertemuannya dengan Nicholas.
Flashback 20 tahun yang lalu.
Saat sedang memilih sayuran, tiba-tiba seorang jambret mengambil paksa dompet Kelly. Kelly yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa berteriak dan meminta pertolongan. Beberapa orang mengejar pelaku itu, namun sayang pelaku sangat gesit sampai tak terkejar.
Tapi pelaku itu tidak sepenuhnya beruntung, karena saat sedang berlari dia menabrak seorang anak laki-laki yang sedang berjalan kue.
Brughhh, pencopet itu terjatuh setelah menabrak kue-kue yang dibawa Nicholas.
"Bangs*t." Pekik pencopet itu.
Awalnya dia berniat untuk memukul Nicholas, karena anak kecil itu telah membuat rezekinya hilang hari ini. Namun karena kejaran warga pasar ternyata belum terhenti akhirnya pencopet itu kabur dan memilih pergi daripada bonyok, sementara dompet Kelly yang sempat dijambret itu akhirnya selamat karena tertutup wadah kue Nicholas.
Nicholas menatap nanar kue-kue Nya. Kenapa nasibnya hari ini sangat sial sekali. Bagaimana dia harus menjelaskannya pada Ibunya. Kue itu bahkan belum terjual setengahnya. Untung saja kue itu tidak terlalu kotor, jadi dia berpikir masih bisa dia makan.
Sambil menahan air matanya, Nicholas memunguti satu persatu kue dagangannya. Sampai pada akhirnya dia menemukan sebuah dompet.
"Dompet siapa ini?" Tanya Nicholas dalam hatinya.
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dengan sigap dia memasukannya ke dalam kantong plastik yang biasa dia pakai untuk menyimpan uang.
Nicholas berlari. Dia bahkan tidak memperdulikan dagangannya yang belum sepenuhnya dia ambil dari tanah. Dia terlalu bahagia. Bisa menemukan dompet ditengah kebutuhannya yang sangat mendesak. Adiknya, Lucia bisa segera di bawa ke rumah sakit.
Mata Nicholas makin membelalak saat melihat isi dompet itu ternyata sangat tebal. Uang Nya dia taksir bisa mencapai jutaan. Dan belum lagi banyak kartu debit juga kredit disana. Nicholas yakin jika pemiliknya adalah orang kaya.
__ADS_1
Apakah ini jawaban Nicholas dan Ibunya selama ini? gumam Nicholas.
Belum sempat Nicholas menutup dompet itu. Foto pemilik dompet itu jatuh.
Foto Kelly Jhonson tengah menggendong anak kecil.
Wanita dalam balutan gaun putih itu terlihat memberikan senyumnya yang hangat saat menatap anaknya. Nicholas bisa melihatnya dari cara dia menatap.
"Astaga, apa yang sudah kupikirkan? ... bagaimana mungkin aku bisa berpikiran akan memakai uang ini untuk pengobatan Lucia, sementara wanita ini pasti sedang sedih karena kehilangan dompetnya. Aku harus segera mengembalikannya."
Nicholas melangkahkan kakinya. "Tapi bagaimana dengan Lucia?" cicitnya dalam hati. Kalau Nicholas memberikan dompet ini, Lucia tidak bisa dibawa ke rumah sakit. Tapi jika Nicholas memakai uang ini, itu berarti dia telah memakai uang yang bukan hak Nya.
"Tidak. Aku harus tetap mengembalikannya. Lagipula Ibu pasti tidak akan mengizinkan aku memakai uang ini untuk Lucia. Aku yakin suatu saat nanti Lucia akan mendapatkan ganti yang lebih dari ini."
Nicholas benar-benar yakin dengan pilihannya. Dia menyusuri pasar dengan penuh keringat yang membanjiri tubuhnya. Satu persatu wajah Ibu-ibu di pasar itu ia amati. Mencari pemilik dompet yang ada ditangannya.
Sampai akhirnya dia menemukan orang itu. Wanita itu tengah menundukkan kepalanya. Berkali-kali dia mengecek ponselnya. Seperti sedang kesal menunggu.
"Bu, maaf! apa ini dompet Ibu?" Tanya Nicholas kecil pada Kelly.
"Ah, iya. Ini dompet saya. Terimakasih! aku kira aku tidak akan menemukannya kembali. Terimakasih ya!"
Kelly membuka dan melihat isinya masih utuh, tidak ada yang kurang. Dan yang lebih penting dari itu adalah foto anak gadisnya yang sudah meninggal sejak bayi itu.
Kelly terlihat menitikkan air matanya. "Masih ada." cicitnya.
Nicholas tidak mengerti, apa yang masih ada? tapi yasudahlah. Dia tidak mau peduli pada hal kecil itu.
"Kalau begitu saya permisi." Nicholas menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Kelly yang baru saja mengambil beberapa lembar kertas uang yang akan ia berikan pada anak laki-laki itu sebagai tanda terimakasih nya.
"Hey, tunggu!"
Namun terlambat, Nicholas sudah berlari. Rupanya Nicholas menangis di pinggir toilet umum. Menahan sesak dadanya. Karena dia baru saja melenyapkan harapan Lucia untuk sembuh.
"Maafkan aku Lucia. Maafkan aku!" ucapnya berulang-ulang sampai akhirnya Nicholas pinsan dan tersadar sudah di kamarnya.
Semenjak saat itu, Kelly Jhonson tidak bisa melupakan sosok anak penyelamatnya itu. Ia meminta suaminya, Mr. Jhonson untuk mencari tahu keberadaan anak itu. Sampai akhirnya entah karena keajaiban tuhan atau hanya kebetulan anak laki-laki itu kini ada dihadapannya. Dia menggigil. Giginya mengerat. Suhu tubuhnya sudah sangat tinggi. Kelly benar-benar takut kehilangannya. Baginya, Nicholas adalah malaikat kecilnya yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi hidupnya, juga menggantikan putri kecilnya yang sudah meninggal karena kecelakaan.
"Nicholas, sayang. Jangan seperti ini terus! Mama tidak sanggup sayang." Kelly menangis sambil memeluk Nicholas.
Sementara Nicholas dengan keadaannya saat ini yang sangat mengkhawatirkan, seorang gadis tengah duduk dan merenung di pojokan balkon sambil memandang bintang-bintang di angkasa.
Dia berkhayal, harusnya saat ini dia bisa memandang bintang itu bersama seseorang yang sangat dicintainya, Nicholas. Tapi nyatanya? saat ini dia hanya sendiri. Bahkan bintang indah itu pun rasanya tak berarti apa-apa saat ini.
"Apakah kau makan dengan benar, Nic? Apakah kau sedang memandang langit yang sama denganku?" gumam Natalie. Kemudian beberapa detik kemudian dia kembali masuk dan menarik selimutnya. Dia tertidur setelah lelah menyapu dan mengepel rumah yang ruang tamunya bak lapangan bola itu.
"Selamat malam, Nic. Semoga kamu mimpi indah." pinta Natalie.
__ADS_1