Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Ending Part 2


__ADS_3

Sepuluh tahun kemudian.


Natalie duduk di depan cermin sambil menatap wajahnya sambil memakai anting di telinganya.


Hari ini akan jadi hari yang sangat bersejarah baginya dan juga Nicholas.


Tak tok tak tok


Seorang anak laki-laki berjalan mendekat ke arah Natalie. Anak laki-laki itu berusia sekitar sepuluh tahun, tapi ekspresi wajah dan gestur tubuhnya menandakan bahwa anak itu sudah sangat dewasa dalam bersikap.


"Ma, apakah ini cocok di tubuhku? ... kenapa sepertinya sedikit berlebihan ya?" tanya anak itu.


Natalie membalikkan tubuhnya, menatap dengan seksama dari bawah hingga atas anak yang berjalan ke arahnya tadi. "Mama rasa tidak. Bagus kok."


Anak laki-laki berusia genap sepuluh tahun pada hari ini adalah Micholas Jhonson. Anak dari Nicholas dan Natalie yang kini sudah tumbuh dengan gagahnya. Peraih olimpiade di beberapa cabang olahraga. Perawakannya yang tinggi berisi begitu mirip dengan Nicholas waktu muda dulu.


Micho masih saja menatap kiri dan kanan baju yang baru saja ia terima pagi tadi dari seorang desainer yang Natalie beli khusus di hari ulang tahun putra tercintanya itu.


"Sudah, tidak apa-apa. Kamu mau pakai baju apa saja tetap cocok. Anak mama kan ganteng."


"Tapi kan, Ma ... Micho ingin terlihat tampan dan gagah saat bertemu Papa."


Natalie terkekeh. Pantas saja Micho terlihat berbeda sekali. Tidak pernah anaknya itu memperhatikan sebegitu rewelnya dengan penampilan yang dipilihkan Natalie. Ternyata memang ada yang lain, putranya itu ingin membuat ayahnya bahagia saat melihatnya nanti.


Jelas ini sangat berarti bagi anak kecil yang akan segera bertemu dengan ayahnya setelah sepuluh tahun tak bertemu itu.


"Hey, dengarkan Mama!" Natalie memangku wajah putra satu-satunya itu. "Papa, tidak akan pernah komplain dengan apapun yang dipakai Micho. Kamu tau kenapa? ...."


Micholas menggelengkan kepalanya, menjawab tidak tahu. "Itu karena apapun yang dipilih Mama, Papa pasti suka."


"Oya?" tanya Micho.

__ADS_1


Natalie mengangguk.


"Papa pasti sangat mencintai Mama," tebak Micholas.


Natalie memeluk putranya sambil mengusap lembut rambut hitam kecoklatan itu. "Kalau Papa tidak mencintai Mama, kau pasti tidak akan terlahir ke dunia ini sayang."


Micholas melepaskan pelukannya. "Berarti Papa juga sayang sekali padaku?"


"Oh, tentu sayang. Papa sangat sangat mencintaimu. Buktinya, saat pertama kali dia melihatmu lahir ke dunia, Papa langsung memberikanmu hadiah sebuah Hellikopter."


Nicholas memang langsung menghadiahi putranya Micholas Jhonson sebuah helikopter yang di desain dengan nama anaknya sendiri di dinding helikopter tersebut. Hal tersebut tentunya sebagai bukti rasa syukurnya karena bisa melihat putranya terlahir ke dunia.


"Ya sudah, ayo! nanti kita terlambat datang ketemu Papa," ucap Natalie.


"Iya, Ma."


Micholas lantas menggandeng tangan lembut Natalie berjalan ke luar rumah. Di luar sana sudah berjejer dua helikopter yang siap membawa Micho dan Natalie berangkat menemui Nicholas.


Satu helikopter dikemudikan oleh Reynald yang membawa istri juga anaknya. Dan satu helikopter bertuliskan nama Micholas Jhonson tentunya dikendarai oleh pemiliknya sendiri.


"Serius, Nat. Kau tidak perlu khawatir. Asal kau tahu saja, kemampuan Micho itu bahkan sudah melebihi kemampuanku," tutur Reynald. "Dia bisa mengemudikan helikopter dengan berbagai gaya. Gaya tidur juga bisa," jawab Reynald.


Iya, kemampuan Micho memang tidak bisa diragukan lagi. Perawakannya yang tinggi dan otaknya yang sangat jenius itu memudahkan Reynald untuk menurunkan kemampuannya di segala aspek. Mulai dari menembak, memanah, berkuda, beladiri sampa dengan mengemudikan helikopter ini.


"Ah, Om berlebihan," sangkal Nicholas. "Tidak, Ma, aku hanya bisa saja. Kemampuan Om jelas jauh lebih baik dariku," lanjut Micholas.


"Kapan-kapan, Sera juga mau dong dibonceng naik helikopter sama Kak Micho," pinta Sera, putri kecil Selly dan Reynald yang baru berusia tujuh tahun itu.


"Kau kira motor, dibonceng," celetuk Micho dengan ekspresi wajah datarnya.


Kedua keluarga itu terkekeh melihat kelakuan kedua anak mereka itu. Bagaikan anjing dan kucing kalau bertemu.

__ADS_1


Perlakuan Micho memang sedikit ketus jika pada orang lain, termasuk Sera sebagai sepupunya sering mendapatkan perlakuan judes dari kakak sepupunya itu.


Sikap dingin yang dimiliki Micho tentunya menular dari sang ayah, Nicholas. Tapi percayalah, Micholas sebenarnya adalah type anak yang sangat bertanggung jawab. Sera seringkali meminta Micholas menemaninya belajar bersama, dan Micholas dengan telatennya mengajari adik sepupunya itu sampai benar-benar mendapatkan nilai 100 dari gurunya.


"Ya sudah, ayo! nanti kita terlambat," ucap Selly yang diikuti anggukan dari yang lainnya.


Kedua keluarga itu akan mengadakan acara perayaan ulang tahun Micholas Jhonson yang ke sepuluh.


Acara tahun ini memang sangat berbeda. JIka biasanya Micho akan mengundang teman-temannya untuk menghadiri acara besar yang digelar orang tuanya di sebuah hotel/restaurant. Maka kali ini Nicholas secara khusus meminta perayaan ulang tahun putra semata wayangnya itu digelar di sebuah pulau yang sangat indah, Pulau harapan.


Pulau yang khusus dibeli Nicholas untuk merayakan ulang tahun putranya yang ke sepuluh itu.


"Ma, ayo!" Micholas kembali menggandeng tangan Natalie masuk ke dalam helikopternya.


Selly, Reynald dan juga Sera ikut melenggang masuk ke dalam helikopter setelah Natalie dan Micho masuk terlebih dulu.


Micholas dengan sikap lembutnya mulai memakaikan aksesoris yang harus dipakai Natalie selama perjalanan nanti.


Jarak tempuh mereka memang tidak terlalu jauh, hanya melintasi beberapa kota saja, tapi tetap saja Natalie masih merasakan khawatir karena ini adalah hal yang pertama kali baginya. Dia takut hal yang buruk terjadi pada mereka berdua.


"Ma," cicit Micholas sambil memegani tangan Natalie yang mulai dingin. "Jangan khawatir! Micho kan sudah berjanji, kalau Micho tidak akan pernah membiarkan semut sekalipun menyentuh tubuh, Mama."


Mendengar pernyataan yang sangat mengharukan dari bibir mungil putranya itu, air mata Natalie tiba-tiba menetes begitu saja.


Rasa bangga, haru dan bahagia semua berkumpul jadi satu. Betapa bersyukurnya dia memiliki anak seperti Micholas. Kerinduannya selama sepuluh tahun pada suaminya pun kadang tidak begitu terasa karena hampir sempurna sosok Nicholas ada dalam jiwa anaknya itu. Meskipun tetap saja, kala rindu mengundang, Natalie tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Percaya sama Micho, semua akan baik-baik saja, Ma." Micholas lagi-lagi meyakinkan sang ibu. Dia memang anak yang sangat romantis, selain jenius, dia juga sosok anak yang sangat melindungi orang tua.


Buktinya, Micho selalu setia menemani kemanapun Natalie pergi, asalkan itu di luar jam kelas nya. Mulai dari ke Mall, sampai ke pasar sekalipun, Micho tidak pernah merasa ragu untuk menemani sang Ibu.


Natalie sontak saja memeluk dan menciumi wajah Micho. "Terimakasih, sayang. Terimakasih. Terimakasih karena sudah hadir untuk Mama dan Papa."

__ADS_1


Micholas membalas pelukan Natalie sebelum akhirnya dia benar-benar menyalakan mesin helikopter itu dan menerbangkannya menuju tempat dimana dia akan segera bertemu dengan ayah tercinta.


To Be Continued


__ADS_2