
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, keadaan Kevin akhirnya semakin membaik, hanya tinggal bekas-bekas lukanya yang masih belum hilang di wajahnya.
"Kau yakin mau pulang sekarang?" tanya Eliza. Wanita yang setia menemani Kevin selama beberapa hari itu. Dia rela mengambil cuti hanya untuk merawat Kevin dan Keisha bergantian di rumah sakit yang sama.
"Iya, Liz. Kami harus pulang. Uangku tidak cukup banyak untuk membiayai rawat inap di sini ... belum lagi biaya rawat jalan Keisha," keluh Kevin. Dia benar, biaya rawat inap di rumah sakit itu tidak sedikit nominalnya. Jika untuk membiayai Keisha saja Kevin harus membobol tabungannya, lalu bagaimana dengan biaya untuk kedepannya.
"Vin," cicit Eliza. "Bagaimana kalau untuk sementara kamu kerja di tempat Ayahku saja. Aku bisa bantu kamu kok."
Tawaran dari Eliza sepertinya sangat bermanfaat saat ini. Meskipun Ayah Eliza hanya seorang pemilik toko sparepart mobil dan motor, tapi sepertinya itu akan sedikit meringankan beban Kevin, mengingat kesempatan dia untuk bisa kembali ke perusahaan Jhonson Company masih di ambang ketidakpastian.
"Boleh," ucap Kevin. "Tapi mungkin tidak untuk saat ini, soalnya aku masih harus mengurus Keisha di rumah."
Kevin sudah selesai merapikan barang-barang miliknya. Ia kemudian duduk sebentar di sofa sebelum keluar dari kamar itu, dan Eliza ikut di sampingnya.
"Huftt..."Kevin menghembuskan nafasnya gusar. Dia tidak pernah mengerti kenapa jalan hidupnya serumit ini. Kenapa jiuga dia harus mencintai wanita yang ternyata hanya membuat rumit hidupnya.
Tapi Kevin tidak pernah menyesal telah mencintai Natalie. Wanita itu selamanya akan tetap memiliki tempat tersendiri di hatinya meskipun suatu saat nanti takdirnya bukan dengan wanita cantik itu.
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kevin, Eliza yang tak asing dengan siapa yang datang langsung menyambut orang itu.
"Bapak," sambutnya. Eliza kemudian mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk di sofa seadanya yang disediakan rumah sakit itu.
"Sudah mau pulang, Vin?" tanya laki-laki itu. Rupanya laki-laki itu adalah HRD di perusahaan Jhonson Company. Dia tidak datang sendiri, dia didampingi seorang laki-laki yang sepertinya adalah bawahannya.
"Eh, iya, Pak." Kevin langsung menyambutnya dengan salam hangat. "Baru saja mau keluar."
"Wah, untung saja ya kita gak sempat mampir dulu ke warung kopi tadi, kalau mampir sebentar saja kita sudah kehilangan calon manajer baru nih." Laki-laki itu menoleh ke arah temannya, sedangkan temannya hanya mengangguk iya sambil tersenyum.
Manajer?
Apa maksud laki-laki ini?
Manajer apa maksudnya? di sini tidak ada siapa-siapa selain mereka ber'empat.
Melihat wajah Eliza dan Kevin yang bingung dan saling berpandangan, kedua laki-laki itupun tertawa.
"Jangan pasang wajah bingung begitu, Pak Kevin! ... sebentar lagi mau jadi manajer loh. Nanti penampilannya harus lebih berwibawa yah."
"Maksud Bapak?" Eliza memotong ucapan laki-laki itu, sementara Kevin masih diam di tempatnya dengan tatapan wajah penuh kebingungan.
"Jadi begini ...."
Suasana mendadak tegang.
"Kemarin, Pak Nicholas menghubungi saya lewat telepon, dia meminta saya untuk menyampaikan ini pada Pak Kevin."
Masih ambigu. Kevin dan Eliza masih terus menebak-nebak apa yang diperintahkan Nicholas pada HRD itu.
"Pak Kevin diminta untuk kembali ke perusahaan Jhonson Company."
"Sungguh?" Eliza terkejut bukan main, tersirat rasa bahagia dalam hatinya. "Tapi tetap yang di pusat kan, Pak? bukan cabang."
__ADS_1
HRD itu menganggukkan kepalanya. Eliza langsung menatap Kevin dengan tatapan bahagianya.
"Eits, tapi ada satu hal."
Mendadak rasa senang itu kembali redup. Apalagi ini? kenapa ada embel-embelnya.
"Pak Kevin kembali ke Jhonson bukan sebagai kepala bagian administrasi lagi."
"Lalu, saya jadi apa?" tanya Kevin dengan sedikit mendekatkan wajahnya, berharap-harap cemas akan posisi baru yang akan diterimanya.
Mungkinkah Nicholas akan menurunkan jabatannya karena dia masih dendam pada Kevin?
Kedua laki-laki itu saling bertatapan dengan tawa yang seakan dipendam. "Anda akan menjabat sebagai manajer baru di perusahaan Jhonson."
"Apa?" Kevin dan Eliza memekik bersamaan.
Manajer?
Di perusahaan besar itu?
"Apa kami tidak salah dengar?" Eliza bertanya.
"Tidak ... kalian tidak salah dengar. Tuan Nicholas memang meminta saya untuk menyampaikan hal ini."
Seperti mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar karena melihat laki-laki yang dicintainya itu mendapat sesuatu yang luar biasa, Eliza sontak saja memeluk Kevin di depan kedua orang yang menjadi atasan nya di kantor.
"Selamat ya Kevin ... aku seneng banget akhirnya Tuhan menjawab do'a-do'a kita."
Kevin yang terkejut dengan perlakuan Eliza hanya diam dan tak berkutik saat Eliza memeluknya dengan erat. Ingin melepas, tapi ia tak tega.
""Ma_maaf." Eliza melepaskan diri dan sedikit menjauhkan posisi duduknya dengan Kevin. "Aku ... aku cuma terlalu senang."
Kevin masih diam tak menjawab. Lagipula dia bingung mau menjawab apa.
"Ah, tidak apa-apa." Laki-laki itu tertawa sambil menyiku satu temannya untuk ikut tertawa dan mencairkan suasana yang panas itu.
"Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu ya. Masih ada urusan yang harus kami kerjakan di kantor," kata laki-laki itu. "Semoga lekas pulih ya, supaya cepat kembali ke kantor."
"Oh, iya, Pak." Kevin lantas menyalami tangan kedua laki-laki itu.
"Eh, jangan Pak. Sekarang kan jabatan Pak Kevin sudah lebih tinggi dari saya, jadi Bapak tidak perlu bersikap hormat lagi kepada kami." HRD itu menarik tangannya saat hendak disalami Kevin.
"Ah Bapak berlebihan." Kevin tersipu malu, "lagipula kan belum jadi."
"Ah, Pak Kevin ini selalu saja merendah. Ya sudah kami permisi."
Kevin dan Eliza pun lantas menemani dua orang itu keluar dari ruangan.
Sambil melihat kepergian keduanya, Kevin tersenyum dalam hatinya. Ia teringat akan Natalie. Ini semua pasti karena wanita itu. Meskipun pada kenyataannya Nicholas sendirilah yang telah memutuskan Kevin untuk menjadi manajer.
Tapi itu semua memang tak lepas dari campur tangan seorang Natalie. Kesalahpahaman yang terjadi antara Nicholas dan Kevin lah yang membuat Nicholas merasa bersalah kepada laki-laki itu, lantas dia memberikan jabatan yang tinggi sebagai penebus kesalahannya.
"Terimakasih, Natalie."
__ADS_1
***
"Nat, tolong ambilkan berkas-berkas ku di ruangan pribadiku ya!" perintah Erick pada Natalie.
"Memangnya aku boleh masuk ke ruangan pribadi kamu itu?"
Selain memiliki ruangan sendiri sebagai seorang CEO, Erick juga memiliki ruangan khusus yang biasanya dia pakai untuk pertemuan dengan orang-orang rahasianya. Ruangan itu terhubung dengan ruangan kerja pribadi Erick. Ada pintu dan lift khusus untuk menuju ke sana.
"Boleh. Apa sih yang nggak buat kamu?"
Natalie tersenyum mendengar jawaban itu.
"Ya sudah, di lantai 15 kan?"
"Iya, cantik," sahut Erick terdengar menggoda.
Natalie pun langsung membuka pintu ruangan Erick lalu mulai menekan pintu lift menuju ruangan rahasia itu.
***
Brak
Nicholas yang baru sampai di rumahnya itu langsung membuka pintu utama rumahnya dengan tergesa-gesa.
"Suara apa itu?" Helena yang mendengar suara itu langsung keluar dari dapur. Dia mendapati Nicholas naik ke atas tangga dengan tergesa-gesa. Langkahnya terdengar sangat terburu-buru, dan wajahnya terlihat sangat panik.
"Natalie." Nicholas memanggilnya saat membuka pintu, namun tak ada jawaban. Wanita itu tak bersuara. Di kamar juga tak ada siapa-siapa. "Dimana dia?"
Nicholas lantas keluar lagi dari kamar, dia menemukan Helena sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Tuan cari siapa?" tanya Helena.
"Dimana Natalie?"
"Oh, Nona ... dia sudah berangkat kerja tadi pagi Tuan."
"Kerja?" Nicholas mengulang kata itu. Natalie pergi kerja. Itu artinya saat ini Natalie sedang bersama Erick.
"Atau jangan-jangan...."
Tanpa pikir panjang, Nicholas langsung berlari menuruni anak tangga dengan langkah yang lebih cepat. Dia langsung menyambar kunci mobil yang ada di dalam laci. Kali ini bukan mobil yang biasa ia pakai untuk bekerja.
Mobil sport pribadinya yang jarang ia pakai itu menjadi pilihannya.
Sudah lama Nicholas 'tak menunjukkan kemampuannya dalam mengendarai mobil. Kali ini ia akan melakukannya kembali demi seorang wanita yang sangat ia cintai.
Brem, brem.
Bunyi mobilnya terdengar sangat kuat menggelegar di garasi. Nicholas langsung menginjak pedal gas nya tanpa aba-aba menuju kantor dimana Natalie bekerja.
"Awas saja kalau sampai Erick menyentuh Natalie, akan ku habisi dia."
__ADS_1
To be continued