Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Ending Part 9


__ADS_3

Setelah kurang lebih enam jam, akhirnya dokter keluar dari ruangan operasi.


"dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Tuan Jhonson. Natalie yang semula terlihat melamun itupun langsung beranjak dari kursinya untuk mendengar jawaban dari sang dokter, diikuti Selly dan Reynald yang membantu Merry berjalan dengan kursi rodanya.


"Iya, dok. Bagaimana keadaan Nicholas?" Reynald menyahutinya.


dokter itu terlihat murung. Sepertinya kabar kurang bagus akan diterimanya.


"dok, suami saya baik-baik saja kan?" suara Natalie bergetar kembali.


"Nat, tenanglah!" Selly berusaha menguatkan. Ia memeluk tubuhnya dari samping.


"Maafkan saya! ... tapi saya harus mengatakan yang sesungguhnya."


Suasana semakin tegang, tatkala dokter itu menjelaskan hasil sebenarnya.


dokter mulai menjelaskan .......


"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin, dok. Kau pasti bohong!!!" Natalie tak terima dengan jawaban dokter itu. Begitu juga dengan Merry, raganya yang terlalu rapuh kembali tergoncang saat mendengar jawaban dari sang dokter. Ia kembali pingsan.


"Nicholas, anakku." Merry jatuh pingsan.


"Bu Merry, bangun, Bu!" Reynald coba menyadarkan. Tapi sepertinya Merry benar-benar terguncang mendengar kenyataan pahit itu. Reynald segera meminta seorang perawat untuk membawa Merry. "Sayang, temani Bu Merry dengan perawat ini," titah Reynald pada Selly. "Mereka akan memberikan infusan untuknya!"


"I_iya." Selly pun segera bergegas mengekor di belakang perawat yang mendorong kursi roda Merry, sementara Natalie masih meronta tak percaya akan apa yang terjadi.


"Nicholas, bangun, Nic. Banguuun!!!" ratapnya pilu sambil menatap wajah Nicholas dibalik kaca jendela.


Flashback malam itu


Setelah selesai berdansa, Natalie dan Nicholas masih tetap berada di atas kapal untuk menikmati indahnya malam di kelilingi lautan lepas.


Nicholas membelai rambut wanitanya lembut, sambil sesekali bercanda tawa seakan tak pernah ada beban diantara mereka.


Malam semakin larut, Natalie yang mengantuk pun akhirnya tertidur dalam pangkuan Nicholas.


Melihat wanitanya tertidur, seutas senyum di bibir Nicholas terpancar. "Tidurlah istriku! ... mimpilah yang indah! hilangkan semua beban kepedihan mu bersamaku."


Tiba-tiba kepala Nicholas terasa berdenyut hebat sekali. Penglihatan matanya pun seakan berkunang-kunang.


Dia coba menghirup nafasnya dalam-dalam, mengulanginya beberapa kali agar sedikit menghilangkan rasa sakitnya.


Cara yang dilakukan rupanya lumayan berhasil, setidaknya rasa sakit itu sedikit berkurang meskipun tidak hilang sepenuhnya.


Dia kembali membelai rambut wanita yang ada dalam pelukannya, berpindah ke pipi lalu bibirnya.


"Siapakah nanti laki-laki beruntung yang akan mengisi hatimu, Nat? kuharap kelak kau akan mencintai laki-laki lain dan hidup bahagia bersamanya."


Melihat cukup pulas, Nicholas pun lantas membopong tubuh wanita dalam balutan gaun itu ala bridal. Ia masuk dan merebahkan tubuh wanitanya di atas kasur. Ia sempat memandangi wajahnya beberapa saat lamanya, bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Tuhan masih berbaik hati akan memberikan waktu lebih lama lagi untuknya.


Tapi sepertinya tidak, karena lagi-lagi rasa sakit di kepalanya datang, kali ini lebih mencengkram. Nicholas tak kuat lagi. Ia buru-buru ke toilet karena mual juga tiba-tiba menyerangnya.


Uekk


Dia menumpahkan cairan yang ada dalam perutnya. Matanya kembali berkunang-kunang, dan tubuhnya lemah seketika.


Tiba-tiba bayang-bayang kematian seolah melintas dibenaknya. Dan tanpa sengaja ia pun seakan melihat wajah adiknya, Lucia, tersenyum menatapnya.


"Kak, ayo! .. sudah waktunya Kakak untuk pulang!"


Suara Lucia, adik Nicholas yang sudah lebih dulu pergi mendahuluinya itu terasa nyaring ditelinga Nicholas.


Apakah ini benar-benar hari terakhirnya di dunia.

__ADS_1


"Kak, ayo!" Suara Lucia kembali terdengar memanggilnya. Buru-buru Nicholas mengusap wajahnya, dan bayangan itupun hilang seketika.


"Ini hanya mimpi." Dia berusaha meyakinkan hatinya bahwa ini hanyalah perasannya saja.


Dengan langkah yang terhuyung, Nicholas kembali ke kamarnya. Ia kemudian mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen di dalam meja. Entah kenapa ia ingin menulis sebuah surat.


Lantas ia duduk di kursi.


Surat itu rupanya akan ia berikan untuk dua wanita yang sangat ia cintai.


Merry dan tentunya Natalie.


Dengan rasa sakit yang terus mengusik, Nicholas menulis surat itu. Setelah selesai, Nicholas lantas melipat dua surat itu. Ia membungkusnya dengan amplop berwarna sama. Satu ia tulis 'Teruntuk wanita terhebatku, Ibu' dan 'Teruntuk wanita terindahku, Natalie."


Selesai menulis surat itu Nicholas keluar dari kamarnya.


Tak lama dia kembali, kemudian ia duduk di samping Natalie.


Beberapa menit lamanya ia terus menatap wajah wanita yang mungkin esok tak akan bisa ia tatap lagi.


Meskipun sejujurnya jauh di lubuk hati Nicholas sangat takut berpisah dengan Natalie, tapi sepertinya dia memang harus ikhlas menerima apapun keputusan Tuhan. Karena dia tahu ini pasti yang terbaik untuk mereka berdua.


Setelah jam menunjukkan pukul 00.00, Nicholas pun ikut terlelap di samping Natalie dengan posisi memeluknya.


"Tuhan, jika ini adalah kali terakhi aku memeluknya, izinkan aku untuk memberikan pelukan terhangatku untuk wanita yang paling kucintai ini. Dan satu pintaku, kelak pertemukan kami kembali di tempat terindah yang kau miliki."


Setelah  mengucap do'a Nicholas pun memejamkan matanya, dan rupanya benar, itu adalah untuk yang terakhir kalinya  Nicholas memejamkan matanya. Karena setelah esok paginya, Nicholas ditemukan sudah tak sadarkan diri lagi.


Matanya tertutup rapat dan tak bisa terbuka lagi.


dokter bahkan memperkirakan Nicholas tidak akan kembali lagi, karena penyakit yang menjalar di otaknya rupanya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, dan itu mengakibatkan Nicholas mengalami kelumpuhan total,baik otak maupun fisiknya. Itu artinya kecil harapan Nicholas untuk hidup lagi.


Flashback off


"Pa, Rey, katakan padaku ini hanya mimpi kan?" seolah meminta pembelaan, tapi kenyataan memang tak bisa dihindari. Nicholas saat ini hanya tinggal menunggu waktu itu, waktu dimana Nicholas benar-benar pergi untuk selamanya.


"Saya baru pertama kali menangani kasus seperti ini," ujar sang dokter, "sepertinya ada yang memberatkan Nicholas, karena dari kasus-kasus yang kami terima sebelumnya, pasien yang mengalami kelumpuhan total seperti ini biasaya sudah tidak akan bertahan lagi."


Mendengar kata-kata itu, tba-tiba Natalie teringat akan permintaannya malam itu bersama Nicholas. Permintaan sekaligus janji yang Nicholas buat. Janji untuk berada di samping Natalie sampai anak yang ada dalam kandungan Natalie terlahir ke dunia.


Flashback


"Aku janji, Nat. Aku akan bertahan sampai anak kita terlahir ke dunia ini. Aku janji, aku akan bertahan semampuku."


Flashback off


Air mata Natalie kembali tumpah, ia tak sanggup lagi.


"Apakah ini yang kau maksud bertahan untukku?" ucap Natalie sambil terisak.


Tak lama akhirnya ia jatuh pingsan juga.


"Natalie!!!" Reynald segera membopong tubuh Natalie membawanya agar segera ditangani perawat, sementara Tuan Jhonson yang sudah tak berdaya itu hanya bisa pasrah melihat kenyataan di depan matanya. Kenyataan bahwa anak yang ia besarkan dengan penuh cinta itu akan segera pergi meninggalkannya.


Tuan Jhonson yang sudah berusia lanjut nyatanya tak bisa berbuat banyak saat ini, karena tubuhnya lemah. Untung saja ada Reynald. Dia yang mengurus semua masalah Nicholas di sana, juga Natalie dan Merry.


Kini Tuan Jhonson sadar, kenapa waktu itu Nicholas bersikeras ingin mendonorkan darahnya untuk Reynald, ternyata Nicholas memang sangat berharap pada laki-laki itu untuk menjaga istrinya.


Flashback kala itu


Saat Reynald kehilangan banyak darah setelah tertembak Erick.


Golongan darah Reynald yang tergolong langka itu mengakibatkan ketidaktersediaannya stok di rumah sakit, sehingga mengharuskan mereka menunggu darah yang dikirim dari luar.

__ADS_1


"Nicho, kau tidak bisa melakukan ini!" Jhonson menolak keras saat dia diminta untuk menandatangani surat keterangan bahwa Nicholas bersedia mendonorkan darahnya dalam keadaan sakit parah itu.


"Pa, kita tidak punya banyak waktu lagi. Reynald harus selamat."


Rupanya Nicholas lah yang mendonorkannya.


"Tapi Nicho! dokter bilang ini sangat berbahaya untuk keadaanmu. Ini bisa membuat penyakitmu semakin parah."


"Papamu benar, Nicho. Kau tidak perlu melakukan ini. Ini sangat berbahaya untukmu," tutur sang dokter. Sebenarnya dari awal dokter juga menentang, tapi Nicholas tetap bersikeras ingin mendonorkan darahnya untuk renyald. Terlebih saat ia melihat raut wajah Selly yang begitu sangat takut kehilangan Reynald.


"Orang kami sedang di jalan membawa darah untuk Rey. Kita tunggu saja dulu!"


"Apa kau yakin orang suruhanmu itu akan datang tepat waktu?" tanya Nicholas.


dokter itu menunduk. Jika menurut jadwal perkiraan perawat itu tidak akan datang tepat waktu, karena keadaan Reynald sudah sangat kritis, dan harus segera mendapatkan penanganan, jika tidak, entahlah.


Melihat jawaban tanpa suara itu, akhirnya tekad Nicholas semakin bulat, ia akan tetap mendonorkan darahnya untuk menolong Rey. Apapun yang terjadi.


"Pa, cepat! ... tandatangani ini! kita tidak punya banyak waktu lagi."


"Nicho, kenapa kamu melakukan ini, Nak? kenapa kamu hanya memikirkan Rey? kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri. Kau juga perlu diperhatikan. Kau anakku, Papa juga tidak mau kamu kenapa-napa. kenapa kau egois sekali?"


Nicholas meletakkan surat itu di atas meja, lantas ia memegang kedua tangan ayah angkatnya itu.


"Pa, dengarkan aku baik-baik. Aku hanya akan bicara sekali karena kita tidak punya waktu banyak lagi."


Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam.


"Papa tahu kan, kalau penyakitku ini belum tentu bisa disembuhkan," ucap Nicholas dengan mata yang berkaca-kaca.


Begitu juga dengan Jhonson, ia pun tak kuasa untuk menahan air matanya.


"Lambat laun, cepat atau lambat, aku akan tetap pergi, dengan ataupun tanpa mendonorkan darahku untuk Reynald."


Nicholas semakin menggengam erat tangan Jhonson. "Sementara Reynald masih punya kesempatan hidup yang lebih lama dariku, Pa."


Hati Jhonson terasa teriris pedih mendengar kenyataan itu.


"Nicho mohon, Pa. Izinkan Nicho untuk menolong Rey. Setidaknya ini adalah bentuk rasa terimakasih Nicho karena selama ini Rey sudah banyak menolong Nicho dan Natalie."


"Lagipula, untuk sementara ini tidak ada satupun yang Nicho percaya untuk bisa menjaga Natalie juga keluarga kita selain Rey, Pa. Nicho butuh Rey. Dia harus tetap hidup untuk menjaga Natalie nanti jika Nicho akhirnya pergi, sampai ..." ucapan Nicholas terhenti. "sampai Natalie menemukan pengganti Nicho di kemudian hari."


Hati siapapun di sana pasti teriris mendengar dan melihat betapa besarnya rasa cinta Nicholas terhadap keluarga terutama ibu dan istrinya itu.


"Nicho mohon, mau ya, Pa!"


Dengan hati berkecamuk Jhonson pun akhirnya mau menandatangani surat pernyataan itu.


"Nicholas, anakku. Kelak kau akan mendapatkan balasan atas semua kebaikanmu, Nak." Jhonson pun lantas memeluknya setelah membubuhkan tanda tangannya di atas kertas.


Surat pernyataan jika Jhonson mengetahui dan menyetujui Nicholas untuk mendonorkan darahnya kepada Reynald tanpa paksaan siapapun, Dan adapaun jika dikemudian hari ditemukan efek samping berat akibat pendonoran itu, dokter beserta pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab, dan resiko itu sepenuhnya ditanggung oleh si pendonor, Nicholas Jhonson.


Setelah mendapatkan izin dari orang tua pendonor, dokter pun segera bergegas melakukan transfusi darah, dan akhirnya Reynald bisa selamat atas kebaikan hati seorang Nicholas. Laki-laki yang bertahun-tahun ia layani itu.


Nicholas memandang wajah Reynald.


Tiba-tiba terbayang di benak Nicholas saat pertama kali Reynald mengenalkan dirinya sebagai supir pribadinya. Nicholas tak pernah menyangkan jika akhirnya hubungan keduanya akan berakhir seindah ini.


Ditatapnya wajah Reynald yang masih terbaring lemah di sampingnya. "Rey, terimakasih atas semua kebaikanmu selama ini. Aku beruntung bisa mengenalmu. Semua ini kulakukan sebagai tanda terimakasih atas semua kebaikanmu. Dan satu hal lagi. Aku mohon! saat kau kembali sehat, Jagalah ibu, istri dan anakku, seperti kau menjagaku selama ini!"


**To be continued


Sampai bertemu di part Final**

__ADS_1


__ADS_2