Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Melepas burung dari sangkarnya


__ADS_3

"Sel, Papa senang sekali kamu mau ikut kembali dengan Papa sayang," ucap Mark sambil membelai rambut gadisnya di atas tempat tidur. Sementara seorang laki-laki yang khusus hari ini ditugaskan menjadi bodyguard pribadi Selli itu masih berdiri tegap di samping pintu.


"Rey, kemarilah!" panggil Mark. Reynald kemudian mendekat. "Duduklah!"


"Terimakasih, Tuan. Tapi saya di sini saja," tolak Reynald. Dia tidak mungkin dengan tidak sopannya, duduk di tempat tidur pribadi milik Tuannya itu.


"Tidak apa-apa." Mark menarik tangan Reynald sampai akhirnya Reynald terpaksa duduk di sampingnya.


"Maaf, Tuan. Apa yang ingin Tuan tanyakan?" Reynald merasa risih saat duduk di sebelah Mark, sementara Selli hanya diam menunggu pertanyaan apa yang akan terlontar dari bibir ayahnya.


"Rey ... sejak dari kemarin aku melihat kau sangat perhatian sekali pada putriku. Apa boleh aku tahu, sebenarnya apa maksud dan tujuanmu."


Ah, Reynald  kini paham kemana arah pembicaraan pemilik perusahaan Jhonson Company itu.


"Maafkan saya, Tuan, jika saya lancang. Saya hanya ..."


"Hust!!!" Mark memotong jawaban Reynlad.


"Aku tidak butuh permintaan maafmu, aku hanya membutuhkan jawaban kenapa kau begitu memeprhatikan anakku, apa kau menyukainya?"


Teg


Jantung Reynlad terasa berhenti berdertak saat pertanyaan itu terlontar.


Selli yang sedang tertidur dalam pangkuan ayahnya juga tak kalah terkejutnya saat sang ayah menanyakan hal yang sangat sensitif itu.


"Ayah," rengek Selli. "Kenapa ayah bertanya seperti itu?" protesnya. Selli jadi benar-benar malu.


Reynald gugup. Tangannya sudah berkeringat. Apa yang harus ia jawab? mungkinkah dia menyatakan perasaannya di depan orang tua wanita itu.


Tunggu!!!


Perasaan apa maksudnya?


Apa mungkin Reynald sudah benar-benar jatuh hati pada Selly?


Selly dan Reynald masih mematung bergelut dengan perasaannya masing-masing.


Tiba-tiba Mark menggengam tangan Reynlad, dan sontak saja Reynald langsung terperanjat.


"Jangan menunggu lama lagi! Selli sudah cukup umur untuk dijadikan seorang istri. Lagipula kan Mamahnya sudah tiada. Selli ini sangat butuh seseorang untuk membimbingnya, dan aku pikir orang yang tepat itu adalah kamu."


Sungguh, Reynald masih berpikir ini adalah mimpi. Seorang Mark Jhonson, meminta Reynald yang hanya seorang supir pribadi untuk menikahi putrinya.


"Maaf, Tuan. Tapi saya tidak bermaksud lancang. Saya ini hanya seorang sopir pribadi. Saya tidak pantas bersanding dengan putri Tuan."


"Selli," panggil Mark. Dia tidak menghiraukan jawaban Reynald, dia malah menanyakan pertanyaan yang sama pada putrinya. "Apa kau bersedia jika ayah menikahkanmu dengan Reynald?"


Setelah Reynald yang gugup, kini gantian Selli. Dia juga sama halnya dengan Reynald. Mereka baru bertemu beberapa kali. Dia pikir butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi kenapa ayahnya ini terkesan sangat buru-buru sekali.


"Diamnya Selli, ayah anggap jawabannya adalah 'Iya'." Mark lantas berdiri, membiarkan Selli dan Reynald berdua duduk di kasur menatapnya dengan tatapan heran. "Pernikahan kalian akan di gelar bulan depan. Ayah harap kalian secepatnya membuat list kebutuhan yang kalian butuhkan," ucap Mark seraya melipat lengan kemejanya sebatas siku. "Ayah akan meminta kenalan ayah untuk membantu persiapan pernikahan kalian supaya kalian tidak perlu repot-repot mengaturnya berdua."


Mark pun akhirnya benar-benar keluar dari kamar pribadi yang kini resmi menjadi kamar Selli itu, meninggalkan Reynald dan putrinya di sana.


Reynald menatap Selly.


Selly menatap Reynald.


Keduanya masih belum percaya kalau mereka akan menikah.


"Tunggu, ini pasti mimpi." Selly mencoba mencubi tangannya. "Awhh." Tapi sakit. Itu artinya ini tidak mimpi.


Reynald tertawa geli saat melihat tingkah laku Selly yang menurutnya menggemaskan.


"Kenapa?" tanya Reynald seraya menyodorkan wajahnya, mendekati wanita yang kini akan menjadi istrinya. "Kau pikir ini mimpi?"


Selly berusaha menahan nafasnya saat wajah Reynald sudah hampir tidak berjarak dengan wajahnya.


"Bersiaplah, sebentar lagi kedudukan kita akan berbalik." Tatapan mata Reynald begitu tajam ke arah netra Selly yang sedikit kecoklatan. "Bukan aku lagi yang akan melayanimu. Tapi kau yang harus melayani semua permintaanku."

__ADS_1


Teg


Denyut nadi Selly terasa berhenti mengalir saat Reynald berkata demikian. Apa maksudnya?


Melayani?


Dia pikir dia siapa?


Untuk apa Selly harus melayaninya?


"Hahaha." Reynald menarik diri dan tak bisa menahan gelak tawanya saat melihat perubahan wajah wanita di hadapannya. "Aku hanya bercanda. Tidak usah seserius itu." Gelak tawanya hampir mengisi seluruh ruangan itu.  "Ya sudah, istirahatlah! aku akan menunggumu di luar. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu."


***


Setelah membasuh badannya di bawah guyuran shower, Natalie pun mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Tapi seperitnya cara ini tidak begitu efisien. Hairdryer sepertinya akan lebih cepat, batinnya.


Tapi dimana dia menyimpan barang itu? Natalie lupa kapan terakhir kali dia menggunakannya karena perrasaan dia menyimpannya di dalam lemari.


Mungkinkah dia lupa, atau asisten rumah tangganya yang salah menyimpan saat merapikan kamar tidur.


Natalie pun membuka satu persatu laci di kamar itu.


Saat membuka laci di samping kasur, dia menemukan sebuah kertas terbungkus amplop rapi. Tulisan yang tertera di kop surat itu adalah 'Pengadilan Agama'


"Surat apa ini?" batinnya. Natalie yang  penasaran itu pun akhirnya membuka isi amplop itu. Beruntung amplop itu tidak tersegel, jadi Natalie bisa melipatnya kembali setelah membacanya tanpa Nicholas tahu kalau dia sudah membukanya.


***


"Saya tahu saya salah. Tapi saya janji, saya akan memperbaiki semuanya."


Nicholas masih terus berusaha merayu Laki-laki yang statusnya saat ini adalah mertuanya.


"Tidak bisa! pokoknya kau harus segera menceraikan Natalie apapun alasannya," tegas Thomas. "Saya tidak mau anak saya semakin tersiksa karena terlalu lama hidup dengan laki-laki yang tidak pernah mencintainya."


"Saya mencintainya."


"Bohong!!!" pekik Thomas. "Sudah jelas beberapa hari yang lalu kau bilang padaku bahwa kau menikahi Putriku hanya untuk membalaskan dendammu, kenapa sekarang malah tiba-tiba kau bilang kau sangat mencintainya?"


"Janji tetap janji. Kau harus segera memenuhinya." Thomas berdiri dari duduknya. Dia sudah tidak mau lagi mendengar alasan apapun dari menantunya itu. Sudah cukup selama ini dia membiarkan anak wanitanya itu tersiksa karena pernikahannya. Thomas tidak mau lagi Natalie tersiksa lebih dari sekarang ini.


"Tiga hari lagi! waktumu tidak lebih dari itu," ucap Thomas seraya melenggang pergi meninggalkan tempat pertemuannya dengan Nicholas.


"Arghhhh." Nicholas mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi dia ingin tetap mempertahankan hubungan rumah tangganya bersama Natalie, tapi di satu sisi dia juga sudah berjanji pada ayahnya untuk mengembalikan putrinya itu.


Lagipula, bukankah ini baik untuknya. Kalau dia menceraikan Natalie, itu artinya dia bisa fokus dengan pengobatannya.


"Tapi apa aku sanggup hidup tanpanya?"


Nicholas menjatuhkan kepalanya di atas meja. Beruntung ruangan itu adalah VIP room, jadi tidak ada yang melihat Nicholas menangis di sana.


Brakkk


Ia menggebrak meja di depannya, menumpahkan semua kesedihan yang selama ini ia pendam. Ia tersiksa sendirian, tanpa ada sandaran yang bisa membantunya sedikit meredakan kesedihannya.


"Arghhhh, KENAPA HARUS SESAKIT INI MENCINTAIMU, NATALIE!!!"


💦💦💦


Hal :


Gugatan Cerai


Kepada


Yth.


Ketua Pengadilan Agama XXX


di-tempat

__ADS_1


Kami yang


bertanda tangan di bawah ini :


(Biodata lengkap Nicholas Jhonson)


Dengan


hormat, Penggugat mengajukan gugatan cerai terhadap istri saya:


(Biodata lengkap Natalie Watson)


Selanjutnya


disebut sebagai Tergugat.


.......


.......


.......


Demikian


atas terkabulnya gugatan ini, Penggugat menyampaikan terima kasih.


Hormat


Penggugat,


Nicholas Jhonson


💦💦💦


Natalie terkulai lemas di atas kasur, saat selesai membaca isi surat itu.


Air matanya berderai tanpa permisi. Hatinya sudah remuk saking tak kuasanya menahan kenyataan pahit ini.


"Nicholas benar-benar akan menceraikanku."


***


"Hahahaha ... Rupanya sampai saat ini kau belum sadar juga kalau Nicholas tidak pernah mencintaimu sepenuhnya."


"Dan satu hal lagi! Cepat atau lambat Nicholas akan segera menceraikanmu saat dia sudah tidak membutuhkanmu lagi."


***


Ucapan Jennifer pun kembali terbayang-bayang di benaknya.


"Ternyata Jenni benar. Nicholas memang sudah menyiapkan semua surat-surat ini."


Mendengar ada langkah kaki, Natalie pun buru-buru melipat kembali surat tersebut. Dia merapikannya kembali dan memasukannya ke dalam laci. Menyeka air matanya, lalu menarik nafasnya dalam-dalam.


"Oke, fine. Ini akan baik-baik saja bukan?" Natalie berusaha menetralkan kembali dirinya. Tapi tidak bisa.



Air matanya kembali tumpah. Ia tak bisa membohongi perasaannya. Ia sakit hati.


"Nona, kau kenapa?" tanya Helena yang datang membawa segelas coklat hangat.


Helena datang dan sudah menemukan Natalie tengah menangis menutupi wajah dengan kedua tangannya di atas kasur.


Melihat Helena datang, buru-buru Natalie keluar dari kamar itu.


"Nona!" panggil Helena. Tapi wanita itu tak menghiraukan panggilan itu. Dia terus berlari. Kemanapun ia bisa menumpahkan rasa sakit di hatinya.


"Meskipun ribuan tahun aku mempersiapkan hari ini tiba, nyatanya melepaskan seseorang yang sangat kau cinta itu tak semudah melepas burung dari sangkarnya." Natalie Watson

__ADS_1


To be continued


__ADS_2