
"Bodoh sekali kau, Jennifer." Sentak seorang wanita dibalik telepon Jennifer, "kau fikir dengan membuat Natalie tahu jika Nicholas punya wanita lain itu akan membuat rencana kita berjalan mulus, hah?"
Jennifer menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara wanita itu benar-benar melengking, membuat gendang telinganya hampir pecah.
Apa tidak bisa bicara pelan-pelan?
"Bagaimana kalau sampai Natalie menggugat cerai Nicholas sebelum kita berhasil menghancurkan keluarganya?" Pertanyaan dari wanita itu kembali tak dijawab Jennifer. Dia tahu, kalau tindakannya itu memang salah. Mengirim foto sebagai bukti perselingkuhan Nicholas, sama saja membuat Natalie sakit hati, dan bisa saja membuat Natalie akhirnya ingin menyudahi pernikahan mereka.
Tapi Jennifer tak merasa menyesal telah melakukan hal itu, karena sejak awal dia ingin wanita bernama Natalie itu tak besar kepala karena bisa menikah dengan kekasihnya.
Lagipula, wanita yang kini memakinya tak pernah mengerti posisi Jennifer. Dia hanya melihat semua masalah ini dari sudut pandang dendam saja, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Jennifer.
Dia pikir aku tidak sakit hati?
Merelakan Nicholas menikah dengan wanita lain?
"Jennifer, apa kau mendengarkanku?" Pekik wanita itu kembali.
"Iya, aku mendengarkanmu." Jawab malas Jennifer.
"Kau kan tahu sendiri, sampai saat ini Nicholas belum menyentuh wanita itu. Bagaimana kita akan membuat wanita itu hancur?"
Wanita itu benar. Nicholas memang belum pernah menyentuh Natalie sampai saat ini. Jenifer pun tidak tahu, entah apa yang membuat Nicholas enggan melakukannya. Tapi satu hal yang Jennifer harapkan, Nicholas tidak menyentuhnya karena memang Nicholas tidak benar-benar mencintai wanita bernama Natalie itu.
Tapi, tunggu dulu!
Kalau satu-satunya cara untuk segera menyingkirkan Natalie adalah dengan membuatnya hamil dan membuat Nicholas meninggalkannya. Itu artinya, Jennifer juga harus membuat rencana agar Nicholas bisa menyentuh Natalie.
Tidak, ini gila.
Jennifer tidak ikhlas Natalie menyentuh Nicholas sebelum dirinya.
Tapi bagaimana?
Kalau Nicholas tidak juga melakukan itu, itu artinya akan semakin lama juga Natalie ada di kehidupan Nicholas. Jennifer juga tidak suka itu. Jennifer takut, jika semakin lama mereka bersama, akan ada tumbuh cinta nantinya.
Tidak, aku tidak mau ini terjadi.
"Jennifer." Panggil wanita itu lagi.
"Iya, aku salah. Maafkan aku." Ucap Jennifer pada wanita yang masih menunggu respon dibalik teleponnya.
"Yasudah, kau urus lah Nicholas dengan wanita itu. Kali ini jangan sampai ceroboh lagi. Ingat itu!"
"Ya, baiklah."
Tut .. Tut..
Sambungan ponsel terputus.
__ADS_1
Jennifer membanting ponselnya ke lantai kamarnya, kesal. Wanita itu selalu saja bertingkah sesuka hati.
Kalau saja bukan karena Nicholas dan hartanya, Jennifer tak akan mau melakukan perintah wanita gila itu.
"Kau lihat saja nanti, aku akan menyingkirkan Natalie dengan caraku sendiri."
Jennifer melipat tangan di dadanya.
"Aku tidak akan membiarkan Natalie menyentuh Nicholas. Dia hanya milikku."
Jennifer menahan amarahnya yang hampir membludak, namun sedetik kemudian terlihat senyum miring di bibirnya. Pikiran jahat melintas di otaknya.
Tiba-tiba saja muncul rencana gila yang akan ia lakukan agar Natalie cepat pergi dari kehidupan Nicholas tanpa harus membiarkan mereka bersentuhan.
"Jenius, Jennifer. Kau sangat jenius."
***
Setelah menaruh beberapa pakaian di dalam lemari lamanya, Natalie merebahkan tubuhnya di atas kasur yang dulu selalu menemani malamnya.
Ternyata disini lebih menenangkan, dibandingkan di rumah mewah itu.
"Kak," Neva yang masuk tanpa permisi itu mengejutkan Natalie.
"Neva ... kau benar-benar mengejutkan ku!" omel Natalie yang diakhiri dengan mencubit gemas pipi adiknya. "Kenapa? kau sepertinya ingin mengatakan sesuatu." Natalie berjongkok untuk menyetarakan tinggi tubuhnya.
"Ada yang mencari mu!"
Siapa?
Aku bahkan baru saja sampai.
Kenapa dia tahu kalau aku di sini.
Belum selesai Natalie menanyakan siapa yang datang mencarinya, seorang laki-laki dengan setelan stylish berdiri di depan pintu kamarnya.
"Nicholas." Cicit Natalie, dia mengubah posisinya menjadi berdiri. Kenapa laki-laki itu langsung mencarinya, dia kira Nicholas tak peduli lagi padanya.
Neva yang melihat tatapan kedua orang di sekitarnya berbeda, langsung berlari keluar, membuat Nicholas merasa diberikan kesempatan.
Natalie masih diam dan mematung. Tiba-tiba setetes air matanya jatuh begitu saja. Melihat wajah Nicholas membuatnya kembali teringat kejadian foto semalam.
Natalie langsung membalikkan badannya, berniat pergi saat Nicholas berjalan mendekat ke arah Natalie. Namun tangan Nicholas segera menarik lengan Natalie.
"Lepas, Nic!" Pinta Natalie dengan mata yang terbakar amarah.
"Aku tidak akan melepas mu sebelum kamu mau mendengarkan semua penjelasan dariku." Nicholas menarik tubuh Natalie dan memeluknya.
"Apa lagi yang mau kamu jelasin? udah jelas-jelas kamu pergi dan tidur dengan wanita lain." Natalie menangis dalam pelukan Nicholas. "Kenapa, Nic? ... kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku?" Natalie memukul dada Nicholas berkali-kali. Berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
Nicholas membiarkan wanitanya mengeluarkan semua amarahnya.
"Kalau kamu sibuk dengan urusan pekerjaan mu, aku akan selalu berusaha buat ngerti itu ... tapi kalau kamu ... " Ucapan Natalie terjeda, Natalie merasa sesak di dadanya. Dia tak sanggup lagi berbicara.
"Katakanlah! ... katakan semua yang ingin kau katakan padaku!" Nicholas mengeratkan pelukannya. "Keluarkan semua isi hati mu!"
Natalie menarik nafasnya dalam-dalam. "Kalau kamu bermain hati dengan wanita lain, aku gak bisa, Nic. A_ku gak bi_sa."
Bukannya terus berusaha melepaskan dirinya, Natalie malah menangis dalam pelukan laki-laki itu. Tak dapat Natalie pungkiri, pelukan Nicholas adalah tempat ternyaman baginya.
"Udah, puas nangisnya? ... udah puas marahnya?" Nicholas melepaskan pelukannya, dia memegang kedua pipi wanitanya. "Sekarang aku mohon, dengarkan aku!" Nicholas berusaha menaikkan dagu Natalie agar mata wanita itu mau melihat kesungguhan permintaan maafnya.
"Aku bisa jelasin semuanya! tapi bukan disini. Aku gak mau, Ayah dan Ibu kamu tahu masalah kita." Nicholas mengusap lembut air mata Natalie. "Selesai makan nanti, kita pulang ya ... aku akan jelasin semuanya sama kamu."
"Gak bisa. Aku mau nginep disini." Natalie menundukkan kepalanya.
"Nat, please!"
Natalie masih menunduk dan terisak menahan tangisannya.
"Nat, lihat aku!" Nicholas kembali menarik dagu wanitanya, membuat Natalie mau tak mau akhirnya menatap mata laki-laki itu.
"Yah, aku mohon!" Ucap Nicholas penuh kesungguhan.
Melihat kesungguhan dari mata Nicholas, Natalie sedikit mereda.
Tak lama kemudian
Cup
Mata Natalie terpejam saat satu kecupan mendarat di bibirnya dengan begitu hangat. Kali ini Natalie kalah lagi. Dia benar-benar tak bisa menghindari rasa cintanya yang begitu dalam pada laki-laki dihadapannya saat ini.
Natalie mengangguk, lalu memeluk Nicholas penuh haru.
Nicholas tak meninggalkan momentum ini. Dia langsung membalas pelukan wanitanya dan kembali memberikan kecupan hangat di puncak kepala Natalie.
"Maafin aku ya!" Ucap Nicholas kembali, "yasudah, sekarang kita ke depan dulu! Ibu sama ayah kamu udah nunggu buat makan siang."
Natalie kembali mengangguk dalam pelukan Nicholas, yang sedetik kemudian dia melepaskannya.
"Udah ya, jangan nangis lagi! jelek tau." Nicholas mengusap air mata Natalie.
"Gara-gara kamu sih." Omel Natalie sambil ikut mengusap air matanya. Ia juga tak mau orang tuanya tahu, kalau rumah tangga mereka sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Yaudah iya iya, aku salah ... kan aku udah minta maaf." Ucap manja Nicholas yang mengikuti langkah kaki Natalie keluar kamarnya.
Memilih tak menjawab, Natalie hanya tersenyum dan berlalu begitu saja meninggalkan Nicholas yang berjalan mengikutinya.
Melihat Natalie tersenyum begitu tulusnya, langkah kaki Nicholas terhenti tepat di depan pintu kamar wanitanya itu.
__ADS_1
Senyuman mu, membuat ku semakin merasa bersalah Natalie. Maafkan aku!