
"Iya, Bu. Nanti coba Natalie bicarakan dengannya."
Natalie menutup teleponnya setelah mengakhiri panggilan dari Ibunya.
"Huftttt." Menghembuskan nafasnya malas. Rasanya masalah dalam keluarganya itu tak pernah selesai.
"Kenapa, Nat?" Tanya Eliza yang melihat perubahan wajah Natalie.
"Ibuku, Liz. Dia barusan bilang kalau usaha laundry mereka terpaksa tutup."
"Hah, serius?"
Eliza begitu terkejut. Sampai suaranya itu terdengar sangat nyaring dan membuat orang-orang yang tengah fokus bekerja jadi memandang mereka penuh pertanyaan, termasuk Kevin.
"Astaga, Liz. Pelankan sedikit suaramu!" Natalie menutup mulut Eliza spontan saja.
"Sorry," ucap Eliza dengan menunjukkan gigi putihnya, "aku turut prihatin atas perkara yang menimpa keluargamu." Lanjutnya.
"Thanks, Liz."
Setelah Eliza kembali pada pekerjaannya, Natalie pun kembali pada pikirannya.
Apa iya aku harus melakukan ini?
Meminta Nicholas untuk meminjamkan modal pada ayah dan ibu.
Kenapa rasanya aku sangat gengsi sekali.
Beberapa jam yang lalu
"*Tolong katakan pada suamimu itu! ibu dan ayah pinjam uang untuk modal usaha baru." Kata Nadia.
"Usaha baru? emangnya laundry beneran udah tutup." Tanya Natalie.
"Iya, menurutmu? lagipula kau pikir ayahmu itu bisa apa? mengelola usaha laundry saja tidak bisa." Jawab Nadia ketus. Wanita itu memang sejak lama sudah jarang sekali menghargai keberadaan suaminya. Padahal dulu Nadia yang lebih dulu mengejar cinta Thomas. Sampai ia rela melakukan jalan pintas untuk mendapatkan hati laki-laki yang saat muda itu menjadi idaman kampus.
"Bu, jangan begitu! biar bagaimanapun ayah udah berusaha untuk keluarga selama ini." Natalie coba menjelaskan bahwa sikap Nadia itu tidak baik. Namun bukannya mendengarkan, Nadia malah memotong pembicaraan anaknya.
"Arghh, sudahlah, lupakan masalah ayahmu! ... Katakan saja pada suamimu itu yang tadi ibu bilang! ibu tunggu kabar baiknya."
""Yasudah, aku akan coba bicarakan dengannya*."
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Suara Nicholas mengejutkan Natalie yang tengah melamun. Melamunkan permintaan ibunya beberapa jam yang lalu. Mereka saat ini sudah dalam perjalanan menuju pulang. Sesuai perintah Nicholas keduanya untuk pertama kalinya pulang kerja bersama.
"Ah, tidak." Jawab Natalie seperlunya. Kemudian dia menatap wajah Nicholas dengan penuh tanda tanya dan keraguan. Iya, haruskah ia benar-benar melakukan ini? sementara dia sedang dalam keadaan marah pada laki-laki itu.
Arghh, kenapa aku harus ada di posisi ini sih?
Nicholas kembali mengernyitkan keningnya. Melihat tingkah laku Natalie yang aneh.
Oke. Aku tidak boleh egois!
Ini demi ayah dan ibu.
__ADS_1
Natalie menarik nafasnya dalam-dalam. Dia harus mengesampingkan egonya demi sang keluarga tercinta.
"Nic, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Natalie dengan nada pelan. Resah dan gelisah, itulah yang saat ini ia rasakan.
"Iya, katakan saja!" Jawab Nicholas sambil menatap wajah Natalie.
"Aku_" Suara Natalie tertahan. Memikirkannya saja sudah malu setengah mati. Apa ia dia akan meminjam uang pada laki-laki yang sedang ia benci.
"Aku mau pinjam uang sama kamu." Ucap Natalie dengan ragu.
Oke, Natalie. Gpp, ini demi keluargamu.
Nicholas mengernyitkan keningnya. "Untuk apa?"
"Ayah dan Ibu perlu modal untuk usaha barunya. Jadi_"
"Oh, itu. Oke. Kau butuh berapa? katakan saja!" Potong Nicholas.
Natalie menatap heran wajah Nicholas yang dengan begitu mudahnya mengatakan oke. Padahal ia belum sempat menjelaskan secara detail nya.
Mungkin uang memang bukan hal yang besar baginya.
Sementara Natalie menerawang jauh, Nicholas tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya karena akhirnya rencana ia untuk menghancurkan keluarga itu semakin menunjukkan kemajuan. Ini saatnya untuk masuk ke rencana berikutnya.
"Terimakasih."
Natalie kembali menundukkan kepalanya. Sungguh rasanya ia tidak punya urat malu lagi di depan laki-laki itu. Padahal ia sedang marah, tapi ia harus menurunkan egonya demi memohon untuk urusan uang padanya.
Aku benar-benar malu sekali.
Drttt ... drtt ...
"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Natalie yang melihat Nicholas hanya menatap layarnya sebentarlalu memasukannya kembali ke dalam kantong celananya.
"Tidak terlalu penting," Jawabnya datar, "kita sudah sampai. Ayo turun!"
Natalie melihat ke arah jendela. Rupanya apa yang dikatakan Nicholas benar. Mereka sudah sampai di rumahnya. Mungkin Natalie terlalu fokus dengan perasaannya sampai tidak sadar akan hal itu.
"Ah, iya." Jawab Natalie lalu menurunkan kakinya saat Reynald membukakan pintu untuknya.
Baru saja langkah kaki Natalie sampai di depan pintu gerbang, ponselnya berdering.
"Ibu lagi?" Cicit Natalie.
Sedikit melirik ke arah Nicholas yang sudah terlebih dulu masuk dibandingkan dengan dia, Natalie memanfaatkannya agar bisa mengangkat telepon dari Ibunya itu.
"Halo." Ucap Natalie.
"Neva ... kamu kenapa sayang?"
Ternyata bukan ibu Natalie, melainkan adik bungsu yang masih duduk di bangku SMP itu menangis di balik teleponnya, dia mengadu sesuatu pada kakaknya itu.
"Yasudah, bilang sama Ayah! kaka transfer uangnya sekarang yah!"
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Natalie segera mengejar Nicholas yang sudah sampai ke dalam kamar Sepertinya.
__ADS_1
"Nic, tunggu!" Cegah Natalie saat melihat Nicholas hendak masuk ke dalam kamar mandi.
Natalie hampir saja telat. Lima detik saja dia datang terlambat. Dia harus menunggu sekitar 1 jam Nicholas mandi dan berendam.
"Kenapa kamu lari-lari?"
Natalie berusaha mengatur nafasnya.
Tenang Natalie, tenang!
"Nic, aku ...."
Lagi-lagi ucapannya terhenti. Natalie mendadak tak enak hati dan merasa tak tahu diri saat harus meminta uang pinjamnya saat itu juga.
"Cepat katakanlah! aku gerah, mau mandi."
"Aku butuh uang itu sekarang juga!" Ucap Natalie sambil terus merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.
"Kau tidak bisa lihat aku baru saja mau mandi. Dan kau menahannya hanya karena uang itu." Jelas Nicholas.
Natalie sadar ia terlalu lancang. Tapi mau bagaimana lagi, keadaannya sangat darurat. Ibu dan Ayahnya akan di usir rentenir jika tak bisa membayar hutang-hutangnya saat itu juga.
"Tapi, Nic."
"Tunggu aku setelah selesai aku mandi." Ucap Nicholas seraya masuk ke dalam kamar mandinya.
"Ya, Tuhan. Kenapa harus seperti ini sih?"
Natalie memejamkan matanya erat sambil membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarganya jika sampai mereka benar-benar di usir dari rumah yang sudah mereka tinggali sejak puluhan tahun yang lalu.
Sabar, Nat. Sabar!
Natalie kembali menyemangati dirinya sendiri, sambil berjalan mondar mandir di depan pintu kamar mandi Nicholas. Menunggu laki-laki itu segera keluar dari kamar mandinya.
Sudah satu jam lebih 10 menit dia menunggu Nicholas keluar. Namun tak ada sedikit tanda-tanda bahwa ia akan segera keluar dari kamar mandi itu. Malah bunyi percikan air yang turun dari shower itu malah semakin terdengar lebih keras.
"Ya ampun, dia mandi atau lagi ngapain sih?" cicit Natalie sambil menggigit bibir bawahnya berkali-kali.
Sementara menunggu, beberapa pesan masuk dari adiknya itu kembali datang.
Ibu : Kak, kakak masih lama gak transfernya? rentenir itu udah berani mukul ayah. Neva takut.
Setetes air mata Natalie tiba-tiba luruh. Dia tidak bisa membayangkan apa yang saat ini terjadi dengan keluarganya jauh di sana.
Mendengarnya saja hati Natalie sudah sakit. Apalagi jika ia melihatnya langsung seperti Neva. Mungkin dia juga akan sama seperti keadaan Neva saat ini.
Natalie to Ibu :
Sabar ya sayang! Kakak lagi nunggu suami kakak ambil uangnya. Sabar ya! bilang sama ayah dan ibu, sebentar lagi.
Natalie kembali menyeka air matanya. Dia merasa jadi anak yang tidak berguna karena membiarkan keluarganya terlantar begitu saja tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sementara Natalie bergelut dengan rasa takutnya, seorang laki-laki di dalam kamar mandi tengah asyik berendam di dalam bathtub sambil memejamkan matanya.
"Kau pikir aku akan membiarkan drama terbaik tahun ini berakhir dengan konflik yang biasa saja?" Ucapnya, "tidak akan!" lanjutnya dengan menunjukkan senyum smirk Nya.
__ADS_1
Natalie berjalan mendekati pintu kamar mandi berniat mengetuknya. Namun entah kenapa tangannya begitu lemah dan merasa tak sanggup. Ia akhirnya kembali menurunkan tangannya.
"Ayolah, Nic. Aku mohon!"