Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Ada apa dengan Nicholas?


__ADS_3

"Nat, aku mau bicara serius sama kamu."


Natalie terdiam saat ice cream itu sudah sebagian masuk ke dalam mulutnya.


Hari ini tepat dua bulan hubungannya dengan Nicholas berjalan. Dan hari ini Nicholas mengajak Natalie untuk makan ice cream di tempat langganannya.


"Mau bicara apa, Nic? katakan saja!" Natalie kembali menikmati ice cream ditangannya, tanpa menatap wajah Nicholas yang sudah sangat serius dihadapannya.


"Bulan depan aku mau kita tunangan."


Uhuk-uhuk


Natalie hampir saja menyemburkan ice cream ke wajah Nicholas kalau saja Nicholas tak menyingkirkan wajahnya ke samping kanan.


"Maaf-maaf. Maafin aku, Nic. Aku gak sengaja." Natalie terlihat panik, namun rasa bahagia dalam hatinya tak kalah dahsyat ketika mendengar pertanyaan itu keluar dengan lantangnya dari mulut Nicholas. Laki-laki sempurna, CEO dari Jhonson Company.


Nicholas mengambil tissue dari kotaknya lalu mengelap sedikit percikan ice cream yang menempel di lengan kemejanya.


"Kamu serius, Nic?" Natalie menatap wajah Nicholas tak percaya. Dua bulan hubungannya saja sampai saat ini masih belum Natalie percayai. Sekarang kejutan apalagi dari Tuhan? Nicholas akan melamarnya dan sebentar lagi Natalie akan menjadi seorang istri dari pemilik perusahaan bergengsi ini.


"Apa pernah aku main-main dengan ucapan ku?"


Natalie menggelengkan kepalanya. Selama dia mengenal Nicholas, laki-laki itu memang sangat tegas dan tidak pernah main-main dengan ucapannya.


"Syukurlah kalau kamu percaya. Kalau begitu katakan pada orang tuamu! aku akan datang bulan depan." ujar Nicholas lalu menyambar ponsel miliknya. "Aku pergi dulu, ada client yang mengajak meeting mendadak. Kamu bisa pulang dengan Reynald."


Melihat Nicholas pergi meninggalkan restaurant itu, Natalie langsung menyambar tas miliknya lalu mengekor di belakangnya, meskipun sebenarnya dia belum puas menghabiskan ice cream yang harganya mahal-mahal itu di atas mejanya.


"Kalau Reynald mengantarkan aku pulang, lalu bagaimana denganmu?" tanya Natalie yang terus berusaha berjalan di belakang kekasihnya.


Nicholas menghentikan langkah kakinya saat melihat kekasihnya itu sedikit kewalahan menyeimbangi langkah kakinya.


"Aku bisa naik taksi, Nat. Kamu pulang yah!" Nicholas mengacak-acak rambut panjang Natalie.


Natalie tersenyum melihat kepergian Nicholas dari balik punggungnya. Entah apa yang bisa melukiskan perasaannya saat ini. Dia sangat bahagia dan beruntung bisa memiliki laki-laki sempurna seperti Nicholas. Yang tampan, kaya, sangat baik dan perhatian seperti sekarang ini. Bahkan seorang CEO seperti dia rela naik taksi dan membiarkan supir pribadinya mengantar Natalie, hanya demi wanitanya itu bisa pulang dengan selamat.


Natalie tersenyum miring. Saat ini Natalie sangat merindukan kehangatan itu. Kasih sayang yang dulu selalu ia dapatkan dari Nicholas kini entah kemana perginya, menghilang bahkan nyaris tak bersisa. Pernikahan yang seharusnya menjadikan hubungan mereka lebih lekat malah membuat mereka terasa jauh sekali saat ini. Natalie merasa hanya raga Nicholas yang bersamanya, sedangkan jiwanya tidak.


Natalie berharap ini hanya sekedar angin lalu yang akan segera kembali tenang dan damai seperti dulu.


"Nat .. are u okay?" Eliza membuyarkan lamunan Natalie.


"Hmppp, ASTAGA .." Natalie terkejut ketika melihat berkas-berkasnya penuh dengan coretan. "Ya ampun, apa yang udah aku lakuin?" dia memegangi kepalanya. Laporan bulanan yang seharusnya diserahkan hari ini pada Kevin itu jadi tak berbentuk lagi.


"Liz, gimana ini? bisa mati aku sama Kevin. Dia pasti ngamuk-ngamuk kalo tau laporannya di coret-coret."


Eliza menatap ngeri wajah sahabatnya. Dia tidak bisa memberikan solusi apapun karena dia juga tidak berani jika berhadapan dengan Kevin jika sedang emosi.


"Sorry, Nat. Aku gak bisa kalo untuk yang itu." Ucap Eliza lalu berjalan mundur kembali ke kursinya, sementara Natalie menenggelamkan wajahnya di atas meja kerjanya. "Aduh, **** dasar ****." rutuknya.


Tak lama kemudian seorang laki-laki tampan memarkirkan motor sport nya di area parkir khusus karyawan Jhonson Company itu.


Pagi ini Kevin kembali membawa motor sport merah Nya ke kantor. Takut jika Natalie kembali dikecewakan suaminya, setidaknya Kevin ada untuk wanita itu meskipun hanya sekedar mengajak makan ice cream lagi dan menemaninya ke toko buku.


"Pagi, Pak Kevin." sapa seorang receptionist yang ditaksir usianya saat ini sekitar 25 tahun itu.


Kevin hanya membalasnya dengan senyuman yang tak bertahan lama. Receptionist itu tak heran dan kecewa dengan sikap dingin Kevin. Karena mendapat sedikit balasan senyum saja dia sudah sangat bahagia. Pasalnya Kevin jarang sekali tersenyum apalagi tertawa.


"Centil banget sih tuh receptionist." Cibir Eliza yang baru saja kembali dari ruangan HRD yang berada di lantai dasar itu. Dia berjalan tepat mengekor di belakang Kevin, tanpa sepengetahuan Kevin.


"Eh, Liz. Kamu abis dari mana?"

__ADS_1


Eliza yang masih merutuki receptionist itu dikejutkan ketika Kevin tiba-tiba berhenti di hadapannya.


"Eh, aku - aku - aku abis dari ruangan HRD." Eliza tampak jelas sangat gugup. "Iya aku abis dari ruangan HRD, tadi ada berkas Pak Nicholas yang harus aku antar untuk mereka."


Kevin menyipitkan matanya ketika mendengar Eliza menyebut nama Nicholas. Entah kenapa sekarang Kevin jadi sensitif setiap mendengar nama laki-laki itu.


"Dimana Natalie?"


Lagi-lagi Kevin mulai khawatir dengan gadis yang sudah memiliki suami itu. Eliza sebenarnya kesal karena Kevin selalu saja perhatian pada sahabatnya itu. Sebenarnya bukan cemburu, karena Eliza tahu jika Natalie tidak mencintai Kevin. Lagipula Natalie sudah menikah, mana mungkin Eliza cemburu padanya. Tapi tetap saja, dia sedih karena Kevin tidak pernah memberikan perhatian yang sama padanya, seperti Kevin memberikan perhatian pada Natalie.


"Ada, di ruangan." Jawab Eliza malas, lantas dia pergi meninggalkan Kevin membuat Kevin sedikit bingung dengan tingkah anak itu.


---***---***---


"Pokoknya malam ini aku mau kamu temenin aku! TITIK."


Suara Kim Jennifer terdengar nyaring dibalik ponsel Nicholas.


"Iya, iya. Nanti aku usahakan yah! tapi aku gak bisa janji, soalnya dokter bilang kalo beberapa hari ini keadaan Ibuku kurang baik." Nicholas memijit pelipisnya yang terasa pusing. "Iya, iya. Nanti aku usahakan yah!"


Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Sekretaris Kim Jennifer itu, Nicholas berdiri dan menatap ujung rambut sampai ujung kakinya di depan cermin.


"Kamu harus membalas semua perbuatan mu." cicitnya dalam hati.


---***---***---


"Nat, kamu lagi ngapain?"


Natalie langsung gelagapan saat orang yang ditakutinya saat ini tiba-tiba datang di depan wajahnya.


"A-aku." Natalie terbata-bata. "Aku lagi benerin revisian, iya. Revisian laporan." Natalie terlihat sangat gugup.


"Revisian laporan?" Kevin merasa ada yang aneh. Setau dia laporan bulan ini sudah selesai dan tinggal di jilid saja. Lantas kenapa Natalie masih mau merevisinya.


"Vin, aku ke belakang dulu ya. Mau bikin kopi."


Kevin mencegah tangan Natalie saat hendak pergi, membuat Natalie bergidik ngeri. Takut jika Kevin benar-benar mencurigainya. Tapi ternyata bukan itu, Kevin hanya memberinya sebuah kotak makanan.


"Nih, buat kamu." Kevin menyodorkan sebuah kotak makanan berbentuk Minnie mouse yang lucu.


"Apa ini?" Natalie begitu penasaran dengan isi dari kotak makanan itu.


"Buka saja! itu dari Keisha untukmu."


"Keisha?" Natalie begitu terkejut mendengar Keisha yang memberikan itu untuknya. "Keisha memberikan ini untukku?" ulangnya sekali lagi, karena tak percaya.


"Iya," jawab Kevin singkat lalu membuka laptop di atas meja kerjanya.


Natalie masih belum percaya jika gadis kecil yang selalu diam dan tak banyak bicara itu membuatkannya sarapan pagi ini. Keisha membuatkannya nasi goreng sosis dengan telur mata sapi di atasnya. Ini sebuah keajaiban.


"Makasih ya, Nat." Ucap Kevin tanpa menatap si lawan bicaranya, "berkat kamu, sekarang Keisha lebih baik."


Natalie berjalan mendekat ke arah Kevin. Refleks dia memegang tangan Kevin. "Aku akan selalu ada buat kalian. Jangan sungkan-sungkan jika butuh bantuan." Ucapnya dengan senyum yang sangat hangat. Dan itu yang selalu membuat Kevin tak bisa melupakan Natalie walau kini dia sudah berstatus sebagai istri orang lain. "Aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku sendiri." lanjut Natalie seraya melepaskan tangannya dari Kevin.


"Ah, iya. Terimakasih." Jawab Kevin dengan perasaan yang kembali gila. Merasakan dada yang berdebar pada wanita yang sudah resmi jadi milik orang. Ini sungguh gila, rutuknya.


"Kapan kamu akan mengajak Keisha ke dokter lagi? barangkali aku bisa ikut. Aku sudah sangat rindu padanya."


Kevin terlihat berpikir, "mungkin dua Minggu lagi. Soalnya dokter bilang kalau keadaannya semakin membaik, kami tidak harus terlalu sering datang ke sana."


"Oh, yasudah kalau gitu nanti kabarin aku saja!"

__ADS_1


"Hmpp," Balas Kevin singkat.


---***---***---


Di tempat yang berbeda, seorang laki-laki yang menggunakan kacamata hitam menurunkan kaca mobilnya tepat di depan sebuah pasar tradisional. Ban mobilnya kempes saat melintasi pasar itu, dan terpaksa di bongkar di tempat karena lumayan jauh jika harus ke bengkel resmi. Untung saja supir pribadinya, Reynald selalu sedia ban pengganti. Jadi tak butuh waktu lama untuk memperbaikinya.


Nicholas melihat hiruk pikuk dan lalu lalang orang yang sibuk berkeliaran di tengah teriknya matahari. Sebagian dari mereka sedang menjajakan dagangannya sambil berteriak-teriak menawarkan berbagai macam barang dagangannya. Sebagian lagi mungkin para asisten rumah tangga atau ibu-ibu yang sedang belanja untuk keperluan dapurnya.


Saat sedang asyik melihat pemandangan pasar. Nicholas tak sengaja menangkap pemandangan seorang ibu-ibu yang menggandeng anak laki-laki dengan sebelah tangannya lagi membawa sekeranjang belanjaan. Sedikit kesulitan sepertinya karena si anak terus merengek meminta si Ibu melepaskan tangannya.


"Nanti kita beli kalau ibu udah gajian ya, Nak." Ucap wanita paruh baya itu pada anaknya yang ditaksir berusia 8 tahun itu.


Anak kecil itu merengek. Sepertinya ada sesuatu yang dia inginkan dan si Ibunya tak mampu membelikannya.


"Tapi kapan, Bu? setiap ke pasar Ibu selalu berkata seperti itu."


Si Ibu terlihat menghentikan langkahnya. Sepertinya perkataan menohok dari anaknya tidak sepenuhnya salah.


Dia menurunkan belanjaannya, lalu berjongkok dan memegang kedua pipi putranya. "Udah jangan nangis lagi ya sayang. Ibu janji akan membelikannya untukmu."


Sang anak mengangguk dengan air mata yang berderai saat melihat ternyata mata Ibunya sudah basah dan hampir menitikkan air mata.


"Ibu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih." Ucap anak itu tulus lalu memeluk tubuh Ibunya. "Aku janji tidak akan merengek lagi untuk membeli mainan itu. Tapi kau juga harus berjanji padaku, kau tidak akan menangis."


Belum kering bibir anak laki-laki itu, Ibunya malah benar-benar menangis. Tapi itu bukan tangisan kesedihan. Itu tangisan kebahagiaan karena memiliki seorang anak yang dewasa sebelum waktunya itu.


"Iya sayang iya. Ibu janji tidak akan menangis." Ibu itu melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya, agar si anak tidak melihatnya. "Tapi Ibu tetap akan berjanji padamu, kalau Minggu depan tetangga kita sudah membayar gaji cuci gosok, ibu akan membelikan mainan itu untukmu."


Si anak terlihat sangat bahagia dan antusias mendengar ucapan Ibunya.


"Tuan, tuan." Reynald melambai-lambaikan tangannya di depan Nicholas, karena sejak tadi Reynald melihat Nicholas tersenyum-senyum sendiri.


"Tuan, apakah kita sudah bisa kembali melanjutkan perjalanan?" Tanya Reynald pada tuannya.


"Ah, iya." Jawab Nicholas.


Reynald mengangguk lalu berjalan untuk kembali masuk ke kursi kemudinya.


"Reynald, tunggu!"


Reynald terhenti saat tubuhnya baru masuk sebagian.


"Ada apa tuan?"


Reynald kembali menemui Nicholas, dan dia melihat Nicholas merogoh saku celananya lalu mengambil sekitar 20 lembar uang dari dompetnya dengan nominal tertinggi.


"Berikan ini pada Ibu dan anak itu."


Reynald mengikuti arah mata Nicholas pada seorang Ibu-ibu paruh baya yang sepertinya sedang menunggu angkutan umum.


"Baik tuan." Tanpa pikir panjang, Reynald langsung menerima uang dari Nicholas dan memberikannya pada orang yang dimaksud.


Nicholas membalas senyuman Ibu-ibu dan anak itu yang sepertinya mengucapkan banyak terima kasih padanya dari jarak jauh.


Nicholas tak bisa menahan haru dalam hatinya melihat pemandangan yang membuka kembali memori ingatan masa kelam Nya.


"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Reynald sedikit panik saat melihat Nicholas terlihat menitikkan air matanya.


"Ah, saya baik-baik saja. Kita lanjutkan perjalanan kita." Ucap Nicholas seraya menutup kaca mobilnya.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Reynald langsung kembali melajukan mobilnya meskipun dia masih bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Tuannya itu. Ini bukan kali pertama dia mendapati Nicholas menitikkan air matanya. Akhir-akhir ini bahkan Nicholas sering terlihat murung. Tapi tidak di depan orang banyak, apalagi di kantor. Karena Nicholas hanya terlihat murung ketika di dalam mobil bersamanya, seperti saat ini. Reynald bahkan dapat melihat dengan jelas dibalik kaca spionnya, Nicholas sedang berusaha menahan tangisannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nicholas?"


__ADS_2