Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Malaikat Kecil


__ADS_3

Thomas masih diam dan termenung di depan tubuh istrinya yang masih terbaring di atas tempat tidur. Iya, pasca kejadian penganiayaan yang menimpa Nadia itu memang Nadia belum sepenuhnya pulih. Ia masih memerlukan perawatan juga istirahat yang cukup.


"Aku tidak pernah menyangka jika kau akan hadir kembali dalam hidupku," batin Thomas. Dia tidak pernah menyangka jika orang tua dari menantunya itu adalah wanita yang dulu pernah ia tinggalkan. Andai saja Thomas menyadari keanehan sejak awal, mungkin kejadiannya tidak akan terjadi se-tragis ini.


Nadia mungkin tidak akan jadi korban Kelly, dan Kelly tidak akan pergi secepat ini.


"Semua ini salahku," batin Thomas.


Saat tengah mengusap-usap lembut tangan Nadia, wanita itu terbangun.


"Mpppp." Nadia tersadar dari tidurnya. Dia menggeliat sambil memegangi tangannya yang terasa masih sangat ngilu.


"Kau sudah bangun?" tanya Thomas. Nadia kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Thomas membantunya bersandar di senderan kasur.


"Terimakasih," ucap Nadia.


Sontak saja ucapan Nadia barusan membuat hati Thomas terenyuh.


'Terimakasih?'


Kata yang hampir tidak pernah Thomas dengar selama pernikahannya. Kali ini Nadia mengucapkannya, bahkan dengan sangat tulus Sepertinya. Apakah ini mimpi? batin Thomas.


"Nadia berterimakasih padaku?" batin Thomas terus bertanya-tanya, sampai akhirnya Nadia menyadari Thomas yang diam melamun itu mungkin karena ucapannya yang terdengar asing.


"Kenapa? aneh sekali ya?"


"Hah?" Thomas tersadar dari lamunannya. Dia kemudian membalas pertanyaan itu hanya dengan senyuman.


"Aku ...." Ucapan Nadia terjeda. Sepertinya ada rasa ragu dalam hatinya untuk mengucapkannya. Mungkinkah Nadia harus mengatakan ini sekarang. Setelah apa yang selama ini Nadia lakukan pada suaminya. "Akuuu, aku minta maaf."


Thomas makin tercengang. Tadi terimakasih, sekarang minta maaf, apalagi ini?


Rupanya Nadia baru menyesali perbuatannya selama ini setelah melihat begitu besarnya cinta wanita lain pada suaminya itu.


Tiba-tiba air mata Nadia turun. "Aku minta maaf karena selama ini telah menyia-nyiakanmu dan tak pernah menghargai kehadiranmu sebagai suamiku." Nadia terisak. Dia benci pada dirinya sendiri. Selama ini Nadia tidak pernah menghargai keberadaan Thomas sebagai suaminya. Nadia sering kali bertingkah kurang ajar dan tak menghormati status pernikahan mereka. "Seharusnya sejak awal aku sadar bahwa aku adalah wanita paling beruntung karena bisa mendapatkan Laki-laki yang tulus sepertimu ... seharusnya aku bangga karena bisa bersanding dan dicintai Laki-laki sepertimu. Di saat ada wanita lain yang mati-matian ingin mendapatkan cintamu, aku malah terus-menerus mengecewakanmu dengan perbuatanku."


Melihat Nadia terus meracau memaki dirinya sendiri, Thomas pun sontak saja memeluk wanita yang sudah menemani hidupnya selama berpuluh-puluh tahun ini.


"Jangan sepenuhnya menyalahkan dirimu sendiri! ... kau tidak sepenuhnya bersalah dalam kasus ini. Ini semua sudah terjadi atas kehendak Tuhan."


"Tapi aku sudah sangat keterlaluan selama ini."


"Tidak apa-apa." Thomas mengusap lembut rambut Nadia dengan penuh cinta. "Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Bukan hanya kamu, tapi aku dan manusia lainnya di muka bumi pun sama. Kita semua pernah khilaf dan egois, hanya mementingkan diri sendiri," tutur Thomas. "Yang penting, sekarang kita sama-sama berusaha memperbaiki apa yang kita rasa itu salah."


Nadia kemudian mengangguk-angguk dalam pelukan Thomas. Ia berjanji dalam hatinya bahwa ia 'tak akan lagi menyia-nyiakan Laki-laki yang begitu tulus menerima dirinya selama ini.

__ADS_1


"Terimakasih, aku janji. Aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu."


***


Natalie masih diam dan menunggu Nicholas keluar dari ruangan dokter. Natalie sedikit kesal karena ia tak diizinkan masuk.


"Menyebalkan," kesalnya. Kemudian ia pun memilih pergi ke kantin rumah sakit itu, untuk sekedar membeli minuman untuk sedikit melegakan rasa hausnya.


"Keadaan anda semakin memburuk, Tuan," ucap dokter pribadi Nicholas. "Saya sarankan sebaiknya anda segera melakukan tindakan untuk bisa menyembuhkan penyakit ini."


Nicholas terdiam. Sebenarnya dia juga ingin, tapi dia takut. Takut kalau keluarganya mengetahui apa yang terjadi dengannya. Terlebih Natalie. Nicholas tidak mau menambah beban pikiran wanita itu.


"Kira-kira berapa persentase kemungkinan saya bisa sembuh jika saya melakukan terapi itu?"


"Saya tidak bisa memastikan berapa tepatnya, tapi yang saya dengar rumah sakit itu sudah berhasil menyembuhkan hampir 75% pasiennya." dokter itu berdiri dan mengambil selembar kertas dari dalam lemarinya.


"Ini." Dia menunjukkan sebuah brosur rumah sakit besar yang ada di luar negeri. "Rumah sakit ini khusus menangani pasien kanker. Kebetulan rekan saya menjadi salah satu dokter spesialis di sana. Jika Tuan berkenan saya akan meminta beliau untuk menjadwalkan pertemuannya dengan, Tuan."


Nicholas kemudian membaca brosur berbentuk persegi itu dengan seksama.


Rumah sakit itu berada lumayan jauh juga dari tempat Nicholas berada. Terlebih dokter bilang pengobatannya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Paling sebentar mungkin dua sampai enam bulan. Mungkinkah Nicholas harus pergi ke sana dan meninggalkan semuanya yang ia miliki saat ini.


"Saya yakin, masih ada harapan jika Tuan mencobanya."


"Baiklah, akan ku pikirkan." Nicholas lantas melipat dan memasukan kertas tersebut ke dalam jas miliknya. "Kalau begitu saya permisi!"


Setelah berpamitan, Nicholas pun keluar dari ruangan itu, tapi dia tidak menemukan wanita yang ia suruh untuk menunggu di luar.


"Kemana dia?" batinnya. Tak jauh dari tempat Nicholas berdiri dia melihat wanita yang ia cari tengah asyik mengobrol dengan seorang ibu-ibu yang usianya sepertinya tak jauh dengan Natalie. Wanita itu tengah menggendong anak kecil yang sepertinya usianya baru beberapa hari. Masih merah sekali.


"Imut sekali ya bayinya." Natalie sepertinya gemas sekali melihatnya. Terlihat dia beberapa kali mencubit manja pipi bayi itu.


"Kau mau coba menggendongnya?" tanya Wanita itu. Dengan antusias Natalie pun menganggukkan kepalanya. Nicholas yang melihat sikap Natalie seperti itu tak kuasa untuk menahan garis senyumnya terukir.


"Sepertinya dia sangat menyukai anak kecil itu," batin Nicholas. Melihat Natalie begitu bahagia saat menggendong bayi, tiba-tiba mendadak hatinya sakit. Seharusnya dia dan Natalie melewati moment itu. Tapi sepertinya tidak akan. Nicholas dan Natalie tidak akan pernah merasakan hangatnya menjadi seorang ayah dan ibu. Keadaan tidak memungkinkan ini semua. Sekalipun suatu saat nanti Natalie benar-benar merasakan indahnya menjadi seorang ibu, itu bukan dengan Nicholas. Itu pasti dengan laki-laki lain.


"Wah, kau sangat telaten sekali sepertinya," puji Ibu bayi tersebut. "Lihat! dia langsung tertidur nyenyak saat kau menggendongnya."


Natalie menatap wajah bayi menggemaskan yang kini ada dalam pelukannya. Benar saja, bayi itu memang tertidur pulas. Ia tak menyangka jika ia memiliki bakat menjadi seorang ibu yang baik.


"Ah, dia sangat lucu sekali. Aku jadi ingin memilikinya." Lagi-lagi Natalie tak kuasa menahan gemasnya.


"Ngomong-ngomong kau sudah menikah?"


Mendengar pertanyaan itu, kenapa sakit? gumam Natalie dalam hatinya.

__ADS_1


"Sudah," sahut Natalie pelan.


"Ya sudah, kenapa tidak langsung minta saja suamimu untuk membuatnya. Kan gampang, hahaha." Wanita itu tertawa karena merasa obrolannya lucu. Tapi sepertinya tidak, hanya dia yang merasa obrolan itu lucu, bagi Natalie ini menyakitkan. Ini adalah hal yang mustahil Natalie dapatkan dari Nicholas. Dia tidak mungkin bisa merasakan indahnya menjadi seorang ibu bersama Nicholas.


Mendadak raut wajah Natalie berubah. Wanita itu tidak tahu hubungan rumit macam apa yang saat ini sedang dialami Natalie. Jangankan untuk mendapatkan seorang bayi yang mungil seperti ini, bertahan sampai satu bulan ke depan pun rasanya Natalie masih tak bisa memastikannya.


Melihat ekspresi perubahan wajah Natalie, wanita itu jadi merasa bersalah. Apa mungkin perkataannya telah melukai hati Natalie. Apa mungkin ada sesuatu yang tidak bisa Natalie jelaskan. Sesuatu yang tidak memungkinkan Natalie untuk memiliki keturunan.


"Apa mungkin dia dan suaminya sudah bercerai atau mungkin suaminya sudah meninggal?" batin wanita itu. "Ah, maafkan aku jika ucapanku salah."


Natalie tersadar dari lamunannya. "Eh, maaf tadi sampai mana ya? ... aku sampai lupa saking asiknya menggendong putrimu ini," ucap Natalie bohong.


Wanita itu tahu jika Natalie sedang berbohong, karena terlihat sorot mata Natalie yang berusaha menghindar darinya.


"Sudah, lupakan saja pertanyaanku! itu tidak penting." Wanita itu kemudian mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Natalie duduk di samping taman. "Sepertinya di sana udaranya lebih sejuk."


Natalie pun mengangguk dan mengekor di belakang ibu si bayi, sampai akhirnya seseorang menahan langkah mereka.


"Sayang, ayo kita pulang!"


Ibu dari si bayi itu tersentak kaget saat Nicholas tiba-tiba datang.


Laki-laki itu datang dan langsung merangkul pundak Natalie.


"Apa mungkin Laki-laki tampan ini adalah suaminya?" batin wanita itu sedikit terkejut, melihat laki-laki gagah dan tampan di depannya.


"Saya suaminya." Nicholas mengulurkan tangannya, menjawab teka-teki di kepala wanita itu. "Nicholas!" ucapnya.


Wanita itu menatap Natalie sebentar. "Ternyata benar suaminya, dan dia sangat tampan sekali," batinnya. "Ah, iya. Senang berkenalan denganmu." Wanita itu membalas uluran tangan Nicholas.


Setelah berkenalan, Nicholas pun kembali merangkul pundak wanitanya. "Sayang, ayo kita pulang!"


"Ah, iya." Natalie lantas menyerahkan bayi itu terlebih dulu kembali pada orang tuanya.


"Semoga kalian lekas diberikan keturunan ya!" ucap wanita itu saat menerima bayinya kembali. "Saya yakin, anak kalian nanti akan sangat cantik seperti ibunya jika wanita, dan sangat tampan seperti ayahnya jika Laki-laki."


Wanita itu berhasil membuat hati Natalie dan Nicholas bahagia sesaat, tapi kembali sakit saat menerima kenyataan bahwa mereka tak kan mungkin mendapatkan apa yang wanita itu katakan.


"Kalau begitu saya permisi ya!" ucap wanita itu seraya membawa bayi dalam gendongannya, sementara Natalie dan Nicholas hanya menatap punggungnya sampai wanita itu benar-benar pergi.


"Iya, aku pun berharap demikian. Aku berharap kelak akan ada sebuah malaikat kecil yang bisa menjadi alasan ayah dan ibunya selalu bersama." Natalie Watson.


"Aku pun berharap, kelak akan ada Nicholas junior yang akan menjadi pelengkap hidupku bersama wanita yang paling kucintai di sampingku ini." Nicholas Jhonson.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2