
Semua keluarga sudah berkumpul di pemakaman Kelly.
Sudah ada Keluarga besar Jhonson, Keluarga Natalie, Keluarga besar dari Kelly, termasuk Jennifer.
Tapi Jennifer datang sebagai tamu, bukan sebagai keluarga dari Kelly. Karena sampai saat ini pun Jennifer masih belum mengakui bahwa dia adalah keponakan dari Kelly.
Setelah selesai membaca do'a dan menaburkan bunga, semua kembali ke rumahnya masing-masing. Hanya tinggal beberapa keluarga inti saja yang masih setia.
"Stel, kita pulang yuk!" ajak Reynald.
Gadis malang itu masih enggan untuk berpaling dari pusara makam Ibunya. Dia masih diam melamun seperti separuh hidupnya ada yang hilang.
"Aku masih ingin di sini," ucap Stelly. Gadis itu kemudian menundukkan badannya dan kembali menaburkan bunga. Reynald yang tak ingin memaksa akhirnya ikut mengikuti apa yang dilakukan wanita itu.
"Jangan terlalu lama memendam kesedihan. Ini semua sudah takdir Tuhan." Reynald berusaha memberikan kekuatan. Dia yakin, Wanita itu sedang dalam masa drop.
Tiba-tiba setetes air mata Stelli jatuh. Buru-buru Reynald mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya. Dia kemudian mengulurkannya pada Stelli.
"Aku ... aku menyesal karena terlambat bertemu Mama." Stelli tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi ia tahan.
Reynald yang melihatnya pun langsung memasang badan. Ia memeluk gadis itu dengan sangat hangat. "Aku mengerti! tapi ini semua bukan salahmu."
Melihat Reynald begitu menyayangi putrinya, Mark Jhonson pun tersenyum tak jauh di belakang mereka.
"Pa!" panggil Nicholas. Anak angkatnya itu datang dan membuyarkan lamunannya.
"Hmm," sahut Mark.
"Aku pulang duluan ya!"
"Ya sudah! hati-hati ya sayang."
"Iya, Pa!"
Setelah pamit pada sang ayah, Nicholas pun lantas mendekati supir pribadinya yang sedang berpelukan dengan saudara barunya itu.
"Tuan." Reynald langsung melepaskan pelukannya, begitu juga Stelli. Dia terkejut karena kedatangan Nicholas.
"Tidak apa-apa." Nicholas tersenyum. "Oiya Rey, aku pulang duluan ya!"
"Ya sudah, biar saya antar."
"Tidak perlu. Kamu nanti tolong antar Papa dan Stelli pulang saja."
"Ah, begitu ya. Ya sudah." Reynald menundukkan sedikit kepalanya saat Nicholas bergegas pergi meninggalkan tempat pemakaman itu. Tapi sebelum pergi, Nicholas sempat memberikan senyuman hangat pada wanita yang kini berstatus sebagai saudaranya.
***
Natalie berdiri di samping mobil Nicholas, menunggu Nicholas datang. Rencananya mereka akan kembali pulang, karena pemakaman sudah selesai.
Tapi bukannya Nicholas yang datang, malah wanita bernama Jennifer itu yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.
"Ckkk." Jennifer berkacak pinggang di depan Natalie.
"Kamu," cicit Natalie. "Mau apa kamu?"
Jennifer berjalan semakin dekat. Dia mengangkat telunjuknya tepat di depan mata Natalie. "Jangan merasa sudah menang ya! ingat!!! aku akan membalas semua perbuatanmu."
Perbuatan?
Perbuatan apa maksud Jennifer?
Natalie tidak pernah merasa merugikan siapapun.
"Apa maksudmu?" tanya Natalie.
"Apa? ... coba ulang pertanyaanmu itu!" Jennifer terus mendesak Natalie sampai punggung wanita di depannya sudah menyentuh mobil di belakangnya.
Jennifer mengunci tubuh Natalie . Dia menatapnya dengan penuh amarah. "Kau masih bertanya apa maksudku? ... dasar wanita bodoh!!! aku tidak habis pikir kenapa Nicholas bisa memilihmu sebagai seorang istri? padahal jelas-jelas kau sangat bodoh."
Natalie masih berusaha untuk tetap tenang.
"Kau sadar tidak sih? semenjak kehadiran kamu di kehidupan Nicholas semuanya jadi rumit. Kau dan keluargamu itu sudah membuat hidup Nicholas menderita."
"Jaga bicaramu, Jenni! apa yang kau tahu tentang keluargaku?" Kali ini Natalie mulai emosi karena Jennifer membawa nama keluarganya.
Jennifer melepaskan Natalie dari cengkramannya. Kemudian dia memutar badannya, tertawa sambil membelakangi Natalie.
__ADS_1
"Hahahaha." Tawanya terdengar sangat mengejek. "Rupanya sampai saat ini kau belum sadar juga kalau Nicholas tidak pernah mencintaimu sepenuhnya."
Mendadak hati Natalie sakit saat kenyataan pahit itu kembali diucap. Iya, dia tahu kalau Nicholas memang menikahinya karena dendam Tapi rasanya Jennifer tidak berhak mengulang-ulang kenyataan itu.
"Dan satu hal lagi!" Tangan Jennifer kembali menunjuk wajah Natalie. "Cepat atau lambat Nicholas akan segera menceraikanmu saat dia sudah tidak membutuhkanmu lagi."
"Jangan ganggu dia!"
Suara khas bariton itu berhasil membuat Jennifer terkejut seiringan dengan tangannya yang ditarik paksa oleh laki-laki itu.
"Nicholas," cicit Jennifer. Dia terkejut karena awalnya dia hanya ingin memberikan ancaman pada Natalie Sebelum Nicholas datang. Tapi dia terlambat, laki-laki itu ternyata datang lebih cepat dari prediksi Jennifer.
"Harus berapa kali ku katakan. Jangan pernah lagi mengganggu Natalie!" pekik Nicholas sambil mencengkram tangan Jennifer.
"Nicho, sadar!!! dia itu bukan wanita yang baik untuk kamu. Dia itu hanya benalu yang hidupnya selalu membuat kamu susah."
"Lalu menurutmu kau tidak pernah menyusahkanku?"
Jennifer mendadak gelagapan saat Nicholas mengembalikan kembali pertanyaan itu padanya.
Bagaikan senjata makan tuan, Jennifer memang tidak akan bisa menjawabnya karena dia sendiri memang kenyataannya selalu menyusahkan Nicholas.
"Kenapa sih, kau selalu saja membelanya?" Jennifer mengalihkan pembicaraan. "Apa kau sudah benar-benar lupa dengan janjimu yang dulu?"
Janji?
"Janji apa?" batin Natalie.
Saat pertanyaan itu terlontar, kini berbalik malah Nicholas yang jadi gelagapan.
"Sudah cukup!!! aku tidak ingin membahasnya lagi." Nicholas berusaha menutupinya.
"Kenapa?" Jennifer bertanya sambil memajukan wajahnya seolah menantang Nicholas untuk menjawab pertanyaan itu. "Seorang laki-laki yang dipegang itu adalah kata-katanya. Mana janjimu yang dulu?" pekik Jennifer. "Kau pernah bilang padaku kalau kau akan menceraikan Natalie dan segera menikahiku, setelah berhasil menghancurkannya dan juga keluarganya. Tapi sekarang apa?"
Natalie membulatkan matanya. sebegitu sadis kah rencana Nicholas padanya. "Ternyata Nicholas dan Jennifer bahkan sudah dengan rapihnya merencanakan ini semua." Hati Natalie menangis mendengar kenyataan pahit ini.
"Jaga ucapanmu!"
"Kenapa? ... kau takut Natalie tahu? ... bukankah dia memang sudah tahu kalau kau tidak pernah mencintainya. Kenapa tidak sekalian saja jelaskan kalau kau akan menceraikan dia secepatnya juga."
"Jenni!!!" bentak Nicholas.
"Sekarang cepat pergi atau aku akan bertindak lebih dari ini!" mata Nicholas mulai merah padam. Dia benar-benar murka dengan wanita yang ada di hadapannya ini. kalau saja Jennifer dulu tidak banyak membantunya, mungkin Nicholas akan menampar wajahnya.
Kali ini untuk yang kedua kalinya Nicholas mengusirnya, sepertinya ini sudah cukup, batin Jennifer. Natalie pasti akan semakin sadar diri siapa dirinya.
"Oke, aku pergi." Jennifer menghempaskan tangan Nicholas. "Tapi kalian harus ingat satu hal, aku tidak akan membiarkan milikku diambil orang lain. Apapun yang pernah menjadi milikku harus selamanya bersamaku ... dan siapapun orang yang berani merebutnya dariku, maka akan ku pastikan, orang itu tidak akan pernah tentram selama hidupnya. Camkan itu!"
Jennifer pun benar-benar pergi setelah dia puas mengutarakan rasa sakit hatinya.
Sementara Nicholas membuang nafasnya gusar, dia tak habis fikir kalau Jennifer akan bertindak sejauh ini.
Nicholas membalikan badannya dan dia melihat wanita yang saat ini berstatus menjadi istrinya itu itu menatap kepergian Jennifer dengan tatapan kosong.
Nicholas yakin saat ini Natalie pasti sedang terngiang-ngiang ucapan Jennifer tadi. Wanita itu memang keterlaluan, sebagai seorang wanita bahkan dia tidak bisa menghargai sedikitpun perasaan Natalie.
"Semua ini memang salahku," batin Nicholas. seandainya saja Nicholas bisa lebih menilai siapa Jennifer sebenarnya, mungkin dia tidak akan pernah berniat sedikitpun menjadikan wanita itu sebagai kekasihnya.
"Ayo kita pulang!" Ajakan Nicholas berhasil membuyarkan lamunan Natalie. Wanita itu akhirnya mengangguk dan masuk kedalam mobil setelah Nicholas terlebih dahulu masuk.
Tanpa membuang waktu lagi, Nicholas segera menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas mobilnya, meninggalkan tempat pemakaman dimana Kelly dikebumikan.
Sepanjang perjalanan tak ada suara di antara mereka berdua selain lantunan sebuah lagu dari radio mobil Nicholas.
🎵 Rossa : Terlalu Cinta
Tuhan, maafkan diri ini
yang tak pernah bisa, menjauh dari angan tentangnya
Namun, apalah daya ini?
Bila ternyata, sesungguhnya
Aku terlalu cinta dia
Potongan lirik lagu dari salah satu penyanyi itu tengah mewakili perasaan Natalie saat ini.
__ADS_1
Natalie kembali terluka saat mendengar ucapan Jennifer, meskipun sebenarnya tanpa kejadian barusan pun, Natalie memang sudah mengetahui bahwa Nicholas menikahinya bukan karena cinta, tapi karena sebuah rencana.
Tapi entah kenapa rasanya Natalie ingin sekali mempertahankan rumah tangganya itu, mungkin karena sebuah alasan, sebuah rasa yang tak bisa diungkapkan dengan sebuah kata-kata. Sebuah rasa yang hanya bisa dirasakan oleh Natalie saja, yaitu Terlanjur Cinta.
"Kamu masih mikirin ucapan Jennifer tadi?" tanya Nicholas.
"Mppp." Natalie tersadar dari lamunannya. "Tidak," sahutnya bohong.
Citttt
Nicholas menginjak rem mobilnya kemudian mengesampingkan mobilnya ke jalur kiri.
Rem itu diinjaknya terlalu mendadak sehingga membuat tubuh Natalie sedikit condong ke depan.
"Kenapa berhenti di sini?" gerutu Natalie. Dia menatap tak suka ketika Nicholas menghentikan mobilnya secara mendadak.
Nicholas menatap wajah Natalie dengan tajam. "Aku minta Jawab jujur pertanyaanku! apakah kau masih memikirkan perkataan Jennifer tadi?"
Oh, rupanya pertanyaan itu, batin Natalie.
"Ayo, Nat! katakanlah jika kau takut aku akan menceraikanmu! katakanlah jika kau sangat takut kehilanganku. Kumohon!" batin Nicholas. Dia sangat berharap kata-kata itu akan terlontar dari bibir Natalie.
"Aku rasa itu hal yang tidak penting jadi sebaiknya tidak perlu dibahas lagi." tapi ternyata fakta yang terjadi tidak seperti keinginannya.
"Itu penting bagiku, Nat."
Natalie memalingkan wajahnya menghadap ke arah jendela. "Iya ataupun tidak, bukankah semuanya tidak akan pernah merubah keadaan. Kita akan tetap berpisah kan?"
Nicholas berusaha menarik nafasnya dalam-dalam, menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ini benar-benar berat, otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik. Memikirkan kata-kata Natalie malah membuat kepalanya sakit.
"Arghhh." Nicholas memegangi kepalanya yang mendadak sangat sakit.
"Nicho, ada apa denganmu?"
Natalie melihat setetes darah keluar dari hidung laki-laki di hadapannya. "Kamu kenapa?" buru-buru Natalie mengambil tisu yang ada di bagian belakang mobil.
"Sial," batin Nicholas. "Kenapa harus datang disaat yang tidak tepat seperti ini?"
Dengan cepat Natalie langsung mengusap darah yang keluar dari hidung Nicholas. baru kali pertama ini Natalie melihat Nicholas mimisan.
Tapi Natalie tak berpikir macam-macam, dia hanya berpikir darah itu keluar efek dari kejadian kemarin. Pasca pengeroyokan yang terjadi pada Nicholas.
"Kita ke dokter saja ya! sepertinya luka kemarin memang perlu penanganan dokter." Natalie panik.
Sejak kemarin Nicholas memang terus menolak saat dia hendak dibawa ke rumah sakit. Bukan tanpa alasan, Nicholas takut jika orang-orang mengetahui penyakit yang bersarang di tubuhnya.
"Tidak perlu! nanti juga sembuh sendiri."
"Tidak, Nic. Darahnya tidak mau berhenti mengalir. Aku takut terjadi sesuatu di kepalamu."
"Seharusnya kau tidak perlu takut, karena sebenarnya sudah ada sesuatu di kepalaku," batin Nicholas.
"Kenapa kau malah menatapku seperti itu? ... sekarang cepat buka sabuk pengamanmu! Kita pindah posisi, biar aku yang membawa mobilnya?"
Natalie buru-buru keluar dari mobil itu, dan sesegera mungkin menggantikan posisi Nicholas untuk mengemudikan mobilnya. Dia tidak mungkin tega membiarkan Nicholas mengendarai mobil dengan keadaan seperti ini.
"Aku mau ke rumah sakit XXX," pinta Nicholas.
"Kenapa harus ke sana? kan jauh. Kita bisa pergi ke rumah sakit yang lebih dekat saja dari sini, kan sama saja. Yang penting rumah sakit Itu bagus kinerjanya."
"Pokoknya aku tidak mau pergi ke rumah sakit manapun selain ke rumah sakit itu."
Natalie memejamkan matanya sebentar sambil membuang nafasnya gusar, laki-laki di sampingnya ini selain keras kepala juga ternyata sangat manja.
"Oke, baiklah. Aku akan menuruti permintaanmu kali ini."
Natalie pun akhirnya mengabulkan permintaan Nicholas. untuk kali ini dia harus menahan diri untuk tidak berdebat dengan Laki-laki di sampingnya karena memang keadaannya sedang tidak memadai.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Natalie terus memfokuskan dirinya untuk menatap jalanan. Dia belum begitu mahir mengendarai mobil, jadi fokusnya harus lebih tinggi. Sedikit saja dia lengah, dia dan Nicholas bisa celaka.
Wajah Natalie terlihat panik saat beberapa kali mobil-mobil di jalanan menyalip jalannya dengan cepat.
"Hufttt! pada 'gak sabaran banget sih?" gerutu Natalie.
Bukannya takut karena sopirnya yang kali ini masih abal-abal dan bisa saja membahayakan nyawanya, Nicholas malah terlihat beberapa kali mengunggingkan senyumnya.
Sepertinya keadaan ini sangat disukai Nicholas, dengan begini dia bisa sepuasnya menatap wajah Natalie dari samping.
__ADS_1
"Andai saja aku bisa melihat rambutmu saat sudah dipenuhi dengan uban. Aku hanya ingin tahu, apakah kau masih akan tetap secantik ini?" batin Nicholas, dan tak lama mereka pun sudah sampai di depan rumah sakit besar, tempat dimana Nicholas menyembunyikan penyakit yang selama ini di deritanya.
To be continued