Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Boncap 5 Telepon masuk


__ADS_3

Setelah selesai acara perayaan siang hari itu, semua keluarga pun kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali Reynald. Dia meminta Selly untuk pulang terlebih dahulu bersama ayahnya.


"Aku pulang duluan ya, Rey!" ucap Selly saat melambai-lambaikan tangannya dibalik mobil bersama ayahnya.


"Hati-hati calon istri!"


Setelah Selly pergi, Reynald pun kembali masuk.


Reynald memilih tinggal sementara di rumah Nicholas untuk membicarakan hal yang penting. Ada sesuatu yang harus dibahas dan itu bersifat urgent.


***


"Apa? jadi Erick adalah dalang dibalik ini semua?" pekik Nicholas tak percaya. Dia tak menyangka kalau ternyata orang yang dia curigai sejak awal itu ternyata lebih keji dari dugaannya. Erick bukan hanya berniat merebut Natalie, ternyata dia selama ini juga ingin menghancurkan hidup Nicholas.


"Iya. Erick bersekongkol dengan Ayah Sea untuk membuatmu mati. Tapi kau tenang saja! aku akan terus membujuk Ayah Sea untuk membuatkan obat untukmu."


"Iya. Aku harap juga begitu." Nicholas terlihat sangat berharap kalau Ayah Sea bisa membuatnya kembali sembuh. "Tapi satu hal yang harus kau tahu, Rey. Aku tidak pernah melakukan hal seperti yang dituduhkan Erick, Rey! itu semua tidak benar."


"Maksud, Tuan?" Reynald menyipitkan matanya.


Nicholas menjitak kepala Reynald. "Sudah kubilang, jangan panggil aku Tuan lagi! ... kau kan sudah jadi direktur utama. Kau bukan sopirku lagi, mengerti!"


Reynald terkekeh. "Iya. Maafkan aku! aku hanya masih canggung."


"Ya sudah."


Nicholas menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


Flashback On


"Seharusnya kau tidak membuang kado pemberiannya!" pekik Nicholas. Dia kesal karena Jennifer telah melakukan tindakan yang mengakibatkan seseorang kehilangan nyawanya. "Kau tahu, karena kecerobohan mu itu, kau sudah membuat seseorang kehilangan nyawanya."


"Aku tidak berniat seperti itu. Aku cuma 'gak suka ada cewe lain yang deketin kamu, Nic."


"Tapi bukan begini caranya, Jen. Lagipula kita 'gak punya hubungan apa-apa. Jadi kau tidak seharusnya bertingkah berlebihan seperti ini."


Jennifer mendengus kesal. Nicholas tidak mengerti perasaannya. Jennifer cemburu, dia takut kalau Nicholas tergoda wanita lain, sebab itulah Jennifer selalu menghindari wanita manapun yang hendak mendekati laki-laki yang dicintainya itu.


"Terserah! pokoknya aku 'gak peduli," pekik Jennifer. Mereka saat ini tengah berada di depan lapangan. Nicholas menyeretnya paksa setelah kasus kematian Sea sampai ke telinga Nicholas. Dan yang lebih membuat Nicholas kesal, salah satu temannya ada yang memberitahu bahwa Sea bunuh diri karena kado ulang tahunnya dibuang ke kotak sampah.


"Pokoknya 'gak ada satu wanita pun yang boleh ngedeketin kamu, selain aku. Titik."


Flashback off


"Jadi, bukan kau yang membuang kado dari Sea?"


Nicholas menganggukkan kepalanya. "Iya, Jenni yang sudah membuangnya. Dia tidak suka jika aku dekat dengan wanita lain. Makanya dia selalu berusaha menyingkirkan wanita manapun yang berusaha mendekatiku."


"Wanita itu lagi." Reynald mengepalkan tangannya kesal. Lagi-lagi dia yang membuat onar. Sebenarnya apa sih gunanya Wanita itu dilahirkan ke dunia? hidupnya selalu saja membuat orang lain susah.


Nicholas benar-benar sial dicintai Wanita seperti Jennifer.

__ADS_1


"Lalu, apa kau sudah berhasil menangkap mereka?" tanya Nicholas.


"Belum, baru Ayah Sea saja," sahut Reynald. "Polisi masih mencari upaya untuk menangkap Erick. Karena sejak kemarin Erick susah dihubungi. Datang ke kantornya pun nihil, dia tidak ada di sana."


"Maksudmu, Erick sengaja menghindari penyelidikan ini?"


Reynald mengangguk, "Sepertinya."


Kini bertambah lagi masalah baru. Belum jelas nanti hasil pemeriksaan kandungan Natalie, Nicholas sudah dibuat khawatir setelah mengetahui bahwa Erick menyembunyikan dirinya.


Sepertinya kesempatan dia untuk pergi ke luar negeri semakin kecil.


Dendam Erick belum sepenuhnya terpenuhi jika Nicholas belum mati, sebab itulah Nicholas yakin bahwa Erick akan terus mencari cara agar bisa menghancurkan Nicholas apapun caranya, termasuk menghancurkan orang-orang terdekatnya.


"Oiya, apa Natalie sudah cerita?" tanya Reynald.


"Mengenai apa?"


"Perlakuan Erick padanya."


Perlakuan Erick?


Apalagi ini, batin Nicholas.


"Dugaanku benar, Natalie belum menceritakannya padamu."


"Cepat katakan! apa yang sudah Erick lakukan pada Natalie?" Nicholas mulai emosi. Jika Erick mengganggu hidupnya ia masih bisa terima, tapi jika ini sudah menyangkut urusan wanita yang paling dicintainya itu Nicholas tidak akan tinggal diam saja.


Nicholas diam. Dia tidak bisa berjanji jika ternyata perbuatan Erick sudah diluar batas pada Natalie. Tapi untuk kali ini Nicholas harus bohong sedikit. Reynald pasti tidak mau menceritakannya kalau dia tidak mau berjanji.


"Iya, aku janji."


"Baiklah...."


Reynald mulai menceritakan kejadian yang hampir saja menimpa Natalie hari itu.'


Tangan Nicholas sudah mengepal kuat. Wajahnya merah padam seperti hendak menerkam mangsanya. Bisa-bisanya laki-laki itu menyentuh wanitanya. Nicholas kali ini benar-benar tidak akan tinggal diam. Dia akan mencari sendiri Erick. Dia harus menghabisi laki-laki itu dengan tangannya sendiri.


"Jadi begitulah ceritanya."


Reynald sudah selesai bicara. Tapi tak terdengar respon apapun dari Nicholas. Sepertinya orang itu memang sudah terbakar emosi, Reynald bisa melihat raut wajahnya yang sangat mengerikan itu.


"Nic, kau mendengarkan ku kan?"


"Ah, iya."


Nicholas berusaha menyembunyikan emosinya. Reynald tidak boleh curiga kalau Nicholas menyimpan rencana untuk mengejar Laki-laki itu.


"Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu." Reynald beranjak dari tempat duduknya.


"Loh, Rey, buru-buru sekali?"

__ADS_1


Natalie datang membawakan dua gelas cofee untuk dua laki-laki itu. "Aku baru saja selesai membuatkan kopi untuk kalian." Natalie kemudian meletakkannya di atas meja.


"Sayang, kamu ngapain sih pake acara repot-repot buatin kaya gini segala. Kalau anak aku kenapa-napa gimana?" omel Nicholas. "Bibi kemana sih?"


"Lebay banget sih kamu. Orang cuma buatin kopi doang juga." Natalie merajuk kesal. Kali ini tingkah suaminya terlalu over. "Bibi ada. Lagian aku yang minta buat bawain sendiri kok."


Reynald terkekeh melihat perdebatan kecil pasangan itu. "Sudah, sudah. Tidak usah ribut di sini. Nanti saja di atas kasur kalau mau ribut."


Tatapan mata Nicholas dan Natalie langsung beralih ke Reynald semua, membuat orang yang ditatap jadi mati kutu.


"Heee, maaf bercanda!"


"Tidak, sepertinya ide yang bagus. Yuk sayang!" timpal Nicholas sambil menatap Natalie dengan tampang menjijikkan di mata Natalie.


"Yuk, kemana?" tanya Natalie polos.


"Berantem di kasur."


Mata Natalie langsung menatap tajam wajah suaminya yang mesum itu.


"Dasar mesum!"


Natalie segera bergegas pergi dari ruangan menyebalkan itu. Tahu akan terjadi seperti ini, tidak akan Sudi dia mengantarkan kopi untuk dua laki-laki yang menyebalkan itu. Terlebih suaminya yang mesum.


"Hahaha." Nicholas dan Reynald tertawa terbahak-bahak melihat Natalie yang merajuk kesal pergi.


Drttt ... drttt


Ponsel Reynald berdering.


"Sebentar! aku angkat telepon dulu."


Reynald menjauhkan sedikit posisinya. Mengangkat telepon dari seorang polisi.


"Apa?"


Nicholas langsung mengarahkan pandangannya pada Reynald yang tiba-tiba memekik itu.


"Baiklah, aku akan segera datang ke sana bersama Nicholas."


Reynald langsung menutup teleponnya.


"Ada apa, Rey?" tanya Nicholas.


"Gawat. Kita harus segera ke kantor polisi sekarang juga!"


"Tapi ada apa?"


"Nanti aku jelaskan di mobil."


To be continued

__ADS_1


__ADS_2