
Reynald masih diam tak bergeming dari tempat duduknya. Di dalam kantor polisi, di sebuah ruangan khusus untuk tahanan dan penjenguknya bisa bicara. Di tempat itulah Reynald bertemu dengan orang yang sudah dengan tega mensabotase kecelakaan keluarganya.
Ayah Rega sudah mengakui kesalahannya, dia menceritakan semua kronologi kejadian hari itu dengan sebenarnya, tanpa ada kebohongan yang ditutupi lagi. Dan kini dia sudah resmi menjadi tahanan.
Ayah Rega juga ingin polisi menyeret Kelly atas perbuatannya, dan polisi pun mengabulkannya. Tapi polisi butuh seseorang sebagai penuntut, dan jadilah Reynald dipilih Ayah Rega sebagai penuntut Kelly. Anak itu memang berhak tahu dan berhak menuntut kasus kematian ayahnya.
"Terimakasih kau sudah berbesar hati memaafkan kesalahanku," ucap Ayah Rega dengan pandangan yang terus menunduk. Dia tidak sanggup melihat wajah anak dari laki-laki yang sudah ia bunuh itu.
Reynald tak menjawab apapun. Ia masih sakit hati. Ingin rasanya ia membunuh Laki-laki yang ada di hadapannya, tidak tahukah dia selama ini Rey dan Ibunya menderita karena kelakuannya, tapi Rey bisa apa? jika dia membunuh Laki-laki itu, jelas hanya akan mempersulit keadaan. Yang harus ia fokuskan saat ini adalah bagaimana menyeret Kelly untuk mengakui semua kesalahannya. Dengan begitu, Reynald akan hidup dengan tenang bersama Ibunya.
Drtt..drtt..
Ponselnya berdering. Nama Nicholas tertera di sana.
"Aku harus pulang." Reynald berdiri dari duduknya, sementara Ayah Rega hanya menatap kepergiannya begitu saja. Ada rasa menyesal, sedih, marah, semua menjadi satu dan itu semua karena kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu pada ayah dari anak itu.
***
Kelly sudah sampai di depan rumah Thomas. Dia melihat Thomas sedang bermain dengan anaknya di depan rumah.
Sepertinya Nadia belum sampai ke sana.
Ini bagus. Itu artinya Kelly masih punya kesempatan untuk mencegah Nadia bertemu Thomas. Dia pun meminta orang-orang suruhannya untuk mundur. Kelly memang tidak datang sendiri. Ia bersama satu mobil orang suruhannya yang ada di belakangnya.
Sudah hampir dua jam Kelly berjaga-jaga di jalanan yang nantinya akan dilewati Nadia untuk menuju rumahnya. Sempat kesal karena Nadia tak kunjung datang, tapi Kelly harus bertahan lebih lama lagi di sana.
"Apa ada jalan lain lagi selain ini?" tanya Kelly pada supirnya.
"Tidak ada, Nyonya," sahut sopirnya.
"Sabar!" Bram berusaha menenangkan.
Dan sepertinya Dewi keberuntungan sedang berpihak pada Kelly. Tak lama ia melihat Nadia dari radius beberapa puluh meter sedang berlari ke arahnya. Dia melihat wanita itu baru saja datang dengan penampilan yang sangat memprihatinkan.
Huh, huh, huh
Nadia membuang nafasnya dengan susah payah saat dia hampir tiba di rumahnya. Sesegera mungkin ia kembali berlari, ia harus segera bertemu dengan Thomas untuk menceritakan semua yang terjadi. Thomas harus segera mengetahui bahwa dalang dibalik semua kejadian yang menimpa keluarganya adalah wanita masalalunya.
__ADS_1
"Arghhh!"
Tapi langkah Nadia terhenti kala sebuah kaki berhasil menendang lututnya. Dia tersungkur ke tanah, dan Nadia tahu siapa penyebabnya.
"Kelly," cicit Nadia.
Wanita iblis itu berdiri di hadapannya, dia menunjukkan senyum smirk-nya, dan tentunya dia tidak datang sendiri. Laki-laki di sampingnya, Bram, dan juga beberapa orang suruhannya sudah berdiri menatap Nadia dengan sengitnya.
"Mau coba melawanku?"
Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya, takut.
"Cepat bawa dia masuk!" perintah Kelly pada orang-orang suruhannya. Mereka langsung menarik lengan Nadia paksa, dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak mau." Nadia meronta-ronta, dia berusaha melepaskan dirinya dari dua laki-laki yang menyeretnya. "Tolooong!!!" dia terus berusaha melepaskan dirinya, namun sayang, tempat itu sedikit sepi. Kedua laki-laki yang menyeretnya itu memiliki tenaga yang lebih besar darinya, terlebih dia sudah sangat kelelahan sejak tadi berlarian.
"Rey! sepertinya aku mengenal wanita itu," ucap Natalie pada Reynald. Siang ini Natalie memang pulang sebentar untuk menemui Neva, adiknya yang bungsu. Thomas bilang, adiknya itu sedang tidak enak badan dan ingin dibuatkan bubur yang biasanya dibuatkan sang ibu, sedangkan Thomas tidak bisa, jadi dia meminta Natalie pulang sebentar.
Sepertinya ini memang takdir Natalie untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya dengan sang Ibu.
"Mungkin hanya salah lihat," sahut Reynald sambil terus menjalankan mobilnya. Dia tak menaruh curiga sedikitpun karena sejak tadi pikiran Reynald memang sedang terpaut pada kasus pembunuhan ayahnya. Reynald belum sempat menceritakannya pada Nicholas karena Reynald tak tega menambah beban pikiran Nicholas dalam keadaan seperti ini.
Natalie terus memperhatikan wanita yang diseret-seret itu, dia semakin yakin jika dia mengenalinya.
"Rey, berhenti!"
Reynald pun menghentikan mobilnya. Natalie buru-buru keluar dari mobil dan berlari mengejar orang-orang itu.
"Ibu."
Betapa terkejutnya Natalie saat melihat orang yang sedang di seret itu adalah ibunya, Nadia. Lalu siapa wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Natalie tidak pernah melihat wanita itu.
Nicholas memang tidak pernah mengenalkan Kelly padanya. Yang Natalie kenal hanya Tuan Mark Jhonson yang datang saat Nicholas melamarnya. Alhasil, Natalie tidak mengenal siapa Kelly.
"Natalie," cicit Nadia. Semua pasang nata ikut menatap kemana Nadia menatap, begitu juga dengan Kelly. Dia sangat terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Natalie," ucap Kelly.
__ADS_1
Awalnya Kelly kesal, tapi niat jahat tiba-tiba terlintas di pikirannya.
"Sepertinya ini kesempatan emas. Aku bisa menggunakan Natalie agar membuat Nicholas segera memenuhi permintaanku," batin licik Kelly.
"Oh menantuku tersayang, rupanya kau datang."
Menantu?
Apa maksud wanita itu? Natalie bertanya-tanya dalam hatinya. sementara Kelly berjalan mendekat lalu memeluk Natalie begitu saja. "Ternyata kau sangat cantik sekali ya! menyesal kita baru bertemu sekarang."
Tapi pelukan itu tak lama, Natalie langsung melepaskan pelukannya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Ibuku? dan ... dan siapa kamu?"
Reynald baru saja sampai setelah ia memarkirkan mobilnya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat dari kejauhan siapa yang sedang bicara dengan Natalie.
"Nyonya Kelly," batin Reynald. Mendadak ia takut Kelly melakukan hal yang tidak-tidak pada Natalie. Tak membuang waktu, Reynald pun langsung mengirim pesan pada Nicholas.
"Ah, iya. Kita belum sempat berkenalan." Kelly tersenyum miring, menatap Natalie dengan sisi jahatnya. Dia mengulurkan tangannya hendak bersalaman, tapi tidak jadi, ditarik lagi. "Ah, mungkin lebih baik kita saling mengenal di dalam mobil saja."
Perasaan Natalie mulai takut.
Sedetik kemudian Kelly melirik ke arah orang-orang suruhannya yang masih memganggur. "Bawa gadis ini juga!"
Tanpa pikir panjang lagi, orang-orang suruhan Kelly langsung membawa Natalie masuk ke dalam mobilnya.
"Lepaskan aku!"
Reynald yang baru saja selesai mengirim pesan itu langsung dikejutkan ketika melihat Kelly benar-benar membawa Natalie pergi. "Sial," umpatnya. Buru-buru ia masuk ke dalam mobilnya dan mengejar orang-orang yang membawa Natalie pergi.
Sementara di jauh sana, Nicholas yang baru saja bertemu dengan Anjeli untuk mengurus surat-surat perusahannya, terpaksa harus menutup pembicaraan mereka yang belum rampung itu.
"Maaf, aku harus pergi."
"Nic, tunggu!" panggil Anjeli, tapi Laki-laki itu tak memperdulikan sahabatnya itu. Dia langsung membanting pintu mobilnya saat masuk dan segera menginjak pedal gas mobilnya, mengejar lokasi yang Reynald kirimkan.
To be continued
__ADS_1