Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Milikku


__ADS_3

Nicholas baru saja mengantarkan Jennifer masuk ke dalam rumahnya. Ia tak mampir, karena ada sesuatu yang harus segera ia kejar.


"Aku langsung pulang ya!" ucapnya setelah memberikan kecupan di kening Jennifer yang masih saja merajuk padanya. "Langsung tidur! dan jangan lupa minum obat dulu!" lanjutnya.


Jennifer hanya mengangguk lalu masuk ke dalam rumahnya setelah seorang penjaga gerbang membukakan pintu untuknya.


Setelah memastikan Jennifer sampai ke dalam rumahnya dengan selamat, Nicholas segera kembali ke dalam mobilnya dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Halo, Reynald." Rupanya orang yang dihubunginya adalah tangan kanannya, Reynald. "Apa? dia belum sampai rumah?" Nicholas terkejut karena ternyata Natalie belum juga sampai rumah. Seharusnya dia sudah sampai terlebih dulu jika Natalie benar-benar pulang saat acara itu masih berlangsung. Karena jarak antara rumahnya dengan rumah Jennifer, jauh lebih jauh rumah Jennifer dari restoran itu.


"Yasudah, kau tunggu saja di rumah! biar aku yang mencarinya ke rumah orangtuanya. Kalau ada kabar, segera hubungi aku!"


Nicholas lalu menutup teleponnya setelah mendengar kata 'Iya' dari Reynald.


"Kemana dia pergi?" batin Nicholas seraya menyalakan mesin mobilnya, melesat menuju rumah kediaman Thomas, ayah Natalie.


***


"Kenapa? ... kamu bertengkar dengannya?" Thomas sedang mengintrogasi Natalie yang tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Terlebih Natalie datang tengah malam, tanpa didampingi suaminya. Jelas itu membuat Thomas sebagai orang tua merasa khawatir akan hubungan rumah tangga anaknya itu.


"Gpp, Yah. Aku cuma pengen nginep di sini aja." Natalie berusaha menutupi masalahnya di depan Thomas. Dia tak mau kalau sampai busuknya Nicholas sampai diketahui orang tuannya. Dia tak mau membuat mereka sedih. Sudah cukup masalah keluarganya selama ini, ia tak mau menjadi anak yang membebani mereka.


"Beneran?" Thomas sepertinya sedikit curiga. Dari tatapan mata Natalie, tersirat raut kesedihan yang mendalam. Belum lagi kantung mata yang sedikit bengkak akibat menangis itu membuat firasat Thomas sebagai orang tua semakin yakin, jika ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dengan putrinya itu. "Kamu bisa cerita sama Ayah kalau ada masalah dengan suamimu, Nak!"


"Bener, Yah. Aku gpp." Kali ini Natalie mencoba mengukir senyumnya, agar Thomas percaya dengan sandiwaranya.


"Yasudah, kalau memang tidak terjadi apa-apa dengan suamimu, Ayah bersyukur," ucap Thomas. "Tapi suamimu tahu kan kalau kamu malam ini menginap di sini?"


Natalie terdiam. Dia memang tidak memberitahu Nicholas kalau dia akan menginap di rumah orang tuanya. Jangankan untuk memberitahu, mengingat namanya saja sudah membuat luka di hatinya kembali terbuka.


"Sudah, Yah," jawabnya bohong. "Oiya, bagaimana kabar ibu di tempat kerja barunya?" Natalie berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Belum ada kabar. Terakhir ibu bilang, kalau dia sudah sampai dengan selamat di sana."


"Oh, begitu ya! kuharap ibu nyaman di sana. Aku benar-benar mengkhawatirkannya."


"Tidak apa-apa. Dia akan baik-baik saja. Yasudah, sekarang lebih baik kamu istirahat yah!"


"Iya, Yah."

__ADS_1


Natalie pun kemudian masuk ke dalam kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan. Terakhir datang ke tempat itupun dia tak sempat menginap, karena Nicholas memaksanya pulang hari itu juga.


"Tempat sempit ini lebih menenangkan dibandingkan kamar luas milik Nicholas," ucapnya seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Saat memejamkan matanya, tiba-tiba bayangan akan kejadian di restoran tadi kembali terbayang-bayang dan menari di atas kepalanya.


Flashback On


Pembawa acara : "Oiya, ngomong-ngomong, siapa laki-laki yang anda bawa ini? apakah pacar?"


Jennifer : "Ah, bukan,"


Eliza : "Tuh kan, Nat. Mungkin Jennifer dan Nicholas hanya kebetulan datang bersama aja."


Pembawa acara : "Lalu, kalo boleh tau, siapa?" pembawa acara itu kembali bertanya.


Jennifer : "Calon suami."


Flashback off


"Sebenarnya apa yang dirahasiakan Nicholas selama ini dariku?" Natalie kembali menitikkan air matanya saat mengingat kejadian memilukan itu. Sampai akhirnya ...


Seseorang mengetuk pintunya.


"Siapa ya?" tanya Natalie dengan hatinya, "ah, mungkin Ayah? atau Neva?"


Tanpa pikir panjang Natalie pun membuka pintunya.


"Hah?" Natalie terkejut. Mata dan mulutnya terbuka lebar saat mengetahui siapa yang datang. "Kamu?" dia melangkah beberapa langkah ke belakang, sementara laki-laki itu menyelonong masuk tanpa permisi "ngapain kamu datang ke sini?" ucap Natalie seraya menatap laki-laki yang kini sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Tak ada jawaban. Nicholas malah memejamkan matanya di atas kasur.


"Hey, aku tanya!!! kenapa kamu datang ke sini?" Nada bicara Natalie mulai tak santai, membuat Nicholas merasa terganggu dengan suaranya.


Nicholas berdiri dari tidurnya, lalu menatap tajam ke arah mata Natalie.


"Aku datang ke sini untuk menjemput istriku." Suara Nicholas terdengar sangat datar. Seperti merasa bahwa semua keadaan baik-baik saja. Padahal, hati Natalie sedang benar-benar terluka karenanya.


"Aku tidak mau ikut denganmu?" sahut Natalie tak kalah datarnya.

__ADS_1


"Aku tidak memberikanmu pilihan," geram Nicholas.


"Dan kau juga tidak berhak memaksaku!" sahut Natalie kembali.


Nicholas mulai mengeluarkan tatapan tajamnya. Tangannya dengan cepat menarik pergelangan tangan Natalie. "Ikut aku sekarang juga!"


"Nggak ... aku nggak mau." Natalie terus mencoba melepaskan dirinya, namun naasnya tenaga Nicholas tak mau dia kalahkan, "lepas!!! sakit."


"Tidak. Aku tidak akan melepaskannya sampai kau mau ikut denganku."


"Tidak akan. Aku juga tidak akan pernah ikut dengan laki-laki yang selingkuh di belakang istrinya dengan sekretaris itu." Celetukan Natalie barusan membuat mata Nicholas mendelik tajam padanya. Natalie juga tak kalah sengit menatap mata Nicholas. Sehingga kini ruangan itu berubah seketika menjadi panas.


"Rupanya di sini. Tadi Ayah cari di ruang tamu sudah tidak ada." Thomas tiba-tiba saja mengejutkan keduanya.


"Ayah." Natalie berusaha melepaskan tangannya, namun tenaganya kalah besar dari Nicholas, sehingga ia hanya bisa pasrah dan memperlihatkan seolah mereka memang sedang berpegangan tangan layaknya seorang suami istri.


"Iya, Yah. Tadi aku langsung masuk ke kamar Natalie. Maaf ya!"


Thomas yang melihatnya jadi merasa mengganggu. "Eh, maaf ya, Ayah sudah mengganggu kalian. Kalau begitu Ayah masuk ke kamar dulu." Thomas membalikkan badannya.


"Tunggu, Yah!" cegah Nicholas, "aku ... aku mau sekalian pamit izin pulang."


"Pulang?" ulang Thomas. Sementara Natalie mendelikkan matanya kesal. Laki-laki itu benar-benar suka memaksa. "Bukannya Natalie bilang mau menginap malam ini?"


"Ah, itu. Mendadak saya ada urusan ke luar kota besok dan saya akan membawa Natalie ikut dengan saya." Nicholas berbohong.


"Mengajakku ke luar kota?" gumam Natalie dalam hatinya, "kau benar-benar pandai bersilat lidah," lanjutnya.


"Oh, jadi begitu. Yasudah, kalau gitu ayo Ayah antar ke depan." Thomas menawarkan dirinya.


"Hmpp," Nicholas mengangguk.


Setelah Thomas keluar dari kamar itu, Natalie kembali berusaha melepaskan tangannya. Tapi kali ini Nicholas tak mencegahnya. Dia membiarkan wanita terlepas, karena Natalie tidak mungkin menolak keinginannya kali ini. Dia tidak mungkin tidak ikut pulang setelah ayahnya menunggu di depan.


"Ckkk, pantas jika kau berhasil sukses sampai seperti sekarang," cibir Natalie, membuat mata Nicholas tertuju kembali padanya. "Rupanya kau sangat ahli dalam bersandiwara." lanjutnya sambil menarik tas dan ponselnya, lalu berjalan keluar mendahului Nicholas yang masih mematung di dalam kamarnya.


"Aku tidak akan melepaskan mu sampai kapanpun, Nat. Karena kau adalah milikku. Dan sesuatu yang sudah jadi milikku takkan kubiarkan pergi begitu saja. Apapun yang terjadi."


To be continued

__ADS_1


__ADS_2