Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Latihan dulu


__ADS_3

Di rumah sakit.


Selly terus terisak menahan tangisannya yang tak mau berhenti ketika mendapati kenyataan bahwa Reynald terluka parah dan harus dilarikan ke ruangan IGD.


"Pa," rengeknya pada Jhonson. Jhonson yang tak kalah khawatir pun hanya berusaha menenangkan sang putri agar terus kuat dan menyuruhnya berdoa supaya Reynald bisa selamat.


"Kita berdoa saja ya! supaya Rey bisa sembuh."


Luka dalam yang menimpa Reynald memang sangat dalam, dokter sedikit kesulitan saat melakukan tindakan pengangkatan peluru dalam dadanya karena sasarannya hampir saja mengenai jantungnya.


"Pasien kekurangan banyak darah," pekik salah satu dokter yang keluar dari ruang IGD. "Apakah Keluarga korban ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?"


"Apa golongan darahnya, dok?" tanya Jhonson.


"O," sahut dokter.


Jhonson diam. Golongan darahnya tak sama, karena dia A.


Selly juga bungkam, Karena dia juga ternyata memiliki golongan darah yang sama dengan Jhonson.


Seorang perawat datang setengah berlari. "Maaf, dok, stok persediaan golongan darah O tidak tersedia di lab kita."


"Ya Tuhan, bagaimana ini?" dokter itupun mulai khawatir. "Lalu apa kata petugas laboratorium?"


"Mereka bilang kemungkinan ada nanti satu jam kemudian. Karena masih proses pengambilan."


"Tapi kita tidak bisa menunggu lebih dari tiga puluh menit, pasien sudah benar-benar lemah."


dokter dan perawat itu kembali masuk, meninggalkan Jhonson dan Selly yang sudah hampir hilang semangat. Dia benar-benar takut kalau dia akan kehilangan Reynald untuk selamanya.


Brugh


Selly ambruk ke lantai. Dia tak bisa lagi menopang tubuhnya untuk tetap berdiri.


"Bangun anakku! kau harus kuat. Kau harus kuat untuk Rey."


Tapi sepertinya Selly tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia terlalu takut. Takut akan kehilangan sosok laki-laki yang telah mengubah hidupnya selama ini. "Pa, apakah Rey akan kembali padaku?"


"Tentu, Nak. Reynald pasti akan selamat."


Di ruangan lain.


Seorang wanita tengah berjuang pula melawan operasinya, sedangkan Nicholas sedang menunggu di luar ruangan Operasi. Natalie yang mengalami pendarahan hebat terpaksa dilarikan ke IGD juga untuk mendapatkan penanganan intensif.


Thomas yang baru datang langsung memeluk Nicholas, diikuti Nadia di belakangnya. Mereka ikut menemani Nicholas menunggu hasil operasi.


Beberapa menit kemudian dokter keluar. Nicholas dan yang lainnya langsung berdiri.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Nicholas.


"Maafkan kami, kami terpaksa harus membersihkan rahimnya karena janin yang ada dalam kandungannya sudah tidak bernyawa."


Nicholas langsung lemah, tubuhnya seakan tak bernyawa. Rasanya sakit sekali ketika ia menerima kenyataan bahwa ia kehilangan anak yang sangat ia nantikan bersama istrinya itu. Tapi ini semua sudah takdir, Nicholas harus menerimanya dengan lapang dada.


"Lalu bagaimana dengan istri saya?"


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya tinggal menunggu dia siuman."


Dokter itu pamit pergi. Pihak keluarga sudah diperbolehkan menjenguk asalkan tidak menggangu istrahat pasiennya."Kalau begitu saya permisi."


Begitu Nicholas masuk, tatapannya langsung tertuju pada wanita yang tengah menutup matanya sambil terlentang di atas kasur sana.


"Natalie pasti sangat kecewa jika dia tahu kalau dia kehilangan bayinya," batinnya.


Thomas dan Nadia tak ikut masuk, mereka membiarkan Nicholas terlebih dulu untuk menemui istrinya itu. Mereka yakin, saat ini Nicholas sedang sangat hancur, karena melihat kondisi Natalie seperti sekarang ini.


"Kita tunggu saja dulu Nicholas sampai di keluar," titah Thomas ketika melihat Nadia tak sabar ingin segera menemui anaknya.


Nicholas memegangi tangan wanitanya yang terasa lebih dingin dari biasanya. Dia menciumnya lembut beberapa detik lamanya, menyimpannya di depan dadanya. Nicholas ingin Natalie tahu bahwa dia sangat terluka melihat keadaannya seperti ini.


"Maafkan aku sayang!" Nicholas terisak. Setetes air matanya turun. "Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak pernah membawamu masuk dalam kehidupanku yang kejam ini."


Dia benar-benar merasakan kesedihan yang teramat dalam. Belum pernah ia merasa bersalah sedalam ini. "Maafkan aku!" Nicholas lantas menangis sambil terus menciumi tangan wanitanya, sementara Natalie yang masih lelap akibat suntikan bius yang diberikan dokter, hanya bisa mendengar tangisan Laki-laki yang kini ada di sampingnya.


Drtt ... drtt ...


Ponsel Nicholas berdering. Buru-buru dia menyeka air matanya, mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari ayahnya.


"Halo, Pa."


"Natalie sudah melewati masa kritisnya."


"Iya, dia keguguran."

__ADS_1


Nicholas terlihat menundukkan kepalanya.


"Terimakasih, Pa. Ini Nicho sedang menemaninya."


"Apa?"


"Ya sudah, Nicho ke sana sekarang."


Nicholas segera keluar ruangan. Tapi sebelum itu ia mengecup kening wanitanya terlebih dulu.


"Aku pergi dulu sebentar ya sayang."


Setelah itu ia langsung bergegas keluar.


Nadia dan Thomas kebingungan saat melihat ekspresi wajah Nicholas yang keluar dari ruangan.


"Tidak apa-apa. Di sini ada orang tua Natalie. Mereka bisa menjaga Natalie sementara."


Nicholas langsung menutup panggilan teleponnya.


"Yah, Bu. Nicho titip Natalie dulu," ucapnya.


"Kau mau pergi kemana?" tanya Thomas.


"Nicho harus menemui Reynald. Papa bilang dia kritis."


"Ya sudah, cepat pergi! biarkan Natalie Ayah dan Ibu yang menjaganya."


Nicholas mengangguk, setelah itu ia langsung berlari, mengejar ruangan dimana Reynald dirawat.


Di ruangan sebelumnya, terlihat seorang wanita menangis dalam pelukan ayahnya karena kekasihnya dinyatakan kritis oleh dokter.


"Papa, Rey, Pa." Selly meronta-ronta, menangis sejadi-jadinya saat melihat kekasihnya itu kritis. dokter tak bisa berbuat banyak karena donor darah yang dibutuhkan masih diperjalanan, mereka hanya bisa menunggu.


"Pa," ucap Nicholas saat datang. Dia melihat saudaranya Selly tengah merunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Entah mengapa saat seperti ini Nicholas merasa sangat bersalah, karena musibah yang menimpa Reynald semuanya bermula karena dia. Karena Reynald yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan nyawanya juga Natalie.


"Selly," panggil Nicholas.


Selly sempat membuka tangan yang menutupi wajahnya, tapi melihat yang datang adalah Nicholas, Selly kembali menutup wajahnya. Entah kenapa melihat wajah Nicholas Selly merasa sakit. Karena menolong Laki-laki itu, Reynald harus menderita seperti ini.


Bukannya Selly menyalahkan Nicholas, hanya saja ada rasa sakit di hatinya saat melihat wajah Nicholas.


Melihat Selly seperti membencinya, Nicholas pun tak melanjutkan ucapannya. Padahal ia hanya ingin memberikan kekuatan pada saudaranya itu.


Lima belas menit kemudian.


Selly yang semula putus harapan itu langsung merasa hidup kembali.


Buru-buru dia berdiri dan melihat para dokter dan perawat itu langsung melakukan tindakan untuk kekasihnya itu. Hidupnya seakan kembali.


Tak lama Jhonson datang, setelah sebelumnya ia tadi pamit sebentar ke toilet.


"Pa, Reynald, Pa!" Selly langsung memeluk Jhonson.


"Ada apa dengan Rey sayang?"


"Reynald sudah mendapatkan donor darahnya, Pa!"


"Oya?" Jhonson tak kalah terkejutnya. "Syukurlah." Lantas dia segera memeluk putrinya itu. "Papa kan sudah bilang, orang baik seperti Reynald pasti akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan."


Selly mengangguk dalam pelukan Jhonson. "Iya, Pa. Selly juga yakin kalau Reynald tidak akan pernah pergi meninggalkan Selly sendiri."


Jhonson mengusap puncak kepala putrinya. "Kau sangat beruntung, Nak, karena kau dikelilingi orang-orang yang sangat mencintaimu putriku."


Satu jam kemudian, dokter keluar dari ruangan, dan mereka menyatakan kalau Reynald telah berhasil menjalani operasinya dengan sempurna. Tanpa basa-basi lagi, Selly pun langsung menghamburkan pelukannya pada sang ayah. Dia juga langsung bergegas masuk setelah salah satu perawat memperbolehkannya menemui sang kekasih.


Sepertinya Reynald memang sosok yang sangat perkasa. Buktinya tak cukup waktu banyak untuk dia memulihkan dirinya pasca operasi. Hanya butuh waktu sepuluh menit pasca operasi, dia sudah sadar kembali.


Begitu datang, Selly langsung memeluknya.


"Arghh, sakit sakit," protes Reynald saat Selly memeluknya. Tapi sebenarnya dia hanya bercanda, karena sakit sekecil itu tak berarti apa-apa bagi seorang pemberani seperti Reynald.


"Maaf," ucap Selly merasa bersalah. "Aku hanya terlalu bahagia melihatmu sadar."


Melihat ekspresi Selly yang menurutnya menggemaskan Reynald pun tak kuasa untuk tidak memeluk wanita yang sejak tadi sangat dinantikannya. "Bercanda sayang, 'gak usah di maju-majuin gitu bubirnya." Reynald lantas mengelus puncak kepala Selly. "Makasih ya, udah khawatir sama aku."


Merasakan pelukan yang Selly kira takkan pernah ia rasakan kembali membuat air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah kembali.


"Loh, kok malah nangis?" Reynald melepaskan pelukannya, lantas ia mengusap air mata wanitanya.


"Kamu tau 'gak sih? aku pikir aku 'gak bisa liat wajah kamu lagi," ucap Selly.


Reynald terkekeh sekaligus bahagia melihat kekhawatiran Selly padanya yang begitu besar. Tidak pernah Reynald merasa jatuh cinta seperti ini. Selly adalah cinta pertama sekaligus berharap jadi yang terakhir juga baginya.

__ADS_1


Reynald memangku wajah Selly sambil mendekatkan jarak wajah keduanya.


"Mana mungkin aku tenang meninggalkan bidadari cantik sepertimu, sayang." Reynald menggoda Selly, membuat wanita yang semula bersedih itu akhirnya tergoda. Jhonson yang hanya memperhatikan mereka dibalik pintu pun tak kuasa menahan rasa harunya, melihat kebahagiaan putrinya kembali karena sang calon menantunya selamat dari masa kritisnya.


"Apaan sih? masih sakit aja masih bisa ngerayu."


Reynald terkekeh lagi. Hari ini dia terlalu bahagia sepertinya, padahal dia hampir saja kehilangan kesempatan hidupnya. "Udah ya, jangan nangis lagi!"


Selly mengangguk. "Tapi kamu harus janji, jangan buat aku takut lagi!"


"Iya, aku janji sayang. Aku tidak akan pernah membuatmu merasa takut lagi. Aku akan jadi sisi ternyaman dalam setiap hembusan nafasmu."


"Gombal," ledek Selly.


Reynald gemas. Tak kuat rasanya untuk tak mencium kening wanitanya itu.


Mmuahh


"Ekhemm,"


Reynald tidak sadar jika sedari tadi ada seorang laki-laki yang memperhatikan mereka. Laki-laki yang saat ini masih memiliki hak sepenuhnya atas Selly.


"Eh, maaf Pa, keceplosan."


Jhonson berjalan mendekat, menatap tajam ke arah Reynald, seperti tak suka ketika dia selonong boy saja mencium putrinya di depan matanya.


Selly yang merasa malu hanya diam tak berkutik ketika Jhonson menarik lengannya dari pelukan Reynald.


"Untung lagi sakit ... kalau nggak, udah Papa jewer kamu, maen cium cium tanpa ijin."


"Maafin Rey, Pa!" pinta Selly.


"Kamu juga sama. Mau aja di cium-cium."


Selly meringis, melihat kemarahan Jhonson.


Jhonson terkekeh geli melihat ekspresi Reynald dan putrinya yang berhasil ia kerjai itu.


Hahahaha


Jhonson tertawa.


"Papa," protes Selly. "Kenapa ketawa?"


Reynald yang awalnya mengira Jhonson benar-benar marah padanya itu merasa malu karena ternyata Jhonson hanya berpura-pura marah.


"Makanya cepet nikah, biar bisa bebas ngapain aja," ledek Jhonson.


"Apaan sih?" Selly malu-malu sampai rona di pipinya muncul begitu saja.


"Sell," panggil Reynald lembut.


"Mppp," sahut Selly.


"Udah siap kan jadi ibu dari anak-anakku?"


Deg


Kali ini detak jantung Selly makin bergemuruh. Jhonson yang melihat kekakuan sikap anaknya itu merasa bahwa ia tak salah memilih Reynald sebagai suami dari anaknya.


"Cie, cie." Jhonson makin membuat Selly salah tingkah. "Udah ah, lama-lama Papa jadi nyamuk doang di sini."


Jhonson pun memilih keluar dari ruangan itu. Tapi sebelum itu, ia sempat menepuk pundak calon menantunya itu. "Rey, terimakasih ya, sudah kembali untuk putriku."


Reynald tersenyum membalas ucapan calon mertuanya. "Sama-sama, Pa."


"Ya sudah, Papa pulang duluan ya! ... nanti bilang sama papa kalau udah kenyang kangen-kangenan nya, biar supir jemput kamu."


"Apaan sih, Papa."


"Udah, Pa. Kasian calon istriku, jangan diledekin terus," pinta Reynald.


Jhonson terkekeh. "Iya, iya, maaf!"


Setelah itu ia pun benar-benar pergi, meninggalkan Reynald dan Selly yang sedang berbunga-bunga, lagi dan lagi.


Beberapa detik setelah kepergian Jhonson, keduanya masih saling diam, sampai akhirnya Reynald menarik pinggang Selly agar rapat dengannya.


"Ih, kata Papa juga aku gak boleh gampangan sama laki-laki," protes Selly. Dia berusaha melepaskan pelukan Reynald, tapi Laki-laki itu malah mengeratkannya.


"Kata Papa juga gpp kalo cuma peluk, kan sebentar lagi kita mau nikah."


"Tapi kan belum," protes Selly.

__ADS_1


Reynald terkekeh lantas dia semakin mengeratkan pelukannya. "Kan latihan dulu, Sayang."


To be continued


__ADS_2