
Jika kemarin yang Kelly hanguskan adalah keluarga Jela, maka kali ini yang dia hancurkan adalah bisnis keluarga Rega. Kelly melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan pada keluarga Jela, dia menggunakan taktik penipuan. Tapi kalli ini Kelly tidak sendirian, ditemani Bram, Kelly beraksi dan berhasil merebut perusahaan kecil itu.
"Kau benar-benar keterlaluan, Tante." Rega memegangi dadanya yang sesak mendadak saat ruangan yang biasanya digunakan Rega itu sudah berubah drastis karena dimodif oleh orang suruhan Kelly. Kelly duduk di sana dengan menyilangkan kedua kakinya saat Rega masuk, sementara Bram berdiri di sampingnya dengan posisi menyilangkan tangan sebatas dada.
"Silahkan tinggalkan tempat ini atau ...." Bram menatap rega penuh kesinisan, sementara Rega yang ternyata memiliki riwayat penyakit asma itu tak dapat mengelak dari rasa sakit yang tiba-tiba saja menjulur ke seluruh isi dadanya. Rega tejatuh, dia pingsan, dan sadisnya Kelly dan Bram hanya menatapnya seolah ikut sedih dan kasihan, tapi dalam hatinya mereka tertawa terbahak-bahak. Kelly bahkan berharap satu dari keponakannya itu akan mati mengenaskan di hadapannya saat ini juga.
"Rega." Kedua orang tua Rega datang dan berteriak histeris saat melihat anaknya sudah terkapar di lantai. Ayah Rega langsung meminta bantuan salah seorang staf kantor itu untuk membawa Rega ke rumah sakit, sedangkan sang Ibu berjalan mendekat ke arah Kelly yang masih duduk di tempat Rega biasa bekerja.
"Kau benar-benar keterlaluan Kelly," ucap ibu Rega. Wanita itu menangis terisak sambil menunjuk wajah Kelly dengan tegasnya. Ia mengutuk perbuatan Kelly yang sudah sangat keterlaluan itu. "Kau tidak punya hati nurani."
"Oiya? ... oww, aku sungguh takut mendengar suaramu," ledek Kelly. Wanita itu lantas meremas telunjuk Ibu Rega dan menjatuhkannya seketika saat dia merasakan kesakitan. "Kau pikir kau ini siapa? berani menunjuk wajahku." Kelly memberika senyum iblisnya pada wanita yang merupakan kakak iparnya itu. "Kau bahkan tidak lebih dari seekor hama yang hinggap di tanaman, mengerti???" Kelly berhasil menyentak Ibu Rega. Wanita itu bergidig ngeri saat mendengar suara tinggi Kelly menggelegar.
Berpikir tak akan menang melawan Kelly saat ini, Ibu Rega pun memilih keluar dari ruangan itu. Dia pergi dengan rasa sakit hati dan berniat akan membalas atas apa yang telah dilakukan adik iparnya itu.
Bram berjalan mendekati Kelly. Dia memeluk pinggang wanita itu saat sudah tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan itu.
"You are so smart, Baby," ucap Bram sambil mengecup lembut pipi Kelly dari samping, sementara Kelly hanya tersenyum penuh kemenanngan sambil menatap seisi ruangan perusahaan baru yang berhasil ia akuisisi itu.
"Salah kalian bermain-main denganku," gumam Kelly dalam hatinya.
***
Natalie terusik dari tidurnya saat mendengar ponselnya berdering.
"Hah." Dia terperanjat saat melihat keberadaanya saat ini. Dia sudah ada di kamarnya.
Tunggu!!!
Bukankah tadi dia ada di dalam mobil dan memangku Nicholas yang tidur, lalu kenapa sekarang dia sudah ada di kamar.
Bagaimana bisa?
Siapa yang sudah membawanya ke tempat ini?
Dan dimana Nicholas?
__ADS_1
Rupanya saat tertidur di dalam mobil tadi, tak lama Nicholas bangun. Laki-laki itu lantas menggendong tubuh Natalie ala bridal dan menidurkannya ke dalam kamar.
Perlahan Natalie menurunkan kakinya dari kasur, dia melangkah keluar dari kamarnya karena samar-samar dia mendengar pembicaraan dua laki-laki di ruang berbeda.
"Kita harus mencari cara untuk bisa menghubungi Tuan Jhonson," ucap Reynald. "Bagaimanpun juga Tuan Jhonson harus mengetahui semua kejahatan Nyonya Kelly."
"Aku setuju, tapi bagaimana? aku sudah beberapa kali mencoba menghubungi Ayah, tapi nomor teleponnya tidak pernah aktif."
"Sepertinya Nyonya Kelly sengaja menjauhkan Tuan Jhonson agar dia bisa dengan mudah memperlancar aksinya."
"Mungkin," ucap Nicholas ragu. Dia sudah benar-benar takut jika Ayahnya itu juga menjadi korban atas ketidakwarasan Ibu angkatnya. Mengingat Tuan Jhonson sudah sangat baik sekali pada Nicholas.
"Kalau begitu, kita harus segera mencari keberadaan Tuan Jho_"
Ucapan Reynlad terhenti kala melihat Nicholas mengangkat tangannya, memintanya berhenti bicara karena ada yang sedang berjalan ke arah mereka.
Natalie, wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya itu mendekat ke arah mereka.
Nicholas lantas berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekat ke arah Natalie terlebih dulu sebelum wanita itu datang kepadanya. "Kenapa sudah bangun?" tanya Nicholas.
Natalie hanya menjawabnya dengan senyuman semu, lalu sedetik kemudian dia menatap Reynald yang ada di belakang Nicholas.
Natalie bertanya-tanya dalam hatinya, apa mungkin itu ada hubungannya dengannya, karena mendadak pembicaraan kedua orang itu terhenti saat ia datang.
Nicholas mengusap lembut puncak kepala Natalie. "Bukan apa-apa. Sekarang lebih baik kau turun! aku sudah meminta Helena membuatkan makan siang untukmu."
"Ah, iya ... Kau sendiri tidak makan?"
"Sudah," jawab Nicholas bohong. "Aku sudah makan dengan Rey saat kau masih tidur." Padahal belum, Nicholas mana selera makan saat keadaan genting seperti ini. Nasib orang tua dan orang-orang yang sangat dicintainya sedang ada dalam lingkaran wanita iblis itu.
"Oh." Natalie hanya menjawab itu, lalu dia pun turun menuju dapur karena memang sejak tadi perutnya sudah keroncongan.
Melihat Natalie sudah turun dan sampai di pijakan anak tangga terakhir, Nicholas pun lantas kembali pada rekan bicaranya yang semula, Reynald.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita juga memberitahukan hal ini pada Nona Natalie? dia juga berhak tahu kalau keadaan ibunya sedang dalam bahaya."
__ADS_1
Reynald benar, selain Merry, Nadia juga sedang dalam bahaya karena sedang berada dalam jeratan wanita jahat itu.
Tapi sampai saat ini ada satu hal yang membuat kepala Nicholas bertanya-tanya, kenapa Nyonya Kelly terlihat begitu membenci Ibu Natalie. Apa mungkin ada rahasia yang masih belum terkuak, pikir Nicholas.
"Tidak, Rey! Natalie tidak boleh tau hal ini."
"Kenapa?"
Dari atas, Nicholas bisa melihat Natalie sedang membawa segelas air putih menuju meja makannya. Wanita itu terlihat sangat bercahaya meskipun dilihat dari kejauhan. Dia benar-benar bidadari hati Nicholas.
"Aku tidak mau membebani pikirannya lagi. Dia suduh cukup menderita karenaku selama ini." Nicholas menunda ucapannya, lantas dia bergumam dalam hatinya. "Biarkan saja aku yang menanggung semua ini. Setidaknya rasa pusing ini akan hilang dengan sendirinya setelah aku tiada nanti," batin Nichcolas.
Reynald menundukkan kepalanya. Jika bosnya itu sudah berkata seperti itu, Reynald bisa apa?
"Rey!"
"Iya, Tuan."
"Boleh aku minta tolong sesuatu?"
"Tentu, Tuan. Katakan saja!"
Nicholas menatap mata laki-laki yang sudah bertahun-tahun ini menjadi orang kepercayaannya.
"Bisakah kau berjanji untuk selalu menjaga Natalie, meskiipun aku sudah tidak ada lagi di dunia ini?"
"Hah?"
Reynald mencoba mencerna permintaan Nicholas yang sangat asing ditelinganya itu. "Maksud, Tuan?" tanyanya dengan ekspresi penuh tanda tanya besar.
"Sudahlah, berjanjilah saja!"
"Saya ...." ucapan Reynlad terjeda, dia masih ambigu dengan permintaan Nicholas. Namun melihat wajah Nicholas sangat dipenuhi dengan pengharapan padanya, tak ada pilihan lain, Reynald pun mengiyakan permintaan Nicholas.
"Tentu, Tuan. Saya akan menjaga Nona dengan segenap kemampuan saya."
__ADS_1
Nicholas tersenyum tenang. Dipeluknya laki-laki yang saat ini paling dia percaya. "Terimakasih, Rey!" ucapnya. Setidakya Nicholas lega, sudah ada dua orang yang dia percaya untuk bisa menjaga Natalie saat dia sudah tidak bisa lagi melindungi kekasih hatinya itu.
To Be Continued