
Satu Minggu sudah Natalie tinggal sendiri di rumah mewah itu, setelah Nicholas memilih tinggal di apartemen pribadinya pasca kejadian di rumah Kevin tempo hari yang lalu.
Jangan tanya dengan siapa Kevin di sana? tentunya dengan kekasihnya, Jennifer. Iya, Jennifer memang memaksa untuk menemaninya di sana.
"Sayang, ke pantai yuk!" rengek Jennifer manja.
"Aku lagi 'gak mood pergi. Kamu pergi saja dengan Reynald sana!"
Jennifer mendengus kesal. "Pacar aku kan kamu? kenapa aku harus jalan sama Rey?"
Nicholas yang sejak tadi terus memikirkan Natalie itu memilih menghindar dari kekasihnya. Dia sedang malas berdebat, malas membicarakan sesuatu yang menurutnya tidak penting. Karena saat ini, yang ada di pikirannya hanyalah Natalie, Natalie dan Natalie.
"Nicho, ish ...." kesal Jennifer.
***
"Nona, kau tidak makan lagi?" Helena datang dan kembali mendengus, karena makanannya kembali tak di sentuh Natalie.
"Aku tidak lapar, Bi!" Natalie beranjak mengambil tas dan ponselnya lalu bergegas keluar kamar. Dia harus kembali pada rutinitasnya sebagai pegawai. "Kau makan sendiri saja! ... Oiya, besok-besok tidak perlu repot-repot membuatkan sarapan pagi untukku. Aku sarapan di kantor saja."
Helena menghembuskan nafasnya pelan "Baik, Nona," ucapnya seraya membereskan kembali makanan yang sama sekali belum di sentuh oleh Natalie.
***
"Apa, Kevin mengundurkan diri?" pekik Eliza tak percaya setelah mendengar kabar itu dari teman kerjanya. Buru-buru ia berlari mencari sosok yang sejak tadi berkutat dalam pikirannya. Natalie yang baru saja datang langsung dibuat heran, kenapa Eliza seperti terburu-buru sekali.
"Ada apa dengan Eliza?" tanya Natalie pada rekan kerja yang memberikan kabar tadi.
"Itu ... Eliza lagi ngejar Kevin. Katanya ngundurin diri dari perusahaan."
"Hah?" tak kalah terkejutnya, Natalie pun segera menyusul Eliza dan Kevin.
***
"Vin, kamu mau kemana?" Eliza akhirnya menemukan Kevin. Laki-laki itu tengah membereskan beberapa barang pribadi miliknya yang ia ikat di jok motor belakangnya.
"Eh, Eliza. Aku lagi beres-beres nih," ucapnya tanpa curiga. Sampai detik ini pun, Kevin tidak pernah tahu bahwa Eliza lah yang sudah bersekongkol membuat rencana malam itu, sehingga akhirnya Kevin dipaksa mutasi ke luar kota oleh perusahaan, yang tentunya atas perintah Nicholas.
Namun, bukannya mengiyakan permintaan atasannya, Kevin malah memilih mengundurkan diri dari perusahaan itu. Karena tidak mungkin dia bisa mengejar jarak pulang pergi antara kantor baru dan rumahnya. Bagaimana dengan Keisha jika dia harus bekerja di luar kota? dan tentunya Natalie juga adalah penyebabnya.
__ADS_1
Dia tidak mungkin pergi meninggalkan Natalie dengan keadaan seperti ini. Dekat saja Natalie masih sering disakiti oleh suami yang kasar itu, apalagi kalau Kevin jauh. Dia benar-benar khawatir, makanya dia memilih untuk mengundurkan diri, dengan begitu dia bisa mencari pekerjaan yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan kantor itu, agar dia bisa tetap terus mengawasi Natalie.
"Vin, kamu kenapa gak terima aja sih tawaran mereka untuk mutasi ke perusahaan cabang?" tanya Eliza. "Kenapa juga harus keluar? kan cari kerja itu susah."
Kevin yang semula sedang membereskan barang-barangnya itu seketika berhenti ketika mendengar Elisa mengatakan hal yang sebenarnya belum dia ceritakan kepada siapapun.
"Dari mana Eliza tahu? kalau perusahaan ini berencana untuk memutasikan diriku keluar kota."
"Vin!" Eliza menyadarkan Kevin dari lamunannya.
"Hmppp, aku ... aku tidak bisa, Liz."
"Kenapa?"
Eliza kecewa dengan keputusan yang dibuat Kevin, padahal sesuai rencananya dengan Jennifer, Kevin akan dimutasikan ke kantor cabang yang dipimpin langsung oleh Jennifer, dan setelah itu Eliza akan menyusul bulan depan. Jadi dia dan Kevin akan sama-sama mutasi keluar kota, dan dengan begitu Eliza akan tenang bekerja dengan Kevin tanpa gangguan dari Natalie lagi. Itulah kesepakatan dia bersama Jennifer.
"Aku tidak mungkin meninggalkan Keisha sendiri di sini."
"Kita kan bisa bawa Keisha ke luar kota. Di sana dia bisa sekolah di tempat yang baru. Kupikir Keisha tidak akan keberatan akan hal itu. Mengingat dia selalu menuruti apa yang kau katakan padanya, bukan?"
Kevin semakin menaruh curiga pada Eliza, kenapa dia begitu antusias menginginkan Kevin untuk mutasi keluar kota.
"Hmppp, tapi sepertinya aku tidak berniat memindahkan Keisha keluar kota. Jadi ... mungkin lebih baik aku mencari pekerjaan lain saja, yang penting aku bisa tetap tinggal di sini."
Kevin sudah menyelesaikan ikatan di motornya. Dia pun segera memakai helm nya.
"Aku duluan ya!" ucap Kevin. Dan terimakasih banyak karena selama ini sudah bekerjasama dengan sangat baik."
Tak ada jawaban lagi dari Eliza. dia hanya terdiam terpaku memperhatikan kepergian Kevin untuk selamanya dari kantor itu. Dia tidak pernah berfikir bahwa ujungnya akan seperti ini. Eliza tidak pernah mengira bahwa Kevin akhirnya memilih untuk mengundurkan diri daripada dimutasi keluar kota.
"Kalau tahu begini aku tidak mungkin menerima tawaran Jennifer malam itu," geram Eliza. "Pokoknya Jennifer harus bertanggung jawab untuk hal ini. Aku tidak mau Kevin pergi dariku." Buru-buru Eliza meraih ponselnya dan dengan sesegera mungkin ia menghubungi orang yang harus bertanggung jawab dibalik semua ini.
"Halo, Jennifer ...."
Eliza pun menumpahkan segala kekesalannya pada wanita itu, dia bahkan mengancam akan memberitahu Nicholas yang sebenarnya jika Jennifer tidak melakukan sesuatu untuk mencegah kepergian Kevin dari kantor itu.
"Kau mengancam ku?" tanya Jennifer dibalik teleponnya itu.
"Iya. Aku akan memberitahu Nicholas semuanya, kalau kau tidak melakukan sesuatu untuk mencegah Kevin pergi dari kantor ini."
__ADS_1
"Ckkk." Jennifer tertawa dibalik teleponnya. "Kesepakatan kita di awal, aku hanya akan memutasikan Kevin keluar kota, lalu setelah itu menyusul sebulan kemudian kamu. Dan ternyata, pada kenyataannya Kevin menolak itu, lalu dia memilih mengundurkan diri. Itu bukan salahku, itu kan keinginan Kevin sendiri. Yang penting ... aku sudah memenuhi janji yang kita sepakati."
"Jangan curang, Jennifer!" Eliza memekik tak terima. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Sekarang kau juga harus memenuhi apa yang Ku mau. Kalau tidak_"
"Kalau tidak apa? kau akan melaporkan ini pada Nicholas? silahkan! ... tapi apa kau juga lupa, kalau aku juga bisa saja memberikan rekaman pembicaraan kita saat ini pada Kevin."
Teg
Jantung Eliza terasa berhenti berdetak saat Jennifer balik menyerangnya. Dia tidak menyadari bahwa orang yang bekerjasama dengannya adalah orang yang hatinya sudah di setting sebagai wanita licik. Dia bahkan kini sudah dibuat rugi besar oleh wanita itu. Dia sudah membuat Keisha trauma sampai hari ini. Dia sudah membuat sahabatnya bertengkar dengan suaminya. Dia juga kini sudah membuat Kevin pergi darinya. Lengkap sudah kemalangan dalam hidup Eliza. Hanya karena keserakahannya, ia kini kehilangan segalanya.
"Kau ... kau benar-benar licik, Jennifer!" Nafas Eliza mulai tak stabil lagi. "Kau_"
Tut ... Tut
Sambungan telepon itu diputuskan oleh Jennifer secara sepihak, membuat Eliza menganga tak percaya. Apakah ini akhir perjuangan yang selama ini ia idam-idamkan.
"Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?" gumam Eliza. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Ia benar-benar menyesal telah bekerjasama dengan wanita picik itu.
"Liz."
Tiba-tiba suara yang tak asing itu terdengar mengejutkan Eliza.
"Natalie."
"Sejak kapan dia berdiri di sana? apa dia mendengar semua pembicaraanku dengan Jennifer?"
Natalie perlahan berjalan mendekat ke arah Eliza. Setelah cukup begitu dekat, Natalie memeluk sahabatnya itu. "Aku tahu kamu sangat mencintai Kevin. Dan kamu takut sekali kehilangannya. Jadi, sabar ya! aku yakin, dia akan kembali."
"Syukurlah, dia tidak mengetahuinya!" Eliza bernafas lega, karena ternyata Natalie tak mendengar pembicaraannya dengan Jennifer tadi lewat telepon. Eliza pun membalas pelukan Natalie. Entah kenapa saat seperti ini dia merasa sangat menyesal karena telah mengkhianati sahabatnya sendiri. Padahal Natalie selama ini sangat baik sekali padanya. "Iya, Nat. Aku takut sekali kehilangannya," sahut Eliza sambil menangis dalam pelukan Natalie.
Perlahan Natalie pun melepaskan pelukannya. "Nanti aku bantu bicarakan ini dengan Kevin. Semoga dia bisa mempertimbangkan kembali keputusannya."
"Sungguh?"
Natalie mengangguk.
"Terimakasih, Nat. Terimakasih." Eliza kembali menghamburkan pelukannya pada Natalie. Wanita yang sudah ia khianati itu rupanya adalah malaikat yang benar-benar sangat suci. Eliza menyesal telah berkhianat pada sahabat yang berhati suci itu.
"Maafkan aku, Nat! maafkan aku!"
__ADS_1
To be continued