Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Masih ingat aku?


__ADS_3

"Apa?" Eliza menganga tak percaya dengan semua yang diceritakan Natalie padanya. "Jadi, Nicholas ..." ucapannya terhenti kala melihat seorang karyawan tak sengaja lewat di samping mereka. "Jadi, selama ini Nicholas menyembunyikan rencana jahat dibalik pernikahan kalian?" cicitnya.


Natalie mengangguk sambil terus berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Dia benar-benar keterlaluan," geram Eliza. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku tidak tahu, Liz. Fokus ku saat ini hanya satu. Bagaimana bisa meringankan hutang-hutang keluargaku lalu segera mengakhiri pernikahan ini. Aku sudah tidak tahan lagi."


"Aku mengerti perasaanmu, Nat." Eliza lalu memeluk Natalie erat. Dia yakin, saat ini sahabatnya itu sangat terluka karena menerima kenyataan bahwa suaminya tidak pernah mencintainya.


Natalie melepaskan pelukan Eliza. "Liz, kau punya teman yang bisa memberikanku pekerjaan part time, yang bisa ku kerjakan setelah pulang dari kantor."


"Kamu serius?"


"Hmppp, apapun akan kulakukan, asal bisa segera terlepas dari laki-laki itu."


"Yasudah, nanti aku bantu Carikan ya!"


"Thanks ya, Liz."


"Hmpp. Oiya, bagaimana kalau pulang kerja nanti kita beli kado untuk Keisha. Daripada kau suntuk di rumah bukan?"


Natalie sempat menimang-nimang ajakan Eliza. "Sepertinya bukan ide yang buruk. Ayo!"


"Oke," sahut Eliza dengan riangnya. Keduanya pun melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.


***


Brak


Meja makan di depan Nicholas digebraknya dengan sekuat tenaga.


"Tenang, Tuan!" Reynald yang melihatnya sedikit panik. "Kita bisa mencari solusinya."


Matanya menatap tajam. "Natalie sudah mengetahui semuanya, itu artinya sudah tidak perlu lagi ada yang ku sembunyikan darinya. Aku bisa memulai pembalasan dendam ku yang sebenarnya." Senyum smirk-nya muncul, membuat Reynald sedikit menarik nafasnya lebih dalam.


Ponselnya diangkat. Nicholas mengetikkan beberapa kalimat di layarnya. Dia mengirim sebuah besan kepada seseorang.


"Ayo kita berangkat!" ajaknya yang kemudian diikuti anggukan dari kepala Reynald.


***


Seperti niatnya. Nadia akan mencari tahu sebenarnya ada hubungan apa Merry dengan keluarga kaya raya ini. Diam-diam dia menyelinap masuk ke ruang utama keluarga itu lewat dapur. "Sepertinya ini adalah ruang utamanya. Pasti ada petunjuk untukku bisa menemukan sebenarnya siapa dan ada hubungan Marie dengan keluarga ini?" gumam Nadia seraya menyelinap masuk dan terus mengawasi keadaan sekitar.

__ADS_1


***


"Hay, Ma!" Nicholas baru saja datang dan menyapa Kelly dengan pelukannya di ruang utama rumah mewah itu. "Bagaimana keadaan Ibuku? apa dia baik-baik saja setelah wanita itu merawatnya?"


"Tenang saja! Mama sudah menyuruh orang untuk memantaunya 24jam. Jadi kau tidak perlu khawatir untuk itu."


"Hmppp, oiya, Ma. Aku mau bicara sesuatu." Wajah Nicholas yang semula terlihat biasa saja kini berubah menjadi lebih serius sekali.


Kelly yang melihatnya merasa ada sesuatu yang sangat serius yang ingin dibicarakan anak angkatnya itu. "Bagaimana kalau kita duduk dulu! kita bicarakan sambil minum teh hangat."


"Hmpp," Nicholas mengangguk.


Sesampainya di sofa, Nicholas duduk ditemani Reynald yang berdiri di belakangnya.


"Papa belum pulang?" tanya Nicholas.


"Belum. Mama yang meminta Papa untuk bersembunyi terlebih dahulu sampai situasi benar-benar aman. Mama tidak mau wanita itu mengetahui siapa sebenarnya keluarga kita."


"Hmppp, kurasa itu lebih baik." Ucapannya terjeda saat seorang pelayan mengantarkan teh hangat padanya. "Tapi sepertinya sebentar lagi Papa tidak perlu melakukan itu lagi, Ma."


"Hah, maksudmu?" Kelly menyipitkan matanya saat mendengar ucapan Nicholas seraya menyeruput teh itu. Dia belum paham apa yang sebenarnya dimaksud anaknya itu.


"Natalie sudah mengetahui semuanya ... dia sudah tahu kalau aku mengurung Ibunya."


"Hah?" Kelly tak percaya. Hampir saja ia tersedak."Kenapa? kok bisa?"


"Cerai? apalagi ini? ... kenapa Natalie sampai berniat menggugat cerai kamu?"


"Natalie sudah mengetahui hubunganku dengan Jennifer."


Kelly menghembuskan nafasnya gusar seraya menurunkan kembali gelas di tangannya. Rupanya ketakutannya terjadi juga. Natalie lebih cepat mengetahui hubungan Nicholas dan Jennifer sebelum semua rencana terlaksana. "Lalu apa yang terjadi setelah itu?"


Nicholas menutup matanya lalu merebahkan kepalanya yang terasa berat di atas sofa. "Aku terpaksa membuat kesepakatan dengannya."


"Kesepakatan apa?"


"Kami membuat sebuah kesepakatan bahwa dia akan menjadi istriku selama Ibunya belum bisa melunasi hutang hutangnya."


"Oh, begitu." Kelly sedikit lega. "Tapi apa kau yakin, Natalie tidak akan berbuat curang padamu?"


"Maksud, Mama?"


"Ya, Mama sih bukan negatif thinking terhadapnya. Tapi bisa saja kan dia menggunakan fasilitas yang kau berikan untuk membayar semua hutang-hutang Nadia, lalu dengan begitu, dia bisa memintamu untuk melepaskan ibunya begitu saja."

__ADS_1


"Oh, kalau untuk urusan itu aku yakin 100% Natalie tidak akan pernah melakukan itu. Dia bukan wanita yang suka menggunakan fasilitas yang pasangannya berikan ... buktinya saja, dia tidak pernah menggunakan kartu kredit yang aku berikan padanya. Padahal dia bisa saja menggunakannya Jika dia perlu."


Kelly mengangguk-angguk paham. "Bagus, kalau begitu. Dengan begitu mulai saat ini kita tidak perlu lagi bersembunyi dibalik keluarga itu."


Mata Nicholas menatap tajam sambil memberikan senyuman yang penuh dengan tujuan.


"Kalau begitu, Mama boleh kan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan pada Nadia?" Kelly mencondongkan sedikit tubuhnya nya ke arah Nicholas.


"Memangnya apa yang akan Mama lakukan pada wanita itu?" Nicholas menenggak teh hangat miliknya yang ada di meja.


"Hmppp, mungkin sedikit bermain-main terlebih dahulu menyenangkan sepertinya." Kelly sedang berandai-andai betapa bahagianya dia saat dia bisa bermain-main dengan Nadia, wanita yang sudah membuat Nicholas sangat membencinya.


Nicholas berdiri dari duduknya. "Iya. Silahkan! sesuka hati Mama, lakukan apapun yang Mama inginkan. Asalkan jangan sampai kita melukainya terlalu jauh. Karena itu malah akan membuat kita yang terkena imbasnya," ucap Nicholas seraya menarik kembali jas yang semula Iya buka dan simpan di senderan sofa, "kalau gitu Nicholas pamit dulu mah, Nicholas harus ke kantor untuk menandatangani beberapa berkas.


"Berkas? bukannya dia tadi bilang tak mau pergi ke kantor? kenapa sekarang dia bilang mau pergi ke kantor. apa itu karena Nona Natalie juga Hari ini berangkat ke kantor?" Reynald bergumam dengan pikirannya sendiri. Nicholas benar-benar aneh.


"Yasudah, hati-hati ya sayang!" Kelly mengecup kening Nicholas hangat.


Prankk


Sebuah benda kesayangan milik Kelly hancur berserakan di atas lantai saat seseorang menyenggolnya tak sengaja.


Ketiganya langsung terperanjat dan menangkap sosok pelakunya.


"Nadia." Wajah Kelly langsung merah padam saat melihat siapa yang sudah menghancurkan koleksi kesayangan itu.


Dengan tergesa-gesa dia langsung hampiri Nadia diikuti Nicholas dan Renaldi belakangnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" bentaknya dengan sorot mata tajam. "Aku kan sudah pernah bilang padamu, kalau kau hanya boleh masuk ke dapur rumah ini. Kau tidak berhak berkeliling atau mendatangi tempat-tempat lain selain dapur."


"Ma_maaf, Nyona." Nadia gemetaran. "Tapi," kemudian dia menatap wajah Nicholas.


"Tapi apa?" sorot mata Kelly mulai tak suka.


Nadia sudah kehilangan hampir seluruh akal sehatnya. Benarkah Nicholas menikahi Natalie hanya karena ingin menghancurkan keluarganya?


Dan benarkah Nicholas adalah Miko, anak kecil yang dulunya sering ia kucilkan, Ia hina, Ia caci, Ia maki karena kemiskinannya.


Benarkah semua yang ia dengar barusan?


Melihat ekspresi Nadia penuh ketakutan, Nicholas berjalan mendekat ke arahnya. Nicholas yakin, Nadia sudah mendengar semua pembicaraan mereka.


Sepertinya ini saat yang tepat.

__ADS_1


"Semua yang kau lihat dan kau dengar adalah benar." Mata Nicholas mendelik tajam ke arah Nadia. "Aku adalah Miko, anak dari Merry, wanita yang dulu kau hina-hina. Wanita yang dulu kau caci maki." Tiba-tiba mendadak suasana panas. Tatapan Nicholas berubah penuh murka, mengingat semua kejadian di masa lalunya dengan wanita di hadapannya itu. Keringat pun jatuh dari pelipisnya. Dia kemudian menjulurkan tangannya, "masih ingat aku?"


To be continued


__ADS_2